Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup Termistis

Misteri Makam Joko Sampurno, Anak Joko Tingkir di Desa Poleng Sragen

Rizky Surya Nugraha oleh Rizky Surya Nugraha
13 Februari 2023
A A
Misteri Makam Joko Sampurno, Anak Joko Tingkir di Desa Poleng Sragen

Misteri Makam Joko Sampurno, Anak Joko Tingkir di Desa Poleng Sragen (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Makam selalu menarik perhatian. Orang akan membicarakan siapa yang bersemayam, hingga “siapa” saja yang ikut “bersemayam” di daerah tersebut. Makam membuka banyak pembicaraan, terlebih makam orang-orang terkenal. Dan kali ini, kita akan bicara tentang makam Joko Sampurno, anak Joko Tingkir.

Joko Tingkir yang bernama asli Mas Karebet merupakan seorang anak dari Kebo Kenongo. Selama perjalanannya, Joko Tingkir ini sempat menjalin kisah asmara dengan Syekh Leduni istri dari Juru Mertani, yaitu orang yang dipercaya oleh Joko Tingkir di Kesultanan Pajang. Juru Mertani ini adalah seorang sepuh yang menjaga kesehatan Joko Tingkir. Namun, karena akhirnya diketahui tentang perselingkuhan antara Syekh Leduni dengan Joko Tingkir hingga mengandung seorang anak, Syekh Leduni kemudian diasingkan dari kesultanan.

Beberapa versi cerita

Berbicara tentang cerita di atas, sebenarnya terdapat beberapa versi yang beredar terkait cerita rakyat tentang makam yang bertempat di Desa Poleng, Kecamatan Gesi, Kabupaten Sragen ini. Saya yang kebetulan melangsungkan Kuliah Kerja Nyata di Desa Poleng kemudian tertarik untuk mencari tahu akan kisah yang beredar pada warga desa terhadap makam yang berada di sekitar pemukiman tersebut.

Punden Bawang adalah nama dari makam yang akan saya ceritakan kali ini. Makam ini cukup terkenal di Desa Poleng karena menyimpan cerita yang secara turun-temurun selalu diwariskan kepada anak dan cucunya. Yaitu sebuah folklore tentang tiga buah makam yang berada di dalam sebuah bangunan sederhana yang menutupi makamnya.

Punden sendiri menurut KBBI memiliki arti makam keramat yang dihormati pada suatu daerah. Makam ini bertempat di Dukuh Bawang, Desa Poleng, Kecamatan Gesi, Kabupaten Sragen, dengan posisi tanah Punden agak lebih tinggi dibanding sekitarnya, selayaknya tempat pemakaman di daerah Indonesia. Hanya saja, di tengah-tengah dari area tersebut, tidak ada makam lain seperti tempat pemakamam pada umumnya, dengan kata lain hanya makam itu saja.

Sekelilingnya hanya dipenuhi dengan pepohonan besar dan rumput liar. Mengingat karakteristik Desa Poleng yang terbilang cukup luas dan masih memiliki area pemukiman warga yang tidak terlalu padat antar rumahnya, keberadaan makam yang mencokol sendiri ini menjadi pertanyaan menarik terkhusus bagi saya. Makam siapa ini? Dan kenapa ada di sana?

Misteri Punden Bawang

Rasa penasaran saya akan keberadaan makam ini kemudian membawa diri saya untuk akhirnya bertanya kepada Kepala Desa, jadi sebenarnya Punden Bawang itu apa dan makam siapa.

Pak Pujiono, selaku Kepala Desa ketika saya KKN menjelaskan bahwa makam ini ada kaitannya dengan Joko Tingkir, atau bisa dibilang juga Sultan Hadiwijaya dari Kesultanan Pajang

Baca Juga:

Sisi Lain Juru Kunci Makam di Kuncen Wirobrajan Jogja yang Tak Diketahui Banyak Orang

Makam Wali Songo Terlalu Banyak Kotak Amal, Merusak Kesakralan Tempat Ziarah

“Ini itu makamnya Joko Sampurno, anaknya selir Sultan Hadiwijaya atau biasa disebut Joko Tingkir.”

