Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Profesi

Menjadi Perawat di Indonesia Adalah Kursus Sabar Tingkat Dewa: Gaji Tak Sebanding dengan Beban Kerja yang Tak Manusiawi

Syahru Banu Salma Nadira oleh Syahru Banu Salma Nadira
5 Januari 2026
A A
Menjadi Perawat di Indonesia Adalah Kursus Sabar Tingkat Dewa: Gaji Tak Sebanding dengan Beban Kerja yang Tak Manusiawi

Menjadi Perawat di Indonesia Adalah Kursus Sabar Tingkat Dewa: Gaji Tak Sebanding dengan Beban Kerja yang Tak Manusiawi

Share on FacebookShare on Twitter

Menjadi perawat di Indonesia itu bukan sekadar profesi, tapi sebuah jalur asketik menuju kesabaran tingkat dewa. Bayangkan, kamu harus tetap tersenyum di depan pasien dengan berbagai karakter, sementara di saku celana jagamu, saldo ATM tinggal digit yang menyedihkan. Sebuah perpaduan antara pengabdian suci dan nasib yang tragis.

Banyak orang mengira menjadi perawat adalah jalan ninja menuju kemapanan karena “pasti kerja”. Ya, kerjanya memang pasti, pastinya sampai tipes dan kena saraf kejepit. Di negeri ini, perawat sering kali dianggap sebagai manusia setengah robot yang tidak punya rasa lelah, tidak boleh mengeluh, dan yang paling ajaib dianggap cukup makan hanya dengan asupan kata “terima kasih” dan “pahala”.

Malaikat yang lupa digaji layak

Di bangsal rumah sakit, perawat adalah garda terdepan, tengah, sekaligus belakang. Dokter mungkin datang sebentar untuk visit, memberikan instruksi dengan tulisan lalu pergi. Tapi perawatlah yang menemani setiap tarikan napas pasien selama 24 jam.

Kami adalah pendengar curhat yang baik, ahli ganti sprei profesional, tukang sedot lendir, hingga tameng dari amukan keluarga pasien yang emosi karena birokrasi BPJS yang njelimet. Belum lagi kalau ada pasien yang merasa rumah sakit adalah hotel bintang lima; minta minum segera, minta AC dikecilkan, sampai minta ditemani ngobrol saat kita sendiri belum sempat duduk sejak operan shift tadi pagi.

Namun, mari kita bicara jujur soal angka. Sudah menjadi rahasia umum bahwa gaji perawat, terutama yang masih berstatus honorer di puskesmas atau perawat magang di rumah sakit swasta yang sering kali lebih rendah daripada biaya servis motor bulanan. Ada yang dibayar Rp300 ribu sampai Rp500 ribu sebulan dengan dalih “cari pengalaman”. Pengalaman apa yang mau dicari kalau untuk beli vitamin agar badan tidak ambruk saja tidak cukup?

Kursus sabar yang kurikulumnya berantakan

Sabar itu ada batasnya, kecuali kalau kamu perawat. Kami diajarkan untuk memiliki therapeutic communication. Artinya, seberapa pun kasarnya pasien atau keluarga pasien yang merasa dirinya adalah raja karena sudah bayar iuran kelas satu, kami harus tetap menjawab dengan nada yang teduh seolah sedang ikut audisi pengisi suara aplikasi meditasi.

Belum lagi urusan administrasi yang luar biasa ajaib. Di Indonesia, perawat tidak hanya merawat orang sakit, tapi juga merawat tumpukan kertas laporan yang tebalnya mengalahkan skripsi mahasiswa abadi. Kita dituntut untuk teliti secara medis dengan menghitung tetesan infus dengan akurasi NASA, menghafal dosis obat yang salah sedikit bisa berakibat fatal, sekaligus lincah secara birokrasi.

Kalau ada salah tulis sedikit di laporan, urusannya bisa panjang sampai ke komite medis. Tapi kalau gaji yang salah (maksudnya kurang atau telat masuk), kita diminta untuk “ikhlas” dan menganggapnya sebagai tabungan di akhirat. Lha, terus cicilan di dunia ini siapa yang mau bayar? Malaikat maut?

