Narasi Membela Tri Suaka dan Kawan Pengamennya Itu

Narasi Membela Tri Suaka dan Kawan Pengamennya Itu Terminal Mojok.co

Narasi Membela Tri Suaka dan Kawan Pengamennya Itu (Shutterstock.com)

Ribut-ribut di TikTok dan Twitter hadir dari musisi bernama Tri Suaka dan kawan pengamennya yang kalau nyanyi, bibirnya bergejolak membangun cengkok. Mungkin niat mereka memperindah lagu. Tapi, kalau di kuping saya malah seperti petasan mejen. Mereka mengejek Andika Kangen Band, dalam hal gaya bernyanyinya yang memang sejak dulu dikenal sebagai menye-menye-core itu.

Kangen Band (atau lebih spesifiknya Andika yang di-roasting) mungkin sudah biasa menerima ejekan. Dalam membangun karier, ejekan adalah menu utama. Dalam kanal YouTube Vindes, bahkan Vincent pernah terang-terangan berkata tidak menyukai musik yang mereka mainkan. Andika tahu, tapi ia menunggu. Menghormati musisi senior adalah pilihan wajib yang Andika tempuh. Seiring berjalannya waktu, toh saling respect hadir di antara mereka.

Cover lagu (Shutterstock.com)

Lantas, kalau ada musisi antah berantah yang doyannya cover lagu, dimintai monetisasi malah menghindar, ya saya merasa mafhum jika warganet muntah-muntah karena jijik. Siapa dan dari mana mereka, kenapa tingkahnya nggatheli, bukannya minta maaf malah membahas “karya” adalah hal menjijikkan yang berlanjut setelahnya.

Semua bilang, “Nggak ada angin, nggak ada hujan, mereka mengejek legenda.” Saya menolak narasi tersebut. Menurut saya, apa yang dilakukan oleh Tri Suaka dan kawan pengamennya itu adalah efek domino dari tingkah mereka yang banyak tidak disukai orang-orang yang sadar dengan tingkah mereka.

Akan tetapi, kalau mau ditelaah lagi, tingkah mereka yang lebih menjijikkan (sial, sudah berapa kata jijik yang saya tulis sampai paragraf ini) ketimbang bangsa barbar itu ada hal positifnya. Benar, saya nggak sedang satir atau apa pun itu. Sebetulnya, banyak manfaat yang bisa dipetik dari perilaku ndlogok Tri Suaka dan kawan pengamennya itu.

Pertama, pentingnya menghargai senior. Kebodohan Tri Suaka ini bakal jadi pelajaran yang berharga banget buat para musisi muda. Mereka akan tahu bahwa senioritas dalam artian positif itu penting buat kelanjutan karier mereka.

Sekalipun Kangen Band yang sering dapat hujatan di eranya, yang namanya senior dan menghasilkan hits terbaik memang layak untuk dihargai. Makanya, kita harus betul-betul menghargai kebodohan dan tingkah kemaki super wagu ra mutu Tri Suaka dan kawan pengamennya itu.

Kedua, kita jadi tahu mana “karya yang bikin kita hidup” dan mana yang “hidup dari karya orang”. Kawan pengamen Tri Suaka bilang begini, “Iya, saya pengamen. Tapi aku punya karya. Kamu nggak, ya?” Saya jadi tergelitik, karya apa yang sudah mereka buat? Apa sih arti terminologi karya? Kenapa karya begitu multitafsir di kepala mereka?

Ternyata, mereka kira sesuatu yang sudah tampil di platform media, itu adalah mutlak karya mereka. Padahal, yang muncul di sana adalah karya milik orang lain yang mereka “buat versi lain”. Mereka itu sedang berkarya, tapi dalam artian hidup dalam karya orang lain.

Hasil cover biasanya ditayangkan di YouTube (Shutterstock.com)

Ketiga, perihal pengamen. Saya pernah liputan tentang Pieter Lennon, pengamen flamboyan asal Jakal. Ia selalu bilang bahwa ngamen bukan sekadar uang, tetapi juga bagaimana perilaku terhadap pendengar dan sesama pengamen itu sendiri. Mas Piet selalu ngendika, menghargai itu pilihan mutlak yang nggak bisa diganggu-gugat.

Banyak yang bilang Tri Suaka dan kawan pengamennya itu begini, “Dasar pengamen!” Wah, jangan salah. Sejarah panjang saya nyemplung di Terminal Giwangan dan Terminal Umbulharjo, kayaknya pengamen yang kurang ajar ya memang baru mereka doang, deh.

Pengamen itu banyak yang baik. Bahkan ketika saya kecil, mereka sudi memberikan uang untuk jajan soto pada saya. Bayangkan saja, anak polisi dikasih uang sama pengamen. Nah, maka dari itu, kejadian ndlogok Tri Suaka itu jangan sampai jadi tolok ukur melihat pengamen secara utuh.

Keempat, pelajaran untuk membuat undang-undang secara tegas untuk musisi cover. Dalam Facebook pribadinya, Erwin Agam selaku pencipta lagu “Emas Hantaran” protes. Ia protes meminta kompensasi dari lagu buatannya yang ditonton jutaan orang. Apa yang dilakukan Tri Suaka? Ia mematikan monetisasi. Luar biasa, kan?

Harus ada aturan jelas tentang ini agar bukan hanya musisi cover saja yang sejahtera, tapi juga para pencipta lagunya. Di luar negeri, bahkan pencipta lagu mendapatkan bagian dari lagu yang akan dibawakan oleh musisi lain. Terima kasih, Tri Suaka, berkat kesombongan kalian, semoga negara ini jadi melek perihal hak cipta.

Nyanyi (Shutterstock.com)

Banyak kabar yang memberitakan bahwa kalau mau nanggap Tri Suaka harus siap uang 50 juta, Surya satu slop, coklat, minuman, hotel berbintang, dan lainnya. Sek, sek, ini mau nanggap musisi atau mau seserahan sajen kok ada Surya segala?

Membicarakan raider musisi, yang terbaik ya memang Sheila on 7. Kalau mereka manggung harus ada pemadam kebakaran dan ambulance. Mereka mengutamakan keselamatan penggemar, bukan memeras penggemar. Memang, mas-mas Sheila on 7 ini selalu ketiban rejeki. Musisi lain yang blunder, justru mereka yang diagung-agungkan dan mendapatkan pujiannya. Perbuatan baik apa yang sudah mereka lakukan di masa lalu, ya?

Penulis: Gusti Aditya
Editor: Audian Laili

BACA JUGA Benarkah Semua Orang Suka Sheila on 7?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.
Exit mobile version