Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Menilik Kembali Guyonan Seputar “Masa Kecil Kurang Bahagia”

Siti Halwah oleh Siti Halwah
15 Januari 2020
A A
Kiat Hidup Bahagia meski Bokek dan Nggak Bisa Yang-yangan mojok.co/terminal

Kiat Hidup Bahagia meski Bokek dan Nggak Bisa Yang-yangan mojok.co/terminal

Share on FacebookShare on Twitter

Saya suka sekali mengonsumsi jajanan arum manis. Selain karena rasanya yang memang manis, teksturnya yang seperti kapas serta warnanya yang mencolok, membuat saya jatuh cinta. Hingga hari ini, setiap kali melihatnya, saya selalu tergelitik untuk membeli.

Saat kecil, arum manis adalah makanan yang jarang saya makan. Selain karena harganya yang dulu terkesan sangat mahal, jajanan ini hanya dijual di kota-kota besar saja, bukan di pelosok desa. Makanya, saya sangat menyukainya hingga hari ini.

Suatu kali, ketika sedang bepergian bersama teman-teman dan melihat jajanan ini dijual, saya memutuskan untuk membelinya. Lalu, teman saya tiba-tiba nyeletuk, “Ih, kayak masa kecil kurang bahagia aja. Masa, udah besar, jajanannya masih arum manis.”

Mungkin, teman saya hanya berniat untuk guyon saja. Namun, itu menyentil saya. Saya memang menyukai arum manis (yang mungkin bagi kebanyakan orang itu merupakan jajanan anak-anak), tapi, apakah elok menuduh masa kecil saya kurang bahagia hanya karena menjajal arum manis di saat saya sudah dewasa?

Saya yakin seratus persen bahwa masa kecil saya bahagia meskipun jarang mengonsumsi jajanan arum manis. Makanya, saya hanya menganggap komentar menyentil teman saya sebagai angin lalu saja.

Namun, dalam kehidupan sehari-hari, doktrin “masa kecil kurang bahagia” tampaknya sangat melekat bagi orang-orang dewasa yang tetap mencoba memelihara kenangan masa kanak-kanaknya sembari melakukan hal-hal—yang bagi orang lain—seharusnya tidak dilakukan oleh orang dewasa. Seperti makan arum manis, menonton kartun, berenang di seluncuran, atau mengoleksi sepatu roda meskipun sudah menikah dan memiliki anak.

Saya nggak mau mencontohkan orang lain, saya sendiri hingga hari ini masih sering disindir sebagai orang dewasa yang masa kecilnya kurang bahagia. Selain karena menyukai arum manis, tentu saja karena saya masih suka menonton film kartun, animasi dan anime, hehe.

Menurut teman-teman saya, kegemaran saya pada film-film tersebut seolah menandakan bahwa masa kecil saya kurang bahagia. Hih, padahal film-film kartun, animasi dan anime tentunya lebih baik dari pada sinetron-sinetron yang nggak ada ujung episodenya di televisi.

Baca Juga:

Selain Memancing, 5 Hobi Ini Juga Tampak Sia-Sia

Orang Bertanya, Hobbyist Menjawab: 5 Pertanyaan Paling Umum tentang Hobi Mainan Beserta Jawabannya

Belum lagi tuduhan “masa kecil kurang bahagia” yang juga disematkan pada orang-orang yang hobi mengoleksi action figure atau barbie—yang bagi sebagian orang dewasa lainnya hanya dianggap sebagai mainan anak kecil. Padahal, mengoleksinya saat dewasa ya karena memang saat kecil nggak pernah dibelikan. Makanya saat dewasa, sudah bekerja dan bisa nyari uang sendiri, membeli dan mengoleksi hal-hal tersebut seolah dapat menebus mimpi-mimpi masa kecil dulu yang belum terealisasi.

Guyonan “masa kecil kurang bahagia” pada orang-orang yang dikenal sudah akrab, mungkin memang nggak akan terlalu menyakitkan. Apalagi kalau kita benar-benar tahu masa kecilnya. Sering bermain bersama dan sudah paham kegemaran masing-masing. Jadi, tuduhan “masa kecil kurang bahagia” hanya akan dianggap sebagai bahan guyonan saja. Bercanda sesama teman dan untuk ditertawakan bersama.

Namun, jangan sekali-kali melakukan guyonan tersebut pada orang-orang yang baru dikenal ataupun yang masa lalunya nggak kita ketahui dengan pasti. Bisa saja, guyonan tentang “masa kecil kurang bahagia” tersebut terasa menyakitkan.

Seorang teman saya pernah merasa jengkel karena dikatain “masa kecilnya kurang bahagia” hanya karena ia menyukai sepatu dengan lampu kelap-kelip di bagian bawahnya. Ya tahu sendirilah, saat kanak-kanak dulu, sepatu kayak gini hype abis.