Baca Juga:

Menerima Takdir di Jurusan Keperawatan, Jurusan Paling Realistis bagi Mahasiswa yang Gagal Masuk Kedokteran karena Biaya

Lika-liku Mahasiswa AKPER: Jurusan Elit, tapi Liburnya Begitu Sulit

Perawat: antara panggilan jiwa dan panggilan penagih utang

Katanya, perawat adalah profesi mulia. Memang benar. Ada kepuasan batin yang tidak bisa dibeli dengan uang saat melihat pasien yang tadinya datang dalam kondisi kritis, bisa pulang dengan wajah segar dan memeluk keluarganya kembali. Itu adalah puncak spiritualitas kami. Detik itu, semua rasa lelah seolah menguap.

Namun, mari kita realistis: idealisme tidak bisa dipakai untuk membayar tagihan listrik atau beli susu anak. Memaksa perawat untuk terus-menerus mengandalkan “panggilan jiwa” tanpa memberikan kesejahteraan yang layak adalah bentuk eksploitasi yang dibalut narasi suci. Kami juga manusia yang butuh makan enak sesekali, butuh liburan agar tidak burnout, dan butuh dihargai secara profesional sebagaimana profesi kerah putih lainnya.

Ironisnya, saat pandemi atau krisis kesehatan melanda, kami dipuja-puji sebagai pahlawan. Poster-poster “Terima Kasih Nakes” bertebaran di mana-mana. Tapi begitu badai berlalu, insentif dipangkas, janji pengangkatan jadi ASN sekadar omon-omon. Kami kembali menjadi “buruh kesehatan” yang suaranya sayup-sayup kalah telak oleh riuh rendah politik di TV.

Siapa yang merawat kami?

Menjadi perawat di Indonesia memang mengajarkan kita banyak hal tentang arti kehidupan, kematian, dan penderitaan. Namun, satu hal yang paling kami pelajari dengan susah payah adalah cara mengatur napas agar tidak mengumpat saat melihat slip gaji yang jumlahnya jauh lebih kecil dari dedikasi yang kami berikan sepanjang bulan.

Pada akhirnya, kami memang perawat. Kami merawat orang lain dengan segenap hati, tapi siapa yang sebenarnya merawat kesejahteraan kami? Jangan-jangan, pemerintah dan pemilik modal rumah sakit menganggap kami ini memang benar-benar makhluk langit, yang tidak butuh uang karena makannya adalah cahaya dan minumnya adalah air embun dari tanaman hias di lobi rumah sakit.

Kalau begini terus, jangan salahkan kalau perawat-perawat terbaik kita lebih memilih terbang ke Jerman atau Jepang. Di sana, sabar kami dihargai dengan angka yang masuk akal, bukan cuma dengan tepuk tangan dan ucapan “semangat ya” yang hambar itu.

Penulis: Syahru Banu Salma Nadira
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Perawat, “Pahlawan Kemanusiaan” yang Tak Dimanusiakan: Beban Kerja Selangit, Gaji Sulit

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 5 Januari 2026 oleh

Tags: gaji perawat ASNgaji perawat di indonesiagaji perawat swastaPerawat
Syahru Banu Salma Nadira

Syahru Banu Salma Nadira

Mahasiswa Keperawatan di Universitas Diponegoro. seorang pengajar sekaligus penulis aktif yang memiliki minat besar pada literasi.

