Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Pada Akhirnya, Jogja Lockdown Total Jauh Lebih Masuk Akal ketimbang Sayur Lodeh

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
19 Juni 2021
A A
kenapa UMP Jogja rendah titik kemacetan di jogja lockdown rekomendasi cilok di Jogja Sebenarnya Tidak Romantis Jika Kamu Cuma Punya Gaji UMR dawuh dalem sabda pandita ratu tugu jogja monarki mojok

Jogja Sebenarnya Tidak Romantis Jika Kamu Cuma Punya Gaji UMR dawuh dalem sabda pandita ratu tugu jogja monarki mojok

Share on FacebookShare on Twitter

“Rakyat Jogja laper mengko”

Begitulah ujar Gubernur DIY pada 19 September 2020. Quote mulia ini muncul saat ditanyai oleh wartawan perihal kemungkinan Jogja lockdown. Tentu demi menekan angka penularan Covid-19. Pada waktu itu angka positif memang sedang lucu-lucunya di Jogja. Istilahnya, “Wah, covid-nya mulai aktif ya, Bund.”

Belum genap setahun, gubernur yang sama (lha wong seumur hidup) menyatakan Jogja lockdown sebagai jawaban atas angka penularan yang makin tidak terkendali. Belum genap setahun, ungkapan laper tadi menjadi tidak relevan di mata Pemprov DIY. Sekali lagi, belum genap setahun!

Sebagai warga ber-KTP Jogja, saya berada di barisan yang gemas. Bukan gemas karena Tugu Jogja makin estetik untuk menyambut wisatawan berpotensi menularkan Covid-19. Tapi, gemas dengan ungkapan yang ra mashok ini. Demi semesta dan John Lennon, kok ya mencla-mencle?

Perlu dicatat, Jogja memang tidak pernah sepi dari wisatawan. Bahkan ketika anjuran pemerintah untuk tidak liburan berkumandang, Jogja tetap ramai sebagai jujugan wisata. Bahkan Jogja seperti mercusuar pariwisata ketika daerah seperti Bali memilih untuk menutup diri saat libur Nataru.

Bahkan secara internal, Jogja juga tidak sepi dari event. Baiklah, tetap menjaga prokes. Tapi, bagaimana efektivitas prokes di pusat keramaian ini jadi pernyataan. Dan ini bukanlah event ilegal yang rentan dibubarkan. Bahkan di Kraton Jogja sendiri masih rajin mengadakan perhelatan yang mau tidak mau mengumpulkan masa. Misal saja pameran peninggalan eyang saya, Sri Sultan HB II. Gimana mau ilegal kalau diadakan di dalam kraton sendiri.

Titik pariwisata juga tidak pernah menutup diri. Dengan mantra “patuhi prokes”, titik wisata yang sering tidak njawani tetap buka semaunya. Tidak percaya? Sila jalan-jalan ke Malioboro sebagai sampel. Bahkan titik pariwisata baru malah dibuka saat pandemi masih membabi buta. Salah satunya spot wisata di pinggir pantai itu. Itu lho yang AMDAL-nya dipertanyakan. Paham kan? Hehahehaheha. Pun intended.

Bahkan statemen Pak Gubernur yang saya kutip di atas menunjukkan sikap prek pada situasi pandemi. Bahkan memandang upaya dan opini Jogja lockdown sebagai cara menakut-nakuti rakyat Jogja. Pokoknya Jogja tidak usah lockdown. Kalaupun sedang penuh wisatawan, rakyat Jogja diminta tetap di rumah dalam nuansa akar hening. Apa itu akar hening? Ah sudah malas saya jelaskan.

Baca Juga:

Sultan Minta Atraksi Malioboro Dihentikan Demi Cegah Kerumunan di Tengah Lonjakan Covid-19

3 Hal yang Bisa Ditangisi Bu Mega selain Badan Kurus Presiden Jokowi

Tidak ada upaya Pemprov DIY yang berhasil menekan angka penularan COVID-19. Bahkan pada awal pandemi, malah masyarakat akar rumput yang berjuang keras membangun dapur umum bertajuk Solidaritas Pangan Jogja. Pokoknya Jogja sangat loss doll perkara pandemi.

Solusi paling keren saja penyemprotan desinfektan di jalan. Sisanya hanyalah okar akar hening dan sekadar jargon jaga prokes. Sisanya hanya kreativitas warga yang terjebak mistisme ala monarki trah Mangkubumi. Sayur lodeh lah, menyebar garam lah, dan aksi-aksi yang tidak lebih bermanfaat daripada cuci tangan rutin.

Dan saat ini, Gubernur DIY mengeluarkan statement yang cenderung ancaman perihal Jogja lockdown. Yang jadi pesakitan? Tentu segenap masyarakat apalagi yang menjabat sebagai RT dan RW.

Inilah puncak logika ra mashok khas bumi istimewa. Sejak awal pandemi sampai hari ini tidak ada upaya nyata dari pemerintah. Anjuran menjaga prokes saja sudah paling bagus. Sisanya malah sibuk mendorong pariwisata dengan memoles titik wisata yang itu-itu saja.

Lalu yang salah masyarakat lokal? Oke, saya mengakui bahwa banyak yang belum patuh prokes dan peduli dengan upaya menekan penularan Covid-19. Tapi gini lho, apa iya yang harus disebut RT RW yang mewakili warga lokal?

