Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Nobar di Kampung Saya Bukan Perkara Membela Tim, tapi tentang Ronaldo dan Messi

Gusti Aditya oleh Gusti Aditya
20 Desember 2020
A A
Nobar di Kampung Saya Bukan Perkara Membela Tim, tapi tentang Ronaldo dan Messi terminal mojok.co

Nobar di Kampung Saya Bukan Perkara Membela Tim, tapi tentang Ronaldo dan Messi terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Waktu kecil, ketika Steven Gerrard masih muda dan Fernando Torres masih jaya-jayanya, saat itulah kala pertama saya nobar di desa. Di sebuah desa di dalam Imogiri. Sebuah desa yang saat itu keberadaan televisi masih amat jarang. Maklum, seseorang dikatakan kaya itu jika punya sawah dan anaknya masuk PNS, Polri, atau Tentara, bukan tentang punya televisi. Ketiga cita-cita itu tercapai, itu berarti tanah mereka sudah laku dijual.

Saya berjumpa dengan pemain-pemain yang berjibaku merebutkan bola di sebuah layar televisi dua puluh satu inci. Badannya tabung dan begitu sintal untuk dibandingkan dengan televisi zaman sekarang. Ayah saya, jika ngajak nobar di kampung, hanya tiga kata: Ayo nonton Rooney! Saya ingat betul sumringahnya blio ketika mengucap nama Rooney. Ia tidak mengidolai Manchester United secara kaffah, tapi mencintai Rooney bagai ia mencintai istrinya, ya, Bunda saya.

ADVERTISEMENT

Pun dengan orang-orang lain di desa. Mereka cenderung menyukai salah satu pemain saja. Ronaldinho adalah nabi, tapi tetap saja generasi AC Milan yang lainnya adalah gerombolan manusia yang pantas ditasbihkan dan diberi suka cita setinggi-tingginya. Lapangan kampung adalah arena cosplay terbaik. Saya jadi Xabi Alonso, teman saya jadi Frank Lampard, bahkan bek tak terkalahkan dari kampung sebelah, membaptis dirinya sebagai John Terry yang bengal.

Kami bagai kesurupan pemain-pemain yang diidolakan. Ada harga diri yang dipertaruhkan jika kami jelek mainnya. Sore hari di sebuah lapangan pating gronjal di Selopamioro, saya sumringah bukan main kala mencetak angka. “Lihat saya!” begitu sekiranya isi hati saya yang membuncah. “Gelandang flamboyan asal Spanyol, Xabi Alonso, berhasil mencetak angka di Imogiri Stadium!” saya membayangkan komentator berkata seperti itu.

Lapangan desa Kajor Wetan, pada menit yang entah ke berapa, Xabi Alonso memuntahkan si kulit bundar yang diperebutkan secara sembarangan. Malam ketika pertandingan Liga Inggris, berkumpul di rumah Bapaknya Darmaji, bersama para orang tua lainnya. Saya jadi memiliki semacam keyakinan, nanti malam Liverpool menang. Xabi akan mencetak angka melawan Chelsea.

Kemudian lini masa waktu terus berlalu. Idola demi idola kami pada masa kecil memutuskan untuk pensiun. Televisi sudah kian menjamur. Tiap rumah, televisi tetap bukan barang mewah, tapi hadirnya juga sudah pasti ada. Tak tergantikan. Nonton bareng adalah media yang sebaiknya ditinggalkan. Buat apa? Toh ponsel kami sudah bisa menyentuh Old Trafford. Mata kami sudah bisa menyapa langsung Camp Nou. Mesin pencarian bisa memastikan bahwa malam ini Allianz Arena berwarna merah dan biru.

Yang lekat menjauh, yang jauh melekat. Itu mungkin definisi paling sahih untuk menggambarkan pandemi. Seluruh manusia yang pergi ke kota, bisa-bisanya kembali ke desa. Termasuk saya. Mereka, entah yang menang atau kalah di kota, kembali dengan wajah yang sama. Oh, itu si bengal John Terry, nah itu dia si elegan Frank Lampard, dan tentunya saya, Xabi Alonso, si pencetak angka saat itu. Mereka reuni di sebuah cakruk. Bedanya kini mereka bukan si kecil lagi, ada jenggot di dagu. Ada jambang dan berbagai bulu-bulu.

Barcelona kontra Juventus pada lanjutan Liga Champions musim 2020/2021 adalah pertanda bahwa tradisi ayah-ayah kami kudu kami lanjutkan kembali. Televisi sudah banyak, layanan streaming tumpah ruah, kami justru membuat sebuah panggung massa di sebuah cakruk tengah desa. Dahulu televisi dua puluh satu inci, sekarang layar layar putih yang terproyeksi. Para orang tua tak datang lantaran lelah, kamilah orang yang paling tua di sana.

Baca Juga:

Final Piala Dunia yang bikin fans Ronaldo hilang arah: Cemas dukung Messi atau membiarkan fans Barcelona makin besar kepala?

Cacat logika menuduh fans timnas Argentina sama dengan mendukung zionis

Anak-anak berusia tanggung berhamburan, begadang menonton idola mereka. Oh, tentunya bukan Barcelona atau Juventus. Mereka tak punya waktu untuk menghafal manusia-manusia di dalam satu tim banyaknya. Apalagi layar yang menangkap dari atas, mereka tak tahu yang membawa bola itu siapa. “Ini perkara Ronaldo dan Messi, Bung!” mungkin itu yang ada di benak mereka. Dua nama yang diperebutkan ketika mereka bermain sepak bola di lapangan desa yang kini sudah tidak pating gronjal sore tadi.

