Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Mengenal Cisadon, Daerah Penghasil Kopi yang Tersembunyi

Irvan Hidayat oleh Irvan Hidayat
15 November 2020
A A
clear coffee cisadon kebun kopi biji kopi arabica robusta mojok

cisadon kebun kopi biji kopi arabica robusta mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Banyak pecinta kopi yang belum tahu, tidak jauh dari Jakarta ada perkampungan penghasil kopi luwak berkualitas. Kampung itu bernama Cisadon yang terletak di Desa Karang Tengah, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat.

Nama Cisadon memang belum setenar penghasil kopi unggulan di Indonesia lainnya seperti Gayo, Sidikalang, Lampung, Garut, Toraja, dan Kintamani. Membutuhkan waktu enam sampai tujuh jam dari Jakarta untuk sampai ke Kampung Cisadon.

Jika menggunakan kendaraan pribadi rute teraman dari Jakarta adalah lewat Jalan Raya Bogor menuju Sentul, dari Sentul arahkan kendaraan menuju peternakan sapi milik Prabowo Subianto. Kendaraan pribadi tidak bisa dibawa ke Kampung Cisadon karena kontur jalanan yang terjal dan menanjak, kecuali kendaraan itu memang dibuat untuk medan yang seperti itu.

Di sekitar peternakan tersebut ada beberapa rumah warga yang biasa digunakan untuk menitipkan kendaraan para wisatawan yang berkunjung ke Cisadon.

Dari tempat penitipan kendaraan, para wisatawan harus berjalan kaki melewati medan yang sangat terjal tiga sampai empat jam untuk sampai ke Cisadon. Demi keselamatan selama perjalanan pengunjung disarankan untuk menggunakan sepatu khusus pendakian, membawa barang secukupnya menggunakan tas ransel, daypack, atau carrier, sederhananya persiapkanlah diri seperti hendak mendaki gunung.

Di sepanjang jalan pengunjung akan dimanjakan dengan pemandangan alam yang begitu indah, itu pun jika perjalan dilakukan pada musim kemarau lain halnya jika dilakukan pada musim penghujan. Jika melakukan perjalanan di musim penghujan, jalan yang dilewati juga menjadi licin dan pandangan akan terbatasi oleh kabut.

Setelah tiga sampai empat jam melewati medan terjal sampailah pada perkampungan kecil yang berpenduduk tidak lebih dari 50 orang. Perjalanan yang melelahkan akan terbayar sesampainya di Kampung Cisadon karena keramahan penduduknya dan kondisi perkampungan yang masih sangat asri.

Perkampungan itu dikelilingi oleh pepohonan hijau dan hamparan perkebunan kopi di mana-mana, semakin terasa asri karena udaranya yang dingin. Kendati begitu, rumah-rumah warga belum teraliri listrik dari PLN, mereka masih menggunakan kincir air untuk menggerakkan turbin yang menghasilkan listrik.

Baca Juga:

4 Kebohongan SCBD Jakarta yang Telanjur Kita Terima Begitu Saja

Perlintasan Kereta Volvo Pasar Minggu Memakan Banyak Korban: Bukan Salah Setan!

Penduduknya yang tidak lebih dari seratus orang itu mayoritas adalah petani kopi. Kopi yang ditanam di sana adalah kopi jenis robusta yang bisa tumbuh di ketinggian kurang dari 800 Mdpl dengan suhu 18-36˚C.

Alasan penduduk lebih memilih kopi robusta adalah karena lebih mudah dirawat dan lebih banyak pemesannya, “Dulu pernah kita coba tanam kopi jenis rabica tapi yang beli nggak banyak.” Kata Parid salah satu petani kopi di sana.

Awal mula perkebunan kopi ini dimulai pada 1983, menurut penuturan Nini (nama samaran) yang mengaku sebagai penduduk pertama Cisadon, tahun itu dia bersama almarhum suaminya membuka lahan di Cisadon untuk ditanami kopi.

Tidak ada rumah permanen seperti sekarang ini, dahulu hanya ada saung-saung untuk tempat berteduh para petani, namun lama kelamaan tempat itu menjadi pemukiman warga karena semakin banyak orang yang bertani kopi di sana. Sampai sekarang ini penduduk Cisadon turun temurun menjadi petani kopi.

Masa panen kopi di Cisadon itu hanya setahun sekali, Aisyah yang juga salah satu petani kopi di sana mengatakan bahwa kopi di Cisadon hanya bisa dipanen pada bulan-bulan tertentu saja, “Kami panen kopi biasanya mulai pertengahan bulan Mei sampai akhir Agustus,” jelasnya.

Meski hanya jenis robusta yang ditanam di sana, ada beberapa varian hasil pengolahan kopi, di antaranya kopi luwak, kopi raja wine, kopi natural, dan kopi gabrugan. Perbedaan tersebut terletak pada cara pengolahan kopi setelah dipetik dari pohonnya.

