Seperti halnya manusia yang sedang jatuh cinta, menggalau, dan kemudian menemukan titik akhir dari cintanya. Atau mungkin stagnan pada satu kondisi yang seringkali kita kenal dengan sebutan gagal move on (gamon). Kota, sebuah entitas wilayah dan kedaerahan juga dapat mengalaminya. Mojokerto contohnya.
Jika Anda berkunjung ke Mojokerto, saya harap jangan terkejut bila kota ini tampak dibangun dengan satu warna dominan: merah bata. Ya, tentu tidak semuanya berbahan bata merah, ada pula tembok semen, baja ringan, dan material modern lain. Namun entah mengapa, hampir selalu ada usaha untuk memberi sentuhan akhir agar bangunan tersebut Nampak terkesan kuno, layaknya berasal dari era Majapahit.
Bata merah menjadi semacam penanda cinta yang belum selesai. Ia ditempelkan di mana-mana, seolah tanpa itu Mojokerto kehilangan rasa percaya diri. Seakan-akan, tanpa estetika Majapahit, kota ini takut terlihat kurang gagah.
Jujur, selaku warga Mojokerto yang sedari kecil selalu diiringi hidupnya dengan kisah kejayaan Majapahit, candi-candi yang jadi tempat jujukan, hingga keagungan Gajah Mada yang konon telah menyatukan Nusantara. Penampakan batu bata merah sudah menjadi pemandangan umum sebagai bahan utama bangunan di kota yang berjarak sekitar 50 km dari Surabaya ini. Hampir setiap sudut kota, wacana pembangunan, poster acara kebudayaan, hingga omong-omong dari tiap pejabat yang ada, selalu kembali pada satu mantra sakral: Majapahit.
Setiap kali ada proyek baru, narasinya kurang lebih sama. Bata merah dimunculkan. Ornamen dibuat “bernuansa kerajaan”. Bahasa promosi dipenuhi kata-kata seperti kejayaan, pusat peradaban, dan warisan leluhur.
Saya kadang bertanya-tanya, “Ini pembangunan kota atau museum nostalgia?”
Sejarah yang dijadikan konten estetika di Mojokerto
Jika Mojokerto punya FYP sendiri layaknya TikTok, isinya mungkin nggak jauh-jauh dari Majapahit. Ada candi, ada relief, ada kostum kerajaan, atau hal-hal yang dibikin terkesan primitif tapi wah. Semuanya dinampakkan secara visual, bata merah diambil, tapi struktur sosialnya ditinggal. Simbol kerajaan dipajang, tapi dinamika masyarakatnya dilupakan.
Contohnya gini, apakah wajar ketika ada monumen yang sejak awal dibangun untuk memperingati perjuangan rakyat di masa revolusi, tentang ingatan perjuangan penuh darah dan nyawa yang disimbolkan dengan selongsong peluru, tiba-tiba dirombak tanpa sebab yang jelas, lalu disulap menjadi gapura bergaya candi, tapi tetap dicap sebagai monumen perjuangan?
Akibatnya apa? Narasi perjuangan rakyat menghilang. Ingatan tentang revolusi pelan-pelan tergeser. Yang tersisa adalah kenampakan estetika bata merah dan klaim “bernuansa Majapahit” secara visual. Seolah-olah semua fase sejarah Mojokerto harus tunduk dan menyesuaikan diri pada satu era yang dianggap paling prestisius.
Dalam kacamata sejarah, ini bukan sekadar soal selera desain. Ini soal penghapusan memori. Revolusi kemerdekaan adalah sejarah yang dekat, politis, dan tidak nyaman. Ia mengingatkan kita pada kekerasan, konflik, dan pengorbanan. Menggantinya dengan estetika candi terasa jauh lebih aman dan tentu saja, lebih instagramable.
Tapi, siapa juga yang berani menolak identitas Majapahit yang penuh kejayaan itu? Siapa pula yang tega mempertanyakan proyek berlabel sejarah, ketika sudah dibungkus jargon pelestarian budaya?
BACA JUGA: Kesalahpahaman tentang Mojokerto yang Perlu Saya Luruskan
Kapal karam sebelum berlayar
Ada lagi, sebuah proyek pujasera di Mojokerto berbentuk replika kapal bergaya Majapahitan. Proyek yang dijual sebagai ikon sejarah dan daya tarik wisata. Sekalipun, sejak awal publik pun bertanya-tanya tentang kapal ini sebenarnya untuk apa?
