Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Nanya Cara Motret Hantu ke Komunitas Fotografi Hantu Indonesia

Akhyat Sulkhan oleh Akhyat Sulkhan
10 Agustus 2020
A A
cara motret hantu komunitas fotografer hantu indonesia mojok.co

cara motret hantu komunitas fotografer hantu indonesia mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Mungkin Anda sekalian banyak yang berpikir, cuma orang kurang kerjaan yang mau repot-repot nyari hantu buat difoto. Bayangin ketemu pocong melayang sekelebat atau dengerin kuntilanak ngikik dari atas dahan aja udah bikin tidur nggak nyenyak, orang waras mana sih yang kepikiran njepret mereka pakai kamera?

Saya pun memikirkan hal serupa ketika tahu ada sekelompok anak muda yang bikin komunitas Fotografi Hantu Indonesia (FHI). Mereka ini sudah eksis sejak lima tahun yang lalu. Bahkan pernah tampil di sejumlah acara televisi. Seperti namanya, komunitas tersebut punya agenda rutin yang cukup menantang: hunting foto-foto demit ke berbagai tempat angker yang sudah menjadi urban legend di daerahnya.

Lantaran punya minat terhadap dunia perdemitan sebagaimana kebanyakan warga negara +62 lainnya dan penasaran untuk menulis bagaimana tips motret hantu menggunakan kamera, saya pun bergegas menghubungi FHI. Selasa malam (4/8), saya mewawancarai tiga anggotanya secara daring. Mereka adalah Ibra Karti Winata, Shafar Yulianto Nugroho, dan Bayu Rinanto.

Sebelum menjawab soal teknik motret hantu, mereka terlebih dahulu menjawab keingintahuan saya terkait mengapa membentuk klub foto tersebut. Ibra atau yang karib disapa Iib, humas FHI, menuturkan komunitas itu dibentuk pada 2015. Salah satu pencetus idenya adalah Dika, yang memang sudah cukup lama aktif di dunia fotografi.

“Waktu itu Dika ngerasa jenuh sama fotografi yang gitu-gitu aja. Terus dia pengin ngangkat foto yang temanya di atas human interest. Karena human interest itu kan mengabadikan foto di satu momen dan itu sulit diulangi lagi. Tema yang diangkat FHI juga begitu. Objek yang kita tangkep kan memang kasat mata dan nggak bisa diulang,” kata Iib.

Sebagai klub yang hunting foto-foto makhluk tak kasat mata, tentu FHI nggak cuma mendatangi tempat-tempat wingit sambil njepret ke sembarang arah. Mereka punya teknik khusus gimana supaya hantu bisa dipotret. Tapi bukan dengan mengandalkan semacam kemampuan indigo atau pakai jimat. Mereka percaya, setiap manusia punya sensor alami untuk merasakan keberadaan hantu.

Misalnya, ketika pergi ke tempat yang angker, sensor ini bisa menangkap suatu energi yang menciptakan rasa ketidaknyamanan pada diri kita dari arah tertentu. Nah, anggota FHI biasanya akan memotret persis ke arah yang menurut mereka janggal atau seram tersebut dua kali.

“Kenapa dua kali jepret, itu bisa kita gunakan sebagai pembanding. Misalnya di foto pertama ada sesuatu tapi foto kedua nggak ada. Itu nanti bisa kita kaji apakah ada suspect atau nggak,” kata Iib.

Baca Juga:

Fotografer Lari, Profesi dengan Potensi Cuan yang Amat Lumayan untuk Kamu Coba, Satu Foto Seharga Seratus Ribu!

Live Berburu Hantu di TikTok Sangat Tidak Pantas, para Kreator Sudah Keterlaluan!

Saya sendiri baca di beberapa artikel kalau mengajak orang penakut juga menjadi salah satu strategi mereka. Namun Iib sedikit mengoreksi, “Bukan penakut banget juga sih, tapi lebih ke orang yang udah tersugesti,” katanya. “Kami sempat nyoba sama orang yang nggak kepengaruh sugesti rasa takut dan itu emang nggak dapat hasil apa-apa,” imbuh dia.