Misalnya kopi luwak yang diolah dari kotoran luwak liar. Jangan bayangkan kotoran luwak berbentuk seperti kotoran binatang lainnya, biji kopi yang dimakan luwak tidak hancur, bentuknya masih utuh karena yang dicerna oleh luwak hanya kulit luarnya saja. Biji kopi yang dimakan luwak mengalami fermentasi alami sehingga para pecinta kopi menganggap rasanya lebih enak dan tidak membuat lambung perih.

Para petani kopi di Cisadon biasanya mengumpulkan kotoran luwak yang tercecer di kebun mereka, kemudian dijemur sampai benar-benar kering, setelah kering mereka menyangrai (roasting) biji kopi dengan cara tradisional sampai mendapatkan warna yang diinginkan, namun sebagian dari mereka sudah menggunakan alat roasting modern. Menurut Parid, kopi Luwak yang dihasilkan dari luwak liar kualitasnya lebih baik dan rasanya lebih enak.

“Di sini nggak ada yang pelihara luwak, kopi luwak di sini diambil dari kopi luwak liar jadi rasanya lebih enak karena yang dimakan luwak itukan kopi-kopi yang matang utuh” jelasnya.

Parid menambahkan sudah banyak orang yang datang ke Cisadon hanya untuk menikmati kopi, bahkan beberapa peneliti dari Institut Pertanian Bogor pun sering datang ke sana. Lewat para peneliti dan pecinta kopi inilah warga diperkenalkan cara menyangrai kopi yang benar dengan menggunakan mesin modern.

“Ya, kalo mau roastingannya bagus biasanya dibawa ke kafe yang punya alat roasting,” imbuhnya.

Selain kopi luwak, ada kopi raja wine yang pengolahannya sedikit berbeda dengan kopi luwak. Pengolahan kopi raja wine dimulai saat biji kopi dipetik dari pohonnya. Biji kopi yang dipetik adalah biji kopi yang sudah matang, setelah dipetik biji kopi direndam di dalam air, hanya biji kopi yang tenggelam lah yang akan diambil. Biji kopi yang tenggelam adalah biji kopi yang baik untuk diolah.

Setelah biji kopi yang tenggelam dikumpulkan, biji itu kemudian dimasukan ke dalam tong besar untuk diperam atau difermentasi. Proses fermentasi dilakukan selama satu bulan untuk mendapatkan aroma dan rasa yang sedikit masam.

Ujang Usman salah satu petani kopi yang juga Ketua RT di sana mengatakan, proses fermentasi dilakukan agar rasa kopi raja wine mirip dengan kopi arabica. “Difermentasi supaya bisa timbul rasa yang khas, prosesnya juga bisa sampai satu bulan lebih,” ujarnya.

Beda lagi dengan kopi natural, setelah dipilih kopi yang matang sempurna, kemudian kopinya dijemur sampai kering, dan terakhir disangrai. Tidak ada proses fermentasi dalam tong saat pengolahan kopi ini. Sedangkan kopi gabrukan diolah dari kopi dengan kualitas terendah atau kopi campuran dengan yang belum matang. Kopi luwak per 100 gramnya dihargai 35 ribu rupiah, kopi raja wine dan natural 25 ribu rupiah, dan kopi gabrukan 15 ribu rupiah.

Cisadon tidak hanya dikenal sebagai tempat penghasil kopi, tempat ini dikenal juga sebagai tempat yang memiliki lintasan yang menantang untuk para penghobi motor trail, sepeda gunung, dan pendaki. Jalanan menuju Cisadon yang terjal menjadi keuntungan tersendiri oleh para penghobi tersebut.

Setiap Sabtu dan Minggu atau hari libur lainnya, banyak komunitas motor trail dan sepeda gunung yang hilir-mudik ke Cisadon. Bahkan tidak hanya siang hari, saat matahari tenggelam pun masih banyak yang nekat melewati jalur itu untuk sampai ke puncak Cisadon.

Komunitas motor trail yang datang kebanyakan berasal dari Jabodetabek. Tidak jarang juga Cisadon dikunjungi oleh wisatawan mancanegara (wisman) asal Jepang, Korea, dan Turki. Wisman yang datang kebanyakan melakukan pendakian dengan berjalan kaki.

Meski dianugerahi alam yang subur dan indah, masyarakat Cisadon belum sepenuhnya mendapat perhatian dari pemerintah. Kenyataan itu nampak dari belum mengalirnya listrik PLN ke rumah-rumah penduduk karena sejauh ini masyarakat masih memanfaatkan kincir air untuk menggerakan turbin pembangkit listrik.

Selain itu tidak ada satu sekolah pun di sana, sehingga anak-anak tidak bisa mengenyam pendidikan padahal hal itu sudah dijamin oleh undang-undang. Di sana hanya ada satu taman baca yang digunakan untuk belajar oleh anak-anak setiap Sabtu dan Minggu, itu pun dilakukan jika ada yang mau mengajarkan anak-anak.