“Jadi dahulu Syekh Leduni yang sedang mengandung anak dari Sultan Hadiwijaya diusir dari Kesultanan bersama dengan seorang pembantunya.”

Setelah saya mendengar sedikit penjelasan beliau, maka tidak heran jika sewaktu pertama kali saya bersama tim KKN tiba di lokasi penempatan, Punden Bawang ini disebutkan sebagai salah satu potensi wisata yang dimiliki desa. Karena mendengar dari apa yang disampaikan secara sekilas oleh pak Pujiono, latar belakang dari makam ini cukup menarik.

Pak Pujiono kembali melanjutkan ceritanya terkait makam ini, beliau menjelaskan bahwa Joko Sampurno tidak diakui oleh Joko Tingkir sebagai anaknya dari selirnya Syekh Sampurno.

“Sultan Hadiwijaya tidak mau mengakui Joko Sampurno sebagai anaknya, maka ia kemudian memberikan syarat kepada Joko Sampurno agar diakui menjadi anaknya. Yaitu caranya dengan menyuruh Joko Sampurno membawakan Sultan Hadiwijaya sebuah bawang yang sangat besar.”

Sampai di Dukuh Bawang

Selepas itu Joko Sampurno berkelana mencari bawang yang besar hingga sampailah ia di Dukuh Bawang, Desa Poleng. Namun hingga akhir masa hidupnya, Joko Sampurno tidak kunjung mendapatkan bawang yang besar. Sehingga Joko Sampurno bersama dengan ibunya yaitu Syekh Leduni, juga bersama satu orang pembantunya menua di Dukuh Bawang, Desa Poleng sampai akhirnya dimakamkan secara bersamaan di tempat yang sekarang dikenal sebagai Punden Bawang.

Namun, dari sesi cerita Pak Pujiono kepada saya dan teman-teman KKN yang lain, beliau tetap menyarankan saya untuk menghubungi pak Bayan Bawang untuk menanyakan lebih jelasnya lagi. Karena masih terdapat beberapa versi yang beredar, tuturnya.

Perlu diketahui juga bahwa Pak Bayan adalah seseorang yang memimpin sebuah Kebayanan yang ada di sebuah desa. Merujuk pada Peraturan Daerah Kabupaten Sragen Nomor 4 Tahun 2000 tentang Pembentukan Badan Perwakilan Desa dalam Wilayah Kabupaten Sragen. Dijelaskan pada BAB 1 Ketentuan Umum Pasal 1 ayat h; Kebayanan adalah bagian wilayah dalam Desa yang terdiri dari satu atau beberapa dukuh yang memiliki lingkungan kerja pelaksanaan Pemerintahan Desa yang memiliki batas-batas tertentu.

Maka saya segera menghubungi Pak Bayan Bawang selaku Kebayanan yang menjadi lokasi Punden Bawang ini berada. Namanya Pak Wawan, beliau kemudian mengarahkan saya untuk sekalian melihat-lihat lokasi Punden Bawang, dan memberikan arahan jika ingin mengulik lebih jauh tentang Punden Bawang bisa bertanya pada salah satu yang paham akan ceritanya. Mbah Sastro adalah salah satu orang yang diwariskan cerita tentang Punden Bawang secara turun temurun.

Lurah Desa Poleng

Mbah Sastro ini adalah mantan Lurah Desa Poleng, dan dari yang diceritakan olehnya, beliau ini sempat diceritakan oleh neneknya tentang keberadaan Punden Bawang. Selama penuturan saya dengan Mbah Sastro terkait Punden Bawang, ternyata ada beberapa perbedaan cerita yang disampaikan dengan Pak Pujiono tadi.

Menurut cerita dari Mbah Sastro diceritakan bahwa dalam Kesultanan Pajang yang mana Joko Tingkir sebagai raja atau sultannya, mempunyai satu orang kepercayaan yang bertugas untuk menjaga kesehatan dan keselamatan dirinya, yaitu disebut Juru Mertani. Pada suatu waktu, Juru Mertani mendapat tugas dari Joko Tingkir yang ditempatkan di Demak.

