Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Memberitakan Orang Meninggal, Kenapa Selalu Dikaitkan Sama Firasat?

Muhammad Arsyad oleh Muhammad Arsyad
20 Februari 2020
A A
Memberitakan Orang Meninggal, Kenapa Selalu Dikaitkan Sama Firasat?
Share on FacebookShare on Twitter

Publik dikejutkan dengan informasi meninggalnya istri penyanyi Bunga Citra Lestari (BCL), Ashraf Sinclair. Terakhir informasi yang saya peroleh, Ashraf meninggal setelah mengalami serangan jantung. Tak pelak, berita mengejutkan ini langsung direspons seluruh media di Indonesia. Seketika lalu lintas internet, termasuk di media sosial, lebih khusus Twitter bertebaran berita meninggalnya aktor berusia 40 tahun itu. Bahkan di Google kata kunci “Ashraf Sinclair” sempat tranding. Namun, dari seluruh informasi yang ada, hampir semuanya dikaitkan dengan firasat.

Saya menduga dari awal, media di Indonesia pasti akan mengaitkan meninggalnya seseorang, apalagi seorang public figure dengan sebuah firasat dari orang terdekatnya. Pemberitaan oleh media online dan televisi di Indonesia semuanya seperti itu.

Di timeline Twitter berseliweran informasi demikian. Yang paling sering muncul adalah video saat BCL menyanyikan beberapa bait lagu berjudul Soulmate dari Kahitna di sebuah ajang pencarian bakat. Kebetulan acaranya berlangsung semalam sebelum Ashraf dikabarkan meninggal dunia.

Netizen di Indonesia heboh dan mengaitkan lagu itu untuk Ashraf Sinclair. Paling vokal tentu si raja penjilat pantat Search Engine Optimation (SEO), Tribunnews yang bergerak cepat menggoreng video itu dan dikaitkan dengan meninggalnya Ashraf. Lucunya, meski Tribunnews mengatasnamakan media dengan praktik-praktik jurnalistik, nyatanya hanya mengandalkan netizen.

Tidak hanya itu, berita yang isinya firasat juga makin banyak. Terakhir berita yang coba saya lacak, Tribun mencoba mengaitkan foto yang diunggah ibunya Ashraf Sinclair di akun Instagram-nya pada September 2019 silam. Ajaib sekali, informasi yang baru muncul bisa dihubung-hubungkan dengan postingan tahun lalu. Saya jadi mikir, ini yang ngerjain jurnalis apa netizen, sih.

Sebuah portal online “anakan” Detik, Matamata, juga melakukan hal yang sama. Kali ini entah apa yang ada di benak redaktur mereka, sampai-sampai mengeluarkan informasi lukisan yang digambar putra BCL, Noah sebagai pertanda meninggalnya ayahnya. Saya nggak bisa membayangkan kalau Noah atau BCL membaca berita itu.

Permasalahannya seperti itulah praktik jurnalisme sekarang. Bahkan semuanya berlomba-lomba menyoroti siapapun yang ada kaitannya dengan meninggalnya sang tokoh. Seperti acara televisi yang pernah saya tonton.

Masih seputar kabar meninggalnya suami Unge (sapaan akrab BCL), sebuah acara talkshow Pagi-Pagi di salah satu stasiun televisi di mana acara itu memang biasanya isinya gosip alias ngomongin orang. Mereka juga tak kalah responsif mengenai pemberitaan ini. Pihak kreatifnya tampak sebisa mungkin menghadirkan kerabat terdekat. Seorang artis hadir untuk memberikan keterangannya. Lagi-lagi pertanyaan yang diajukan host-nya adalah soal firasat.

Baca Juga:

Tanggapan Saya Soal Tulisan Kalis tentang Masa Iddah-nya BCL

Saya jadi bingung sejak kapan jurnalistik itu membahas sesuatu yang abstrak, tidak jelas juntrungannya seperti firasat? Kenapa mereka sampe nekat memberitakan hal semacam itu? Ternyata saya mendapat jawabannya selepas kakek saya meninggal beberapa bulan lalu.

