Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Mendirikan Minimarket di Area Pasar Tradisional Itu Maksudnya Apa Sih?

Johara Masruroh oleh Johara Masruroh
18 Desember 2021
A A
pasar tradisional
Share on FacebookShare on Twitter

Beberapa waktu lalu saya mengunjungi pasar tradisional di daerah kelahiran saya. Pasar ini terletak di kaki gunung Lawu dengan ukuran yang tidak terlalu luas, bahkan bisa dibilang sempit. Dulu setiap masuk pasar, saya harus berjejal dengan banyak orang dan rela berlama-lama antre untuk mendapat barang yang diinginkan. Namun sekarang banyak kios terlihat sepi.

“Cari apa, Mbak?” tanya seorang penjual saat saya menghampiri kiosnya.

“Cari plastik es lilin, Bu. Saya butuh dua pak.”

Setelah selesai bertransaksi, saya melihat makanan kesukaan saya waktu kecil, jenang. Makanan ini berasal dari tepung beras yang diberi kuah santan. Saat menunggu penjual melayani pesanan, saya mendengar beberapa pedagang bercerita tentang suatu hal.

“Bubrah wes, mbangun minimarket kok mepet pasar.”

“Ngedunke rego yo ugal-ugalan.”

Para pedagang di pasar itu menimpali satu sama lain. Beberapa di antaranya terlihat bercerita dengan nada kesal. Beberapa lainnya cuma bisa berkomentar dengan pasrah, ” Sing sabar wes, rejeki wes ono sing ngatur.”

Rupanya para pedagang ini sedang membicarakan sebuah minimarket yang baru saja dibuka tepat di samping pasar. Ya, letaknya persis di sebelah pintu masuk pasar. Padahal, ada aturan zonasi yang menyebutkan bahwa minimarket tidak boleh terlalu dekat dengan pasar tradisional. Dan aturan tersebut dibuat demi keadilan agar pasar tradisional dan toko modern dapat berkembang bersama.

Baca Juga:

Motor Kredit Menciptakan Kabut Tebal yang Menyembunyikan Wajah Asli Kemiskinan, Terlihat Mengilat tapi Fondasinya Melarat

Alasan Saya Lebih Nyaman Belanja di Pasar Manis Purwokerto daripada Pasar Tradisional Lain

Mirisnya lagi, minimarket ini tidak hanya melanggar aturan zonasi, tetapi juga harga barang. Seseorang bercerita kepada saya bahwa nyaris seluruh barang yang dijual di minimarket tersebut dibanderol dengan harga di bawah pasaran.

Selain itu, minimarket ini juga melayani pembeli selama 24 jam. Padahal ada beberapa toko kelontong di sekitar pasar yang rela buka hingga tengah malam. Alasannya terlalu banyak pesaing di siang hari sehingga sulit mendapat pelanggan. Ya kalau minimarketnya malah buka 24 jam, gimana nasib pedagang kecil yang rela nggak tidur malam?

Saya rasa, minimarket yang melanggar zonasi seperti yang saya ceritakan tadi terjadi di banyak tempat. Setelah saya search di Google, saya menemukan berita tentang penutupan minimarket di beberapa pasar tradisional. Misalnya saja di Tulungagung dan Lamongan.

Pertanyaannya, mengapa minimarket yang melanggar zonasi baru ditutup setelah lama beroperasi? Bukankah sebelum didirikan, minimarket harus mendapatkan izin pembangunan? Apa harus nunggu ada warga yang melaporkan terlebih dulu? Jika begitu, lalu bagaimana jika di sebuah daerah tak satu pun warga berani melapor? Seperti yang terjadi di desa kelahiran saya, misalnya.

Kita tahu kebanyakan masyarakat di desa tidak suka mencari perkara. Sering kali di antara mereka lebih suka pasrah saja, nerimo ing pandum. Lagipula, Pemda sebenarnya sudah mengetahui adanya minimarket di kawasan pasar tradisional. Kalau yang berwenang saja mendiamkan, kira-kira masyarakat bisa apa? Mungkin itu yang ada di benak warga dan membuat mereka lebih memilih diam saja.

Sampai di rumah, saya melahap jenang bersama kedua orang tua. Tiga ribu rupiah per porsi sudah cukup untuk mengganjal perut. Saat memakannya saya bertanya-tanya, mungkinkah penjual jenang ini juga terkena imbas dari minimarket itu? Kira-kira bagaimana nasib penjual gethuk, kerupuk dan pedagang kecil lainnya?

Mungkin Anda berpikir pertanyaan itu agak berlebihan. Tapi, coba bayangkan. Jika orang-orang yang tadinya berbelanja di toko kelontong yang letaknya di dalam pasar sekarang beralih ke minimarket, lalu siapa yang mau menengok penjual gethuk dan kerupuk? Bukankah beberapa pembeli tidak semuanya membeli karena butuh.

