Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Mewakili Kesalnya Vanuatu kepada Negara Saya Sendiri

Ardhias Nauvaly Azzuhry oleh Ardhias Nauvaly Azzuhry
6 Oktober 2020
A A
mewakili vanuatu menyatakan kekesalan kepada indonesia sidang pbb pelanggaran ham di papua mojok.co

mewakili vanuatu menyatakan kekesalan kepada indonesia sidang pbb pelanggaran ham di papua mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Saya memang tidak ada hubungannya dengan Vanuatu. Kecil di Lampung, tumbuh besar di Banten, meskipun akhirnya tidak besar-besar amat. Tinggi saya 158 cm. Mungkin saya bisa ada Vanuatu-Vanuatunya kalau memilih meninggal di sana. Tapi, ah jangan deh. Saya belum paham rukun kematian di Vanuatu.

Meski begitu, saya punya alasan kuat mengapa mesti mewakili suara warganing Vanuatu. Pertama, mereka kurang fasih berbahasa Indonesia. Mesakke kalau dipaksa kursus bahasa cuma untuk menanggapi kasus ini. Kedua, karena tidak fasih berbahasa Indonesia dan tidak punya alasan kuat untuk mempelajarinya, mereka bisa dipastikan enggan mengakses portal berbahasa Indonesia. Apalagi Mojok. Terminal-nya pula.

Saya tahu pasti kalian mau bertanya, emang argumen saya representatif? Saya nggak bakal jawab. Bodo amat. Kalian ini kayak nggak paham, kan sudah biasa bangsa kita bicara tidak sesuai kapasitas. Menko perekonomian dan menko maritim & investasi ngurus pandemi, misalnya, sementara yang mestinya ngurus (baca: menkes) entah mengurus apa.

Mungkin menkes lah yang sekarang mengurus perekonomian, maritim, dan investasi. Seperti di acara Tukar Nasib. Bahkan saking sibuknya mengurus tiga cakupan tersebut, sampai-sampai tidak menyanggupi undangan Mbak Nana. Kasihan juga itu kursi kosong. Tidak salah apa-apa, tapi kena getahnya.

Agar tidak hilang konteks, coba saya jelaskan sedikit perkaranya. Namanya juga sedikit, jadi jangan marah kalau akhirnya kurang jelas. Begini, pada Sidang PBB (28/9/2020), Perdana Menteri Vanuatu menyinggung soal pelanggaran HAM yang dilakukan NKRI di Papua. Sontak hal ini mendapat serangan balik yang, kata media-media arus utama, mematikan dari wakil Indonesia yang kali ini benar-benar seorang diplomat. Bukan Pak Luhut Binsar.

Diplomat ini bernama Sylviana Pasaribu. Ia langsung jadi sorotan publik. Beritanya banyak, namun semuanya sama: sama-sama mengagungkan cara Sylviana mematahkan tudingan Vanuatu yang sebenarnya menunjukkan bahwa negara Indonesia tidak tahu diri.

Jadi gini.

Vanuatu bukannya baru sekali kemarin menyeret isu pelanggaran HAM di Papua ke Sidang PBB lho. Mereka sudah konsisten melakukannya selama lima tahun. Jawaban diplomat Indonesia juga konsisten: “Jangan ikut campur!” Entahlah, mungkin Kak Sylviana belum lahir ketika Jokowi sibuk bicara kemerdekaan Palestina di PBB beberapa waktu lalu. Atau tim diplomat Indonesia di PBB masih belum bisa baca tulis ketika NKRI dengan—kalau tidak salah, kata rakyat Myanmar—sok asyiknya ikut campur urusan Rohingya pada 2015-an. Bukan saya lho yang ngomong. Rakyat Myanmar. Itu pun kalau tidak salah.

Baca Juga:

Culture Shock Orang Jakarta Ketika Pertama Kali ke Jayapura, Ternyata Nggak Terpelosok seperti dalam Bayangan

Merasakan Slow Living di Nabire, Ibu Kota Provinsi Papua Tengah yang Cukup Menguras Kantong

Sudah begitu, Kak Sylviana Pasaribu menuding Vanuatu, “… menggunakan isu Papua untuk menutupi masalah yang terjadi di internalnya.” Tepat sekali. Urusan dalam negeri Vanuatu sangat kacau sampai-sampai tidak ada Covid-19 yang berani masuk. Bukan karena sengaja tidak dites atau belibet mengubah definisi apa itu positif Covid-19. Sepertinya sih karena tidak ada wakil presiden yang dengan khidmatnya menganjurkan susu kuda demi menangkal virus.

