Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Otomotif

Meski Nggak Mudah, Motor Suzuki Sebenarnya Bisa Bangkit dan Bicara Banyak di Indonesia, asalkan Mau Melakukan 3 Hal Ini

Iqbal AR oleh Iqbal AR
25 Oktober 2025
A A
Suzuki GSX-R150, Motor Sport untuk Kalian yang Muak dengan Honda CBR dan Yamaha R15 suzuki hayate 125 motor suzuki shogun 110 suzuki access 125 motor suzuki

Suzuki GSX-R150, Motor Sport untuk Kalian yang Muak dengan Honda CBR dan Yamaha R15 (Shutterstock.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Kalau bicara soal Suzuki dan kendaraan roda dua sekarang, kita mungkin hanya bisa bicara soal kejayaan masa lalu. Sama halnya kalau kita bicara soal Manchester United dan gelar juara Premier League. Memang miris, tapi begitulah kenyataannya sekarang. Kejayaan Suzuki dan kendaraan roda duanya (setelahnya akan ditulis motor Suzuki) memang sudah habis. Benar-benar kalah luar-dalam. Kalah oleh pabrikan lain, juga dikalahkan oleh ego mereka sendiri.

Padahal, kalau kita ingat, motor Suzuki ini pernah merajai jalanan Indonesia tahun 2000-an. Terlebih ketika motor bebek sedang jadi favorit. Motor Suzuki, melalui Shogun dan Smash (lalu masuk Satria FU), benar-benar jadi raja di jalanan. Hanya Honda yang saat itu jadi saingan terberat. Yamaha? Ah, belum terlalu diperhitungkan, lah, meski sudah mulai mengancam Suzuki.

Lalu datanglah era motor matic. Honda punya BeAT, dan Yamaha punya Mio. Di situlah Suzuki benar-benar goyang. Orang-orang lebih suka motor matic. Walhasil, penjualan BeAT tinggi, penjualan Mio bahkan sudah sundul langit. Sementara Suzuki, masih bertahan dengan motor bebek dan sebagainya, belum kunjung bikin motor matic.

Inilah momen “kejatuhan” Suzuki di Indonesia. Dan sampai sekarang, kebangkitan Suzuki masih jadi tanda tanya.

Sebagai pengguna motor Suzuki, saya agak geram sekaligus kasihan melihat situasi Suzuki di Indonesia. Ibarat peribahasa, Suzuki di Indonesia ini kayak “hidup segan mati tak mau”. Jumlah penggunanya nggak bisa dibilang sedikit banget, tapi jumlah bengkel resminya nggak banyak. Bahkan di Kota Batu, kota tempat saya tinggal, bengkel resmi Suzuki ini sudah nggak ada. Miris banget, kan?

Situasi ini menimbulkan satu pertanyaan besar, apakah Motor Suzuki bisa bangkit? Apakah motor Suzuki bisa kembali bicara banyak, khususnya di Indonesia? Jawaban saya sederhana saja: bisa, meski nggak mudah. Suzuki bisa saja bangkit dan bicara banyak di Indonesia asalkan mau melakukan langkah-langkah di bawah ini.

Suzuki wajib bikin motor dengan desain yang lebih bisa diterima masyarakat

Dibanding dua saingannya yaitu Honda dan Yamaha, Suzuki ini sebenarnya menang dalam hal durability. Suzuki ini motor tangguh, motor yang cenderung lebih awet. ini sudah jadi rahasia umum, lah. Namun, masalah Suzuki itu soal desain. Desain Suzuki dalam 7 tahun terakhir ini nggak ada yang benar-benar bisa diterima seluruh masyarakat, dan makin melenceng dari persaingan.

Ambillah contoh ketika masyarakat mulai tertarik dengan desain skuter matik imbas dari kemunculan Vespa Matic. Saat itu, Honda punya Scoopy dan Stylo, dan Yamaha punya Vino dan Filano. Suzuki? Nggak punya apa-apa. Suzuki masih bertahan dengan Nex dan Address yang desainnya makin ketinggalan. Suzuki sempat mengikuti pasar di ranah motor matic besar. Ketika Honda punya PCX dan Yamaha punya NMAX, Suzuki sebenarnya punya Burgman Street.

