Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Outfit Warga Bantul saat Menyambut Syawalan

Gusti Aditya oleh Gusti Aditya
26 Mei 2020
A A
Outfit Warga Bantul saat Menyambut Syawalan
Share on FacebookShare on Twitter

Jelas saja di seluruh nusantara atau bahkan dunia, lebaran merupakan “selebrasi” yang harus dirayakan tanpa menyentuh zona berlebihan. Sebatas pulang ke kampung halaman, bersilaturahmi kepada tetangga hingga hal-hal yang membuat hati menjadi tenang lainnya. Tak terkecuali di Bantul, di seluruh kecamatan yang memeluknya.

Ritus religius berupa halal bi halal ini menyambangi sekitarnya dan saling bermaaf atas apa yang dilakukan dalam satu tahun belakangan. Skopnya dari yang terkecil menuju yang terbesar. Mulai dari keluarga, tetangga, lalu sanak saudara. Di Bantul, kebanyakan dari mereka memiliki saudara yang berdekatan dan hanya berjarak dalam kecamatan yang berbeda saja.

Dapat ditandai bahwa jam tujuh sampai jam sembilan di Bantul adalah keheningan. Semua berpusat di lapangan desa masing-masing, masjid desa dan musala terdekat guna menjalankan salat Idul Fitri. Jam sembilan hingga sepuluh biasanya warga Bantul memilih keluar dengan berjalan kaki, menyambangi rumah-rumah yang ada orang dituakan dan dihargai.

Selepas jam jam 10 selanjutnya mereka memutuskan dua hal, berkumpul dengan keluarga kecil dan menyantap hidangan lebaran atau memilih langsung berkumpul dengan saudara dan menyantap hidangannya di tempat yang sudah ditentukan. Intinya, lebaran di Bantul adalah suka cita dengan penuh kesederhanaan.

Dari suka cita tersebut kadang tersembunyi sebuah pesan subliminal yang sering kali diperlihatkan warga Bantul dalam perayaan lebaran. Bisa jadi ciri khas Bantul itu sendiri, atau hal ini juga terjadi bagi warga di sekitar Bantul seperti Gunung Kidul, Jogja, Sleman dan Kulonprogo. Dan berikut adalah rangkuman outfit warga Bantul saat merayakan Syawalan.

Satu: Batik kelap-kelip yang mbois

Biasanya dipakai oleh pria berumur 30 ke atas. Kematangan seorang pria di Bantul, dapat dilihat dari outfit yang ia pakai ketika lebaran. Semakin blink-blink, maka semakin pria itu mendekati kata matang dan diperhitungkan secara pemikiran. Lihat saja jika kumpul keluarga, pengguna batik kelap-kelip biasanya orang yang membuka sesi halal bi halal.

Dengan tangan ngapurancang, suara yang diberat-beratkan, batik berjenis sutera atau sutera kecewa ini konon bisa meningkatkan kepercayaan diri para bapak-bapak di Bantul guna membuka percakapan serius di keluarga besar.

Bentukan batik ini seperti hologram yang menandakan bahwa pria yang memakai memiliki sifat ajeg dan kuat dalam menghadapi permasalahan. Sebagaimana hologram yang berbeda jika dilihat dari sisi yang berbeda, hal ini juga menunjukkan bahwa pengguna batik kelap-kelip memiliki pandangan yang luas dan bijaksana.

Baca Juga:

Bantul Selatan: Surga Tersembunyi buat Pekerja yang Malas Tua di Jalan dan Ogah Akrab sama Lampu Merah

Saatnya Warga Bantul Berbangga dengan Embung Potorono yang Bisa Membuat Warga Sleman Iri

Biasanya dipadukan dengan sarung yang tak lebih sederhana dari bagian atas. Yakni sarung kotak-kotak dengan berbagai brand yang ada dipasaran. Luntungannya harus tiga kali, mata kaki terlihat supaya ketika melewati galengan sawah tidak ceblok. Dan tak kalah penting, sebagai aksesoris kebangsaan, kopiah hitam yang turut menyertai.

Dua: Outfit ibu-ibu dengan warna nabrak

Kebanyakan ibu-ibu menggunakan atribut pakaian yang warna ngejreng dan jilbab, kebaya dan roknya biasanya nggak nyambung atau nabrak. Misalkan jilbab oranye, pakaiannya merah, bawahannya biru dan kaos kaki berwarna krem. Ketika kebanyakan sibuk menentukan pakai baju lebaran, ibu-ibu kuat di Bantul bodo amat terhadap budaya ini. Loh, kan niatnya kumpul keluarga, bukan darmawisata. Jadi yang terpenting sopan dan nyaman.