Bayangkan, serem banget kan negara Vanuatu ini. Sekacau-kacaunya statement para menteri dan staf Jokowi, Covid-19 masih berani tuh masuk ke sini. Beranak pinak dengan sentosa pula.

Sepertinya salah besar ya ketika Vanuatu menerapkan prinsip kemanusiaan yang adil dan beradab pada kasus kekerasan di Papua. Eh, sepertinya prinsip tersebut terdengar familier? Ah, mungkin kedengarannya saja. Soalnya toh saya nggak pernah merasakannya secara langsung hidup di negara pasifik itu.

Jadi begitulah. Bukannya dijadikan evaluasi, saran Vanuatu agar ada transparansi penanganan kasus HAM di Papua justru dibalas Indonesia dengan bentakan yang maknanya, “Simpan saja khotbahmu!”

Kan ngawur.

Sebab, pertama, Pak Bob Loughman tidak sedang berkhotbah. Khotbah ada rukun dan syaratnya, salah satunya beragama Islam. Dan itu tidak dimiliki olehnya. Kedua, kalaupun dia nekat berkhotbah, justru benar bahwa khotbah tidak boleh disimpan. Seperti halnya salah satu sifat mulia Rasulullah: tablig yang artinya menyampaikan. Walaupun PM Vanuatu tidak Islam, namun apa yang dilakukannya pada perkara Papua terbilang cukup islami.

Pernyataan Vanuatu soal Papua selalu dibalas penyangkalan tanpa jawaban. Sudah disampaikan soal kejahatan kemanusiaan di tanah Papua sejak Pepera 1969, alih-alih berterima kasih sudah diingatkan, eh malah mendamprat habis-habisan. Ibarat pepatah berbahasa Vanuatu yang kalau diartikan ke bahasa Indonesia bunyinya begini: Air susu dibalas air keras. Bau-baunya orang Indonesia punya hobi baru menyiram kebaikan dengan air keras. Novel Baswedan contoh korbannya.

Lebih jauh lagi, Kak Sylviana bukan lagi pasang setelan bertahan, kok ya justru melancarkan serangan balik. Menurutnya, pernyataan PM Vanuatu ini sudah mengganggu kedaulatan NKRI.

Lha???

Vanuatu tidak ambil manuver apa-apa lho. Kecuali seperti China yang mengklaim dan bergerak menjajaki Laut Natuna. Tapi toh diminta jangan dibesar-besarkan sama Opung Luhut. Sudah benar itu. Mari kita besar-besarkan saja isu yang memang krusial. Kebangkitan PKI, misalnya.

Kok kayaknya dendam banget ya Indonesia sama Vanuatu? Apa karena Indonesia kesal timnasnya bisa menang 6-0 lawan Vanuatu, tapi belom pernah mencicipi panggung Piala Dunia seperti mereka. Ya, meskipun level U-20 sih. Tapi, Indonesia bahkan untuk Piala Dunia U-20 saja harus pakai jalur tuan rumah sehingga otomatis masuk. Dan ya, itu pun ditunda karena pandemi. Mana pandeminya nggak kelar-kelar pula.

Apa jangan-jangan pandemi ini konspirasi elit Vanuatu agar Indonesia tidak bisa merasakan atmosfer Piala Dunia U-20 sampai kelak pemain timnas U-20 kita yang sekarang pensiun? Entahlah. Hanya JRX yang tahu. Sayang, JRX sekarang lagi sibuk sidang.

Saya tidak mau berpanjang-panjang lagi. Semoga Kak Sylviana atau rakyat Vanuatu atau siapa pun membaca tulisan ini. Asal jangan dibaca Pak Luhut. Saya takut aib saya dibongkar.

Ya sudah. Saya mau hapus akun Facebook dulu. Aib masa lalu saya ada di situ semua soalnya. Mulai dari foto profil metal hingga pernah memakai embel-embel “rezpector” pada nickname akun. Itu saja sih aib saya. Kalau aib melanggar HAM berat masa lalu, alhamdulillah belum. Tidak tahu kalau teman-temannya Pak Luhut.

