Informasi
ADVERTISEMENT

Pak Ogah pekerjaan yang sia-sia dan nggak menjanjikan di Sumenep Madura

Pak Ogah pekerjaan yang sia-sia dan nggak menjanjikan di Sumenep Madura Mojok.co

Kenapa nasibnya bisa berbeda?

Kenapa nasib Pak Ogah di Sumenep bisa begitu? Ingat sebuah prinsip sederhana ekonomi, semakin besar peluangnya, semakin besar pendapatannya. Nah, peluang menjadikan Pak Ogah sebagai mata pencaharian di Sumenep tidak besar. 

Kenapa tidak besar? Karena jalanan di Sumenep tidak ramai. Pengendara di Surabaya memberi uang ke Pak Ogah karena dirinya merasa dibantu menyeberang di jalan yang ramainya kendaraan nggak ngotak. Sama halnya ketika saya berkendara ke Sidoarjo dan Mojokerto. Saya melihat orang-orang mau memberikan uang ke Pak Ogah karena sudah dipermudah menyebrangkan jalan yang kondisi lalu lintasnya naudzubillah. 

Sedangkan persimpangan yang ada di Sumenep, lalu lalang kendaraannya tidak padat. Sebenarnya, pengendara bisa dengan mudah menyebrang, meski tidak dibantu. Itu sebabnya, masyarakat merasa tidak terlalu terbantu dengan keberadaan Pak Ogah. Akhirnya, membuat pengendara harus berpikir dua kali untuk memberi uang kepadanya. 

Peluang yang kecil, semakin diperparah oleh culture shock masyarakat. Pengendara di Surabaya sudah terbiasa melihat orang-orang memberikan uang ke Pak Ogah sehingga di kepala ada semacam keharusan untuk memberinya saat dibantu menyebrang. 

Sedangkan di Sumenep, fenomena Pak Ogah baru saja terjadi. Oleh karena itu, masyarakat di Sumenep merasa jengah kalau harus memberi uang kepada Pak Ogah. Soalnya, selama ini masyarakat merasa tidak harus keluar uang saat mengendarai kendaraan, kecuali kalau lagi parkir. 

Semoga tak ada lagi pak ogah di Sumenep Madura

Itu sebabnya setiap melewati jalanan tempat Pak Ogah bekerja, saya selalu berdoa agar tidak ada lagi pekerjaan macam ini jalanan Sumenep. Bukan saya tidak suka melihat seseorang berjuang dalam memenuhi ekonomi. Saya lebih pada tidak tega melihat mereka berjuang di bawah terik matahari dan dikelilingi polusi udara, tetapi hasil yang didapatkan tidak sepadan dengan derita yang dirasakannya. 

Saya selalu menyelipkan doa agar mereka bisa mendapatkan penghidupan yang lebih layak. Memang doa saya tidak bisa langsung mengubah kehidupannya, tapi cuman itu yang bisa saya lakukan. Saya mengamini perkataan orang sepuh, kalau tidak bisa bantu dengan material, bantulah dengan doa. 

Penulis: Akbar Mawlana
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA 4 Profesi yang Lekat dengan Orang Madura.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 22 Agustus 2026 oleh .

Akbar Mawlana

Alumni S1 Sosiologi dan sekarang menjadi pegiat literasi. Suka menulis isu sosial.

Exit mobile version