Bayu Rinanto, penanggung jawab lapangan FHI, menjelaskan lebih lanjut soal orang yang tersugesti. Menurut dia, sugesti itu akan mempengaruhi mindset seseorang. Misalnya, kalau mindset dia ada kuntilanak di pojok ruangan, ya kemungkinan besar akan muncul kuntilanak.

“Makanya saya suka mengajak orang yang masih baru (awam). Karena energinya nggak terlalu besar dan tingkat ketakutannya tinggi. Jadi menarik mereka-mereka untuk mengambil energi tersebut dan bisa muncul. Ketika dapat foto hasilnya ya bagus. Tanpa kemenyan atau jimat gitu bisa. Soalnya kita berusaha menguak mitos pakai teknologi. Intinya gitu,” ujarnya.

Dalam anggota FHI sendiri ada beberapa orang yang punya kemampuan bisa melihat hantu. Namun, ketika beraktivitas dalam komunitas, mereka mesti mengikuti aturan yang ada. Jadi nggak bisa asal nunjuk-nunjuk gitu aja dan mesti mengedepankan teknik fotografinya. Bahkan ada larangan membawa jimat atau benda pusaka sejenisnya. Khawatirnya, dapat memicu gejolak energi yang bisa menyerang semua anggota.

Saya menyela, bisa nggak sih kita motret hantu di siang hari?

Bayu menjawab, itu bisa saja. Namun tergantung tempat. “Sebenarnya mereka ini selalu ngeksis, tapi bernaung di tempat-tempat gelap. Kayak di gedung gitu, mereka masih ada aktivitas. Di lapangan mungkin agak susah.”

Untuk teknis menggunakan kameranya, FHI juga memiliki teknik sendiri. Para anggota lazimnya menggunakan DSLR setiap kali hunting. Memang ada yang juga menggunakan kamera digital atau ponsel pintar, namun nggak direkomendasikan. Kalaupun bawa, harus yang spesifikasinya lumayan tinggi. Informasi ini sebagaimana diterangkan oleh Shafar Yulianto Nugroho, bendahara komunitas tersebut.

“Kalau pakai ponsel sama kamera digital itu nggak direkomendasikan soalnya baik dari lensa ataupun flash berdekatan. Jadi bukaan lensa terlalu besar. Apabila ada serangga lewat bisa dianggap penampakan padahal noise. Kaya orb, itu bukan penampakan. Tapi bisa jadi serangga yang lewat,” katanya.

Selanjutnya, Shafar menjelaskan bagaimana mengatur kamera sebelum mulai berburu foto hantu. “Pakai DSLR dan mesti menyesuaikan kondisi tempat juga sih. Kalau hape, itu karena untuk setting-annya terbatas, biasanya auto aja. Kalau bisa diatur, ya disesuaikan DSLR. Terus menyesuaikan tempat juga. Oh iya, nggak bisa pakai autofokus, karena malam tempatnya gelap. Kalau pakai autofokus malah blur.”

Semua pengetahuan tentang fotografi menurut Shafar merupakan hasil eksperimen mereka sendiri. Dengan pengalaman sering nyoba motret hantu, kini FHI sudah memiliki banyak hasil foto suspect penampakan. Bukan hanya dari jepretan DSLR lho, tetapi dari ponsel pintar atau kamera digital juga ada.

Terakhir, obrolan saya kembali diladeni oleh Bayu yang menjelaskan aturan di FHI yang mesti ditaati oleh semua anggota di lokasi hunting Supaya nggak kena gangguan demit atau diikuti sampai rumah. Pertama, izin ke orang tua sebelum ikut kegiatan hunting foto. Kedua, sesampainya di lokasi harus berdoa. Ketiga, dilarang membawa jimat atau sejenisnya dengan konsekuensi seperti dijelaskan Bayu di atas.

Oh dan satu lagi, saat kegiatan berlangsung, setiap peserta biasanya dibekali dengan HT. Gunanya untuk berkomunikasi dengan penanggung jawab di lapangan terkait apa-apa saja yang mereka lihat atau rasakan. Soalnya pada saat kegiatan, anggota berpencar dibagi dalam kelompok yang masing-masing isinya dua orang.

