Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Nasib Buntung Letnan Kolonel Untung

Annisa Herawati oleh Annisa Herawati
28 September 2020
A A
letnan kolonel untung pemberontakan kudeta mojok

letnan kolonel untung pemberontakan kudeta mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Untung bin Syamsuri, laki-laki kelahiran Kebumen itu memiliki perawakan yang pendek dan gempal. Jauh dari kesan seorang tentara yang gagah berani. Namun, Untung berhasil mematahkan stereotip tersebut dengan karirnya yang mencorong di dunia militer. Setidaknya sampai sebelum terjadinya tragedi malam jahanam yang membuat dirinya harus mendapatkan hukuman mati dari pengadilan militer, keberuntungan masih memihak pada Letnan Kolonel Untung.

Untung memiliki nama asli Kusman. Orang tuanya berpisah ketika ia masih berusia 10 tahun. Kemudian, ia diboyong oleh sang paman yang bernama Syamsuri. Oleh karena itu Untung lebih dikenal sebagai Untung bin Syamsuri bukan Untung bin Abdullah yang merujuk pada nama bapak kandungnya.

Karir kemiliteran Kusman dimulai tatkala ia bergabung dengan Heiho, organisasi tentara muda pada masa penjajahan Jepang. Setelah Jepang mengalami kekalahan pada Perang Dunia II, Heiho pun bubar dan Kusman memilih bergabung dengan Batalyon pimpinan Sudigdo yang berada di Solo. Kusman sempat juga terlibat dalam pemberontakan Madiun 1948. Setelah peristiwa tersebut, Kusman masuk TNI melalui Akademi Militer di Semarang dan mulai menggunakan nama Untung.

Setelah berganti nama dari Kusman menjadi Untung, berbagai keberuntungan menghampiri kehidupannya. Ia merupakan salah satu lulusan terbaik Akademi Militer Semarang. Selepas lulus dari pendidikan militer, ia bergabung menjadi anggota Batalyon 454 Kodam Diponegoro, di mana pada saat itu panglima Kodam Diponegoro dipegang oleh Soeharto.

Di Kodam Diponegoro tersebut karir Letnan Kolonel Untung semakin melesat. Ia terlibat dalam operasi penumpasan PRRI/Permesta di bawah pimpinan Mayor Jenderal Ahmad Yani. Sepulangnya dari operasi tersebut, pangkat Untung yang sebelumnya Letkol Satu pun naik menjadi Kapten. Tak hanya itu, atas kinerjanya yang baik, Untung dilibatkan lagi dalam Operasi Mandala untuk membebaskan Irian Barat dari tangan Belanda yang dipimpin oleh Soeharto. Hal ini pula yang turut membuat hubungan baik antara Untung dan Soeharto semakin erat.

Dalam Operasi Mandala tersebut, Untung dapat dikatakan sebagai pahlawan di balik keberhasilan operasi yang melegenda tersebut. Untung ditugaskan untuk memimpin pasukan kecil yang bertempur di hutan belantara Kaimena, Irian Barat. Sebagai lulusan akademi militer terbaik, Untung mampu menunjukkan kelasnya. Ia berhasil melaksanakan operasi tersebut dengan baik. Sepulang dari Irian Barat, pangkat Untung pun naik menjadi Mayor. Kemudian atas jasa besarnya dalam Operasi Mandala, bersama Benny Moerdani, Untung dianugerahi Bintang Sakti dari Presiden Soekarno. Tak banyak prajurit yang mendapatkan penghargaan Bintang Sakti. Bahkan, Soeharto selaku pimpinannya hanya memperoleh Bintang Dharma, setingkat di bawah Bintang Sakti.

Perlahan karier Untung semakin mantap dan menjelang medio 1965 pangkatnya sudah menjadi Letkol Kolonel. Kemudian ia diusulkan oleh Soeharto untuk menjadi pimpinan Resimen Cakrabirawa yang memiliki tugas khusus untuk menjaga keselamatan presiden dari segala mara bahaya.

Sepertinya Letnan Kolonel Untung memang dilahirkan untuk menjadi seorang militer tulen. Sayangnya, Untung merupakan orang yang buta politik. Peristiwa berdarah 30 September 1965 menjadi buktinya. Untung yang pendiam dan cenderung tidak populer dipilih sebagai pimpinan sebuah misi besar dan berbahaya. Ia diberi mandat untuk melindungi presiden dari Dewan Jenderal yang kabarnya hendak melakukan kudeta kepada Presiden Soekarno.

Baca Juga:

Bisnis Coffee Shop Itu Mahal, Nggak Ngotak, dan (Hampir) Pasti Bangkrut!

Orang Madiun Tak Menganut Komunisme, dan Madiun Bukanlah Basis PKI, Ingat Itu!

Di dalam dunia militer terdapat falsafah “berani, benar, dan berhasil”. Mungkin falsafah ini yang selalu dipegang kuat oleh Untung termasuk ketika terjadi peristiwa penculikan para jenderal besar. Dengan berani ia melakukan penculikan terhadap para dewan jenderal. Ia merasa benar melakukan hal tersebut karena memang sudah menjadi kewajibannya untuk melindungi presiden dari segala ancaman sehingga ia tak segan untuk membunuh dewan jenderal yang dianggapnya sebagai ancaman. Dan ia pun berhasil melakukan misinya pada malam itu sampai dengan 1 Oktober 1965 di mana ia sudah berstatus sebagai buronan.

