Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Nama Besar Studio Nggak Menjamin Kualitas Anime

Raynal Payuk oleh Raynal Payuk
19 Desember 2020
A A
Anime Haikyuu! Itu Menyebalkan karena Memaksa Saya Bermimpi Lagi terminal mojok.co

Anime Haikyuu! Itu Menyebalkan karena Memaksa Saya Bermimpi Lagi anime sport terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Ada satu kepercayaan di kalangan otaku, bahwa kualitas anime ditentukan oleh nama studio animenya. Dalam satu hal, klaim ini mah wajar-wajar saja, karena nama studio itu seperti merek produk dan merupakan tanda paling gampang untuk dikenali oleh penonton anime. Kaya pedagang tongseng Solo pakai kecap Sukasari atau warung masakan Betawi pakai kecap Bango, pilihan itu dilakukan karena memang kedua merek tersebut sudah legendaris.

Namun, ada permasalahan jika kamu percaya hal ini mentah-mentah: bahwa kualitas anime ditentukan dengan ada cap studio Madhouse atau Bones di covernya. Padahal mayoritas sutradara, animator, desainer karakter, dan penulis skenario itu kerjanya freelancer. Mereka tidak terikat dalam satu studio dan kerja berdasarkan sistem proyekan ala kuli bangunan. Kalau satu studio mempekerjakan mereka untuk serial anime tertentu, mereka bakal ada di bawah naungan studio itu hanya sampai serialnya selesai.

Setahu saya, cuma ada satu studio yang mempekerjakan animator dengan sistem gaji tetap, yaitu Kyoto Animation. Kecuali posisi produser dan asisten produser, hampir semua studio anime mempekerjakan freelancer sebagai staf produksinya. Dari sini saja, mitos bahwa nama studio cukup untuk menjamin kualitas anime sudah patut dipertanyakan. Jika suatu anime diproduksi oleh studio sama tapi dengan tim berbeda, hasilnya pun bisa beda jauh. Seperti mi ayam Wonogiri, walaupun sama-sama pakai ayam kecap dan sawi, tapi beda tangan abang-abangnya, pasti beda rasa juga.

Contoh paling nyata adalah Haikyuu! To the Top, season keempat dari salah satu franchise anime paling populer saat ini. Jika melihat dari segi studio saja, nama Production IG tentunya sudah bisa memberi jaminan kualitas terhadap animasinya. Studio ini sudah berhasil menciptakan tiga season anime Haikyuu! yang dipuji oleh pembaca manga originalnya dan penonton anime biasa. Belum lagi studio ini memproduksi dua anime olahraga keren sebelum season 4, Welcome to the Ballroom dan Run with the Wind.

Walaupun begitu, kualitas animasi dari season 4 Haikyuu! dirasakan oleh banyak penonton menurun. Setelah episode 15, banyak penggemar Haikyuu! protes di internet karena inkonsistensi dan kesalahan dalam animasi. Usut punya usut, episode ini di-outsource ke studio lain yaitu 4tune. Ini bukan suatu hal baru, bahkan bisa dibilang candu utama banyak studio anime modern. Di era di mana kecepatan dan kuantitas menjadi utama, studio anime yang berjalan dengan sistem kerja kontrak tidak bisa melakukan produksi anime terus menerus.

Bahkan studio legendaris Madhouse, ternyata salah satu pelopor nomor satu dalam outsourcing animasi. Hampir 23 dari 26 episode season pertama Kaiji pada 2007 diproduksi oleh studio animasi Korea Selatan, DR Movie. Sedangkan di tahun 2017, lima dari dua belas episode ACCA 13 di outsource ketiga studio berbeda yaitu PRA, DR Movie, dan Gonzo. Cap studio pada cover di sini hampir tidak berguna karena mayoritas animasi dikerjakan oleh studio lain.

Outsourcing bukan saja satu-satunya penentu dalam berubahnya kualitas anime karena ganti personel juga bisa jadi sumber masalah. Kualitas animasi Haikyuu! sampai season ketiga dapat terjaga karena peran sutradara Susumu Mitsunaka. Pernah menjadi asisten sutradara anime Big Windup bersama maniak baseball Junichiro Taniguchi, Mitsunaka punya standar kualitas yang cukup tinggi. Gaya animasi serialnya fokus kepada keakuratan gerakan tubuh dan realisme dari olahraga tersebut. Makanya walaupun diproduksi oleh studio yang sama, Kuroko No Basuke dan Haikyuu! punya rasa berbeda karena diolah tangan berbeda.

