Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Orang Malang dan Bojonegoro Salah Paham karena 4 Kata Lucu Ini

Rudy Tri Hermawan oleh Rudy Tri Hermawan
30 Juni 2022
A A
Orang Malang dan Bojonegoro. (Unsplash.com)

Orang Malang dan Bojonegoro. (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Ada apa dengan Malang dan Bojonegoro? Ada kelucuan yang terjadi karena cara pengucapan sebuah kata.

Bicara soal suku di Indonesia, pasti kita mengetahui bahwa suku Jawa adalah salah satu suku dengan jumlah populasi besar di Indonesia. Seperti nama sukunya, bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi sehari-hari adalah Bahasa Jawa. Namun, meskipun sama-sama menggunakan Bahasa Jawa, tidak secara otomatis kosakata di Jawa Tengah dan Jawa Timur sama.

Contohnya ketika menyebut kata “kamu”. Orang Solo menyebut dengan “kowe” sedangkan orang Surabaya menyebut dengan kata “koen”. Itu sama-sama orang Jawa tapi beda provinsi ya..

Nah, sesuatu yang menarik terjadi di dua daerah dalam satu provinsi, yaitu Malang dan Bojonegoro. Penulisan kata di sana bisa saja, bahkan sering, sama. Namun, maknanya bisa berbeda jauh. Pengalaman seperti ini pernah saya alami ketika masih tinggal di Bojonegoro. 

Keluarga saya berasal dari Malang, tetapi sudah lama menetap di Bojonegoro. Jadi, dalam komunikasi sehari-hari, saya terbiasa menggunakan dua “bahasa” yang berbeda tergantung siapa lawan bicaranya. 

Iya, meskipun Malang dan Bojonegoro satu provinsi, saya mencatat setidaknya ada empat kata dengan penulisan sama tetapi maknanya berbeda. Lucu, tapi sering bikin salah paham.

#1 Kojor

Ada kejadian lucu ketika sepupu saya dari Malang main ke Bojonegoro. Sebut saja namanya Bambang. Sore itu, kami sekeluarga sedang ngobrol-ngobrol sambil makan singkong goreng di teras rumah. Ibu saya memanggil Bambang yang masih di dalam rumah.

“Mbang, ayo mrene jagongan karo maem kojor. Mumpung isih anget. Mau Bulik sing nggoreng” 

Baca Juga:

Sumbersari Malang yang Overrated Masih Jadi Daerah Paling Masuk Akal bagi Maba yang Baru Pertama Kali Merantau

Merindukan Pasar Wilis Malang, Surga Buku Bekas yang Kini Sepi Menunggu Mati

(Mbang, ayo sini ngobrol bareng-bareng sambil makan kojor. Mumpung masih hangat. Tadi Bulik yang menggoreng).

Bambang keluar kamar sambil garuk-garuk kepala layaknya orang kebingungan.

“Lho, kok aku diutus maem kojor ta, Bulik?“

(Lho, kok saya disuruh makan kojor sih, Bulik?)

“Lha nyapo ta, Mbang? Kowe ora seneng kojor?” 

(Lha kenapa sih, Mbang? Kamu nggak suka kojor?”

“Maem sega isih enak kok malah diutus maem kayu bakar ta? 

(Makan nasi masih enak kok malah disuruh makan kayu bakar sih?)

Seketika kami semua tertawa. Usut punya usut, ternyata, percakapan antara ibu saya dan keponakannya itu nggak nyambung. Ibu saya yang sudah lama di Bojonegoro terbiasa menyebut singkong goreng sebagai kojor sedangkan di Malang, kata “kojor” artinya ‘kayu bakar’. Jaka sembung lagi minum susu, nggak nyambung bosku.

#2 Tilik

Lagi-lagi terjadi suatu percakapan yang nggak nyambung antara orang Malang dan Bojonegoro. Kali ini si Bambang disuruh ibu saya beli jeruk di pasar. Ibu saya berpesan kepada Bambang agar jangan langsung membeli tapi dicoba dulu apakah rasanya manis atau asam.