Tapi, hal ini biasanya memiliki filosofi yang menarik. Mengapa warnanya ngejreng dan berbeda? Hal ini menunjukkan suka cita. Jika tiap warna memiliki karakteristik semisal merah adalah berani dan hijau adalah asri, maka ibu-ibu Bantul menggunakan semua warna agar supaya semua perasaan bisa ia miliki selama Syawalan. Tidak hanya monopoli warna, ibu-ibu Bantul cinta akan keberagaman.

Tiga: Outfit ibu-ibu dengan seragam dasawisma

Jika ibu-ibu di atas pakai warna nabrak itu untuk Syawalan keluarga, maka ibu-ibu dengan menggunakan seragam ini biasanya terhimpun dalam paguyuban dasawisma atau PKK. Seragamnya berkutat pada tiga hal. Pertama, jelas dengan batik dan warna coklat. Kedua, pakai warna senada, tapi warnanya biru. Ketiga, kaos lengan panjang dengan bahan yang biasanya ditipu oleh konveksi abal-abal.

Yang terakhir memang sedikit unik, tak jarang ibu-ibu dasawisma Syawalan dengan kaos polo yang sumuk dan berbahan jelek. Biasanya, selepas acara, kita tidak bisa membedakan ibu-ibu ini habis Syawalan atau habis senam. Karena kemringet saking sumuknya, tapi tidak akan melupakan swafoto yang akan dikirim di grup WhatsApp mereka.

Mereka ini biasanya datang ke lokasi dengan menyewa bus Kobutri atau P.O. Abadi. Nah, bayangkan saja betapa sumuknya duduk di dalam bis kota legendaris yang satu ini. Dengan polo bahan jelek, sumuknya Kobutri dan omongan Bu Bambang yang selalu membanggakan anaknya yang paling sukses, duh lengkap sudah Syawalan tahun ini.

Empat: Mas-mas dan mbak-mbak pakai korsa

Kita sepakat bahwa Jogja tempatnya institusi perkuliahan. Semua ada, tersedia di kota yang memiliki julukan kota pelajar. Tak banyak warga Bantul yang merantau jauh sampai Depok, Jakarta. Pol mentok Depok, Sleman, antara UNY, Sadar, atau UGM. Tidak semuanya, tapi kebanyakan dari mereka memilih untuk di Jogja ketimbang rantau.

Saat Syawalan, baik itu desa atau keluarga besar, tak jarang ada mas dan mbak yang ber-outfit korsa kampus, fakultas, organisasi, atau event yang pernah mereka ikuti terpampang di bagian belakang. Dengan perasaan bangga lantaran kerja keras mereka selama ini terpenuhi, tidak ada yang salah dengan outfit yang satu ini.

Biasanya korsa yang digunakan adalah fakultas yang bagian belakangnya bertuliskan begini, “SAYA MAHASISWA MESIN NICH!”. Atau organisasi di kampus, “IKATAN MAHASISWA PECINTA DIA”. Paling ndakik korsa hadiah event, “AKU SIE PERKAP DI ACARA FAKULTI FAIR LOCH!” Biasanya pakai capslock dan bordirannya masih ada kain yang nyatu.

Lima: Mas-mas rebel

Outfit berikutnya adalah mereka yang lossss alias kaosan dan tidak menunjukkan identitas keilmuan. Mereka lebih memilih menunjukkan orientasi bermusik atau kultur pop yang sedang mereka sukai. Ada yang pakai kaos dengan gambar Naruto, itu artinya mereka bangga dengan identitas ke-wibu-an yang uwu.

Ada pula yang pakai kaos NDX AKA FAMILIA, menujukkan kebebasan dan sisi bengal mereka dalam kumpul keluarga. Atau yang agak tua sedikit pakai kaos bertuliskan, “AKU BUKAN MAKLUK LEMAH, AKU KUPU-KUPU BAJA” biasanya mereka ini adalah fans Captain Jack, Monsterjacker.

Berikutnya ada mereka yang pakai jersey Persiba Bantul. Namun, seiring berjalannya waktu, tipe rebel yang satu ini mulai berkurang eksistensinya lantaran prestasi Persiba yang juga kian memudar. Lha piye to, sama Protaba Projotamansari Bantul saja sekarang seimbang. Lawan UGM FC juga belum karuan menang. Ealah, Ba, Ba.