Pasca insiden 30 September, keberuntungan Untung rasanya malah menjadi buntung. Andaikan ia lebih paham politik dan mampu melihat secara lebih jernih mengenai misi yang diembannya, nasib Untung sepertinya bisa menjadi lebih baik. Tapi, nasi telah menjadi bubur. Ia dikenal sebagai pimpinan gerakan kudeta yang gagal. Pada 11 September 1965 ia tertangkap ketika ia kabur di Tegal. Saat itu ia berada dalam sebuah bus. Tiba-tiba ada sekelompok tentara yang masuk ke dalam bus. Tak mau terciduk, ia pun loncat dari bus. Sialnya ia malah menubruk tiang listrik. Orang-orang pun mengira ia pencopet sehingga ia malah digebuki massa.

Setelahnya, Kolonel Untung diadili di Mahkamah Militer Luar Biasa. Ia dituntut hukuman mati. Saat itu Untung masih bisa tenang dan yakin bahwa ia terbebas dari hukuman mati karena tak mungkin Soeharto, pimpinannya yang juga turut menghadiri pernikahannya bakal menjatuhkan vonis tersebut. Namun, fakta berkata lain. Soeharto yang dihormatinya ternyata tega menandatangani surat keputusan hukuman mati untuk dirinya.

BACA JUGA Ketika Raffles Merampas Harta Pusaka Keraton Yogyakarta dan tulisan Annisa Herawati lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 28 September 2020 oleh

Tags: G30SkomunispemberontakanUntung
Annisa Herawati

Annisa Herawati

Cah asli Blitar

ArtikelTerkait

PKI Oktober 65 mojok

Jas Merah, Baju Putih, dan Romantisisasi Kengerian PKI

30 September 2021
Rokok Itu Simbol Komunis-Kapitalis-Liberal-Konservatif, Pokoknya Bahaya!

Rokok Itu Simbol Komunis-Kapitalis-Liberal-Konservatif, Pokoknya Bahaya!

5 November 2022
mengkritik pemerintah, wabah corona covid-19 residu politik Seandainya Elite Politik Negeri Adalah Kenshin Himura, Betapa Indahnya Negeri Ini

Mengkritik Pemerintah Dianggap Kadrun/Komunis, Demokrasi Kita Masih Waras Nggak sih?

6 Juni 2020
Komunisme Berubah Jadi Kapitalisme kalau Soal Mengiklankan Partai terminal mojok.co

Komunisme Berubah Jadi Kapitalisme kalau Soal Mengiklankan Partai

23 Oktober 2020
Pengalaman Masa Kecil: Memburu Keberadaan Markas PKI komunis Pengkhianatan G30S/PKI terminal mojok.co

Pengalaman Masa Kecil: Memburu Keberadaan Markas PKI

30 September 2020
Pengkhianatan G30S/PKI

Film Pengkhianatan G30S/PKI Memang Layak Diputar dan Ditonton Saban Tahun

30 September 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mempertanyakan Efisiensi Syarat Administrasi Seleksi CPNS 2024 ASN penempatan cpns pns daerah cuti ASN

Wajar kalau Masyarakat Nggak Peduli PNS Dipecat atau Gajinya Turun, Sudah Muak sama Oknum PNS yang Korup!

7 April 2026
Terima kasih Gresik Sudah Menyadarkan Saya kalau Jogja Memang Bukan Tempat Sempurna untuk Bekerja Mojok.co

Terima kasih Gresik Sudah Menyadarkan Saya kalau Jogja Memang Bukan Tempat Sempurna untuk Bekerja

3 April 2026
Saya Kira Jadi PPPK Bikin Hidup Tenang, Ternyata Cuma Ganti Kecemasan yang Lain

Saya Kira Jadi PPPK Bikin Hidup Tenang, Ternyata Cuma Ganti Kecemasan yang Lain

2 April 2026
Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

7 April 2026
Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas Mojok.co

Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas

7 April 2026
7 Indikator Purwokerto Salatiga Daerah Terbaik di Jawa Tengah (Unsplash)

Purwokerto Tidak Butuh Mall Kedua, Setidaknya untuk Sekarang

7 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living
  • Slow Living Cuma Mitos, Gen Z dengan Gaji “Imut” Terpaksa Harus Hustle Hingga 59 Tahun demi Bertahan Hidup
  • Jogja Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung 
  • Lulusan Farmasi PTS Jogja Bayar Mahal untuk Wisuda, tapi Gagal Foto Keluarga karena Ayah Harus Dirawat di Rumah Sakit Jiwa
  • Kuliah Kebidanan sampai “Berdarah-darah”, Lulus dari World Class University Masih Sulit Cari Kerja dan Diupah Nggak Layak
  • Makin Muak ke Ulah Pesilat: Perkara Tak Disapa Duluan dan Beda Perguruan Langsung Dihajar, Dikasih Fakta Terang Eh Denial

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.