Kalian boleh kesal sama emak-emak, tapi oknum bapak-bapak merokok saat berkendara jauh lebih meresahkan

Kalian boleh kesal sama emak-emak, tapi oknum bapak-bapak merokok saat berkendara jauh lebih meresahkan

Kalian boleh kesal sama emak-emak, tapi oknum bapak-bapak merokok saat berkendara jauh lebih meresahkan (Pixabay.com)

Sering kali di jalan saya jumpai emak-emak saat menyebrang jalan sein kiri belok kanan. Sungguh sangat menyebalkan. Saya setuju jika sebutan “Ras Terkuat di Bumi” diberikan kepada emak-emak. Akan tetapi, kalau ditanya “Raja Jalanan” sebenarnya, bapak-bapak yang suka merokok saat berkendara lebih tepat menyandangnya.

Bukan sekali atau dua kali mata saya terasa perih karena kelilipan bara api dari pengendara di depan. Masalahnya, abunya terbang begitu cepat. Kalau sejak awal kelihatan ada kepulan asap, saya pasti sudah ambil jarak aman. Sialnya, sering kali tangan mereka tersembunyi, terselip di antara stang motor, tahu-tahu bara sudah mampir ke mata orang lain.

​Lucunya, saat ditegur baik-baik, oknum bapak-bapak perokok ini biasanya berubah menjadi lebih galak dari orang yang menegurnya. Kalau emak-emak salah sein ditegur paling banter berujung omelan tanpa henti hingga membuat telinga panas. Tapi berhadapan dengan oknum perokok jalanan ini beda cerita, urusannya bisa panjang hingga langsung main fisik atau adu otot di pinggir jalan.

Mereka yang bikin bahaya, tapi mereka juga yang malah menyalahkan orang lain karena tidak berhati hati.

Penguasa jalanan selalu menormalisasi bahaya yang ia buat

Jika dibedah satu persatu, kesalahan oknum emak-emak dalam menyalakan lampu sein rata-rata bersumber dari kurangnya pemahaman yang dimilikinya. Memang hal itu tidak dapat dibenarkan karena membahayakan nyawa pengendara lainnya.

Namun, berbeda dengan oknum bapak-bapak yang merokok saat berkendara. Mereka justru menyadari bahwa saat berkendara, bara api dari rokok akan terbang ke belakang mengenai pengendara lainnya. Akan tetapi, mereka justru cenderung tidak peduli. Ketika ditegur jawabannya selalu “Ya salah sendiri kenapa tidak pakai helm full face!”, “Ini kan jalan umum, ya suka-suka saya lah!”atau bahkan “Kalau tidak mau kena asap, ya pakai mobil sana!”

Kalimat tersebut sering kali menjadi senjata mereka untuk melegitimasi tindakan egois tersebut. Sungguh ironis. Padahal, sudah ada aturan hukum yang melarangnya.

Sering kali saya melihat tak hanya pengendara motor saja yang merokok saat berkendara. Bahkan pengendara mobil juga melakukan hal yang sama. Menurunkan kaca jendela, kemudian tangan dikeluarkan dengan ujung kedua jari mengapit rokok yang sedang menyala. Entahlah di mana hati nurani mereka terhadap pengendara lainnya.

Jalan raya bukanlah asbak pribadi, jadi jangan merokok saat berkendara

Pada akhirnya, takhta “Raja Jalanan” memang sudah selayaknya bergeser dari emak-emak ke oknum bapak-bapak perokok. Oknum emak-emak di jalanan mungkin sering menguji iman dan membuat kita mengelus dada, tapi setidaknya itu lahir dari ketidaktahuan. Meskipun hal itu juga tidak bisa diwajarkan juga.

Namun, hal ini berbeda dengan kasus oknum bapak-bapak merokok saat berkendara. Mereka tahu bahwa mereka salah. Tapi mereka tidak mau disalahkan. Yang mereka mau, kita normalisasi kesalahan yang mereka lakukan. Jika mereka tidak ditegur maka, keselamatan mata menjadi taruhannya. Namun, jika mereka ditegur muka menjadi bonyok karena amukannya.

Jalan raya merupakan fasilitas umum yang dipakai seluruh lapisan masyarakat. Mulai dari pekerja, ibu-ibu beraktivitas, hingga anak-anak berangkat sekolah. Jalan raya bukanlah asbak pribadi para perokok. Jika hasrat merokok sudah tidak tertahankan, alangkah baiknya segera mencari tempat yang sesuai seperti warung kopi atau rest area. Jangan mengorbankan keselamatan orang lain hanya untuk memenuhi hasrat pribadi.

Penulis: Dhivia Felsy Tsabitah Nugrahwati
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Semoga Orang yang Merokok Saat Berkendara Dipenjara Lebih Lama dan Masuk Neraka Paling Dasar

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version