Justru pengawasan tingkat akar rumput lebih efektif. Sedikit cerita tentang lingkungan saya, ketika ada yang harus isolasi mandiri malah segera diumumkan oleh RT. Bukan untuk merundung atau ngrasani, tapi agar warga siap membantu urusan kebutuhan hidup dasar. Saya mendengar perilaku serupa di daerah lain. Dan saya lebih percaya bahwa kesadaran akar rumput inilah yang menjaga Jogja dari kolaps akibat pandemi.

Tapi, namanya RT itu hanya mengurusi lingkup terkecil dalam struktur pemerintahan. RW juga di atas RT sedikit, itupun terlalu kecil. Tapi, kalau yang dihadapi adalah gelombang wisatawan, bisa apa jal? Lha wong mengatasi sampah dari area pariwisata saja kewalahan saat TPST Piyungan hampir kukut. Kalau dihadapkan dengan riuh event yang diizinkan, Pak RT bisa apa selain ngelus dada?

Menempatkan pemerintah terendah sebagai penyebab meledaknya angka positif Covid-19 saya rasa terlalu nggatheli. Sebab, pengaruh keputusan dari tingkat provinsi punya dampak lebih masif. Apalagi bicara sebuah daerah yang jadi jujugan wisata yang katanya romantis.

Pada akhirnya, menyerah juga tho? Ajakan untuk jangan lockdown lokal tahun lalu dijawab dengan menyalahkan ketua RT dan RW. Jangan menakut-nakuti rakyat diganti ancaman Jogja lockdown totally. Dan pastinya, rakyat Jogja akan laper juga ditampar pandemi.

Sayur lodeh, akar hening, dan setiap jargon serta ajakan tahun lalu menjadi lelucon di hadapan lockdown totally. Maka marilah kita tertawa saja sambil tetap jaga diri. Tetap patuhi prokes dan jujur pada petugas kesehatan. Biarlah apa yang terjadi pada eyang saya tidak berlarut-larut karena keputusan yang embuh!

BACA JUGA Jogja, Destinasi Wisata ‘Terbaik’ di Masa Pandemi dan tulisan Prabu Yudianto lainnya. 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 26 Oktober 2021 oleh

Tags: coronaisolasi mandirijogja lockdownkasus covidPojok Tubir Terminal
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

influencer beli followers instagram, Tren Instagram Stories Terbaru Bikin Banyak Orang Gede Rasa! Penghapusan Jumlah Like di Instagram dan Kebiasaan Pamer Kehidupan

Influencer Melahirkan Ketimpangan Sosial, dan Saatnya Berhenti Memakluminya

3 Juni 2021
Mencermati Logo HUT RI ke-76 yang Terkesan Maksa terminal mojok

Mencermati Logo HUT RI ke-76 yang Terkesan Maksa

6 Agustus 2021
Ribetnya Punya Dosen Terkenal, tapi Suka Bikin Statement Aneh di Medsos terminal mojok.co

Ribetnya Punya Dosen Terkenal, tapi Suka Bikin Statement Aneh di Medsos

28 Juni 2021
3 Lokasi yang Cocok untuk Membangun RS Khusus Pejabat terminal mojok

3 Lokasi yang Cocok untuk Membangun RS Khusus Pejabat

8 Juli 2021
Tren Ikoy-ikoyan: Ngemis, tapi Kok Menolak Disebut Bermental Pengemis? terminal mojok.co

Tren Ikoy-ikoyan: Ngemis, tapi Kok Menolak Disebut Bermental Pengemis?

11 Agustus 2021
Alasan Logis Mengapa Para Pejabat di Indonesia Memerlukan Akun Alter di Medsosnya terminal mojok

Alasan Logis Mengapa Para Pejabat di Indonesia Memerlukan Akun Alter di Medsos

31 Juli 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Lawson X Jujutsu Kaisen: Bawa Kerusuhan Klenik Shibuya di Jajananmu

Lawson X Jujutsu Kaisen: Bawa Kerusuhan Klenik Shibuya di Jajananmu

31 Januari 2026
Duka Menikah di KUA, Dikira Hamil Duluan padahal Cuma Pengin Hemat Mojok.co

Duka Menikah di KUA, Dikira Hamil Duluan padahal Cuma Pengin Hemat

5 Februari 2026
8 Kasta Saus Indomaret dari yang Pedas hingga yang Biasa Aja Mojok.co

8 Kasta Saus Indomaret dari yang Pedas hingga yang Biasa Aja

4 Februari 2026
Di Sumenep, Tidak Terjadi Invasi Barbershop, Diinjak-injak Sama Pangkas Rambut Tradisional

Di Sumenep Tidak Terjadi Invasi Barbershop, Diinjak-injak Sama Pangkas Rambut Tradisional

4 Februari 2026
Panduan Bertahan Hidup Warga Lokal Jogja agar Tetap Waras dari Invasi 7 Juta Wisatawan

Jogja Memang Santai, tapi Diam-diam Banyak Warganya yang Capek karena Dipaksa Santai meski Hampir Gila

2 Februari 2026
Pengendara Mobil Nggak Usah Ikut-ikutan Lewat Jalan Tikus, Kalian Nggak Diajak!

Pengendara Mobil Nggak Usah Ikut-ikutan Lewat Jalan Tikus, Kalian Nggak Diajak!

31 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya
  • Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.