Mereka bersorak kala wajah bahagia Ronaldo disorot. Mereka seraya berkata, “Itu aku ketika sore tadi. Membawa bola dan melewati lawan!” lantas disambut oleh yang lain, “Tidak! Itu aku. Tentunya aku. Akulah yang sudah memasukan bola lebih dari empat biji ke jala lawan. Dengan penalti, tentunya!” Perlombaan itu tak pernah sirna. Beriringan dengan betapa sempurnanya Ronaldo ketika menggelontorkan dua gol melalui titik putih.

Wajah Messi disorot, anak-anak bagian lainnya terperanjat. Wajah mereka seakan berkata, “Nah, inilah tuhan kami. Tuhan kecil kami.” Namun, mereka hanya diam tentunya, Messi tak pernah diakui dalam ketuhanan yang maha esa di negeri ini. Messi yang terlihat akan menjemput masa tuanya, angkat koper dari Catalan entah ke Paris atau Manchester sisi Biru. Wajah anak-anak itu tak mau tahu. Bagi mereka, Messi ya Messi. Ia adalah Lionel Messi, harapan yang sudi masuk lebih dalam ke belantara Imogiri.

Nonton bareng di desa kami bukan perkara menang kalah, tapi perkara bisa melihat sang idola atau tidak. Ini berlangsung sejak lama. Sejak zaman ayah-ayah kami bermain gundu. Kemenangan paling sempurna adalah kala melihat selebrasi pemain idola. Entah berupa mencium tangannya, menunjuk angkasa seraya mulutnya komat-kamit, atau lebih sentimentil dengan mengucapkan syukur kepada Tuhan.

Benar sekali, Tuhan bahkan datang melalui televisi di penjuru Imogiri. Bahkan saat kami menyiapkan nonton bareng di sebuah cakruk, ketika Ronaldo selebrasi, bahkan ketika Messi menarik jersey Buffon kemudian menunduk dan berserah diri. Ia menyadari bahwa inilah musim terakhirnya. Sedang para penonton di sisi jauh dari Catalan, masih sumringah melihat Messi. Idola yang tak akan terganti.

BACA JUGA 5 Tipikal Manusia Ketika Nobar Sepak Bola dan tulisan Gusti Aditya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 18 Desember 2020 oleh

Tags: messinobarronaldo
Gusti Aditya

Gusti Aditya

Pernah makan belut.

ArtikelTerkait

Piala Dunia 2022 Qatar: Piala Dunia yang Serba Terakhir

Piala Dunia 2022 Qatar: Piala Dunia yang Serba Terakhir

16 November 2022
Leonardo PSG FIFA PES gim sepak bola Lionel Messi Mojok

Setelah Messi Pindah ke PSG, Dunia PES dan FIFA Tak Lagi Sama

12 Agustus 2021
argentina messi copa america ronaldo gelar nasional mojok

Akui Saja, Kalian Tak Tega Melihat Argentina Kalah

23 November 2022
Dear Fans Manchester United, Belajarlah dari Kesombongan Terminal Mojok

Dear Fans Manchester United, Belajarlah dari Kesombongan Kalian Selama Ini

31 Maret 2022
lionel messi putuskan bertahan di barcelona tak jadi pindah mojok.co

Bagaimana Rasanya Melihat Messi Memakai Jersey Klub Lain?

6 Agustus 2021
ansu fati barcelona bangkrut fcb femeni la masia arthur melo barcelona pjanic juventus MOJOK

Sampai Kapan Jadi Menyedihkan seperti Ini, Barcelona?

18 September 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Burnout bukan hak istimewa dokter. Karyawan toko, buruh, sampai ojol juga bisa mengalaminya

Burnout bukan hak istimewa dokter. Karyawan toko, buruh, sampai ojol juga bisa mengalaminya

6 Agustus 2026
Harapan Jaya dan Pelita Indah, duo maut bus Tulungagung yang bikin banyak penumpang trauma Mojok.co

Harapan Jaya dan Pelita Indah, duo maut bus Tulungagung yang bikin banyak penumpang trauma

10 Agustus 2026
Seni bertahan hidup di desa, wajib ikut mengantar jenazah ke kuburan dan takziah kalau nggak mau jadi musuh bersama Mojok.co

Seni bertahan hidup di desa, wajib ikut mengantar jenazah ke kuburan dan takziah kalau nggak mau jadi musuh bersama

6 Agustus 2026
Jombang memang nggak punya pantai, tapi senja pinggir Sungai Brantas sukses bikin iri warga kabupaten tetangga

Jombang memang nggak punya pantai, tapi senja pinggir Sungai Brantas sukses bikin iri warga kabupaten tetangga

5 Agustus 2026
Cor dak malam hari itu bukan karena tukangnya gabut, tapi ada alasan ilmiah yang valid

Cor dak malam hari itu bukan karena tukangnya gabut, tapi ada alasan ilmiah yang valid

9 Agustus 2026
Mobil Suzuki Swift Lama, Mobil Tanpa Musuh dan Bebas Makian di Jalan suzuki sx4

Dari gaya hingga performa, inilah 6 alasan Suzuki Swift ST 2008 cocok jadi mobil pertama

6 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.