Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Mindset Pendataan Warga Miskin itu Simpel, Orang Miskin, Temannya Orang Miskin

Makhsun Bustomi oleh Makhsun Bustomi
12 Mei 2020
A A
angka kemiskinan, orang miskin temennya orang miskin

Mindset Pendataan Warga Miskin itu Simpel, Orang Miskin, Temannya Orang Miskin

Share on FacebookShare on Twitter

Diskusi Yu Darti tukang sayur, mas Jon tukang parkir, dan mbah Damin marbot musholla di parkiran kios potokopian sudah mirip ILC saja. Topiknya soal bansos bagi orang miskin terdampak corona. Meskipun nggak saya ikuti sampai kelar, karena mesti beli pulsa listrik ke Indomaret. Kesimpulannya paling nggak jauh-jauh, banyak bansos nyasar ke orang kaya, orang miskin malah nangis kejer ditikungnya.

Saya teringat sebuah story. Tentang seorang gembel miskin bernama Karjan yang tak sengaja reuni dengan teman lamanya. Sebagai simbol pesahabatan, ia diberi oleh temannya yang kaya itu, seekor kambing bandot. Saat on the way pulang, melihat seorang gembel repot menyeret-nyeret kambing, aparat curiga dan gerak cepat menangkap Karjan.

“Orang miskin seperti kamu temannya adalah orang miskin. Orang miskin tidak mungkin memberi kambing kepada orang miskin ”

“Pada suatu saat orang miskin itu ada yang menjadi kaya, itulah yang terjadi, Pak” 

“…..Orang kaya, temannya adalah orang-orang kaya. Orang miskin tidak mungkin memberi seekor kambing kepada orang miskin. Berdasarkan pertimbangan itu Saudara, kami tangkap!”

Kisah itu diceritakan ke saya. Oleh Hamsad Rangkuti lewat kumpulan cerpen Sampah Bulan Desember.

Baiklah, mari coba disepakati cara berpikir aparat penangkap Karjan. Barangkali ini solusi untuk mengakhiri debat yang bikin ndas mumet. Mengidentifikasi Orang Miskin itu Simpel, Cukup Lihat Siapa Teman-Temannya.

Orang miskin, temannya ya orang miskin. Orang kaya, temannya sudah tentu orang kaya. Artis temennya selebritis, sosialita atau setara. Siswa International School, temennya juga bertaraf dunia. Temen-teman kerja saya, juga lulusan SD Negeri seperti saya. Ojol nongkrongnya sama ojol. Tidak konvoi dengan pengendara moge.

Baca Juga:

Nasib Dianggap Jadi Warga Kelas Menengah: Dianggap Banyak Uang, Tak Pernah Dapat Bantuan, tapi Hidupnya Justru Paling Sering Nelangsa

Beasiswa untuk Orang Kaya: Ironi Sistem Pendidikan Kita

Jadi, mindset, orang miskin temennya orang miskin. Itu logis saja. Menganggap miskin itu permanen, ya sah-sah aja. Orang kaya mungkin saja ada yang baik dan akrab seperti kisah bos dengan drivernya. Tapi tidak serta-merta drivernya akan masuk daftar pewarisnya, kan?

Kisah miskin menjadi kaya. Ada, satu dua. Proses menjadi kaya mana mungkin berjamaah. Rame-rame seperti jumatan di masjid. Belajar dari kisah suksesnya, pun harus ditempuh puluhan taun mencapainya, dengan jungkir balik. Orang miskin biasanya habis masa aktifnya, layu sebelum disiram. Mati sebelum menjadi kaya. Tidak heran, Muhadjir Effendy, Menko Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, pernah usul: orang miskin harusnya nikah dengan orang kaya.

Jadi, apa sudah press release, laporan statistik orang kaya yang mau nikah dengan orang miskin. Mangkraknya ide ini, sebab menghianati mindset: orang miskin, temannya orang miskin.

Data miskin bukan pula soal indikatornya. Yu Darti, tukang sayur yang disebut tadi, juga fasih. Bedanya aset nyicil mercy dan yang nyicil panci. Meski dia pake kaos yang leceknya semirip oblong kaya Mark Zuckerberg. Tau bedanya WC dengan plunglap. Dia juga tau, semriwingnya kipass angin hadiah jalan sehat agustusan dengan AC. Indikator itu nempel dalam hidup Yu Darti, ibarat untingan kangkung, pete, tempe, dan sejenisnya, kemana-mana pating cranthel di sepeda reotnya.

