Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Menghitung Kerugian Kerusakan jika Ultraman Bertarung di Indonesia

Bayu Kharisma Putra oleh Bayu Kharisma Putra
1 Februari 2021
A A
Menghitung Kerugian Kerusakan jika Ultraman Bertarung di Indonesia terminal mojok.co

Menghitung Kerugian Kerusakan jika Ultraman Bertarung di Indonesia terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Bar-bar adalah hal yang langsung nyantol ke kepala saat melihat Ultraman bertarung melawan makhluk purba alias musuhnya. Bagaimana tidak, gedung meledak, rumah orang dirusak, pohon ambruk, bukit longsor, ngawur pokoknya.

Walau pada akhirnya Mas Ultraman bakalan berdalih melindungi bumi, kan tetap saja para manusia yang harus bangun ulang atau memperbaiki. Mana berantemnya hampir tiap hari, berapa besar kerusakan dan duit yang harus dikeluarkan untuk perbaikan. Walau Jepang itu lumayan kaya dan stabil ekonominya, kalau begini terus, Ultraman bisa bikin Jepang bangkrut. Belum lagi bencana alam yang bisa terjadi, wilayah gundul jadi rawan banjir dan longsor, hewan-hewan tak punya tempat tinggal.

Menyelamatkan dunia kan nggak harus dengan kekerasan, ayolah diskusi, musyawarah gitu. Coba deh sekali-kali Mas Ultraman ikut maiyahan, biar bisa menyelami dan menghadapi masalah tanpa misuh. Seperti halnya alien yang selalu memilih Amerika, Power Ranger juga cuma di Amerika. Untunglah Ultraman hanya ada di Jepang. Namun, bagaimana jadinya jika Utraman memilih Indonesia sebagai lokasi untuk gelut?

Misalkan, seekor makhluk purba muncul, terus Ultraman bertarung melawannya di Jawa Tengah. Pertarungan rampung dengan kemenangan Ultraman. Namun, kerusakan sarana umum nggak bisa dihindarkan. Katakanlah sebuah wilayah di perkotaan seluas 6 sampai 7 km² yang dipilih, jalan aspal, bangunan ambruk, pohon-pohon rusak.

Misal aspal sepanjang 2000 m² yang harus diperbaiki, berarti harus dilakukan penambalan. Biaya normal untuk per meter persegi berkisar di Rp100.000 × Rp2.000 = Rp200 juta, sudah termasuk paket bagus dan komplit. Itu sekadar hitung-hitungan dari beberapa brosur dan website perusahaan konstruksi (itu sudah yang lumayan bagus setebal 3-4 cm, bahkan banyak yang lebih murah, berkisar 60 ribu sampai 85 ribu per meter).

Permasalahannya, kan, di Indonesia tak semudah itu. Misalnya saja yang terjadi di daerah saya, sebuah jalan sepanjang 2,109 m ditambal setebal 2 sampai 3 cm, ditambah pembangunan talud 300-an meter, menghabiskan dana Rp4,1 miliar.

Kalau sampai Ultraman bertarung di Sumatra, lebih gawat lagi. Sebuah kasus viral di Kabupaten Pelalawan Riau, jalan yang menghabiskan dana Rp9,2 miliar, dengan mudah bisa diangkat pakai tangan, alias benar-benar “ngluntung aspal”. Apalagi kalau sampai ke wilayah NTT atau NTB, bisa lebih mahal lagi, wong jalan desa kurang dari 1 km saja habis Rp400 juta. Ya gimana, di sana harga bahan baku lebih mahal, bensin saja lebih mahal, yang doyan aspal juga lebih banyak, pusing pala barbie. Itu baru sedikit dari banyaknya kasus yang terjadi. Gimana kalau di Papua? Luwih ngedap-ngedapi, dong.

Ini belum berlanjut ke perbaikan bangunan dan reboisasi. Soal bangunan, kita pakai hitungan untuk rumah tipe 36, tentu dengan asumsi dibayarin pemerintah, pasti dong dianggap sebagai bencana alam. Berarti kita pakai ukuran standard saja dengan lahan 36 m². Biaya permeter persegi bangunannya adalah Rp3.000.000, maka total yang dibutuhkan: Rp3.000.000 x 36= Rp108.000.000.