Enam: Sobat ambyar

Tipe ini barangkali peleburan dari tipe keempat dan kelima. Ada yang pakai korsa, kaos atau bahkan rompi khusus. Bergambar sang maestro di dada, atau sempilan lirik yang diambil dari mahakaryanya, ini lah outfit yang terakhir, sudah ada sejak medio dekade 2000. Tua-muda, perempuan atau pria, bapak-bapak atau ibu-ibu, yakni tipe sobat ambyar, fans militan The Godfather of Brokenheart, Didi Kempot.

Masih banyak outfit lain yang belum dirumuskan lantaran membicarakan tradisi Syawalan di Bantul, maka sama saja membuka diskusi panjang beragamnya ritus yang masing-masing keluarga junjung. Satu pintu ke pintu lainnya saja beda, apalagi tradisi kecamatan ke kecamatan.

Ada yang mau bercerita tradisi dan outfit unik daerah kalian saat Syawalan? Tentu kolom komentar terbuka untuk kalian tuliskan.

BACA JUGA Membedah Berbagai Metode Petani Bantul saat Membawa Gabah atau tulisan Gusti Aditya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 26 Mei 2020 oleh

Tags: BantulLebaransyawalan
Gusti Aditya

Gusti Aditya

Pernah makan belut.

ArtikelTerkait

Belajar Memaknai Hidup, Uang, dan Public Relations dari Operator Depot Galon Isi Ulang terminal mojok.co

Shoplifter Sebagai Manifestasi Para Pengutil di Hari Lebaran

6 Juni 2019
3 Rekomendasi Tempat Makan Ingkung Istimewa di Bantul

3 Rekomendasi Tempat Makan Ingkung Istimewa di Bantul

20 Oktober 2023
Starterpack Muda-mudi Bantul di Malam Tahun Baru terminal mojok.co gondes mendes

Starterpack Muda-mudi Bantul di Malam Tahun Baru

30 Desember 2020
Repost Story Hampers Kiriman Sendiri Itu Maksudnya Gimana_ terminal mojok

Mohon Maaf, Repost Story Hampers Kiriman Sendiri Itu Maksudnya Gimana?

13 Mei 2021
pengusaha lebaran

Bulan Ramadan dan Lebaran Membuat Banyak Orang Indonesia Jadi Auto Pengusaha

30 Mei 2019
Penutupan Plengkung Gading Adalah Kecemasan Terbesar Saya Sebagai Penglaju Bantul-Sleman Mojok.co

Penutupan Plengkung Gading Adalah Kecemasan Terbesar Saya sebagai Penglaju Bantul-Sleman

23 September 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tanjakan Gombel Semarang: Bukan Kerajaan Wewe, tapi Saksi Bisu Jejak Sejarah dan Nadi Utama Kota Semarang

Tanjakan Gombel Semarang: Bukan Kerajaan Wewe, tapi Saksi Bisu Jejak Sejarah dan Nadi Utama Kota Semarang

17 Mei 2026
8 Tipe Pengguna Toilet Mal Paling Red Flag di Mata Cleaning Service, Semoga Kalian Bukan Salah Satunya Mojok.co

8 Tipe Pengguna Toilet Mal Paling Red Flag di Mata Cleaning Service, Semoga Kalian Bukan Salah Satunya

19 Mei 2026
Dilema Hidup di Jaten Karanganyar: Asap dan Truknya Mengganggu, tapi Perputaran Uangnya Menyelamatkan Ribuan Rumah Tangga

Dilema Hidup di Jaten Karanganyar: Asap dan Truknya Mengganggu, tapi Perputaran Uangnya Menyelamatkan Ribuan Rumah Tangga

19 Mei 2026
Bukan Cuma Sambal yang Manis, Chinese Food di Jogja Juga Ikutan Jadi Manis

Bukan Cuma Sambal yang Manis, Chinese Food di Jogja Juga Ikutan Jadi Manis

20 Mei 2026
Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus: Teriak Melawan Penindasan di Luar, tapi Seniornya Jadi Aktor Penindas Paling Kejam organisasi mahasiswa eksternal organisasi kampus

Organisasi Mahasiswa Itu Candu, dan Jabatan di Kampus Itu Jebakan yang Pelan-pelan Mematikan

18 Mei 2026
Mahasiswa Akuntansi yang Menghindari Bahasa Inggris Tak Ubahnya Menembak Kaki Sendiri, alias Menyulitkan Diri Sendiri!

Mahasiswa Akuntansi yang Menghindari Bahasa Inggris Tak Ubahnya Menembak Kaki Sendiri

20 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.