Anak belajar menabung, orang tua bisa utang. Sebuah sistem yang menyelamatkan keuangan keluarga saya.
Dunia yang serba tidak pasti ini menuntut kita untuk bisa beradaptasi dengan cepat. Termasuk dalam urusan keuangan. In this economy, kalau nggak adaptif ya bakal stuck.
Apalagi sekolah formal tidak mengajarkan literasi keuangan. Khususnya yang praktis di mana kita bisa menerapkannya secara langsung. Padahal, banyak orang justru lebih membutuhkan ilmu seperti ini. Terutama ketika seseorang harus mengambil keputusan dalam hal-hal penting seperti menabung atau utang.
Jangan salah. Kemampuan mengambil keputusan untuk menabung atau untuk utang itu penting. Ilmu seperti ini akan membantu anak supaya lebih mampu membedakan mana keinginan dan mana kebutuhan.
Salah satu cara sederhananya adalah melalui konsep delayed gratification. Ini adalah sebuah teknik untuk melatih anak supaya tidak selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan dengan cara instan. Mereka harus menjalani proses tertentu dan mencapai sesuatu sebelum mendapatkan keinginan.
Saya dan keluar menerapkan teknik ini. Wujudnya adalah sistem reward and punishment berupa nominal. Cara ini menjadi teknik kami untuk mengenalkan nilai uang kepada anak kami yang baru masuk SD. Diam-diam, kami juga sedang menyelipkan pelajaran literasi keuangan.
Ketika menginginkan sesuatu, tentu dia harus menabung sampai nominal tertentu. Dia bisa menabung setelah dengan melakukan berbagai hal baik. Lalu, kami akan menghitung semua reward dan punishment di akhir bulan lalu membayarnya. udah mirip gajian, kan?.
Anak belajar menabung, orang tua bisa utang kapan saja
Semuanya berjalan dengan baik sampai sebuah kejadian bikin situasi jadi kurang enak. Yah, namanya namanya hidup. Kadang ada saja pengeluaran tak terduga. Ketika hal ini terjadi, usaha anak untuk menabung jadi “berkah” untuk orang tuanya yang boleh utang.
Suatu ketika, hasil kerja keras anak untuk menabung justru menjadi penyelamat di kala dapur sedang membutuhkan tambahan dana. Tentunya atas seizin anak, orang tua tidak boleh memaksa dan yang paling penting adalah orang tua wajib mengganti tabungan tersebut.
Jadi, selain belajar menabung, anak kami juga belajar bahwa boleh kok menggunakan tabungan itu untuk sebuah keperluan penting. Tidak lupa kami mengingatkan juga kalau ada tanggung jawab untuk mengembalikannya. Namanya saja utang, ya harus kembali.
Utang tabungan sendiri
Biasanya, kejadian seperti ini muncul ketika sudah mendekati tanggal gajian, tetapi tiba-tiba ada pengeluaran yang tidak masuk anggaran. Selain anak yang belajar literasi keuangan dalam wujud menabung, kami sebagai orang tua ternyata ikut belajar mengelola uang. Istilah kerennya: budgeting.
Jadi, kalau saya pikir sekarang utang tabungan sendiri lewat sistem reward and punishment ini lumayan juga. Namanya simbiosis mutualisme.
Anak belajar mengelola uang, orang tua belajar mengatur keuangan alias utang dulu. Bahkan sesekali tabungan anak ikut membantu menyelamatkan urusan dapur.
Tapi tentu saja ada syarat dan ketentuannya. Utang tabungan anak itu boleh, ya, ibu-ibu. Asal jangan lupa menggantinya.
Sekian cerita dari ibu dua anak yang kadang jadi bendahara keluarga, kadang jadi murid literasi keuangan, dan sesekali… jadi debitur anak sendiri.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
