Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Nalar Cacat Kepala Sekolah yang Menganggap Enteng Bullying pada Siswa

Mohammad Azharudin oleh Mohammad Azharudin
13 Januari 2024
A A
Nalar Cacat Kepala Sekolah yang Menganggap Enteng Bullying pada Siswa

Nalar Cacat Kepala Sekolah yang Menganggap Enteng Bullying pada Siswa (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Permasalahan bullying di sekolah masih belum juga tuntas hingga saat ini. Dan tampaknya perkara ini memang sulit diselesaikan bila tidak ada revolusi mental besar-besaran. Hal tersebut memang sekiranya sudah bikin kita bosan, tapi serius, perundungan dan normalisasinya sudah tak masuk akal. Bahkan, pemegang tampuk kekuasaan tertinggi di sekolah, yaitu kepala sekolah, pun banyak yang tak paham tentang hal ini, malah ada yang menormalisasinya.

Hukum alam yang mesti berlaku saat terjadi bullying adalah si pelaku dapat hukuman, sementara si korban dapat perlindungan. Namun, sebagaimana yang sudah jamak kita ketahui, negeri ini penuh dengan paradoks. Alih-alih melindungi korban, sebagian orang justru memberi pembelaan pada si pelaku. Bahkan, sering kali mereka yang memberi pembelaan tersebut merupakan orang-orang yang punya jabatan di sekolah.

Deretan kasus kepala sekolah menormalisasi bullying

Mari kita sejenak berkelana ke masa lalu untuk melihat seperti apa kasus bullying bergulir. Melansir liputan6.com, seorang siswa kelas 3 SD di Kota Sukabumi menjadi korban bullying hingga mengalami patah tulang di lengan kanan. Pihak sekolah diduga sempat berusaha menutupi kronologi yang sebenarnya dari kasus tersebut. Sementara itu, di tempat lain, seorang siswa SMP Negeri 2 Pringsurat Temanggung mengaku muak di-bully hingga akhirnya ia membakar sekolahnya. Bejo Pranoto, sang Kepala Sekolah, menilai bahwa anak tersebut sebenarnya sering cari perhatian di sekolah sebagaimana dikutip dari kompas.com.

Masih belum cukup? Seorang kepala sekolah di salah satu SMP di Cilacap mengelu-elukan prestasi yang pernah didapat oleh pelaku perundungan, alih-alih mengecam perbuatannya. Mengutip detik.com, sang Kepala Sekolah menyebut bahwa pelaku merupakan siswa yang berprestasi di bidang silat dan pernah menjuarai lomba tilawah.

Lha terus apa hubungannya, woi!?

Iya, saya setuju bahwa prestasi siswa itu membanggakan. Tapi sekali bully, tetaplah bully. Putra Nabi Nuh as saja yang membangkang tetap dapat balasannya, padahal dia seorang putra Nabi. Lantas, apakah siswa bully itu dapat perlindungan hanya karena dia pernah meraih prestasi!?

Logika, bos?

Kok bisa ya orang punya jabatan tapi logikanya patah bawah?

Saya kerap heran dengan logika-logika miring seperti di atas. Bagaimana bisa seorang penindas malah dibela dan dilindungi!? Padahal, tak ada satu pun masyarakat Indonesia yang tak tahu soal “Kemanusiaan yang adil dan beradab” dan “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Belum lagi, pihak yang memberi perlindungan tersebut adalah mereka yang mempunyai jabatan. Eh, tapi tunggu dulu! Bukannya para pelanggar aturan di negara kita mayoritas memang berasal dari orang-orang yang memiliki jabatan?

Baca Juga:

Sebuah Rezim Tidak Selalu Jatuh karena Aksi Jalanan

Selama Kasus Baru Ditangani kalau Viral, Jangan Harap Imbauan untuk Tidak Share Video Bullying Akan Digubris Orang-orang

Pertanyaannya sekarang, apakah perlu diadakan kelas logika dasar untuk orang-orang tadi? Alasannya sangat sederhana. Seorang muslim yang hendak menjalankan ibadah individual saja, syarat wajibnya adalah berakal sehat. Lha ini, kok bisa-bisanya ada orang yang berurusan dengan kemaslahatan kolektif, tapi tak punya akal sehat!? Mungkin saya harus lebih ‘berpikir positif’. Siapa tahu aturan yang berlaku untuk menjadi pemangku jabatan tidak sama dengan aturan dalam beribadah. Contohnya, tidak harus punya akal sehat dan hati nurani.

Bullying—menurut saya pribadi—adalah wujud penjajahan versi lite. Jika ia dinormalisasi, efek buruknya tak hanya pada korban melainkan juga pelaku. Para pem-bully yang tindakannya dibiarkan saja oleh orang-orang di sekitarnya, akan tumbuh mental penindas dan hilangnya rasa belas kasih pada dirinya. Perkara ini di kemudian hari sangat berpotensi melahirkan sosok-sosok kriminal baru. Jadi sederhananya, saat kita menormalisasi bullying, secara tidak langsung kita ikut andil dalam membuat keresahan di masyarakat di kemudian hari.

Faktor banyak, tapi harus segera diselesaikan

Peran orang tua tentu di sini tak dapat dikesampingkan. Bagaimana pun, pihak yang menjadi saksi utama perkembangan anak adalah orang tua. Bisa jadi, para bully itu sering mendapat kekerasan dari orang tuanya, sehingga mereka pun melakukan hal yang serupa terhadap lingkungan sekitarnya. Kita harus selalu ingat bahwa pada dasarnya anak-anak itu bagaikan kertas putih yang benar-benar bersih. Ada berbagai faktor yang kemudian mengubah warna mereka.