Maka dari itu, sebagian anak-anak Cisadon memilih untuk sekolah di kampung lain yang terletak di bawah Cisadon. Mereka tinggal di rumah saudaranya dan di akhir pekan mereka pulang ke Cisadon.

BACA JUGA Apa pun Kegiatannya, Nasi Liwet Selalu Jadi Kudapan Primadona Orang Sunda dan tulisan Irvan Hidayat lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 14 November 2020 oleh

Tags: arabicacisadonJakartakebun kopirobusta
Irvan Hidayat

Irvan Hidayat

Penulis lepas, suka bertani, masak, dan traveling ke pelosok.

ArtikelTerkait

Sinar Jaya & Juragan 99 Terbaik, Harga KA Eksekutif Makin Gila (Unsplash)

Tiket Kereta Semakin Mencekik, Sleeper Bus Sinar Jaya dan Juragan 99 Menyelamatkan Kewarasan Isi Dompet para Pekerja

11 Juni 2025
The Coach Coffee Shop: Harga Elite, Tempat Duduk Sulit, Rasanya B Aja

The Coach Coffee Shop: Harga Elite, Tempat Duduk Sulit, Rasanya B Aja

19 Mei 2024
Jalan Gatot Subroto Jakarta, Musuh Besar Pengendara Motor (Unsplash)

Jalan Gatot Subroto, Musuh Besar Bagi Pengendara Motor di Jakarta yang Harus Melawan Kemacetan, Jalanan Sempit, dan Ranjau Paku!

27 April 2024
Jalan Benyamin Sueb Kemayoran, Jalan di Jakarta yang Hanya Macet Setahun Sekali

Jalan Benyamin Sueb Kemayoran, Jalan di Jakarta yang Hanya Macet Setahun Sekali

12 Agustus 2023
Cikago, Kawasan Paling Nyaman dan Murah untuk yang Kalian yang Cari Tempat Menetap di Jakarta cijantung, kalisari

Cikago, Kawasan Paling Nyaman dan Murah untuk Kalian yang Cari Tempat Menetap di Jakarta

12 Desember 2023
Jalan TB Simatupang Layak Mendapat Predikat Jalan Paling Memuakkan di Jakarta

Jalan TB Simatupang Layak Mendapat Predikat Jalan Paling Memuakkan di Jakarta

18 Oktober 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mie Ayam Bikin Saya Bersyukur Lahir di Malang, bukan Jogja (Unsplash)

Bersyukur Lahir di Malang Ketimbang Jogja, Sebab Jogja Itu Sudah Kalah Soal Bakso, Masih Kalah Juga Soal Mie Ayam: Mengenaskan!

2 Februari 2026
Andai Jadi Warga Tangerang Selatan, Saya Pasti Sudah Pusing Tujuh Keliling. Mending Resign Jadi Warga Tangsel!

Jangan Nilai Buku dari Sampulnya, dan Jangan Menilai Tangerang Selatan Hanya dari Bintaro, Alam Sutera dan BSD Saja

4 Februari 2026
Duka Menikah di KUA, Dikira Hamil Duluan padahal Cuma Pengin Hemat Mojok.co

Duka Menikah di KUA, Dikira Hamil Duluan padahal Cuma Pengin Hemat

5 Februari 2026
Petaka Terbesar Kampus- Dosen Menjadi Joki Skripsi (Pixabay)

Normalisasi Joki Skripsi Adalah Bukti Bahwa Pendidikan Kita Memang Transaksional: Kampus Jual Gelar, Mahasiswa Beli Kelulusan

4 Februari 2026
Jatiwaringin Bekasi, Daerah Seribu Galian yang Nggak Tahu Kapan Kelarnya. Warga di Sini Punya Kesabaran Tingkat Tinggi bekasi jogja

Setahun Hidup di Jogja Bikin Saya Rindu Jalan Berlubang di Bekasi

6 Februari 2026
Harga Nuthuk di Jogja Saat Liburan Bukan Hanya Milik Wisatawan, Warga Lokal pun Kena Getahnya

Saya Memutuskan Pindah dari Jogja Setelah Belasan Tahun Tinggal, karena Kota Ini Mahalnya Makin Nggak Ngotak

3 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • BPMP Sumsel Bangun Ekosistem Pendidikan Inklusif Melalui Festival Pendidikan
  • Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti
  • Surat Wasiat Siswa di NTT Tak Hanya bikin Trauma Ibu, tapi Dosa Kita Semua yang Gagal Melindungi Korban Kekerasan Anak
  • Tak Menyesal Ikuti Saran dari Guru BK, Berhasil Masuk Fakultas Top Unair Lewat Golden Ticket Tanpa Perlu “War” SNBP
  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.