Divisi jayengan memang masih terdengar asing bagi orang luar Jawa, tapi dalam rewangan, fungsi mereka amat vital
Bagi kami yang hidup di perkampungan Jawa, musim hajatan atau pernikahan itu ibarat festival kuliner sekaligus panggung sosiologis paling nyata. Di balik meriahnya dekorasi pelaminan dan alunan organ tunggal yang membawakan lagu dangdut koplo, ada barisan emak-emak di dapur dan bapak-bapak di sudut halaman yang bekerja bagaikan kru panggung profesional.
Kalau emak-emak sibuk meracik bumbu dan mengiris bawang, kaum Adam punya medan pertempuran tersendiri yang tidak kalah penting, yaitu mengurusi bagian air minum.
Di antara kesibukan tersebut, ada satu bagian yang mungkin terdengar asing bagi orang luar Jawa, yaitu “jayengan”. Jayengan adalah istilah yang digunakan untuk menyebut tempat atau kegiatan menyiapkan minuman (wedang) untuk disuguhkan kepada para tamu dalam acara pernikahan atau hajatan besar lainnya di daerah Jawa.
Kegiatan ini juga sering kali berkaitan erat dengan tradisi rewang, yaitu kegiatan gotong royong yang dilakukan oleh keluarga, tetangga, serta masyarakat sekitar untuk membantu mempersiapkan berbagai keperluan selama hajatan berlangsung.
Jadi, jayengan bukan sekadar tempat menyiapkan minuman, tapi juga menjadi salah satu wujud kebersamaan warga sekitar untuk membantu menyukseskan hajatan, dan hingga kini masih bertahan dalam tradisi hajatan masyarakat Jawa.
Bapak-bapak yang pegang kendali
Para pemegang divisi jayengan ini biasanya dilakukan oleh bapak-bapak atau simbah kakung yang masih kuat fisiknya dan memiliki jam terbang tinggi. Untuk berada di posisi ini, diperlukan keahlian, ketelitian, dan kecepatan yang mumpuni karena jobdesc-nya cukup menantang.
Mereka harus terus memantau situasi secara real time, menghitung jumlah tamu yang datang, memanggil para sinoman atau laden, mencuci dan mengelap gelas, menuangkan air panas ke dalamnya, menambah kayu bakar satu persatu, hingga memastikan api yang menyala tidak terlalu besar agar air yang disajikan tidak terasa sangit (bau karena paparan asap terlalu banyak).
Semua pekerjaan tersebut harus dilakukan dengan cepat dan cekatan. Ngelamun bentar aja bisa kewalahan sama rombongan tamu yang semakin bertambah dan kebutuhan minuman semakin banyak. Biasanya, tim jayengan akan membuat minuman dengan dua varian rasa, yakni teh manis panas dan air putih.
Mengapa selalu teh manis panas?
Ada alasan sederhana mengapa teh manis panas hampir selalu menjadi minuman yang disajikan kepada tamu dalam hajatan Jawa. Kenapa nggak air putih aja? Bukannya lebih gampang? Nah, nggak segampang itu logikanya. Kalau di daerah saya, teh manis panas adalah bentuk penghormatan kepada tamu yang sudah meluangkan waktunya untuk datang.
Dalam tradisi masyarakat Jawa, kalau kedatangan tamu dalam sebuah hajatan, sebisa mungkin jangan hanya diberi air putih. Tamu perlu disambut, dipersilakan duduk, kemudian diberi suguhan. Secangkir teh manis panas menjadi salah satu minuman pembuka sekaligus cara sederhana untuk menunjukkan bahwa kedatangan mereka dihargai dan diterima keberadaannya.
Teh pun terasa punya tempat khusus dalam hajatan. Rasanya sederhana, bahan-bahannya mudah ditemukan, dan bisa dibuat dalam jumlah banyak. Tinggal air dipanaskan, teh diseduh, gula ditambahkan, lalu disajikan selagi hangat.
Bapak-bapak jayengan tidak bercerita, tiba-tiba selesai semua
Menariknya, pekerjaan seperti ini sering kali dilakukan tanpa banyak bicara. Nggak ada yang sibuk cari perhatian bahwa dirinya sudah mencuci puluhan gelas atau bolak-balik mengambil kayu bakar. Semuanya dilakukan karena memang begitulah cara masyarakat membantu orang yang sedang punya hajat.
Bagi tamu, mungkin jayengan hanya menghasilkan secangkir minuman yang datang beberapa menit setelah mereka duduk. Namun, di balik secangkir minuman tersebut ada orang yang rela dirinya bolak-balik mengambil air, menjaga api, mencuci gelas, dan memastikan semuanya tersedia ketika dibutuhkan.
Sayangnya, bagian seperti jayengan sering kali kalah populer dibandingkan pelaminan, dekorasi, atau hidangan hajatan. Padahal, kalau nggak ada yang mengurus minuman, tamu jelas merasa kehausan setelah selesai makan dan celingak-celinguk mencari air.
Divisi Jayengan diprotes karena teh? Hati-hati dan tetap tenang
Kalau kamu tertarik ingin mencoba masuk divisi ini, pastikan punya mental yang kuat dan nggak baperan. Kalau teh kurang manis, dicari gulanya. Jika teh terlalu manis atau rasa airnya sangit, dicari siapa yang membuat. Nggak perlu notulen atau rapat evaluasi setelah hajatan, semua ditegur dan diperingatkan dengan baik-baik saat itu juga.
Urusan teh ternyata bisa menghasilkan diskusi yang lebih panjang daripada rapat RT. Tapi tenang aja, bapak-bapak nggak akan menghakimi separah yang kamu bayangkan, kok. Mereka hanya ingin mengajari cara memberikan kontribusi yang terbaik agar hajatan di desa berjalan lancar.
Itulah divisi jayengan. Merebus air dalam volume besar itu bukan urusan sepele, dan tidak akan pernah sepele. Sesekali, cobalah menyambangi mereka kala bekerja. Panas bara api memang begitu terasa di wajah, tapi, tak ada salahnya mengorbankan sesuatu untuk belajar memahami.
Penulis: Annisa Agrifina N Rofi’ah
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Jangan buru-buru kapok ikut rewang di kampung, lama-lama akan terasa manfaatnya kok
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.