Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Menghitung Penghasilan Bang Ojak Tukang Ojek Pengkolan Selama Pandemi Corona

Gusti Aditya oleh Gusti Aditya
31 Juli 2020
A A
bang ojak tukang ojek pengkolan penghasilan tukang ojek mojok.co

bang ojak tukang ojek pengkolan penghasilan tukang ojek mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Memang betul apa yang dikatakan oleh Rojak, tokoh utama sinetron Tukang Ojek Pengkolan. Menurut tukang ojek yang biasa disapa Bang Ojak ini, pekerjaan apa saja harus disikat selama itu halal. Musim rambutan, ya jual rambutan. Musim ternak lele, nggak ada salahnya coba. Dan inovasi dalam ojek juga harus ditegaskan, menerima jasa titip dan langganan contohnya.

Pola pikir Bang Ojak emang berubah sejak punya momongan. Beban sudah bertambah. Anaknya sekarang perlu susu dan perlengkapan bayi, tanggung jawab ke Mbak Denok juga makin besar. Tapi apakah penghasilan Bang Ojak cukup menutup kebutuhan hidup sekarang? Apalagi ini kan lagi pandemi.

Inilah pertanyaan yang bikin saya penasaran. Untuk menjawabnya, saya susun analisis asal-asalan ini.

Menghitung penghasilan Bang Ojak Tukang Ojek Pengkolan selama pandemi

Pertama, usaha ojek konvensional masih berjalan seperti biasanya. Kita ketahui bahwa mengantar pengguna jasa di sekitaran Rawa Bebek, dari Rawa Bebek 1 sampai 10, tarifnya sepuluh ribu rupiah. Sedangkan Rawa Bebek belasan, sebelas dan seterusnya, biasanya mereka di angka lima belas ribu.

Kemudian, tiga tukang ojek, Kang Tisna (sebelum balik ke Bandung), Purnomo, dan Bang Ojak selama ini menggunakan sistem gantian. Biasanya, ketika ditanya rekan ojeknya sebelum jam makan siang, Bang Ojak menjawab begini, “Baru dapet lima penumpang, Pur!”

Jadi, sebelum pandemi, Bang Ojak biasa mendapat minimal lima puluh ribu dalam setengah hari. Kalau diasumsikan ia bekerja sampai jam 5 sore terus dapat penumpang 10, artinya bisa bawa pulang duit seratus ribu.

Selama pandemi, Bang Ojak sering ngeluh begini, “Aduh, hari ini sepi banget, yak, cuma dapet setengah” atau “Dari pagi belum dapet penumpang”. Kita dapat petunjuk, setengah dan belum dapet. Dari omongan Bang Ojak kita tahu pendapatannya selama pandemi adalah 0-Rp50 ribu sehari.

Kedua, faktor yang membuat sepi selain pandemi. Kini pangkalan ojek sudah pindah ke cakruk dalam desa. Jelas cakruk ini bukan tempat yang cocok untuk mendapatkan penumpang. Berbeda dengan pangkalan ojek di pinggir jalan raya, di mana orang singgah dan pergi secara rutin. Turun dari angkutan umum atau sebaliknya.

Baca Juga:

Rahasia Tukang Ojek Pengkolan Mengalahkan Ojek Online

5+1 Alasan Menulis Skenario Sinetron Layak Jadi Pilihan Karier

Saya nggak tahu bagaimana denah Rawa Bebek. Namun, dalam beberapa episode, cakruk yang kini digunakan sebagai pangkalan ojek, beberapa kali digunakan sebagai tempat mengawasi CCTV kampung. Itu berarti letak cakruk ini di tengah desa, penumpang yang menggunakan jasa Bang Ojak dan kawan-kawannya, dapat ditarik kesimpulan adalah warga Rawa Bebek saja.

Ketiga, usaha jastip atau jasa titip. Usaha ini dikembangkan oleh pemikiran istrinya Mas Pur, yakni Mbak Rinjani. Dan Bang Ojak bergerak cepat untuk mempromosikan usahanya ke berbagai tempat, seperti es buah Abi-Umi, katering Mpok Uyuy, kafe milik Mak Mae, dan warung nasi Pelipurlapar. Hasilnya pun lumayan, semua pelanggan berdatangan.

Bang Ojak mengambil tarif dua ribu sampai lima ribu dalam usaha jastip miliknya. Dari pagi hingga siang, jika melihat kesibukannya, Bang Ojak bisa menerima sepuluh sampai lima belas jastip. Kita ambil kemungkinan terbesar, 15 kali jastip dikali Rp5 ribu, maka sampai siang Bang Ojak bisa mendapatkan Rp75 ribu.

Namun, sangat disayangkan usaha ini menjadi sunyi senyap karena ketangkasan motor tua Bang Ojak yang tidak bisa diajak berpacu dengan banyaknya permintaan jastip. Ya, mau bagaimana lagi, kenangan Bang Ojak lebih diutamakan ketimbang anak istrinya di rumah.

Keempat, kartu AS mendapatkan uang dan memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Pertanyaan mulai muncul, dari mana Bang Ojak mendapatkan rupiah untuk memenuhi kebutuhan Boy dan Mbak Denok. Jawabannya sederhana, dari kekayaan mertuanya, yakni Bapak dan Ibu Danang.

