Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Nggak Ada Gunanya Dosen Ngasih Tugas Artikel Ilmiah dan Wajib Terbit, Cuma Bikin Mahasiswa Stres!

Mohammad Rafatta Umar oleh Mohammad Rafatta Umar
17 November 2025
A A
Nggak Ada Gunanya Dosen Ngasih Tugas Artikel Akademik dan Wajib Terbit, Cuma Bikin Mahasiswa Stres!

Nggak Ada Gunanya Dosen Ngasih Tugas Artikel Akademik dan Wajib Terbit, Cuma Bikin Mahasiswa Stres!

Share on FacebookShare on Twitter

Jujur saya sudah muak dengan tugas artikel ilmiah di kuliah. Muak, banget.

Sekarang saya sudah semester lima dan dari semester dua udah dikasih banyak tugas bikin artikel ilmiah. Jurusan yang saya ambil adalah Ilmu Politik di salah satu kampus negeri Jakarta.

Tugas itu dikerjakan secara berkelompok. Tapi, per semester saya bisa mendapatkan 3-5 tugas artikel ilmiah. Dosen pun beda-beda dalam menetapkan target tugas tersebut. Ada yang cukup submit di jurnal bersertifikasi SINTA. Ada juga yang harus sampai publish

Bukannya malas, tapi buat saya membuat artikel ilmiah proper sebanyak itu dengan waktu satu semester nggak make sense. Hal ini udah salah dari segi waktu, tenaga, juga uang.

Saya dan mahasiswa lain cuman bisa misuh-misuh aja dengan tugas ini. Kalau saya mengkritik atau ngelawan dosen, yang ada nilai saya terancam. Kalau sampai nambah semester karena nggak lulus mata kuliah, kasihan orang tua saya yang membiayai.

Di sini saya akan menjabarkan berbagai alasan kenapa tugas artikel akademik yang seabrek-abrek itu problematik di kampus saya.

Tugas artikel ilmiah makan banyak waktu dan mengurangi waktu eksplorasi mahasiswa

Menulis artikel ilmiah itu panjang prosesnya dan makan banyak waktu. Apalagi jurusan saya yang ilmu politik cenderung kualitatif penelitiannya. Yang mana kalau mau ngambil data sering kali harus dengan metode wawancara. Dan masalah wawancara itu rata-rata sama: ghosting. Saya sering banget saya di-ghosting calon narasumber sehingga proses pengambilan data jadi lama.

Abis itu saya masih harus mengolah data dan mulai nulis yang prosesnya juga nggak lama. Belum lagi ada jenis tugas lain. Fokus saya jadi terbelah-belah dalam mengerjakan satu artikel ilmiah. Apalagi, harus ngerjain artikel yang jumlahnya lebih dari satu di satu semester.

Baca Juga:

Setelah Tahu Gaji HSE, Saya Langsung Mengubur Mimpi Saya Jadi Dosen. Peduli Setan pada Ilmu Pengetahuan, Dompet Tebal Adalah Kunci!

Publikasi Jurnal Kadang Jadi Perbudakan Gaya Baru: Mahasiswa yang Nulis, tapi Dosen yang Dapat Nama, Logikanya di Mana?

Belum lagi saya harus mengerjakan revisi yang diberikan reviewer setelah submit ke jurnal. Beberapa jurnal pun banyak yang slow response dalam memberikan revisi atau memberi kepastian penolakan atas naskah saya. Kalau ditolak ya saya harus cari rumah jurnal lain yang scope-nya sesuai.

Kasihan mahasiswa yang ingin punya waktu buat berorganisasi dan meng-explore hal-hal baru. Waktunya habis dipakai untuk menulis artikel yang belum tentu ada yang baca.

Dosen cuman membantu sekenanya, tapi minta namanya ikut dicantumkan sebagai kontributor

Suatu saat teman-teman saya ada yang kena marah di kelas. Ia terlanjur mengirim artikel ilmiahnya ke jurnal tanpa menuliskan nama dosen. Habislah mereka. Dosen tersebut menjelaskan bahwa namanya pantas dicantumkan karena ia yang memberikan materi di mata kuliah tersebut.

Loh, kok aneh cara pikirnya? Kalo begitu caranya saya harus cantumkan nama guru Kumon dong setiap nulis hal tentang matematika. Karena mereka yang mengajari saya matematika pas kecil. 

