Niat Baik Ngasih Sesuatu yang Gratis, yang Terjadi Malah Nggak Mengenakkan

Niat hati memeluk gunung, eh malah terpeluk biawak. Itu perasaan saya ketika beberapa kali memberi sesuatu secara gratis kepada orang lain.

Artikel

Avatar

Niat hati memeluk gunung, eh malah terpeluk biawak. Itu perasaan saya ketika beberapa kali memberi sesuatu secara gratis kepada orang lain.

Jadi begini ceritanya. Di beberapa kesempatan, saya terlibat menjadi tenaga pengajar untuk melatih para awardee beasiswa kursus IELTS (International English Language Testing System) hingga sampai di tahap saya dengan beberapa teman menginisiasi kursus IELTS secara online di masa pandemi ini. Tentu saja, namanya beasiswa, para peserta tidak akan dipungut biaya sepeser pun alias gratis.

Pasca lulus S-1, saya mengalami masalah finansial yang membuat saya kesulitan mengakses kursus IELTS bertarif fantastis itu. padahal saya membutuhkannya untuk memperjuangkan mimpi melanjutkan studi ke luar negeri. Kemudian, saya memutuskan untuk mengikuti seleksi beasiswa kursus IELTS hingga terpilih menjadi penerima beasiswa selama empat bulan di tahun 2016. Singkat cerita, hal tersebut memotivasi saya untuk melakukan hal serupa, membantu dan berbagi ilmu kepada orang lain secara gratis karena senasib, sepenanggungan.

Awalnya kalimat mutiara “Hanya memberi tak harap kembali” itu selalu terpatri menghiasi lubuk hati. Sampai pada akhirnya ketulusan hati ini pun diuji akibat fenomena gratisan.

Peserta kursus yang awalnya menyatakan komitmen dan kesungguhannya dalam mengikuti tata tertib, berpartisipasi aktif dalam kelas online, dan mengerjakan setiap tugas guna meningkatkan kemampuan bahasa asing perlahan-lahan sering absen dan mangkir dari tugas. Memang tidak semuanya, tapi di beberapa kasus mereka memutuskan untuk menjadi kaum pembelot. Saya introspeksi diri, mungkinkah metode belajar yang diterapkan kurang tepat, ataukah cara komunikasi yang buruk, terkendala teknis dan faktor-faktor lainnya. Beberapa pendekatan dan perubahan sudah dilakukan dan berhasil membentuk kelas yang lebih nyaman dan kooperatif. Namun, hal ini lagi-lagi tidak berlaku untuk semua orang, masih saja ada peserta yang bandel.

Baca Juga:  Jika Kita Mau Berhusnuzan, Pansos di Instagram Ternyata Punya Sisi Positif

Dari pengalaman ini, saya jadi mempunyai sudut pandang baru dalam melihat cara manusia menilai uang. Mereka akan lebih menghargai hal-hal yang mereka bayar. Memang terdengar klise, tapi fenomena kaum yang sering kali meremehkan hal-hal yang bisa didapatkan secara gratis tidak hanya datang sekali dalam kehidupan saya.

Perilaku ini terjadi berulang-ulang dan ternyata hal tersebut terkadang membuat saya kesal. Rasanya seperti unrequited love alias cinta bertepuk sebelah tangan. Niat hati ingin berbagi tapi berujung dikhianati. Padahal kunci dari belajar online ini sangat sederhana, yaitu prinsip saling percaya, pengajar memberikan ilmunya dan peserta bisa belajar dengan baik.

Hal tersebut sudah lebih dari cukup karena pintar adalah urusan nanti. Kesimpulannya adalah jika seseorang tidak membayar, mereka tidak akan menghargai itu. Sebaliknya, jika orang membayar, mereka akan merasa bertanggung jawab dan terlibat dengan transaksi-transaksi yang sudah mereka lakukan (investasi).

Saat peserta kursus online mendapat penawaran gratis dan kebetulan mereka tidak memiliki motivasi yang kuat untuk meningkatkan skill bahasa asingnya. Konsekuensinya, mereka tidak akan terlibat dalam jangka waktu yang lama. Ya, karena alasannya memang hanya coba-coba. Bandingkan jika, platform belajar bahasa asing online ini berbayar. Mereka akan mengaksesnya secara berkala, belajar dengan lebih baik, mengikuti seluruh rangkaian kelas, mengerjakan modul dan giat berlatih dan jika mereka merasa puas bisa jadi akan mengikuti kelas di periode berikutnya dan bahkan menjadi pelanggan setia untuk kelas-kelas yang lain.

Fenomena di atas tidak hanya berlaku untuk kursus-kursus online gratis atau webinar-webinar yang sedang marak. Hal tersebut juga berlaku di sektor bisnis lainnya di mana risiko paling buruk yang bisa terjadi adalah bahaya laten memberikan produk/jasa secara gratis.

Baca Juga:  Nasib Jadi Sipir Baru yang Cuma Bisa Makan Hati Ngeliat Kelakuan Senior

Awalnya, alasan pemberian produk/jasa secara gratis amatlah sederhana, yaitu perusahaan dapat memberikan penawaran kepada calon pembeli/pelanggan agar mereka dapat menggunakannya. Kemudian, harapannya mereka akan menyukai produk/jasa tersebut dan membelinya. Bahkan bisa menjadi media pemasaran dari mulut ke mulut yang dinilai efektif jika pelanggan merasa puas. Tapi, kenyataannya memberi gratisan bukanlah strategi pemasaran yang menguntungkan untuk dilakukan dalam dunia bisnis.

Ketika kita memberikan produk/jasa secara gratis justru akan ditafsirkan bahwa produk/jasa kita tidak memiliki nilai lebih bahkan keunggulan. Sebagaimana pernyataan The Last Hurdle, perusahaan pengembangan bisnis di Inggris, bahwa alih-alih memberikan produk/jasa gratis, perusahaan seharusnya menghasilkan produk/jasa yang memiliki kualitas bagus di mana para pelanggan mempunyai alasan yang kuat untuk membelinya. Daripada mencari yang gratis, pelanggan yang baik justru lebih memilih membeli atau membayar sesuatu dengan harga yang lebih murah.

Inilah yang sering kali menjadi salah kaprah bahwa yang gratis akan selalu berakhir manis. Jadi, masih mau yang ngasih gratisan?

BACA JUGA Tulisan “Ngamen Gratis” di Beberapa Tempat Makan yang Berpotensi Menyakiti Hati Seorang Pengamen dan tulisan Firda Alfiani lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
12


Komentar

Comments are closed.