Joko Tingkir yang merupakan raja dari Kesultanan Pajang lantas menyambangi Juru Mertani yang sedang berada di Demak, untuk meninjau kinerja Juru Mertani. Dalam kunjungannya ke Demak ini, ternyata Joko Tingkir jatuh cinta dengan salah seorang wanita di sana, yang tidak lain adalah istri dari Juru Mertani itu sendiri, bernama Syekh Leduni.

“Setelah tahu istrinya Juru Mertani, Joko Tingkir jatuh cinta. Ya dia selingkuh dengan istrinya Juru Mertani sampai punya anak satu.” Ucap Mbah Sastro.

“Joko Tingkir ini memang mempunyai beberapa selir, tidak hanya Prameswari tok, dan semakin hari kemudian ketahuan salah satu selirnya perutnya membesar, karena sedang mengandung seorang anak. Karena dari situ, Syekh Leduni kemudian diusir dari Pajang.”

Baca halaman selanjutnya….

Menyingkir dari Kesultanan Pajang

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 14 Februari 2023 oleh

Tags: joko sampurnojoko tingkirmakammisteri
Rizky Surya Nugraha

Rizky Surya Nugraha

Seorang pelaku industri startup yang lebih dulu terpapar sastra, banyak memperhatikan budaya pop, yang gemar musik-musik biasa.

ArtikelTerkait

5 Rekomendasi Anime Misteri Underrated yang Punya Alur Menarik terminal mojok.co

5 Rekomendasi Anime Misteri Underrated yang Punya Alur Menarik

25 September 2020
ereveld makam korban perang belanda jogja sulitnya cari makam kuburan mojok

Sulitnya Mencari Makam di Jogja

6 Oktober 2020
6 Benefit Rumah Dekat Kuburan yang Jarang Disadari Banyak Orang

6 Benefit Rumah Dekat Kuburan yang Jarang Disadari Banyak Orang

17 Maret 2023
Gunung Tidar: Paku Pulau Jawa sekaligus Tempat Nongkrong Nobita

Gunung Tidar: Paku Pulau Jawa sekaligus Tempat Nongkrong Nobita

8 Januari 2022
Bukit Sindulang, Ikon Kota Manado yang Berdiri di Atas Lahan Makam

Bukit Sindulang, Ikon Kota Manado yang Berdiri di Atas Lahan Makam

6 April 2023
ereveld makam korban perang belanda jogja sulitnya cari makam kuburan mojok

Alasan Makam di Kampung Saya Tidak Bisa Menerima Jenazah dari Luar Kampung

14 Oktober 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Petaka Terbesar Kampus- Dosen Menjadi Joki Skripsi (Pixabay)

Normalisasi Joki Skripsi Adalah Bukti Bahwa Pendidikan Kita Memang Transaksional: Kampus Jual Gelar, Mahasiswa Beli Kelulusan

4 Februari 2026
5 Bentuk Sopan Santun Orang Solo yang Membingungkan dan Disalahpahami Pendatang  MOjok.co

5 Sopan Santun Orang Solo yang Membingungkan dan Disalahpahami Pendatang 

2 Februari 2026
Julukan “Blok M-nya Purwokerto” bagi Kebondalem Cuma Bikin Purwokerto Terlihat Minder dan Tunduk pada Jakarta

Purwokerto Memang Kota Wisata, tapi Wisatawan Tak Diberi Petunjuk dan Dibiarkan Bingung Mau ke Mana

5 Februari 2026
Purworejo Tak Butuh Kemewahan karena Hidup Aja Pas-pasan (Unsplash)

Purworejo Tidak Butuh Kemewahan, Apalagi soal Makanan dan Minuman karena Hidup Aja Pas-pasan

6 Februari 2026
4 Aib Guci Tegal yang Membuat Wisatawan Malas ke Sana Mojok.co

Objek Wisata Guci Tegal Harus Bangkit karena Kabupaten Tegal Tak Ada Apa-Apanya Tanpa Guci

2 Februari 2026
Tunjungan Plaza Surabaya Lebih Cocok Disebut Labirin daripada Mal, Membingungkan dan Rawan Tersesat Mojok.co

Tunjungan Plaza Surabaya Lebih Cocok Disebut Labirin daripada Mal, Membingungkan dan Rawan Tersesat

2 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya
  • Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.