Informasi
ADVERTISEMENT

Mengungkap Alasan Tukang Fotokopi Sering Jutek dari Pelakunya Langsung

3 Permintaan Paling Aneh yang Muncul di Jasa Fotokopi (Unsplash)

Udah fotokopi dikit, ngutang lagi

Kasus yang lain adalah sudah fotokopi dikit, cuma dua lembar, habis 500 perak, eh ngutang lagi. Kami selaku tukang fotokopi itu jadi serba salah kalau dihadapkan pada posisi yang demikian.

Nggak dibolehin ngutang nanti dikira pelit, lah wong cuma 500. Diutangi juga nagihnya bingung, lah wong cuma 500. Nggak ditagih, malah nggak bayar soalnya pembelinya ngeremehin bahkan melupakan. Dan, kalo nggak ditagih itu 500 perak juga duit, lumayan buat nambah bayar listrik. Intinya serba salah banget deh, bingung mau mutusin gimana yang tepat.

Walhasil, setiap ada pembeli yang demikian, pasti saya juengkel banget. Maksud saya, masak iya 500 perak nggak punya? Semiskin-miskinnya orang di desa saya itu pasti bisa beli kopi yang harganya tiga ribuan. Lah fotokopi 500 aja masak iya ngutang? Tolonglah, kami ini bekerja, bukan koperasi utang-utangan.

Fotokopi selembar, nyangkutnya sepuluh lembar

Terkadang, nggak semua kejengkelan seorang tukang fotokopi itu dari para pelanggannya. Perihal mesin fotokopi misalnya. Kadang tuh saya sering banget di tengah menerima fotokopi-an Kartu Keluarga selembar, eh nggak tau kenapa mesin fotokopi-nya macet, bahkan ngerusak sampai sepuluh lembaran kertas. Atau kadang hasil fotokopinya nggak baik sampai sepuluh lembaran. Pokoknya ada aja kerewelan tuh mesin kolot.

Selaku manusia biasa, yang bukan utusan Tuhan, yang nggak ada spesial-spesialnya, tentu saya sangat pengen emosi banget. Lah wong fotokopi selembar biaya 250 perak, tapi ruginya sampai sepuluh kali lipat. Walhasil kejengkelan ini terlampiaskan ke pelanggan yang sebenernya mereka itu nggak salah apa-apa, tapi harus menerima beban ekspresi jutek saya.

Maaf, ya, Pak, Buk, Mas, Mbak.

Ngomongnya dikit biar dianggap gratis

Saya sangat tau bahwa pembeli adalah raja, namun bukan berarti penjual adalah budak yang tenaganya bebas untuk dikuras. Saya tuh sering banget menemui mbak-mbak yang sedang ngerjain skripsi atau tugas kuliah maupun sekolahnya yang ngeprint di toko saya sembari minta tolong ngeditin tugasnya.

“Mas, tolong editin juga ya, dikiiit aja kok,” ucap mbak-mbak pelanggan sembari menimpal senyum yang penuh maksud jahat. Oke, lah saya turutin. Tapi ketika saya turutin, lah kok malah menjalar ke mana-mana editnya. Mulai dari ngerapiin, nyariin referensi, nambahin penjelasan dan lain sebagainya. Ini edit dikit yang lama-lama menjadi bukit.

Ketika saya tarik jasa edit, si mbaknya malah tanya, “Lah kok habis banyak mas?” Saat itu saya mencoba menjelaskan dengan sangat hati-hati, “Iya mbak, sekalian jasa edit.” Seketika itu si mbaknya langsung jutek. Dan, saya pun membalasnya dengan ikut jutek bodo amat.

Ya gimana ya, lagi-lagi saya bukanlah sukarelawan, kawan, atau para buruh tahanan, yang dipekerjakan tanpa bayaran. Bagaimanapun, dianggap sedikit sekalipun, ya tetep ada ongkosnya. Kalau mau gratis ya sana ngemis ke temen-temen kalian.

Betul, semua ini adalah risiko pekerjaan dan usaha yang pasti akan saya temui. Lini bisnis mana pun pasti akan ketemu risiko yang mirip-mirip. Tapi, saya cuman mau ngeluarin uneg-uneg, serta biar kalian bisa ngerti dikit. Dikit aja udah cukup kok.

Penulis: Mohammad Maulana Iqbal
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Sisi Gelap Dunia Usaha Fotokopi: Kertas yang Keliatan Sepele Berpotensi Jadi Masalah Nasional

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 13 Juni 2023 oleh .

Mohammad Maulana Iqbal

Lulusan Magister Sosiologi yang doyan ngulik isu konflik, identitas dan dinamika sosial. Selain menjadi kapitalis toko fotocopy, sehari-hari juga disibukkan dengan kegiatan membaca, menulis dan riset. Sedang berkeringat melahirkan komunitas riset.