“Bu, kula badhe tumbas jeruk. Sekilo pinten, Bu? Legi-legi mboten, Bu?“ 

(Bu, saya mau beli jeruk. Sekilo berapa, Bu? Manis-manis nggak Bu?” Tanya Bambang kepada ibu penjual buah.

“Sekilo limolas ewu, Mas. Jeruk e legi kabeh, Mas.“ 

(Sekilo lima belas ribu, Mas. Jeruknya manis semua, Mas)

“ Kula niliki rumiyin nggih, Bu. 

(Saya mencicipi dulu ya, Bu?)

“Jeruk e ora lara lho, Mas. Nyapo ditiliki?“ 

(Jeruknya nggak sakit lho, Mas. Kenapa dijenguk?) 

Penjual jeruk keheranan.

Dari percakapan antara Bambang dengan ibu penjual jeruk itu, kita bisa mengetahui adanya kesalahpahaman terhadap suatu kata. Ibu penjual buah yang asli orang Bojonegoro memahami kata “tilik” artinya ‘menjenguk’ sedangkan versi Bambang yang orang Malang, “tilik” berarti mencicipi atau mencoba merasakan. Nah, salah lagi kan si Bambang.

#3 Mari

Cerita ini terjadi pada awal-awal perkuliahan saya di Malang. Suatu sore, saya mengerjakan tugas kelompok di rumah seorang teman yang asli Malang.

“Rud, tugasmu wis mari?” 

(Rud, tugasmu sudah selesai?) 

Teman saya bertanya.

“Hah, wis mari? Ana sing lara ta?” 

(Hah, sudah sembuh? Adakah yang sakit?)

Nah, jadi bingung kan? Kata “mari” yang dimaksud teman saya adalah ‘selesai’ sedangkan kata “mari” yang saya pahami adalah ‘sembuh dari sakit’. Ups, saya keceplosan pakai “bahasa Jonegoroan” padahal posisi saya saat itu di Malang. 

Benar kata pepatah “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.” 

Dari kejadian itu saya berpikir, bukan salah teman saya kalau nggak ngerti apa yang saya maksud tapi saya, sebagai orang Bojonegoro yang harus menyesuaikan diri di mana saya berada.

#4 Ote-ote

Kalau cerita pertama tadi saya membahas tentang keponakan ibu, sekarang yang berkunjung ke Bojonegoro adalah bulik saya datang dari Malang. Dia, yang sehari-hari tinggal di daerah dingin, kali ini nggak betah dengan suhu udara di Bojonegoro yang terasa panas banget. Suatu siang, dia bertanya kepada seorang teman yang kebetulan main ke rumah saya.

“Koen mben dina seneng ote-ote ngene iki tah, Le?” 

(Kamu setiap hari suka ote-ote seperti inikah, Nak?)

“Aku gak seneng mangan ote-ote, Bulik. Aku luwih seneng mangan tempe goreng.” 

(Aku nggak suka makan ote-ote, Bu Lik. Aku lebih suka makan tempe goreng.)

Bulik berpikir bahwa teman saya tadi mengajak bercanda dia.

“Eeh, arek iki. Ditakoni wong tuwa kok malah ngajak guyon” 

(Eeh, anak ini. Ditanya orang tua kok malah bercanda.)

Melihat permasalahan yang muncul, saya berinisiatif menjelaskan kesalahpahaman tadi. Yang dimaksud “ote-ote” oleh teman saya adalah ‘sejenis gorengan’ yang terbuat dari irisan kol dan wortel dicampur dengan adonan tepung. Ote-ote ini di daerah lain lazim disebut bakwan sayur goreng. 

Di Malang, jajanan ini disebut dengan weci atau heci sedangkan di Blora (tempat tinggal saya sekarang) disebut dengan pia-pia. Beda lagi dengan ote-ote versi Malang. Yang dimaksud dengan “ote-ote” oleh Bulik saya adalah ‘bertelanjang dada’. Merujuk pada suhu udara yang panas di Bojonegoro saat itu. Dua kata tersebut bedanya telak kan?