BACA JUGA Timnas Indonesia dan Betapa Gampangnya Pendapat Suporter Indonesia Berubah 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 6 Oktober 2020 oleh

Tags: diplomatpapuaPelanggaran HAMsidang pbbvanuatu
Ardhias Nauvaly Azzuhry

Ardhias Nauvaly Azzuhry

Mahasiswa. Kalau ditanya kuliah di mana lebih suka jawab nama daerahnya. Jawab nama kampus dibilang sombong, jawab nama jurusan ga terkenal.

ArtikelTerkait

Culture Shock Orang Jakarta Ketika Pertama Kali ke Jayapura, Ternyata Nggak Terpelosok seperti dalam Bayangan

Culture Shock Orang Jakarta Ketika Pertama Kali ke Jayapura, Ternyata Nggak Terpelosok seperti dalam Bayangan

9 Desember 2025
rasis

Apakah Kita Bangsa yang Rasis?

19 Agustus 2019
papua

Papua Oh Papua

30 September 2019
Wanita Jawa jatuh cinta dengan laki-laki Maluku Utara. (Unsplash.com)

Wanita Jawa Jatuh Cinta dengan Orang Maluku Utara: Saya Tidak Sedang Mewujudkan Hubungan yang Bhinneka Tunggal Ika

29 Juni 2022
gereja katolik indonesia gereja katolik papua konferensi waligereja indonesia mendiamkan kekerasan di papua pembunuhan pendeta yeremia intan jaya mojok.co

Mengapa Gereja Katolik Indonesia Mendiamkan Kekerasan pada Umatnya di Papua?

11 Desember 2020
Merasakan Slow Living di Nabire, Ibu Kota Provinsi Papua Tengah yang Cukup Menguras Kantong

Merasakan Slow Living di Nabire, Ibu Kota Provinsi Papua Tengah yang Cukup Menguras Kantong

7 Maret 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ilustrasi Bus Bagong Berisi Keresahan, Jawaban dari Derita Penumpang (Unsplashj)

Di Jalur Ambulu-Surabaya, Bus Bagong Mengakhiri Penderitaan Era Bus Berkarat dan Menyedihkan: Ia Jawaban dari Setiap Keresahan

20 Februari 2026
Vespa Matic: Tampilannya Keren, tapi Payah di Jalan Nggak Rata dan Tanjakan Mojok.co

Vespa Matic, Motor Mahal yang Nggak Masuk Akal, Harga Setara Mobil Bekas, Fiturnya Minim!

21 Februari 2026
Botok Tawon, Makanan Unik Jawa Timur yang Rasanya Enak, tapi Saya Tak Sudi kalau Disuruh Makan Lagi

Botok Tawon, Makanan Unik Jawa Timur yang Rasanya Enak, tapi Saya Tak Sudi kalau Disuruh Makan Lagi

26 Februari 2026
Saya Menemukan Ketenangan Bersama Muhammadiyah (Wikimedia Commons)

Saya Menemukan Ketenangan Bersama Muhammadiyah

24 Februari 2026
Toyota Fortuner Mobil Mahal yang Terlihat Murahan karena Cara Berkendara Pengemudinya Mojok.co

Toyota Fortuner Mobil Mahal yang Jadi Terlihat Murahan karena Cara Berkendara Pengemudinya

23 Februari 2026
Jangan Salah! Lebih dari 95% Penduduk Indonesia Tidak Mendukung Kemerdekaan

Jangan Salah! Lebih dari 95% Penduduk Indonesia Tidak Mendukung Kemerdekaan

26 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Gamplong Studio Alam, Tempat Wisata Sleman yang Unik, tapi Nggak Perlu Diulang Dua Kali
  • Anak Muda Jadi Ketua RT: Antara Kerja Kuli, Keikhlasan, dan Dewasa Sebelum Waktunya
  • Derita Punya Rumah Dekat Tempat Nongkrong Kekinian di Jogja: Cuma Bikin Emosi dan Nggak Bisa Tidur
  • Culture Shock Mahasiswa Kalimantan di Jawa: “Dipaksa” Srawung, Berakhir Tidak Keluar Kos dan Pindah Kontrakan karena Tak Nyaman
  • Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga
  • Di Balik Tampang Feminin Yamaha Grand Filano, Ketangkasannya Bikin Saya Kuat PP Surabaya-Sidoarjo Setiap Hari Ketimbang BeAT

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.