Mungkin perkara tindakan orang tua terhadap anak ini bisa pelan-pelan kita perbaiki. Namun, bagaimana jadinya bila masalah bullying ini berkelindan dengan urusan uang?

Sering kali saya curiga ketika pihak sekolah cenderung membela si pem-bully, alih-alih melindungi korban. Jangan-jangan pihak sekolah memang diminta untuk tutup mulut oleh orang tua pelaku, tentunya dengan “imbalan yang setimpal”. Atau malah pihak sekolah yang memberi tawaran pada orang tua pelaku untuk menutupi kasus bullying tersebut!?

Ini kecurigaan lho. Bisa jadi salah, bisa jadi.

Bullying lestari karena pemegang kuasanya cacat nalar

Jika memang demikian yang terjadi, saya yakin tak sedikit di antara kita yang berkenan misuhi dan meludahi para oknum tersebut. Bagaimana tidak!? Para oknum itu telah meletakkan nalar dan nurani di bawah septic tank dan menjadi budak hina di hadapan uang. Pertanyaannya, apakah praktik semacam itu mungkin terjadi? Ya jawabnya sih, mungkin-mungkin saja.

Ketika saya melihat kasus bullying di sekolah belakangan—dan bagaimana respons sekolah terhadapnya—kerap terbersit dalam pikiran saya bahwa tampaknya terlalu utopis bila saya mengharapkan lingkungan sekolah yang aman untuk semua pihak.

Sebab, ya, sederhana: yang punya kekuasaan cacat nalar.

Penulis: Mohammad Azharudin
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Bullying Masih Subur karena Sekolah Lebih Fokus Ngurusin Rambut dan Kaos Kaki

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 13 Januari 2024 oleh

Tags: bullyingkekuasaankepala sekolahKorbanlogikaPerundungan
Mohammad Azharudin

Mohammad Azharudin

Anak muda biasa yang suka belajar.

ArtikelTerkait

cyberbullying, kasus bullying

Banalitas Menonton Video Cyberbullying: Kita Semua Berpotensi Jadi ‘Bully’

26 Agustus 2019
pelecehan seksual wanita berkumis motivasi kerja dengan perundungan bullying anak artis dihujat netizen ibu-ibu mojok.co

Memberi Motivasi Kerja dengan Melukai Hati Itu Goblok!

8 April 2021
sulli

Berkaca dari Kasus Sulli: Netizen Memang yang Terbaik Untuk Urusan Merusak Kesehatan Jiwa Orang Lain

15 Oktober 2019
Twitter, Tempat Orang Berlomba Menjadi Jahat jerome polin elon musk akun base twitter

Twitter, Tempat Orang Berlomba Menjadi Jahat

10 November 2022
Orang Tua Lebih Memilih Sekolah Swasta meskipun Biayanya Mahal karena Memang Sebagus Itu, Sekolah Negeri Perlu Ngaca sekolah swasta gratis

Orang Tua Lebih Memilih Sekolah Swasta meskipun Biayanya Mahal karena Memang Sebagus Itu, Sekolah Negeri Perlu Ngaca

25 Juli 2024
Wagub Jawa Barat Sebaiknya Belajar Lagi tentang Bullying biar Opininya Agak Mashok

Wagub Jawa Barat Sebaiknya Belajar Lagi tentang Bullying biar Opininya Agak Mashok

26 Juli 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Honda Stylo Motornya Orang Kaya Waras yang Ogah Beli Vespa Matic Overprice, tapi Nggak Level kalau Cuma Naik BeAT dan Scoopy Mojok.co

Honda Stylo Motornya Orang Kaya yang Ogah Beli Vespa Matic Overprice, tapi Nggak Level kalau Cuma Naik BeAT atau Scoopy

13 Maret 2026
7 Rekomendasi Drama China yang Bisa Ditonton Tanpa Perlu Mikir (Pexels) tiktok

5 Alur Cerita Drama China Pendek di TikTok yang Monoton, tapi Sering Bikin Jam Tidur Saya Berantakan

12 Maret 2026
7 Jajanan Indomaret Terburuk Sepanjang Masa (Unsplash)

7 Jajanan Indomaret Terburuk Sepanjang Masa, Jangan Dibeli daripada Kamu Kecewa dan Menderita

13 Maret 2026
Soto Bandung: Kuliner Khas Bandung yang Rasanya Normal dan Pasti Cocok di Lidah Para Pendatang

Soto Bandung: Kuliner Khas Bandung yang Rasanya Normal dan Pasti Cocok di Lidah para Pendatang

15 Maret 2026
9 Rekomendasi Mobil Bekas di Bawah 100 Juta Terbaik untuk Pemula Berkantong Cekak

Cari Mobil Bekas Murah buat Lebaran? Ini Motuba di Bawah 60 Juta yang Terbukti Nggak Rewel

14 Maret 2026
Bertahan dengan Innova Reborn Jadul daripada Ganti Innova Zenix karena Terlalu Canggih untuk Orang Kabupaten seperti Saya Mojok.co

Bertahan dengan Innova Reborn Jadul daripada Ganti Innova Zenix karena Terlalu Canggih untuk Orang Kabupaten seperti Saya

16 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • 3 Cara Gen Z Habiskan THR, padahal Belum Tentu Dikasih dan Jumlahnya Tidak Besar tapi Pasti Dibelanjakan
  • Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya?
  • Mudik Gratis BUMN 2026: Hemat Rp600 Ribu dari Jakarta-Solo Tanpa Pusing Dana THR Berkurang
  • Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali 
  • Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman
  • Kapok Terlalu Royal ke Teman: Teman Datang karena Ada Butuhnya, Giliran Diri Sendiri Kesusahan Eh Diacuhkan meski Mengiba-iba

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.