Informasi

Orang-orang yang Datang ke Kayutangan Malang Itu Sebenernya Mau Main atau Nyinyirin Kinerja Wali Kota Malang, sih?

Orang-orang yang Datang ke Kayutangan Malang Itu Sebenernya Mau Main atau Nyinyirin Kinerja Wali Kota Malang, sih?

Kayutangan bukannya berbenah, tapi malah makin bubrah

Kayutangan semakin ke sini semakin menjadi-jadi. Bukannya memperbaiki kekurangan yang ada agar masyarakat melupakan kontroversi, malah memaksakan pembangunan nirfaedah yang bikin masyarakat malah merawat ingatan buruk tentang Kayutangan. Seperti pembangunan sign Kayutangan yang menutup ruas jalan sehingga menimbulkan kemacetan, dan menjamurnya parkir liar di masing masing sisi jalan Kayutangan.

Sebagai gambaran, kondisi Kayutangan Malang saat ini mirip dengan kondisi jalan Malioboro tahun 2010-an yang terkenal akan macet dan semrawut. Apalagi ketika malam minggu tiba, kemacetan dan penumpukan manusia tak terelakkan. Bagi orang yang baru pertama kali berkunjung ke Kayutangan, melihat pemandangan seperti itu mungkin bakal memaklumi. Namun bagi warga Malang asli yang kesehariannya berada di situ mungkin akan berpikir, “Wali Kota kerjanya ngapain sih?”

Begini lho. Sudah tahu Kayutangan bakal menjadi tempat yang ramai namun tidak diantisipasi terlebih dahulu. Efeknya Kayutangan jadi macet dan tidak dapat dinikmati keindahannya.

Dua jenis manusia

Gara-gara hal tersebut, akhirnya muncullah dua golongan manusia. Golongan pertama, adalah golongan orang main ke Kayutangan untuk menikmati hal-hal yang ada. Yang kedua, adalah golongan orang yang berkunjung untuk nyinyirin hal-hal konyol yang muncul di Malioboro KW entah ke berapa tersebut.

Keduanya tidak salah, sebab masing-masing orang punya pilihan untuk membawa persepsi tentang kawasan Kayutangan itu sendiri. Warga boleh mengapresiasi, dan boleh mengkritik, sekalipun itu hanya nyinyir. Toh bagaimanapun juga, nyinyiran nggak muncul dari ruang hampa. Ia manifestasi dari hal-hal buruk yang (seakan-akan) dibiarkan terjadi.

Kayutangan, tak bisa dimungkiri lagi, adalah ikon baru Malang, terlepas dari kontroversi yang ada. Tinggal pintar-pintarnya aja pemerintah Malang menampung semua kritikan agar bisa dipakai untuk evaluasi. Kalau cuma dibiarkan ya, orang-orang nyinyir yang cuman segelintir, lama-lama bisa jadi mayoritas.

Eh, atau udah?

Penulis: Mochamad Riski Wardana
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Pembangunan Kayutangan Malang yang Krisis Identitas

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 5 Januari 2024 oleh .

Mochamad Riski Wardana

Seorang mahasiswa Peternakan yang sedang belajar membangun narasi. Baginya, setiap baris kata harus diselesaikan sebagaimana menyelesaikan tanggung jawab di kandang.

Exit mobile version