Mie ayam gurih lebih memanjakan lidah ketimbang yang dominan manis
Saya itu sebenarnya suka dengan mie ayam Jogja. No hard feeling, lah. Tapi buat saya, yang punya rasa dominan manis itu kayak kurang menggugah selera. Nggak memanjakan lidah secara paripurna gitu, lah. Ya meskipun ada penjual yang mengimbanginya dengan rasa gurih, tapi entah mengapa rasa manisnya kadang masih terlalu dominan.
Problem adalah topping ayamnya. Di beberapa tempat, termasuk nama-nama besar, saya kerap menemui mie penjual kalau ngasih topping berlebihan.
Ya mending kalau yang berlebihan itu ayamnya. Tapi ini nggak, yang berlebihan kadang justru kuah ayamnya. Ini yang bikin rasa manisnya itu overpowering keseluruhan citarasa. Dan ini jelas nggak akan terjadi di cwie mie, karena topping ayamnya agak kering, dan rasanya nggak akan ganggu keseluruhan rasa cwie mie.
Tapi bukan berarti yang manis nggak enak lho ya. Tapi, kalau disuruh mengadu dan membandingkan, pemenangnya ya sudah jelas: cwie mie Malang. Mungkin ini bias, karena yang bilang orang Malang. Tapi begitulah adanya. Maaf, ya.
Secara tampilan, cwie mie Malang jelas lebih appetizing
Sekarang kalau soal tampilan, saya bahkan lebih pede dengan cwie mie Malang. Sebab tampilan cwie mie malang itu lebih indah, lebih appetizing. Apa yang ditampilkan cwie mie ini pas aja gitu. Antara mie, topping ayam, sayuran, pangsit, dan taburan bawang goreng itu kayak presisi aja. Nggak ada yang overpowering.
Sementara mie ayam Jogja, sebanyak pengalaman saya, tampilannya agak bikin eneg. Kadang mienya kelihatan terlalu lembek, kadang kuah kaldunya berlebihan, bahkan kadang kuah topping ayamnya sampai memenuhi mangkuk. Ini sudah jelas kurang appetizing.
Selain kurang enak dilihat, juga secara rasa kadang jadi nggak padu, jauh dari kata seimbang. Bukannya nggak enak, tapi, meminjam istilahnya Indra Jegel, mie ayam model begitu kayak nggak “TEK” aja.
Mie ayam cuma menang di publikasi!
Ketika banyak orang yang bilang bahwa mie ayam Jogja itu terbaik, jujur saya agak kaget. Dari sekian banyak varian, kok bisa punya mereka jadi yang terbaik?
Ternyata, alasannya sederhana: publikasi. Mereka menang di publikasi saja. Di media sosial, konten mie ayam ini didominasi oleh mie ayam Jogja. Seakan-akan kuliner ini jadi produk diplomasi.
Banyak yang memujanya secara berlebihan. Akibatnya, publik seakan “terpaksa” percaya. Tapi ketika publik beneran mencoba, rasanya nggak seenak, senikmat, dan nggak sedigdaya yang digembar-gemborkan.
Kuliner ini hitungannya beruntung sebab belum ada (belum banyak) mie ayam lain yang mendapatkan publikasi masif. Coba saja kalau cwie mie Malang dipublikasi secara masif, saya cukup yakin akan lebih banyak orang yang kepincut.
“Terus kenapa orang Malang nggak menggembar-gemborkan cwie mie Malang?” Ya ngapain juga? Cwie mie Malang ini sudah lebih dulu terkenal dan lebih punya sejarah panjang, kok. Secara umur menang, secara rasa juga menang. Berisik tapi mengecewakan juga buat apa. Istilahnya, sing luwih tuwo, sing luwih enak ra perlu kakean cangkem.
Itulah mengapa saya makin beruntung lahir dan besar di Malang, bukan di Jogja. Sebab Jogja itu soal bakso jelas kalah telak, soal mie ayam juga sebenarnya kalah, kok. Mereka cuma menang berisik aja.
Ini baru soal kuliner lho, ya. Apa mau diadu soal UMR? Eh, tapi jangan, lah. Karena keduanya sama-sama menyedihkan.
Penulis: Iqbal AR
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA 5 Hal yang Mungkin Terjadi Andai Mie Ayam Tidak Pernah Ada di Muka Bumi
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