ArtikelTerkait

Lika-liku Mahasiswa AKPER: Jurusan Elit, tapi Liburnya Begitu Sulit

Lika-liku Mahasiswa AKPER: Jurusan Elit, tapi Liburnya Begitu Sulit

5 Desember 2023
6 Alasan Drama Korea Medis Selalu Populer dan Wajib Ditonton

6 Alasan Drama Korea Medis Selalu Populer dan Wajib Ditonton

29 April 2023
FAQ yang Sering Diajukan Keluarga Pasien kepada Perawat Terminal Mojok

FAQ yang Sering Diajukan Keluarga Pasien kepada Perawat yang Sedang Tugas

15 Januari 2021
7 Istilah yang Perlu Diketahui Mahasiswa Keperawatan Sebelum Praktik Klinik di Rumah Sakit

7 Istilah yang Perlu Diketahui Mahasiswa Keperawatan Sebelum Praktik Klinik di Rumah Sakit

7 April 2023
beragam profesi di rumah sakit mojok

Beragam Profesi di Rumah Sakit selain Dokter dan Perawat yang Perlu Diketahui

15 November 2020
Menerima Takdir di Jurusan Keperawatan, Jurusan Paling Realistis bagi Mahasiswa yang Gagal Masuk Kedokteran karena Biaya

Menerima Takdir di Jurusan Keperawatan, Jurusan Paling Realistis bagi Mahasiswa yang Gagal Masuk Kedokteran karena Biaya

14 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Plesir ke Telaga Sarangan Magetan Cuma Bikin Emosi, Mending ke Telaga Ngebel Ponorogo Mojok.co

Plesir ke Telaga Sarangan Magetan Cuma Bikin Emosi, Mending ke Telaga Ngebel Ponorogo

26 Maret 2026
Mimpi Lulusan S2 Mati di Jakarta, Masih Waras Sudah Syukur (Unsplashj)

Culture Shock Fresh Graduate yang Mengadu Nasib di Jakarta: Baru Sampai Langsung Ditipu Driver Ojol, Ibu Kota Memang Lebih Kejam daripada Ibu Tiri!

26 Maret 2026
Kerja Dekat Monas Jakarta Nggak Selalu Enak, Akses Mudah tapi Sering Ada Demo yang Bikin Lalu Lintas Kacau

Kerja di Jakarta Memang Kejam, tapi Masih Banyak Hal yang Bisa Disyukuri dari Kota yang Mengerikan Itu

29 Maret 2026
Orang Waras Pilih Toyota Agya Dibanding Honda Brio, Lebih Keren dan Bebas Julukan Aneh-aneh Mojok.co

Orang Waras Pilih Toyota Agya Dibanding Honda Brio, Lebih Keren dan Bebas Julukan Aneh-aneh

28 Maret 2026
Hilangnya Estetika Kota Malang Makin Kelam dan Menyedihkan (Unsplash)

Di Balik Wajah Kota yang Modern: Kehidupan Kelam di Labirin Gang Sempit dan Hilangnya Estetika Kota Malang

29 Maret 2026
Merantau ke Malang Menyadarkan Saya Betapa Payah Hidup di Bojonegoro Mojok.co

Merantau ke Malang Menyadarkan Saya Betapa Payah Hidup di Bojonegoro

28 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Kerja di Kafe Bikin Stres karena Bertemu Gerombolan Mahasiswa Jogja yang Nggak Beradab, Sok Sibuk di Depan “Budak Korporat”
  • Gagal Lolos SNBP UGM Bukan Berarti Bodoh, Seleksi Nilai Rapor Hanya “Hoki-hokian” dan Kuliah di PTN Tidak Menjamin Masa Depan
  • Siswa Terpintar 2 Kali Gagal UTBK SNBT ke UB, Terdampar di UIN Jadi Mahasiswa Goblok dan Nyaris DO
  • “Side Hustle” Bisa Hasilkan hingga Rp500 Juta per Bulan Melebihi Gaji Kerja Kantoran, tapi Bikin Tersiksa karena Tidak Pernah Berhenti Bekerja
  • Penyesalan Kaum Mendang-mending yang Dilema Pakai Kereta Eksekutif hingga Memutuskan Tobat dari Kondisi “Neraka” Kereta Ekonomi
  • Derita Jadi PNS atau ASN di Desa: Awalnya Bisa Sombong Status Sosial, Tapi Berujung Ribet karena “Diporoti” dan Dikira Bisa Jadi Ordal

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.