Baca Juga:

Karimun Wagon R: Mobil Kecil yang Menyelamatkan Pemiliknya dari Gosip Kampung

Suzuki Aerio, Mobil Bekas yang Masih Layak Dipinang Saat Banyak Orang Beralih ke LCGC

Sayang, Suzuki sudah telanjur ketinggalan dan Burgman Street nggak terlalu laku. Makanya, kalau Motor Suzuki mau bangkit, harus mulai bikin motor dengan desain yang lebih bisa diterima masyarakat.

Menurunkan ego, mengikuti kemauan pasar, dan lebih getol menyosialisasikan produk-produknya

Masih nyambung dengan poin pertama, Motor Suzuki ini bisa dibilang keras kepala. Ego Suzuki terlalu tinggi. Makanya Suzuki ini kelihatan banget nggak mau ngikutin pasar, nggak mau menyediakan motor-motor yang memang diinginkan oleh pasar. Pasar lagi pengin motor dengan jenis A, Suzuki malah bikin motor dengan desain C, yang entah peruntukannya untuk pasar yang mana.

Hal ini makin diperparah dengan adanya semacam keengganan dari Suzuki untuk mengenalkan, menyosialisasikan produk-produk mereka, terutama motor-motor keluaran terbarunya. Contohnya simpel aja, deh. Seberapa sering kita melihat iklan Suzuki, ketimbang Honda dan Yamaha? Jarang, kan? Kita lebih sering lihat iklan Honda dan Yamaha. Maka nggak heran kalau nggak banyak orang yang tahu bahwa ada motor namanya Burgman Street dari Suzuki.

Makanya, kalau Motor Suzuki mau bangkit, mau bicara banyak di Indonesia, ya harus bisa menurunkan ego, harus bisa mengikuti kemauan pasar. Satu hal lagi yang paling penting, harus mau mengenalkan dan menyosialisasikan produk-produknya ke masyarakat luas. Biar masyarakat tahu bahwa Suzuki itu masih eksis, masih ada nafasnya.

Stop menutup dan mengurangi bengkel-bengkel resmi

Kalau Motor Suzuki beneran mau bangkit, mereka harus berhenti menutup dan mengurangi bengkel-bengkel resmi yang ada di Indonesia. Keberadaan bengkel resmi Suzuki ini sudah jarang, jumlahnya sudah makin sedikit. Lalu kalau makin banyak ditutup dan dikurangi, mau gimana nanti nasibnya? Kalau bengkel resminya saja makin sedikit, orang-orang ya makin malas beli motor Suzuki.

Saya tahu ini bukan langkah mudah, mengingat pengguna Suzuki ini nggak sebanyak pengguna Honda atau Yamaha. Namun, bukan berarti harus menutup dan mengurangi bengkel resmi, lah. Minimal Suzuki harus punya satu bengkel resmi (di kota kecil) atau dua bengkel resmi (di kota besar). Nggak harus sebanyak Honda atau Yamaha, tapi minimal biar tetap ada, lah.

Motor Suzuki bisa saja bangkit dan bicara banyak, asalkan harus mau melakukan setidaknya tiga hal di atas. Tiga hal itu emang kelihatan sederhana, tapi nggak mudah untuk dilakukan, apalagi oleh perusahaan sebesar Suzuki. Selain itu, hasilnya juga nggak akan cepat, butuh waktu lama. Tapi ya itu yang mau nggak mau harus dilakukan kalau mau bangkit.

Tapi kalau Suzuki nggak mau bangkit dan bicara banyak di Indonesia ya nggak apa-apa. Kalau Suzuki sudah puas dengan pasar India dan melepas pasar Indonesia ya nggak apa-apa. Abaikan saja tiga hal di atas. 