Pemberitaan mengenai firasat pada saat ada yang meninggal jelas menyentuh emosional setiap orang. Ini juga bisa dikatakan sudah menjadi kebiasaan. Setiap ada orang yang meninggal, orang lain pasti tanya, “Sebelumnya ada firasat apa?” Dan itulah yang orang-orang tanyakan pada keluarga saya setelah kakek saya meninggal.

Ironisnya, jurnalisme modern bekerja demikian, ditambah adu cepat. Para jurnalis akan memilih isu atau informasi yang cenderung populis. Mereka abai terhadap fungsi jurnalisme sesungguhnya, yaitu sebagai ruang publik. Tunggu dulu, pasti ada yang tanya, kan publik juga memang punya emosional?

Dengan sangat terpaksa saya akan menjawab: Iya, benar. Memang setiap individu memiliki emosional. Dalam teori jurnalisme, ada nilai berita (news value) salah satunya berupa kedekatan atau proximity. Nah di nilai berita kedekatan ini terbagi menjadi dua, kedekatan secara geografis dan emosional.

Jurnalis akan mengejar berita kalau dua unsur itu ada. Misalnya, media lokal di suatu daerah, sebut saja Pekalongan pasti akan mengejar informasi yang ada di sekitarnya. Lain hal dengan emosional, ini menyangkut perasaan dan rasa kebersamaan atau jiwa korsa dalam gerakan pramuka.

Contohnya, kasus kekerasan seksual akan dikejar para jurnalis, karena ini memiliki nilai berita kedekatan secara emosional. Praktis informasi yang dihasilkan menjadi komoditi untuk perempuan. Lalu apa masalahnya memberitakan firasat?

Firasat masuk ruang privat masing-masing orang, seperti halnya berhubungan intim. Nggak ada urusan publik di dalamnya, tentu ini dalam konteks keilmuan jurnalistik. Namun karena mengaitkan firasat dengan meninggalnya seseorang sudah terlanjur populis, maka seluruh media akan mengejarnya.

Padahal tingkat ketepatan suatu kejadian dengan firasat tidak dapat diukur. Artinya, setiap kejadian X tidak bisa dikaitkan dengan firasat A, B, atau C. Semua firasat punya kemungkinan yang sama, dan tidak melulu negatif atau buruk. Jurnalisme tidak bisa bekerja pada kebenaran yang belum pasti semacam itu.

Tulisan Andreas Harsono dalam bukunya Agama Saya Jurnalisme yang juga mengutip buku 9 Elemen Jurnalisme dari Bill Kovach dan Tom Rosentiel, yang sempat saya baca menyebutkan jurnalisme harus memiliki elemen kebenaran. Lebih lanjut kebenaran yang dimaksud adalah kebenaran fungsional bukan kebenaran secara filosofis. Kebenaran fungsional erat dengan praktik sebab-akibat pasti dan bisa dirasakan dampaknya kepada publik yang lebih luas.

Nilai kebenaran itu diterabas, media kini hanya berlomba-lomba menaikkan traffic websitenya masing-masing. Sehingga bisa jadi muncul informasi dengan judul clickbait. Nah, menghubungkan setiap kematian dengan firasat inilah salah satunya. Nggak cuma pemberitaan suami BCL, kok, banyak. Coba saja searching meninggalnya Lina istri Sule, atau anaknya Mbak Karen, pasti semuanya ada berita soal firasat.

Buntutnya, jika jurnalisme kita sudah demikian, bukan malah membuat suasana tenang, tapi justru bisa menimbulkan trauma tersendiri. Terutama bagi yang diwawancarai dan pembaca atau penonton yang kebetulan bernasib sama.

Emosional sebagai nilai berita yang masuk dalam kedekatan tadi acap kali diindahkan. Saya tahu kalau jurnalis ini bekerja untuk medianya, dan ditarget berita. Namun, menabrakkan makna kedekatan emosional dengan ruang privat dan kebenaran abstrak sungguh mencederai jurnalisme.