Itulah empat kata dari Malang dan Bojonegoro yang penulisannya sama tapi mempunyai arti berbeda. Nah, dengan adanya tulisan ini, saya berharap kalian bisa mengambil manfaatnya. Jadi, pas kalian berada di kedua daerah itu nggak sampai terjadi kesalahpahaman dan ujung-ujungnya diketawain orang.

Penulis: Rudy Tri Hermawan

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA 7 Tempat yang Sebaiknya Nggak Dikunjungi Saat ke Malang Raya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 30 Juni 2022 oleh

Tags: bakwanBojonegorojawa tengahjawa timurMalangote-otetilik
Rudy Tri Hermawan

Rudy Tri Hermawan

Seorang akuntan yang hobi menulis.

ArtikelTerkait

Jalan Mastrip: Jalan Paling Problematik di Jember, Hanya Orang Sabar yang Sanggup Melewatinya

Jalan Mastrip: Jalan Paling Problematik di Jember, Hanya Orang Sabar yang Sanggup Melewatinya

6 November 2023
3 Hal yang Perlu Dipahami Orang Bojonegoro yang Hendak Merantau ke Kediri agar Mudah Beradaptasi

3 Hal yang Perlu Dipahami Orang Bojonegoro yang Hendak Merantau ke Kediri agar Mudah Beradaptasi

11 September 2023
Dam Singir Banyuwangi Sebaiknya Tetap Jadi Hidden Gem Bapak-bapak Mancing Aja. Jangan Jadi Tempat Wisata

Dam Singir Banyuwangi Sebaiknya Tetap Jadi Hidden Gem Bapak-bapak Mancing Aja. Jangan Jadi Tempat Wisata

30 November 2023
Kabupaten Bojonegoro, Kabupaten di Jawa Timur yang Sering Dilupakan (Unsplash)

Kabupaten Bojonegoro, Kabupaten yang Sering Dilupakan

19 April 2023
Jalan Sarjono Ambarawa, Jalan Terindah Se-Jawa Tengah yang Bisa Jadi Tempat Healing Gratis Mojok.co

Jalan Sarjono Ambarawa, Jalan Terindah Se-Jawa Tengah yang Bisa Jadi Tempat Healing Gratis

3 Februari 2024
Semarang Menyimpan Surga Kecil Bernama Tengaran Kulon (Unsplash)

Tengaran Kulon, Dusun Kecil di Semarang Ini Adalah Tempat Terbaik untuk Menetap

27 Agustus 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Paris Van Java Mall Bandung: Estetik, tapi Sama Sekali Nggak Nyaman

Paris Van Java Mall Bandung: Estetik, tapi Sama Sekali Nggak Nyaman

18 Mei 2026
Kos LV Jogja Menjamur: Akhlak Nanti Dulu, Kenyamanan dan Cuan Nomor Satu Mojok.co

Kos LV Jogja Menjamur: Akhlak Nanti Dulu, Kenyamanan dan Cuan Nomor Satu

17 Mei 2026
Checklist Mahasiswa Semester Akhir: Siapkan Semua Berkas Ini Kalau Mau Lulus

5 Sifat Mahasiswa Semester Akhir yang Menjengkelkan, Segera Intropeksi Diri Jika Tidak Ingin Dijauhi Teman

12 Mei 2026
4 Soto Khas Semarang yang Wajib Dicicipi Wisatawan Minimal Sekali Seumur Hidup Mojok.co

4 Soto Khas Semarang yang Wajib Dicicipi Wisatawan Minimal Sekali Seumur Hidup

12 Mei 2026
Tanjakan Gombel Semarang: Bukan Kerajaan Wewe, tapi Saksi Bisu Jejak Sejarah dan Nadi Utama Kota Semarang

Tanjakan Gombel Semarang: Bukan Kerajaan Wewe, tapi Saksi Bisu Jejak Sejarah dan Nadi Utama Kota Semarang

17 Mei 2026
Unpopular Opinion: Kajian Ustaz Hanan Attaki Itu Bukanlah Pengajian Agama pengajian berbayar

Maaf Saya Berubah Pikiran, Konsep Pengajian Berbayar Memang Lebih Masuk Akal dan Layak untuk Diikuti

16 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.