“Pokoknya diungkapkan kalau lihat sesuatu karena kalau dipendam itu akan terbawa sampai rumah dan akan membuka jalan untuk jin mengikuti. Lebih baik sebutkan. Sharing gitu. Ini kaitannya sama psikis,” pungkas Bayu.

BACA JUGA Delapan Tahun Tinggal di Rumah Hantu dan tulisan Akhyat Sulkhan lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 10 Agustus 2020 oleh

Tags: fotografihantu
Akhyat Sulkhan

Akhyat Sulkhan

ArtikelTerkait

Ingin Renovasi Rumah Angker dan Horor? Ini Estimasi Volume dan Biayanya

Ingin Renovasi Rumah Angker dan Horor? Ini Estimasi Volume dan Biayanya

21 Agustus 2024
lingsir wengi ponggol setan hantu tuselak mojok

‘Tuselak’, Hantu Asal Lombok yang Hampir Punah

23 Juli 2020
Fotografer Lari, Profesi dengan Potensi Cuan yang Amat Lumayan untuk Kamu Coba

Fotografer Lari, Profesi dengan Potensi Cuan yang Amat Lumayan untuk Kamu Coba, Satu Foto Seharga Seratus Ribu!

18 Januari 2025
Kuntilanak, Hantu Film Horor yang Lebih Pantas Dikasihani ketimbang Ditakuti

Kuntilanak, Hantu yang Lebih Pantas Dikasihani ketimbang Ditakuti

14 Juli 2022
reuni malapetaka

Reuni yang Berujung Malapetaka

23 Juni 2019
6 Cara Ampuh Mengusir Pocong, Dijamin Minggat!

6 Cara Ampuh Mengusir Pocong, Dijamin Minggat!

16 Desember 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pertama Kali Mencicipi Swike: Makanan Berbahan Dasar Kodok yang Terlihat Menjijikan, tapi Bikin Ketagihan Mojok.co

Katak dalam Soto, Ternyata Swike: Pengalaman yang Membuat Saya Kini Tak Mudah Percaya dan Meragukan Segalanya

21 Maret 2026
Lulus Kuliah Mudah Tanpa Skripsi Hanya Ilusi, Nyatanya Menerbitkan Artikel Jurnal SINTA 2 sebagai Pengganti Skripsi Sama Ruwetnya

Kritik untuk Kampus: Menulis Jurnal Itu Harusnya Pilihan, Bukan Paksaan!

19 Maret 2026
Ironi Fresh Graduate Saat Lebaran: Gaji Masih di Bawah UMR, tapi Sudah Tidak Kebagian THR Mojok.co

Lebaran Membosankan Nggak Ada Hubungannya Sama Menjadi Dewasa, Itu Artinya Kamu Lagi Mati Rasa Saja

16 Maret 2026
Stasiun Klaten Stasiun Legendaris yang Semakin Modern

Stasiun Klaten, Stasiun Berusia Satu Setengah Abad yang Terus Melangkah Menuju Modernisasi

16 Maret 2026
Lotek Khas Solo Bikin Pencinta Lotek Asal Jogja Culture Shock

Lotek Adalah Kuliner Favorit Warga Jogja yang Lebih Janggal dan Lebih Ganjil daripada Gudeg

20 Maret 2026
Gresik Ternyata Bisa Bikin Arek Surabaya Kaget (Wikimedia Commons)

Nasib Orang Surabaya di Gresik: Bertahan Hidup di Tengah Matinya PDAM dan Ganasnya Sistem Inden SD

19 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan
  • Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia
  • Ujian Pemudik Lajang: Jadi Sasaran Pinjam Uang karena Belum Nikah dan Dianggap Tak Ada Tanggungan, Giliran Nolak Dicap Pelit
  • Rasa Sanga (8): Lontong dan Kangkung dalam Khazanah Suluk Sunan Bonang, Jalan “Merasakan” Kehadiran Tuhan
  • Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya
  • Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.