Membela Anak Facebook yang Dianggap Alay dan Ketinggalan Zaman

Membela Anak Facebook yang Dianggap Alay dan Ketinggalan Zaman Terminal Mojok

Dunia media sosial nggak pernah lepas dari stereotip. Namun bagi saya yang merupakan pengguna aktif Facebook sejak tahun 2012, stereotip Facebook yang dianggap ketinggalan zaman cukup mengganggu. Masalahnya nggak melulu seperti itu kok, karena beberapa kali tren yang sedang ramai dibicarakan orang di media sosial justru bermula dari Facebook.

Stereotip ini diperkirakan bermula dari terjadinya invasi golongan tua yang mulai mengenal teknologi dan mencoba untuk menemukan alternatif hiburan di Facebook. Mereka kerap bersikap kolot dan nggak adaptif dalam mengikuti sebuah tren. Kadang kala nggak menyaring informasi dan menelan bulat-bulat sebuah berita, atau nggak mau kalah dan merasa paling benar ketika berdebat. Jujur, itu memang menyebalkan. Tapi, bukannya hampir di semua media sosial ada yang seperti itu ya?

Algoritma media sosial, terutama Facebook dan Instagram, kebanyakan menampilkan postingan yang memiliki banyak interaksi dengan kita dan postingan sejenis yang kita sukai. Tujuannya sudah jelas, agar kita betah berlama-lama rebahan sambil scrolling di kamar, ruang tengah atau di manapun sesuai selera.

Maksud saya begini, apa yang kalian cari, itulah yang kalian temukan. Jika kalian bermain Facebook dan menemukan hal-hal yang seperti itu, ya mungkin memang itu yang sedang kalian cari. Entah karena terlalu banyak melakukan interaksi dengan postingan seperti itu, atau apa pun, yang jelas itu berpengaruh.

Memang sih kelakukan anak alay di Facebook juga menyebalkan. Tapi karena saya juga pernah melalui masa-masa alay ketika masih baru di dunia per-Facebook-an, saya jadi sedikit mengerti. Mungkin anak-anak alay ini masih awam juga. Kadang saya menemukan mereka yang masih bekerja di “PT. Mencari Cinta Sejati” atau yang cara typingnya menurut saya nggak banget. Update status Facebook dengan kata-kata aneh juga masih sering saya temukan. Penginnya sih tarik kuping mereka lalu berbisik, “Sudahlah, jangan kayak gitu. Nanti beberapa tahun ke depan kamu akan menyesal seperti saya, karena pernah alay.”

Alasan saya masih aktif bermain Facebook juga karena rata-rata jokes yang ada lebih segar dan masuk akal bagi saya. Dibandingkan dengan Twitter yang menurut saya jokesnya terlalu dipaksakan dan terkesan seperti mendongeng. Apalagi terlalu banyak orang pintar di sana. Saya juga pengguna Twitter sih walau Twitter biasanya hanya saya gunakan untuk sekadar mencari apa yang sedang dibicarakan oleh warga dunia. Tapi untuk mencari lucu-lucuan, Facebook tetap juaranya bagi saya.

Contoh sederhananya begini, saya pernah menemukan bercandaan di Twitter yang berbau SARA. Mereka menganggapnya itu sebagai dark jokes. Dan apabila ada yang tersinggung, mereka selalu bersembunyi di balik kata, “Dih, baperan”, “Baru kenal Twitter ya?” atau yang paling aneh statement: “Karena Twitter itu deepweb-nya sosmed”. Jujur itu membuat saya ngakak sampai bengek, Hyung.

Memang nggak semua seperti itu, dan saya juga nggak memukul rata. Dan anak Facebook pun harusnya jangan dihakimi seperti itu. Nggak semua pengguna Facebook alay dan pantat tipis–yang otak sama jempol kinerjanya lebih cepet jempol–walau memang faktanya banyak yang seperti itu. Hahaha.

Banyak juga kok grup-grup yang isinya anti-toxic dan saling membagikan pengetahuan seputar sejarah, fakta unik, dan diskusi. Yah, walau kadang sering juga gontok-gontokan, tapi justru hal itu yang nggak diketahui orang luar. Ketika banyak orang menilai Facebook sebagai perkumpulan orang alay, sebetulnya nggak melulu seperti yang orang tuduhkan loh.

Hingga pada akhirnya, garis kesimpulan saya berkata untuk nggak pernah memukul rata dan mencoba memahami. Tipikal anak Facebook, Twitter, dan Instagram, okelah saya sudah lumayan paham. Walau saya masih bisa belum memahami, membagikan info pengetahuan sambil joget-joget di video itu apa urusannya? Kan nggak sambil joget juga bisa!

BACA JUGA Pemain Naturalisasi: Ketika Jadi Tuan Rumah Pildun, tapi yang Main Bukan Orang Indonesia dan tulisan Fajar Hikmatiar lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
Exit mobile version