Padahal, ia memang menyukainya. Sejak kecil selalu menginginkannya seperti teman-temannya dulu memakainya. Lalu ketika sudah dewasa, sudah bekerja, ia memutuskan untuk memuaskan fantasi masa kecilnya akan sepatu kelap-kelip tersebut.

“Memangnya norak ya, kalau saya ingin menuntaskan mimpi-mimpi masa kecil saya?” dia bertanya dengan muka sebal dan kesal.

Tentu saja tidak. Itu adalah jawaban saya. Semua orang berhak memelihara kenangan masa kecilnya. Mengulangnya sewaktu-waktu meskipun usia sudah tidak lagi kanak-kanak. Setiap orang berhak mewujudkan mimpi-mimpi sederhana di masa kecilnya tanpa perlu mendapat tuduhan menyakitkan bahwa “masa kecilnya kurang bahagia.”

Buat kalian yang masih pake guyonan “masa kecil kurang bahagia”, mbok ya mikir, emangnya siklus hidup semua orang sama? Hish!

BACA JUGA Mengenang Masa Kecil Bersama Pesawat Terbang atau tulisan Siti Halwah lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 16 November 2021 oleh

Tags: action figurearum manismasa kecil kurang bahagia
Siti Halwah

Siti Halwah

menulis untuk eksis

ArtikelTerkait

uang laki buat hobi mojok

Pentingnya Transparansi Uang Laki dalam Hubungan

5 Oktober 2021
Orang Bertanya, Hobbyist Menjawab: 5 Pertanyaan Paling Umum tentang Hobi Mainan Beserta Jawabannya

Orang Bertanya, Hobbyist Menjawab: 5 Pertanyaan Paling Umum tentang Hobi Mainan Beserta Jawabannya

10 Juni 2022
Selain Mancing, 5 Hobi Ini Juga Tampak Sia-Sia Mojok.co

Selain Memancing, 5 Hobi Ini Juga Tampak Sia-Sia

28 November 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Membayangkan Lamongan Punya Mal, Cari Hiburan Nggak Perlu Repot-repot ke Kabupaten Tetangga Mojok.co

Membayangkan Lamongan Punya Mal, Cari Hiburan Nggak Perlu Repot-repot ke Kabupaten Tetangga

15 Februari 2026
Honda Spacy: “Produk Gagal” Honda yang Kini Justru Diburu Anak Muda

Honda Spacy: “Produk Gagal” Honda yang Kini Justru Diburu Anak Muda

19 Februari 2026
Bakpia Kukus Kuliner Jogja yang Palsu dan Cuma Numpang Tenar (Unsplashj)

Dear Wisatawan, Jangan Bangga Berhasil Membawa Oleh-oleh Bakpia Kukus, Itu Cuma Bolu Menyaru Kuliner Jogja yang Salah Branding

21 Februari 2026
4 Gudeg Jogja yang Rasanya Enak dan Cocok di Lidah Wisatawan

Gudeg Jogja Pelan-Pelan Digeser oleh Warung Nasi Padang di Tanahnya Sendiri, Sebuah Kekalahan yang Menyedihkan

18 Februari 2026
Surat Terbuka untuk Bupati Grobogan: Sebenarnya Desa Mana yang Anda Bangun dan Kota Mana yang Anda Tata?

Surat Terbuka untuk Bupati Grobogan: Sebenarnya Desa Mana yang Anda Bangun dan Kota Mana yang Anda Tata?

18 Februari 2026
Ilustrasi Bus Bagong Berisi Keresahan, Jawaban dari Derita Penumpang (Unsplashj)

Di Jalur Ambulu-Surabaya, Bus Bagong Mengakhiri Penderitaan Era Bus Berkarat dan Menyedihkan: Ia Jawaban dari Setiap Keresahan

20 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • WNI Lebih Sejahtera Ekonomi dan Mental di Malaysia tapi Susah Lepas Paspor Indonesia, Sial!
  • 3 Dosa Indomaret yang Membuat Pembeli Kecewa Serta Tak Berdaya, tapi Tak Bisa Berbuat Apa-apa karena Terpaksa
  • Derita Orang Biasa yang Ingin Daftar LPDP: Dipukul Mundur karena Program Salah Sasaran, padahal Sudah Susah Berjuang
  • Sarjana Sastra Indonesia PTN Terbaik Jadi Beban Keluarga: 150 Kali Ditolak Kerja, Ijazah buat Lamar Freelance pun Tak Bisa
  • Muak Buka Bersama (Bukber) sama Orang Kaya: Minus Empati, Mau Menang Sendiri, dan Suka Mencaci Maki bahkan Meludahi Makanan
  • Salut dengan Ketahanan Yamaha Mio Sporty 2011, tapi Maaf Saya Sudah Tak Betah dan Melirik ke Versi Baru

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.