Apakah ia dirancang sebagai ruang edukasi sejarah maritim Majapahit? Apakah ada konsep kuratorial yang menjelaskan peran perkapalan dalam jaringan dagang Nusantara abad ke-14? Ataukah kapal ini sekadar properti raksasa, sebuah latar swafoto yang diharapkan cukup ampuh untuk menyulap ingatan sejarah menjadi komoditas wisata? Pertanyaan-pertanyaan itu tak pernah benar-benar dijawab, dan mungkin memang tak pernah dimaksudkan untuk dijawab.
Yap, keinginan dan pengajuan pertanyaan itu rasanya harus kami pendam dulu. Nyatanya, proyek tersebut memang mangkrak karena korupsi. Kini ia berdiri hidup segan mati tak mau, lebih mirip monumen kebingungan daripada ikon wisata sejarah.
Setiap musim hujan datang, kawasan di sekitarnya kerap dianugerahi banjir yang menggenang. Air naik, fasilitas rusak, dan fungsi kapal semakin tidak jelas. Alih-alih menjadi ruang edukasi sejarah. Di titik ini, kasus korupsi yang menyeret proyek tersebut terasa bukan lagi sebagai kejutan, melainkan konsekuensi logis. Ketika sejarah dipakai sebagai kedok, fungsi diabaikan, dan kritik dianggap gangguan, yang tersisa hanyalah proyek mahal tanpa masa depan.
Kapal itu akhirnya benar-benar “karam”. Bukan di laut lepas layaknya armada Majapahit yang sering dibanggakan, melainkan di daratan Mojokerto sendiri, tenggelam dalam genangan air hujan, laporan audit, dan akal sehat yang sejak awal diabaikan.
Padahal, dalam praktiknya, yang dilestarikan sering kali bukan sejarah, melainkan anggaran. Bata merah dan ornamen candi berfungsi sebagai kamuflase yang efektif nan aman. Di baliknya, fungsi, urgensi, dan manfaat publik jadi urusan belakangan.
Tempel saja, semuanya aman
Absurdnya romantisasi Mojopahit di Mojokerto tidak berhenti di proyek mercusuar atau monumen. Ia bahkan merembes ke pengalaman personal saya sendiri. Suatu ketika, saya pernah terlibat dalam sebuah lomba mengolah hasil perikanan. Di sana hadir beragam menu yang, jujur saja, cukup kreatif baik dari segi teknik, tampilan, maupun cerita bahan lokal yang diangkat.
Namun jangan senang dulu, pemenangnya justru datang dari menu yang secara konsep paling sederhana. Bukan karena inovasi pengolahan, bukan pula karena rujukan sejarah kuliner yang kuat. Menu itu menang karena satu hal, yakni mencantumkan kata “Majapahit” dalam namanya.
Ironisnya, olahan tersebut adalah gurame crispy dengan saus tomat asam manis. Sebuah menu yang, sejauh pengetahuan saya sebagai lulusan Ilmu Sejarah, tidak pernah saya temui dalam prasasti, naskah kuna, ataupun relief candi mana pun.
Di titik itu saya sadar, Majapahit rupanya bukan lagi soal sejarah. Ia telah berubah menjadi jimat. Cukup tempelkan nama Majapahit, maka nilai tambah seolah otomatis muncul, tak peduli apakah relevan, kontekstual, atau sekadar cocok lidah juri. Inilah tahap paling komikal dari romantisasi sejarah: ketika Majapahit tidak lagi dirujuk untuk dipahami, melainkan dipakai untuk memenangkan lomba.
Dari sekian kompilasi cerita itu, ada satu hal yang rasanya kurang mengenakkan. Ketika semuanya berlindung di balik nama sejarah dan pelestarian budaya, rasanya akal sehat diminta menepi. Kritik berubah menjadi tindakan tidak sopan, pertanyaan dianggap gangguan, dan keraguan dicurigai sebagai sikap tidak nasionalis.
Sejarah pun diperlakukan layaknya payung sakti, yang cukup dibentangkan, maka segala kebijakan di bawahnya otomatis tampak sah-sah saja.
Penulis: Muhammad Reza Satria Dewangga
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Saya Sepakat kalau Mojokerto Dianggap Kota Layak untuk Hidup Bahagia sampai Tua, asalkan…
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