Baca Juga:

Gunung Tumpang Pitu Banyuwangi Dikuras demi Emas: Apa Artinya Kemajuan Ekonomi Jika Alam Hancur Lebur?

Sidoarjo Ramah untuk Pebisnis, tapi Tidak Ramah untuk Perantau

Lanjut ke biaya tukang, apalagi asal Jawa, biayanya agak lumayan. Mandor sendiri, per hari bisa dapat duit Rp1 juta, sementara untuk tukang bayaran tergantung dari jenis pekerjaannya. Tentu saja tukang angkut-angkut alias asisten tukang, atau biasa disebut “laden” lebih sedikit dibanding tukang beneran, berkisar Rp90-95 ribu per hari. Sementara tukang ahli batu, kayu, dan besi, berkisar pada Rp110-125 ribu per hari.

Berarti, jika butuh 4 tukang dan 4 asisten kita perlu uang, Rp90 ribu + Rp125 ribu= Rp215 ribu, kemudian Rp215 ribu × 4= Rp860 ribu untuk per harinya. Terus dikerjakan selama 1 bulan (harusnya lebih dari itu), hasilnya Rp25 jutaan, kita bulatkan Rp26 juta.

Itu belum termasuk biaya tak terduga. Coba dikalikan 50 rumah, Rp134 juta per unit, menjadi Rp134 juta ×50= Rp6,7 miliar, dong. Itu baru perumahan untuk rakyat, gimana kalau ada sekolah dan rumah sakit yang hancur. Itu juga kalau di Jawa tengah, gimana kalau di Papua?

Bayangkan, jika harga semen saja bisa berkali lipat dari harga normal, gimana biaya bikin rumah, sekolah dan rumah sakit. Padahal sudah ada tol laut, lho. Makanya saat ada sekolah yang ambruk di luar Jawa kok nggak segera dibangun, rupanya karena masalah biaya itu tho. Hmmm, apa iya?

Terus waktu ada sekolah dan pemukiman fiktif itu gimana ya, masak duit ratusan juta sampai miliaran habis tanpa ada bentuk bangunannya? Bikin sekolah itu mahal, wong cuma bikin toilet di Bekasi yang begitu saja habis duit banyak, apalagi bangun ruang kelas beserta laboratorium dan perpustakaan, mampus anggaran negara. Gimana bikin tempat ibadah dan jembatan baru, bangkrut kita, pinjam duit lagi, deh.

Namun, Ultraman memilih Indonesia sebagai tempat gelut itu sangat tepat. Wilayah kita luas, jauh lebih luas dari Jepang (makanya mereka dulu ngiri terus gangguin kita). Akan tetapi, Ultraman itu kan baik, saya rasa blio pasti pengertian. Mungkin ia memilih gelut di hutan Indonesia yang luas ini, dia nggak bakalan pilih laut, resletingnya mungkin belum anti air.

Taruhlah Kalimantan Selatan tempat yang dipilih. Nah, kalau gelut di hutan dan bukit, terus hutan rusak gimana cara reboisasi, tanah pada longsor, kemudian para hewan tinggal di mana? Para saudara pedalaman atau masyarakat adat kita mau hidup di mana? Terus kalau curah hujan tinggi, apa bisa banjir? Apa benar karena itu?

Saran saya, tak perlu Anda merisaukan hal remeh temeh seperti itu.

Penangananya gampang, dong, sekalian saja ditanam sawit, jual semua kayunya, jadikan perkebunan. Kalau ada emasnya jadikan tambang, biar punah sekalian hewan-hewan yang sering dianggap hama, serta saudara kita para masyarakat adat biar sekalian terusir, masalah selesai. Kalau ada banjir, tanah longsor, dan hilangnya mata air, salahin saja hujan dan panas pemberian Gusti Pangeran. Gampang, tho? Namun sepertinya, kita tak perlu menunggu Ultraman bertarung di Indonesia untuk merasakan semua itu.

