Jakarta itu keras dan bisa membuat orang jadi tidak waras. Sebagai lulusan S2, saya menyimpan mimpi tinggi ketika merantau ke ibu kota. Namun, nyatanya, mimpi hanya sebatas mimpi.
Namun, arus perantauan tetap saja deras. Dengan berbagai alasan. Yang paling lazim, adalah soal gaji. Lalu, di sini, peluang kerja memang terbuka. Seolah-olah, semua itu akan menjamin kesuksesan bagi banyak orang.
Namun, benar apa kata Dee Lestari. Jakarta itu terlalu mengiklankan mimpi bagi anak-anak daerah.
Kota ini menjual harapan dengan begitu meyakinkan, seolah siapa saja yang datang dengan mimpi yang besar akan menemukan jalan menuju kesuksesan. Tak peduli kamu lulusan S2 atau status tinggi. Di sini, adalah tentang bertahan hidup dan tetap waras.
Hidup dengan gaji pas-pasan di Jakarta
Selama hampir 3 tahun hidup di Jakarta, saya yang memegang ijazah S2, tak lagi memikirkan soal impian. Kini, isi kepala saya hanya bagaimana cara bertahan hidup dan tetap waras.
Biaya hidup di sini mahal, sementara gaji untuk lulusan S2 tetap pas-pasan. Setiap awal bulan, saya sibuk menghitung biaya kos-kosan, makan, transportasi, dan kebutuhan kecil lainnya. Semata memastikan semuanya cukup hingga tanggal gajian berikutnya.
Hidup dengan gaji pas-pasan di Jakarta itu sangat melelahkan. Mau sesuatu, nggak cukup kalau cuma mikir 2 kali. Dan pada akhirnya, harus menahan hasrat untuk membeli atau melakukan sesuatu.
Kamu harus terbiasa menghitung dan membuat prioritas. Bukan karena tidak ingin menikmati hidup, melainkan keadaan memaksa saya untuk tetap realistis.
Lulus S2 bukan jaminan jalan menuju mimpi besar bisa terbuka
Dulu saya berpikir, setelah lulus S2 semuanya akan lebih baik. Saya akan lebih mudah mendapatkan pekerjaan dengan gaji besar. Nyatanya, mendapatkan pekerjaan dengan gaji setara UMR tidak segampang yang saya bayangkan. Ijazah S2 tidak menjamin hidup kita lebih baik.
Setiap hari, pikiran saya terasa berkecamuk, penuh dengan kecemasan dan ketakutan tentang masa depan. Bagaimana jika saya tidak kunjung mendapat pekerjaan dengan gaji yang lebih baik? Apakah saya bisa tetap waras di Jakarta? Semua keresahan itu terasa sangat nyata.
Di sisi lain, saya juga tidak punya gambaran pekerjaan yang jelas jika harus pulang kampung. Saya takut menjadi pengangguran, sebab peluang kerja di kampung halaman jauh lebih sempit.
Jika saya pulang kampung, penghakiman itu pasti jatuh. Orang kampung pasti berpikir, percuma sekolah tinggi sampai S2, kerja di Jakarta, tapi nggak jadi siapa-siapa.
Drakor membuat hidup tampak lebih waras di Jakarta
Di tengah rasa takut dan tekanan memegang ijazah S2, nonton drakor menjadi cara sederhana yang membantu saya tetap waras di Jakarta. Lewat satu atau dua episode setiap malam, saya menemukan jeda. Setiap kisah membawa saya ke dalam dunia lain (fiktif) yang sejenak membuat saya melupakan kerasnya hidup.
Terkadang, kalau sedang meratapi nasib sebagai lulusan S2 tanpa pekerjaan besar, saya memilih menonton drakor bergenre romcom dan psikologi. Dua genre yang berbeda, tetapi sama-sama memberi ruang untuk mengurai emosi.
Setelah semua perasaan tumpah, entah melalui tawa atau tangisan, perasaan saya jadi agak lega. Drakor memberi saya kesempatan menangis tanpa merasa lemah, tertawa tanpa merasa bersalah, dan berharap tanpa merasa naif.
Berani untuk bertahan hidup
Saat stres sedang memuncak, saya bisa menghabiskan satu drakor dalam semalaman di akhir pekan. Saya sadar tidak bisa membanggakan pencapaian seperti itu. Namun, itulah cara paling sederhana yang bisa saya lakukan untuk refreshing dan healing tanpa harus menguras isi dompet.
Di kamar kos yang sempit, dengan layar laptop 14 inci atau layar ponsel sederhana, saya belajar bahwa bertahan juga bentuk dari keberanian. Hidup tidak harus selalu progresif dan mengagumkan. Terkadang, hidup tetap stabil dan waras saja sudah menjadi pencapaian luar biasa.
Dan kalau hari ini saya masih waras dan bisa bangun, bekerja, dan memilih untuk tidak menyerah, mungkin itu juga karena drakor yang setia menemani saya setiap malam. Seorang pemegang ijazah S2 yang hidup dengan segala tekanan di Jakarta.
Penulis: Elyatul Muawanah
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Jakarta Itu Menyebalkan dan Toxic, tapi Perantau Sulit Meninggalkannya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