Penulis: Iqbal AR
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 5 Motor Suzuki yang Baiknya Nggak Usah Dibeli, Cuma Bikin Sakit Hati!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 25 Oktober 2025 oleh

Tags: desain motor suzukimotor Suzukipenjualan motor suzuki di Indonesiasuzukisuzuki India
Iqbal AR

Iqbal AR

Penulis lepas lulusan Sastra Indonesia UM. Menulis apa saja, dan masih tinggal di Kota Batu.

ArtikelTerkait

Seharusnya Suzuki Melakukan 3 Hal Ini Supaya Motornya Diminati Banyak Orang

Seharusnya Suzuki Melakukan 3 Hal Ini Supaya Motornya Diminati Banyak Orang

10 Januari 2026
Suzuki GSX-R150, Motor Sport untuk Kalian yang Muak dengan Honda CBR dan Yamaha R15 suzuki hayate 125 motor suzuki shogun 110 suzuki access 125 motor suzuki

Merawat Motor Suzuki Hayate 125, Sebuah Seni Slow Living yang Sebenarnya

27 November 2024
mobil Suzuki APV Itu Bukan Mobil, tapi Gerobak Dikasih Mesin, Nggak Ada Nyaman-nyamannya Sama Sekali!

Suzuki APV Memang Nggak Nyaman, kalau Memang Cari Nyaman, Beli Innova!

1 Maret 2024
Suka duka bersama Suzuki Futura (Unsplash)

Suka Duka Bersama Suzuki Futura Sejak 2012

4 Mei 2023
Menguji Kesabaran dengan Mengisi Bensin di Belakang Motor Suzuki Thunder

Menguji Kesabaran dengan Mengisi Bensin di Belakang Motor Suzuki Thunder

3 Mei 2024
5 Motor yang Sebaiknya Nggak Dibeli Mahasiswa Baru karena Bikin Menyesal

5 Motor yang Sebaiknya Nggak Dibeli Mahasiswa Baru karena Bikin Menyesal

30 Agustus 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mie Ayam Bikin Saya Bersyukur Lahir di Malang, bukan Jogja (Unsplash)

Bersyukur Lahir di Malang Ketimbang Jogja, Sebab Jogja Itu Sudah Kalah Soal Bakso, Masih Kalah Juga Soal Mie Ayam: Mengenaskan!

2 Februari 2026
Gudeg Malang Nyatanya Bakal Lebih Nikmat ketimbang Milik Jogja (Unsplash)

Membayangkan Jika Gudeg Bukan Kuliner Khas Jogja tapi Malang: Rasa Nggak Mungkin Manis dan Jadi Makanan Biasa Saja

1 Februari 2026
Oleh-Oleh Khas Wonosobo yang Sebaiknya Kalian Pikir Ulang Sebelum Membelinya Mojok.co

Wonosobo Memang Cocok untuk Berlibur, tapi untuk Tinggal, Lebih Baik Skip

3 Februari 2026
Julukan “Blok M-nya Purwokerto” bagi Kebondalem Cuma Bikin Purwokerto Terlihat Minder dan Tunduk pada Jakarta

Purwokerto Memang Kota Wisata, tapi Wisatawan Tak Diberi Petunjuk dan Dibiarkan Bingung Mau ke Mana

5 Februari 2026
Pantai Watu Bale, Tempat Wisata Kebumen yang Cukup Sekali Saja Dikunjungi Mojok.co

Pantai Watu Bale, Tempat Wisata Kebumen yang Cukup Sekali Saja Dikunjungi 

5 Februari 2026
4 Menu Mie Gacoan yang Rasanya Gagal, Jangan Dibeli kalau Nggak Mau Menyesal seperti Saya

Tips Makan Mie Gacoan: Datanglah Pas Pagi Hari, Dijamin Rasanya Pasti Enak dan Nggak Akan Kecewa

1 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya
  • Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers
  • Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif
  • Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.