Seringkali seseorang tiba-tiba ingin membeli sesuatu sebab sesuatu itu ada di depan mata. Seperti saya yang tadinya hanya butuh plastik es lilin, tiba-tiba kemecer melihat jenang dan memutuskan membeli saat itu juga, padahal tidak ada rencana membelinya saat masih di rumah. Model membeli semacam ini tidak hanya berlaku pada makanan, kan? Bisa juga aksesoris, alat rumah tangga, dan lainnya. Jadi jangan dikira hanya toko kelontong saja yang kena imbas dari minimarket di area pasar.

Lagian pasar tradisional juga sudah lama terpuruk akibat menjamurnya toko-toko online yang siap antar sampai di rumah. Kok ya masih tega-teganya pemilik modal besar mendirikan minimarket dan mau bersaing dengan para pedagang yang cari untung sekadar buat makan atau bayar SPP sekolah.

Kalau sudah begini, lalu di manakah keadilan untuk pelaku usaha pasar tradisional jika minimarket yang melanggar aturan masih dibiarkan?

Sumber Gambar: Pixabay

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 18 Desember 2021 oleh

Tags: minimarketpasar tradisional
Johara Masruroh

Johara Masruroh

ASN dan Ibu rumah tangga

ArtikelTerkait

4 Camilan Underrated di Alfamart yang Enak Banget

5 Kopi Kemasan di Indomaret yang Lebih Layak Dibeli daripada Starbucks Kaleng

22 September 2022
7 Hal yang Bisa Dilakukan di Indomaret selain Belanja Mojok.co

7 Hal yang Bisa Dilakukan di Indomaret selain Belanja

2 Oktober 2024
Pasar Kentu Purworejo, Nama Uniknya Bikin Salah Fokus (Unsplash)

Pasar Kentu Purworejo, Pasar yang Pasti Bikin Orang Salah Paham ketika Pertama Mendengar Namanya

19 April 2025
Pasar Setono Betek Kediri, Pasar Tradisional yang Gagal Bertransformasi Jadi Pasar Semi Modern Mojok.co

Pasar Setono Betek Kediri, Pasar Tradisional yang Gagal Bertransformasi Jadi Pasar Semi Modern

4 November 2023
4 Kelemahan Circle K yang Sebenarnya Sepele, tapi Bikin Pelanggan Jengkel Mojok.co

4 Kekurangan Circle K yang Sebenarnya Sepele, tapi Bikin Pelanggan Jengkel

10 Oktober 2024
Menerka Alasan Kenapa Kondom Diletakkan di Dekat Kasir Minimarket terminal mojok.co

Menerka Alasan Kenapa Kondom Diletakkan di Dekat Kasir Minimarket

15 Desember 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sengaja Beli Honda Vario 160 untuk Pamer Berakhir Penyesalan karena Jadi Repot Sendiri Mojok.co

Sengaja Beli Honda Vario 160 untuk Pamer Berakhir Penyesalan karena Jadi Repot Sendiri

22 Maret 2026
Jalan Nasional Purworejo Kulon Progo Payah, Kondisi yang Normal Cuma Sekitar Bandara YIA Mojok.co

Jalan Nasional Purworejo-Kulon Progo Payah, Kondisi yang Normal Cuma Sekitar Bandara YIA

16 Maret 2026
Honda Spacy: “Produk Gagal” Honda yang Kini Justru Diburu Anak Muda

13 Tahun Bersama Honda Spacy: Motor yang Tak Pernah Rewel, sekaligus Pengingat Momen Bersama Almarhum Bapak

18 Maret 2026
5 Hal yang Bikin Perantau Mikir-Mikir untuk Tinggal Lama dan Menetap di Kota Palu, meski Indahnya Bukan Main

5 Hal yang Bikin Perantau Mikir-mikir untuk Tinggal Lama dan Menetap di Kota Palu, meski Indahnya Bukan Main

17 Maret 2026
Seturan dan Babarsari, Padukuhan Kiblat Kehidupan Bebas Yogyakarta Mojok.co

Seturan dan Babarsari, Padukuhan Kiblat Kehidupan Bebas Yogyakarta

22 Maret 2026
Suzuki Satria Pro Aib Terbesar Suzuki yang Tak Perlu Lahir (Wikimedia Commons)

Suzuki Satria Pro: Aib Terbesar Suzuki yang Seharusnya Tak Perlu Lahir

18 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan
  • Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia
  • Ujian Pemudik Lajang: Jadi Sasaran Pinjam Uang karena Belum Nikah dan Dianggap Tak Ada Tanggungan, Giliran Nolak Dicap Pelit
  • Rasa Sanga (8): Lontong dan Kangkung dalam Khazanah Suluk Sunan Bonang, Jalan “Merasakan” Kehadiran Tuhan
  • Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya
  • Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.