Mahasiswa udah mahal-mahal bayar UKT buat dapet materi untuk memperluas wawasan. Kok masih diminta lebih?

Sebetulnya dosen yang marah itu juga melakukan review terhadap artikel ilmiah mahasiswa-mahasiswanya. Cuman, ya sekenanya aja. Nggak ada komentar yang substantif terhadap tulisan yang saya dan teman-teman saya buat.

Ada juga cerita dari kakak tingkat saya dengan dosen yang berbeda. Tugas jurnalnya berhasil publish, tetapi ia tidak mencantumkan nama dosennya, sehingga nilainya di mata kuliah tersebut diberi C.

Ngejar publish sebelum semester berakhir, ya terpaksa pake duit

Di kampus saya ada beberapa dosen yang mewajibkan tugas artikel ilmiah ini hanya sampai submit. Tapi, ada juga yang sampai publish. Kalau ada yang begitu, rata-rata dosen di jurusan saya meminta publish di rumah jurnal tersertifikasi SINTA 4-6.

Yang ngeselin adalah saya harus mengejar waktu agar jurnal tersebut bisa publish sebelum akhir semester. Di sini saya harus cari-cari rumah jurnal yang memiliki jadwal publikasi yang pas dengan berakhirnya semester yang saya jalani. 

Kalau udah ketemu dan dikirim, artikel masih memerlukan waktu lama untuk di-review atau mendapat kepastian ditolak. Oleh karena itu, beberapa mahasiswa lari ke rumah jurnal predator. Mereka harus bayar agar bisa segera publish dan bisa dapat nilai A.

Yang saya tahu untuk rumah jurnal predator yang bersertifikasi SINTA 4-6 kisaran harganya Rp400.000,00-Rp600.000,00. 

Dari pengalaman saya sendiri sangat keberatan bila harus memilih publikasi di jurnal seperti itu. Uang jajan saya seminggu cuman Rp300.000,00 dan itu bisa dibilang pas-pasan untuk saya yang tinggal di Jakarta Selatan. Sulit sekali untuk menyisakan uang Rp50.000,00-Rp100.000,00 buat tabungan. 

Sudah sulit menabung, uangnya dipakai untuk publikasi jurnal. Untungnya sih tugas tersebut ditugaskan kepada mahasiswa secara kelompok. Jadi masih bisa patungan. 

Semuanya jadi serba salah

Salah satu dosen saya pernah bilang kalau tugas artikel ilmiah ini dibuat agar nanti sudah terbiasa menulis ketika skripsian. Gini lho, gimana caranya mereka belajar nulis naskah akademik kalau nggak dibimbing dengan baik? Saya ini baru S1 lho.

Ada juga dosen yang bilang kalau tugas-tugas artikel ilmiah itu buat portofolio saya. Buat apa juga kalau kualitas dari tulisannya jelek karena ngerjainnya kepepet waktu?

Buat apa juga dosen minta namanya dicantumkan sebagai kontributor kalo hasil yang dikerjain mahasiswanya jelek dan publish di jurnal predator? Yang ada itu akan menjelekkan reputasi dosen itu sendiri.

Ngasih tugas artikel ilmiah nggak apa-apa, tapi…

Oke aja kok kalian para dosen mau ngasih tugas artikel ilmiah. Tapi, ya tolong kembali ke tujuan awal. Kalo emang mau membiasakan mahasiswa sudah terbiasa menulis saat skripsi ya caranya juga harus menyesuaikan.

Cukup satu aja tugas artikel ilmiah per semester. Bimbing baik-baik mahasiswa dalam menentukan masalah dan teori. Awasi secara ketat metode penelitian yang dijalankan. 

Jangan juga patokin nilai dengan publish atau tidaknya sebuah artikel. Nggak semua mahasiswa punya uang buat bayar fee agar bisa cepat publish. Nilailah dari kualitas tulisan itu sendiri. Pentingkan kualitas daripada kuantitas.

Penulis: Mohammad Rafatta Umar
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Pengalaman Publikasi Artikel di Jurnal Ilmiah: Ternyata Ada Sisi Gelapnya!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 17 November 2025 oleh

Tags: artikel akademikartikel ilmiahDosenTugas Kuliah
Mohammad Rafatta Umar

Mohammad Rafatta Umar

Mahasiswa Ilmu Politik di Jaksel yang pesimis sama negara.