Lalu ada Takahiro Chiba sebagai kepala animator untuk 37 episode Haikyuu!, berhasil menjaga kualitas animasi Haikyuu! dan bahkan ikut menganimasi opening serta ending dari serial tersebut. Makanya opening keempat dan ending ketiga Haikyuu! berasa lebih beda dari lainnya kan? Terus ada juga sutradara aksi Yasuyuki Kai yang berhasil memenuhi ekspektasi Mitsunakan terkait adegan realistik voli. Sayangnya baik Mitsunaka, Chiba, ataupun Kai, mereka tidak ikut dalam proyek Haikyuu! To the Top.

Baca Juga:

Seandainya Taeko dalam Film Only Yesterday Ghibli Hidup di Indonesia, Dia Pasti Jadi Omongan Tetangga

Anime Genre Isekai Isinya Gitu-gitu Aja, kalau Nggak Ketabrak Truk, ya Isinya Harem

Di lain pihak, kamu nggak bisa serta merta mengklaim bahwa suatu anime jelek di produksi suatu studio. Kita lihat One Punch Man Season 2 dan studio JC Staff. Gampang menyalahkan JC Staff dan memuji Madhouse, tapi di saat bersamaan itu mengkerdilkan peran animator dari One Punch Man Season 1. Sutradara Shingo Natsume melakukan debut pertamanya di anime Space Dandy bersama sutradara legendaris Shinichiro Watanabe. Saya yakin ilmunya Watanabe pasti diturunkan juga ke dalam proyek One Punch Man Season 1.

Belum lagi kepala animator, Yoshimichi Kameda sebagai otak di balik kehebatan banyak adegan laga One Punch Man. Memulai karirnya dengan ikut proyek Fullmetal Alchemist Brotherhood, lalu menunjukkan kehebatannya sebagai animator di One Punch Man. Sekarang Kameda memutuskan untuk fokus di proyek Mob Psycho 100 besutan studio Bones. Baik Natsume ataupun Kameda, mereka berdua kariernya menanjak lewat anime besutan studio Bones.

Jadi kalau mau memuji studio mana berkontribusi paling banyak di anime One Punch Man, harusnya kita bilang studio Bones bukan Madhouse dong! Menurut saya solusinya gampang, yaitu cukup mengakui otak di balik kesuksesan One Punch Man adalah Natsume dan Kameda bukan Madhouse. Sama seperti Mitsunaka, Chiba, dan Kai adalah trio di balik kesuksesan Haikyuu!.

Memang gampang seolah-olah menganggap merek itu ada pengaruh ke kualitas, tapi kita jadi lupa esensi dari anime. Mereka dibuat oleh manusia, baik sebagai animator, desainer, ataupun sutradara. Bukan perusahaan animasi yang hanya mempekerjakan mereka dengan sistem kontrak untuk satu dua proyek. Bahkan dengan bayaran rendah dan waktu kerja panjang. Pada akhirnya kerja keras mereka yang menentukan kualitas dari tontonan kita hari ini.

Sumber gambar: YouTube The TV Regent

BACA JUGA 3 Film Korea tentang Kesenjangan Sosial selain Parasite dan tulisan lainnya dari Raynal Arrung Bua.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 19 Desember 2020 oleh

Tags: animeHaikyuu!madhousestudio
Raynal Payuk

Raynal Payuk

Mantan Pers Kampus Dalam Pencarian Jati Diri dan Pekerjaan. Saat ini menjadi seorang pemikir yang sedang berusaha memecahkan paradoks tertua umat manusia

ArtikelTerkait

Tanpa Bantuan Conan, Apakah Kogoro Mouri Bakal Sukses Jadi Detektif_ terminal mojok

Emangnya Kogoro Mouri Bakal Sukses Jadi Detektif Tanpa Bantuan Conan?