Mengidentifikasi orang miskin itu simpel, cukup dengan melihat teman-temannya. Mendata orang miskin itu sederhana, cukup mencatat teman-temannya. Kelemahan data orang miskin bermula dari kesalahan strategi rekrutmen petugas pendata.

Ini penting saya utarakan. Maaf, pinjam mantranya Gus Baha. Yang selama ini dilupakan adalah syarat utama: petugas data harus orang paling miskin di RT setempat. Biarlah warga se-RT, rembug pilih satu orang saja yang termiskin. Selanjutnya, biarlah dia mencatat teman-temannya, tetangga satu RTnya.

Orang miskin pasti tau siapa teman-temannya. Nggak usah diajari sosialisasi ke tetangga. Dia bukan tipe orang, di balik kaca mobil yang gelap, berhenti sejenak, karena ada tukang sampah yang lalai gerobaknya parkir melintang di jalan perumahan, menghalanginya lewat.

Sekali lagi, orang miskin, temannya orang miskin. Sehingga, logis, orang miskin, ya dibantu negara. Lewat skema jaminan, perlindungan sosial dan bantuan sosial oleh pemerintah.

Lalu, memangnya orang kaya tidak mau bantu orang miskin? Tidak ada larangan orang kaya untuk beramal.  Orang kaya, boleh ngapain aja.. Setelah mapan di dunia. Mosok, mereka nggak pengin bahagia di surga.

Akan tetapi, tugas pemerintah untuk menjamin orang paling susah, sudah disepakati konstitusi. Kecuali kalau setuju mindset nya Gus Dur. Urusan menolong orang susah, orang-orang paling miskin, yang butuh dilindungi dan mendapat bansos, itu urusan masyarakat sendiri. Ini bukan ide jahat. Beliau yang paling percaya, masalah sosial itu bisa diselesaikan oleh masyarakat sendiri. Baginya, maaf, Kementerian Sosial, nggak usah repot-repot, off saja.

Bagaimana, apa sampeyan masih nyaman berpikir dikotomis. Berpikir kaya dan miskin. Kalo begitu simpulkan saja, termasuk orang kaya atau temannya Karjan?

Jangan khawatir. Untungnya, orang Indonesia itu luwes. Mirip kanebo dicelupin air. So, ada jenis ketiga, yang belum sempat dibahas. Bukan orang miskin, jelas bukan orang kaya. Ini, klaster yang paling banyak, tapi paling tidak jelas ukurannya. Sehari-hari nggak mirip orang miskin. Malah kadang-kadang berakrobat, gimana caranya kelihatan kaya. Tapi kalau kehabisan daya, bisa jadi harus ngaku miskin.

Klaster ini disebut Orang Biasa. Saya termasuk orang biasa. Yah, yang dimaksud biasa sambat. Bagi orang biasa, mentalitas sambat ini karakteristik utamanya. Hanya manusia yang ngga biasa sambat, yang boleh menghujat Iis Dahlia. Yang ngresulo, kesulitan cicilan rumah 250 juta per bulan

Sebentar, ternyata ada juga. Orang Luar Biasa. Orang miskin yang keukeuh, nggak mau dibantu siapa-siapa. Dia bilang, “Saya harus usaha sendiri. Tuhan kasih saya 10 jari dipakai untuk usaha. Itu yang saya tidak mau, Tidak ada alasan lain.” Arogansi nan indah, dari ibu asal Alor ini. Namanya Salomi Malaka, penolak bantuan sembako pemerintah. Jadi perlawanan Salomi terhadap stigma itu makjleb. Menembus jantung Sang Pengeluh seperti saya.

Orang luar biasa, seperti Salomi Malaka, sangat minimalis jumlahnya. Mentalitasnya seperti dirinya, membuat orang miskin tetap survive. Mentalitas demikian menjaga dendam anak miskin mengejar cita-citanya. Dendam untuk menjaga probabilitas merubah nasib keluarga. Mentalitas yang selalu relevan, ditiru untuk semua orang. Tugas pemerintah menyediakan kesempatan, dalam hal ini sebenarnya mereka terlalu pintar untuk diajari teorinya.