ArtikelTerkait

Benang Kusut Kompetisi Hibah Riset dari Pemerintah: Proses Seleksi Kurang Transparan hingga Tanggung Jawab Pemenang yang Terlalu Ribet Mojok.co

Benang Kusut Kompetisi Hibah Riset dari Pemerintah: Proses Seleksi Kurang Transparan hingga Tanggung Jawab Pemenang yang Terlalu Ribet

12 Juni 2025
4 Hal yang Membuktikan Mahasiswa Universitas Terbuka Tak Bisa Diremehkan

4 Hal yang Membuktikan Mahasiswa Universitas Terbuka Tak Bisa Diremehkan

10 Desember 2023
7 Kesalahan Mahasiswa Saat Menulis Artikel di Jurnal Ilmiah

7 Kesalahan Mahasiswa Saat Menulis Artikel di Jurnal Ilmiah

23 Maret 2023
menyikapi dosen yang tak pernah praktik kerja berdebat dengan dosen

Panduan untuk Berdebat dengan Dosen yang Konservatif dan Moderat

9 April 2020
Dosen Bukan Dewa, tapi Cuma di Indonesia Mereka Disembah

Ketahuilah Wahai Mahasiswa, Kelas yang Sunyi Bikin Kami para Dosen Sakit Hati

11 November 2025
deadliner

Siapa Sangka Kalau Deadliner adalah Simulasi Underpressure Menuju Dunia Kerja yang Sesungguhnya

21 Agustus 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pengendara Mobil Nggak Usah Ikut-ikutan Lewat Jalan Tikus, Kalian Nggak Diajak!

Pengendara Mobil Nggak Usah Ikut-ikutan Lewat Jalan Tikus, Kalian Nggak Diajak!

31 Januari 2026
5 Bentuk Sopan Santun Orang Solo yang Membingungkan dan Disalahpahami Pendatang  MOjok.co

5 Sopan Santun Orang Solo yang Membingungkan dan Disalahpahami Pendatang 

2 Februari 2026
4 Kebohongan Tentang Indomaret yang Perlu Diluruskan (Unsplash)

4 Kebohongan Tentang Indomaret yang Perlu Diluruskan

4 Februari 2026
Es Teh Jumbo Cuan, tapi Jualan Gorengan Bikin Saya Bisa Kuliah (Unsplash)

Bisnis Kecil Seperti Gorengan dan Es Teh Jumbo Dipandang Remeh Nggak Bakal Cuan, Padahal Berkat Jualan Gorengan Saya Bisa Kuliah

2 Februari 2026
Sisi Gelap Budaya Rewang di Hajatan Desa yang Nggak Banyak Orang Tahu Mojok.co

Saya Tidak Antisosial, Saya Cuma Takut Ikut Rewang dan Pulang Dicap Nggak Bisa Apa-apa

29 Januari 2026
8 Dosa Penjual Kue Pukis yang Mengecewakan Pembeli (Danangtrihartanto - Wikimedia Commons)

8 Dosa Penjual Kue Pukis yang Sering Disepelekan Penjual dan Mengecewakan Pembeli

30 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Saat Musik Analog Bukan Lagi Barang Jadul yang Bikin Malu, tapi Pintu Menuju Kenangan Masa Lalu bagi Pemuda di Jogja
  • Salah Kaprah tentang Kerja di Surabaya, “Tipuan” Gaji Tinggi dan Kenyamanan padahal Harus Tahan-tahan dengan Penderitaan
  • Mitos dan Pamali adalah Sains Tingkat Tinggi yang Dikemas dalam Kearifan Lokal, Bisa Menjadi Peringatan Dini Bencana
  • Cabut dari Kota Tinggalkan Perusahaan demi Budidaya Jamur di Perdesaan, Beberapa Hari Raup Jutaan
  • Masturbasi di KRL dan TransJakarta: Maskulinitas Kota dan Tubuh yang Terjepit di Ruang Publik
  • Ngekos Bareng Sepupu yang Masih Nganggur Itu Nggak Enak: Sangat Terbebani, tapi Kalau Mengeluh Bakal Dianggap “Jahat”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.