BACA JUGA Review Ultraman Netflix: Lebih Futuristik dan Realistis dan tulisan Bayu Kharisma Putra lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 31 Januari 2021 oleh

Tags: bencana alamkerusakan lingkunganUltraman Bertarung
Bayu Kharisma Putra

Bayu Kharisma Putra

Hanya salah satu dari jutaan manusia yang kebetulan ditakdirkan lahir dan tumbuh di bentangan khatulistiwa ini. Masih setia memegang identitas sebagai Warga Negara Indonesia, menjalani hari-hari dengan segala dinamika.

ArtikelTerkait

cocoklogi

Cocoklogi Bencana di Indonesia: Kok Salah Pak Jokowi?

5 Agustus 2019
Jalan Cadas Pangeran, Jalur Rawan Longsor yang Harus Diberi Perhatian Ekstra

Jalan Cadas Pangeran, Jalur Rawan Longsor yang Harus Diberi Perhatian Ekstra

13 Desember 2022
venesia water seven pekalongan

Water Seven dan Pekalongan Itu Sama, Sama-sama Hampir Tenggelam

14 Desember 2021
Donasi Bencana Alam Bukan Ajang Pembuangan Sampah Pakaian, Camkan! terminal mojok.co

Donasi Bencana Alam Bukan Ajang Pembuangan Sampah Pakaian, Camkan!

23 Januari 2021
Pengalaman Pertama Saya Jadi Korban Banjir di Kota Metropolitan Jakarta terminal mojok.co

Pengalaman Pertama Saya Jadi Korban Banjir di Kota Metropolitan Jakarta

22 Februari 2021
air bersih

Kita yang Sedang Menghadapi Krisis Lingkungan dan Air Bersih

15 Agustus 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Angka Pengangguran di Karawang Tinggi dan Menjadi ironi Industri (Unsplash) Malang

Warga Karawang Terlihat Santai dan Makmur karena UMK Sultan, padahal Sedang Berdarah-darah Dihajar Calo Pabrik dan Bank Emok

12 Januari 2026
Peh, Cucut, dan Larak: Menu Pecak Andalan di Warteg yang Enak tapi Bikin Pembeli Merasa Bersalah

Peh, Cucut, dan Larak: Menu Pecak Andalan di Warteg yang Enak tapi Bikin Pembeli Merasa Bersalah

8 Januari 2026
Cerita Kawan Saya Seorang OB selama 4 Tahun: Dijanjikan Naik Jabatan dan Gaji, tapi Ternyata Itu Semua Hanyalah Bualan Direksi

Cerita Kawan Saya Seorang OB Selama 4 Tahun: Dijanjikan Naik Jabatan dan Gaji, tapi Ternyata Itu Semua Hanyalah Bualan Direksi

10 Januari 2026
4 Spot Jogja yang Jadi Populer karena Sosok Pak Duta Sheila On 7 Mojok.co

4 Spot Jogja yang Jadi Populer karena Sosok Pak Duta Sheila On 7

10 Januari 2026
Bus Bagong, Bus Ekonomi Murah Rasa Jet Tempur

Bus Bagong Surabaya-Jember, Penyelamat Penumpang dari Ancaman Bus Bumel yang Suka Getok Tarif

7 Januari 2026
Bus Efisiensi Penyelamat Warga Purwokerto yang Ingin “Terbang” dari Bandara YIA Mojok.co

Bus Efisiensi Penyelamat Warga Purwokerto yang Ingin “Terbang” dari Bandara YIA

9 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Saya Memutuskan Kuliah di Jogja Bukan Hanya untuk Cari Ilmu, tapi Juga Lari dari Rumah
  • 5 Tahun Tinggal di Kos-kosan Horor Jogja: Gajiku Lebih “Satanis” dari Tempat Tinggalku
  • Lulusan S2 Jogja Ogah Menerima Tawaran Jadi Dosen, Mending Ngajar Anak SD di Surabaya: Gambaran Busuk Dunia Pendidikan Indonesia
  • Jalan Pantura Rembang di Musim Hujan adalah Petaka bagi Pengendara Motor, Keselamatan Terancam dari Banyak Sisi
  • Kisah Wisudawan Terbaik ITB, Berhasil Selesaikan Kuliah S2 dari Ketertarikan Menyusuri Kampung Tua di Pulau Jawa
  • Mens Rea, Pandji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.