BACA JUGA Orang Miskin yang Sebenar-benarnya Miskin Adalah Kaum Marjinal Tanpa KTP dan tulisan Makhsun Bustomi lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 12 Mei 2020 oleh

Tags: bantuan sosialdata orang miskinOrang Miskin
Makhsun Bustomi

Makhsun Bustomi

Seorang abdi negara yang membagi fokus antara tugas birokrasi PNS dan hasrat literasi sebagai Penulis.

ArtikelTerkait

Kelas Menengah, Pemegang Nasib Paling Sial di Indonesia (Unsplash)

Nasib Dianggap Jadi Warga Kelas Menengah: Dianggap Banyak Uang, Tak Pernah Dapat Bantuan, tapi Hidupnya Justru Paling Sering Nelangsa

7 Desember 2025
Benarkah Orang Miskin Lebih Rentan Mengalami Obesitas?

Benarkah Orang Miskin Lebih Rentan Mengalami Obesitas?

20 Mei 2023
Menjadi Orang Miskin Versi Nadin Amizah: Udah Susah, Jadi Makin Susah terminal mojok.co

Susahnya Orang Miskin Jadi Orang Baik Versi Nadin Amizah

21 Januari 2021
Panic Buying, Orang Miskin Cuma Bisa Nontonin

Orang Kaya Sibuk Panic Buying, Orang Miskin Cuma Bisa Nontonin

5 Maret 2020
sisi lain nadiem makarim

Nadiem Makarim Bikin Orang Miskin Makin Sial? Sebuah Argumen Konyol

27 Juli 2020
orang miskin naik pesawat

Apa Orang Miskin Tidak Berhak Naik Pesawat?

19 Mei 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Panduan Tidak Resmi Makan di Angkringan Jogja agar Tampak Elegan dan Santun

Panduan Tidak Resmi Makan di Angkringan Jogja agar Tampak Elegan dan Santun

13 Januari 2026
4 Alasan Drama Korea Zaman Sekarang "Kalah" dengan Zaman Dahulu Menurut Saya yang Sudah 15 Tahun Jadi Penggemar Mojok.co

4 Alasan Drama Korea Zaman Sekarang “Kalah” dengan Zaman Dahulu Menurut Saya yang Sudah 15 Tahun Jadi Penggemar

11 Januari 2026
Jalan Daendels Jogja Kebumen Makin Bahaya, Bikin Nelangsa (Unsplash)

Di Balik Kengeriannya, Jalan Daendels Menyimpan Keindahan-keindahan yang Hanya Bisa Kita Temukan di Sana

13 Januari 2026
6 Alasan Perantauan seperti Saya Begitu Mudah Jatuh Cinta pada Solo Mojok.co

6 Alasan Sederhana yang Membuat Perantau seperti Saya Begitu Mudah Jatuh Cinta pada Solo

12 Januari 2026
Coach Jualan di Shopee untuk Rakyat Jelata yang Gajinya Nggak Seberapa tapi Keinginannya Nggak Kira-kira

Coach Jualan di Shopee untuk Rakyat Jelata yang Gajinya Nggak Seberapa tapi Keinginannya Nggak Kira-kira

12 Januari 2026
Jika Tok Dalang dalam Serial Upin Ipin Pensiun, Abang Iz Layak Jadi Kepala Kampung Durian Runtuh

Jika Tok Dalang dalam Serial Upin Ipin Pensiun, Abang Iz Layak Jadi Kepala Kampung Durian Runtuh

16 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Bagi Zainal Arifin Mochtar (Uceng) Guru Besar hanya Soal Administratif: Tentang Sikap, Janji pada Ayah, dan Love Language Istri
  • Gotong Royong, Jalan Atasi Sampah Menumpuk di Banyak Titik Kota Semarang
  • Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital karena Harga RAM Makin Nggak Masuk Akal
  • Honda Vario 150 2016 Motor Tahan Banting: Beli Ngasal tapi Tak Menyesal, Tetap Gahar usai 10 Tahun Lebih Saya Hajar di Jalanan sampai Tak Tega Menjual
  • Adu Jotos Guru dan Siswa di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur Akibat Buruknya Pendekatan Pedagogis, Alarm Darurat Dunia Pendidikan 
  • Kita Semua Cuma Kecoa di Dalam KRL Ibu Kota, yang Bekerja Keras Hingga Lupa dengan Diri Kita Sebenarnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.