Tengoklah betapa netizen menghujat habis-habisan pemberitaan Ashraf dan keluarganya yang cenderung kelewat batas. Seharusnya kalau media mau memberitakan dari segi kedekatan emosional bisa, asalkan ada praktik kejahatan yang harus diungkap di dalamnya. Bukan malah menjadikan masa berkabung orang lain sebagai komoditi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.

BACA JUGA Mengenang Wartawan-Pecinta Alam-Aktivis Kawakan Aristides Katoppo (1938-2019) atau tulisan Muhammad Arsyad lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 20 Februari 2020 oleh

Tags: Ashraf SinclairAshraf Sinclair meninggalBCLfirasatserangan jantung
Muhammad Arsyad

Muhammad Arsyad

Warga pesisir Kota Pekalongan, penggemar Manchester United meski jarang menonton pertandingan. Gemar membaca buku, dan bisa disapa di Instagram @moeharsyadd.

ArtikelTerkait

Tanggapan Saya Soal Tulisan Kalis tentang Masa Iddah-nya BCL

Tanggapan Saya Soal Tulisan Kalis tentang Masa Iddah-nya BCL

4 Maret 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus: Teriak Melawan Penindasan di Luar, tapi Seniornya Jadi Aktor Penindas Paling Kejam organisasi mahasiswa eksternal organisasi kampus

Fenomena Alumni Abadi di Organisasi Kampus: Sarjana Pengangguran yang Hobi Mengintervensi Junior demi Merawat Ego yang Remuk di Dunia Kerja

18 Januari 2026
Fisioterapis, Profesi Menjanjikan dan Krusial di Tengah Masyarakat yang Sedang Begitu Gila Olahraga

Fisioterapis, Profesi Menjanjikan dan Krusial di Tengah Masyarakat yang Sedang Begitu Gila Olahraga

18 Januari 2026
Kapok Naik KA Bengawan, Sudah Booking Tiket Jauh Hari Malah Duduk Nggak Sesuai Kursi

Kapok Naik KA Bengawan, Sudah Booking Tiket Jauh Hari Malah Duduk Nggak Sesuai Kursi

16 Januari 2026
Ngemplak, Kecamatan di Sleman yang Sering Terlupakan karena Nama Besar Depok dan Ngaglik Mojok.co

Ngemplak, Kecamatan di Sleman yang Sering Terlupakan karena Nama Besar Depok dan Ngaglik

19 Januari 2026
4 Aturan Tidak Tertulis ketika Naik Transjakarta (Unsplash)

Hal-hal yang Perlu Pemula Ketahui Sebelum Menaiki Transjakarta Supaya Selamat dan Cepat Sampai Tujuan

16 Januari 2026
Petaka Terbesar Kampus- Dosen Menjadi Joki Skripsi (Pixabay)

Pengakuan Joki Skripsi di Jogja: Kami Adalah Pelacur Intelektual yang Menyelamatkan Mahasiswa Kaya tapi Malas, Sambil Mentertawakan Sistem Pendidikan yang Bobrok

19 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Sumbangan Pernikahan di Desa Tak Meringankan tapi Mencekik: Dituntut Mengembalikan karena Tradisi, Sampai Nangis-nangis Utang Tetangga demi Tak Dihina
  • Menurut Keyakinan Saya, Sate Taichan di Senayan adalah Makanan Paling Nanggung: Tidak Begitu Buruk, tapi Juga Jauh dari Kesan Enak
  • Saat Warga Muria Raya Harus Kembali Akrab dengan Lumpur dan Janji Manis Awal Tahun 2026
  • Lupakan Alphard yang Manja, Mobil Terbaik Emak-Emak Petarung Adalah Daihatsu Sigra: Muat Sekampung, Iritnya Nggak Ngotak, dan Barokah Dunia Akhirat
  • Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan
  • Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.