Walau cerita sinetron ini kini menjadi sedikit membosankan, namun Tukang Ojek Pengkolan menampilkan sedikit kenyataan mengenai apa yang terjadi di kehidupan kita. Melihat Bang Ojak, saya juga melihat realita di lapangan bahwa banyak tukang ojek pangkalan di sekitar Terminal Giwangan, Yogyakarta, menampilkan kesulitan yang sama. Mati surinya industri transportasi lintas provinsi, menjadikan tukang ojek harus memutar otak untuk mengisi kepulan asap di dapur mereka.

Selain Bang Ojak dan tukang ojek di sekitar Terminal Giwangan, masih banyak lagi kelumit tukang ojek di tempat lain mengeluhkan hal yang sama. Namun, bedanya, tukang ojek lain tidak selalu memiliki tokoh seperti Bapak dan Ibu Danang yang menyelamatkan kebutuhan dapur mereka.

Tetap semangat untuk seluruh Bang Ojak-Bang Ojak lain di bumi Indonesia yang kini mengalami paceklik berkepanjangan selama pandemi. Semoga jalan selalu ada dan kita semua diberi nalar waras agar pandemi lekas usai.

BACA JUGA Menghitung Penghasilan Majelis Lucu Indonesia dari Youtube dan tulisan Gusti Aditya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 31 Juli 2020 oleh

Tags: nafkah mojoktukang ojek pengkolan
Gusti Aditya

Gusti Aditya

Pernah makan belut.

ArtikelTerkait

5+1 Alasan Menulis Skenario Sinetron Layak Jadi Pilihan Karier (Pixabay)

5+1 Alasan Menulis Skenario Sinetron Layak Jadi Pilihan Karier

19 Oktober 2022
Rahasia Tukang Ojek Pengkolan Mengalahkan Ojek Online (Unsplash)

Rahasia Tukang Ojek Pengkolan Mengalahkan Ojek Online

11 April 2023
sinetron tukang ojek pengkolan lama-lama membosankan mojok.co

Lama-lama Sinetron ‘Tukang Ojek Pengkolan’ Membosankan Juga

26 Juli 2020
Pak Sofyan di Tukang Ojek Pengkolan Adalah Representasi Pemimpin Ideal ala Socrates dan Gramsci terminal mojok.co

Pak Sofyan di Tukang Ojek Pengkolan Adalah Representasi Pemimpin Ideal ala Socrates dan Gramsci

14 November 2021
tukang ojek pengkolan pak sofyan penghasilan kekayaan mojok.co

Rahasia Pak Sofyan Bisa Jadi Orang Terkaya di Rawabebek

9 April 2020
mas pur

Kami Bersama Mas Pur: Slogan Para Pria Dengan Perjuangan Cintanya

16 Agustus 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Panduan Bertahan Hidup Warga Lokal Jogja agar Tetap Waras dari Invasi 7 Juta Wisatawan

Jogja Waktu Lebaran Tak Pernah Sepi, Ia Disesaki oleh Orang yang Pulang Kampung, Perantau yang Lari, dan Wisatawan Bermodal THR Tebal

13 Maret 2026
Terminal Ir Soekarno Klaten Terminal Terbaik di Jawa Tengah

Terminal Ir Soekarno Klaten: Terminal Terbaik di Jawa Tengah yang Menjadi Tuan Rumah Bagi Siapa Saja yang Ingin Pulang ke Rumah

18 Maret 2026
KlikBCA, Layanan Internet Banking Terbaik yang Perlu Dikritisi (Unsplash)

KlikBCA, Layanan Internet Banking Terbaik yang Perlu Dikritisi

17 Maret 2026
Bukan Buangan dari UNDIP: Kami Mahasiswa UNNES, Bukan Barang Retur! kampus di semarang

Ironi UNNES Semarang: Kampus Konservasi, tapi Kena Banjir Akibat Pembangunan yang Nggak Masuk Akal

18 Maret 2026
Suzuki Satria Pro Aib Terbesar Suzuki yang Tak Perlu Lahir (Wikimedia Commons)

Suzuki Satria Pro: Aib Terbesar Suzuki yang Seharusnya Tak Perlu Lahir

18 Maret 2026
Siasat Melewati 31 Jam di “Neraka” Bernama Kapal Kelas Ekonomi Surabaya-Makassar Mojok.co

Siasat Melewati 31 Jam di “Neraka” Bernama Kapal Kelas Ekonomi Surabaya-Makassar

13 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • 3 Cara Gen Z Habiskan THR, padahal Belum Tentu Dikasih dan Jumlahnya Tidak Besar tapi Pasti Dibelanjakan
  • Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya?
  • Mudik Gratis BUMN 2026: Hemat Rp600 Ribu dari Jakarta-Solo Tanpa Pusing Dana THR Berkurang
  • Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali 
  • Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman
  • Kapok Terlalu Royal ke Teman: Teman Datang karena Ada Butuhnya, Giliran Diri Sendiri Kesusahan Eh Diacuhkan meski Mengiba-iba

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.