19 Mei 2021
Bantahan soal Armin Arlert yang Dianggap Nggak Penting Lagi di AoT. Jangan Ngadi-ngadi lah mojok.co/terminal

Armin Arlert Sekarang Jadi Karakter Tidak Penting di ‘Attack on Titan’ Final Season

2 Maret 2021
chainsaw man mappa mojok

Menantikan ‘Chainsaw Man’, Calon Anak Emas MAPPA Sekaligus Anime Terbaik 2021

8 Maret 2021
Saya Pria dan Saya Lebih Suka Chibi Maruko Chan Ketimbang 'AoT' Terminal Mojok

Saya Pria dan Saya Lebih Suka ‘Chibi Maruko Chan’ Ketimbang ‘AoT’

7 Maret 2021
scanlation one piece chapter 1011 attack On Titan Lebih Baik dari 'One Piece'? Mabuk, Bos?

3 Ayah Tokoh Utama Anime yang Bikin Kita Penasaran

4 September 2020
Ibu Shinchan, Nobita, Kenichi, dan Maruko-chan Adalah Gambaran Umum Ibu-ibu di Jepang dan Alasan Kenapa Ibu-ibu di Sana Memilih Jadi Ibu Rumah Tangga terminal mojok

Ibu Shinchan, Nobita, Kenichi, dan Maruko-chan Adalah Gambaran Umum Ibu Rumah Tangga di Jepang

13 Juli 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Warga Lokal Bersyukur Salatiga Nggak Punya Stasiun, Biarlah Kota Ini Dinikmati oleh Orang-orang yang Mau Effort Mojok.co

Warga Lokal Bersyukur Salatiga Nggak Punya Stasiun, Biarlah Kota Ini Dinikmati oleh Orang-orang yang Mau Effort

6 Mei 2026
Sisi Gelap FISIP, Mahasiswanya Jarang Baca dan Dosennya Sibuk Berpolitik Terminal

FISIP Kehilangan “Taring” karena Mahasiswanya Jarang Baca dan Dosennya Sibuk Berpolitik 

7 Mei 2026
Sisi Gelap Gamping Sleman yang Jarang Dibicarakan Orang

Gamping, Gerbang Masuk Barat sekaligus Tempat Bersejarah di Jogja yang Kehilangan Harga Dirinya

7 Mei 2026
Jalan Raya Kalimalang Dibenci Sekaligus Dicintai Pengendara yang Melintas kalimalang jakarta

Jalan Raya Kalimalang Jaktim Banyak Berubah, tapi Tetap Saja Tidak Aman untuk Pejalan Kaki!

8 Mei 2026
Motor dan Helm Hilang Itu Hal Biasa di UNY, Fungsi Satpamnya Saja Juga Ikutan Hilang

Motor dan Helm Hilang Itu Hal Biasa di UNY, Fungsi Satpamnya Saja Juga Ikutan Hilang

9 Mei 2026
Dibanding Surabaya dan Semarang, Jogja Masih Jadi Pilihan Terbaik untuk Kuliah Mojok.co

Long Weekend Itu Memang Menyenangkan, kecuali untuk Warga Jogja

7 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Jebakan Ilusi PayLater: Anak Muda Pilih Bayar Gengsi dengan Pendapatan yang Belum Ada
  • Lulus Sarjana Dapat Tawaran Beasiswa S2 dari Rektor, Elpanta Pilih Langsung Kerja sebagai Pegawai Tetap di Unesa
  • Meski Hanya Diikuti 4 Tim tapi Atmosfer Campus League Basketball Samarinda Tetap Kompetitif, Universitas Mulawarman Tak Terbendung
  • Efek Gym: Dari Dihina “Babi” karena Gendut dan Jelek bikin Lawan Jenis Gampang Mendekat, Tapi Tetap Sulit Nemu yang Tulus
  • Tongkrongan Bapak-Bapak di Desa: Obrolan Sering Ngawur, Kadang Nggak Berfaedah, tapi Saya Harus Gabung demi “Harga Diri” Keluarga
  • Setelah Punya Anak Sadar “Nongkrong Basi-Basi” Itu Nggak Guna: Rela Dicap Suami Takut Istri, karena Urusan Keluarga Memang di Atas Segalanya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.