Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup Personality

Membandingkan 3 Alasan Saat Ngaret Janjian, Mana yang Paling Fafifu?

Muhammad Iqbal Habiburrohim oleh Muhammad Iqbal Habiburrohim
26 Februari 2021
A A
Membandingkan 3 Alasan Saat Ngaret Janjian, Mana yang Paling Fafifu Terminal Mojok
Share on FacebookShare on Twitter

Seperti yang kita tahu, membuat sebuah janji untuk ketemuan memang sudah menjadi rutinitas, entah itu hanya sekadar nongkrong atau main bareng ke rumah satu teman buat mabar atau reuni antar teman lama. Biasanya, janjian diawali dengan wacana yang muncul dari satu orang dengan niat awal hanya guyonan belaka, tetapi ditanggapi dengan serius. Selain itu, ketemuan juga bisa terjadi karena memang sudah menjadi agenda yang sudah dijadwalkan sejak awal.

Kita pun sudah sepenuhnya mengerti dan sadar bahwa ada budaya yang sulit sekali ditinggalkan, bahkan mungkin kurang afdal kalau nggak dilakukan, yaitu ngaret dari waktu yang ditentukan. Saya sendiri bukan termasuk orang yang suka ngaret karena biasanya walaupun saya sudah sengaja buat ngaret 5 menit dari waktu yang ditentukan, tetap saja jadi yang pertama datang. Sepertinya saya kurang jago untuk menjadi “ngareters” sejati.

Awal-awal sih dulu cukup kesal saat menemui hal semacam itu, tetapi lama kelamaan saya menjadi terbiasa. Cen bener pepatah sek ngomong “witing tresna jalaran saka kulina”, tur bedane aku mung kulina, ra tresna babar blasss. Ya gimana, Lur, kebetulan rumah saya pelosok dan cukup jauh dari peradaban kota di sana. Jadi, butuh perjalanan yang panjang melewati lembah dan bukit sebelum sampai ke tujuan, beda dengan kalian yang satu kali gas pun sudah sampai.

Kalau sudah begitu, saya cuma bisa menunggu dan pasrah akan kedatangan teman-teman yang kebacut telat. Saya sendiri juga memperhatikan beberapa alasan ngaret yang diberikan kepada saya untuk menunggu dan di sini saya akan membandingkan alasan-alasan tersebut. Manakah alasan ngaret yang paling sesuai dengan kenyataan dan mana yang paling fafifu?

Mandi dulu

Alasan ngaret yang satu ini cukup populer digunakan lantaran jangka waktu yang digunakan untuk mandi tak begitu lama, sehingga saya yang menjadi korban para “ngareters” diberikan harapan bahwa waktu menunggu saya tak akan lama. Yah, namanya diberi sebuah harapan, sudah pasti ending-nya bakal dikecewakan juga. Saya nggak tahu ukuran mandi negara mana yang teman-teman saya gunakan, kok ya bisa mencapai lebih dari 30 menit. Mungkin kalau cewek agak wajar karena terkadang mereka butuh dandan biar merasa PD dan persiapan lain yang saya nggak ketahui. Tapi, dapuranmu kan lanang, Bos! Biasanya datang juga pakai flannel andalan beserta sandal jepit yang nggak butuh waktu lama, Lur.

Berdasarkan sumber valid yang saya dapatkan dari biangnya langsung, mereka yang memakai alasan ini saat telat memang secara sadar tahu bahwa waktu janjian mereka segera tiba, tetapi dengan sengaja membiarkan perut mereka lapar, kondisi kamar berantakan, dan kondisi badan tak karuan. Jadi, tak hanya mandi saja yang dilakukan, melainkan kegiatan lain seperti makan, membersihkan kamar, naik haji baru mereka kerjakan saat itu juga. Pokoke macem-macem, lah! Padahal, saat waktu janjian tiba pun mereka sedang nggak ada kerjaan dan gabut scroll timeline, tapi katanya rasanya aneh saja kayaknya kalau datang duluan. Ealah jancuk!

One game

Pemain-pemain veteran dari game seperti Mobile Legends dan PUBG (Free Fire nggak termasuk karena yang main anak-anak) sejatinya ingin tetap mempertahankan keperkasaan mereka dengan terus melakukan push rank, hingga tak jarang melupakan kewajiban mereka yaitu sebuah janji ketemuan. Di saat mereka mengalami kekalahan, akan timbul rasa ingin segera mengembalikan poin rank mereka yang hilang saat itu juga, hingga mereka rela izin telat dengan alasan “one game”.

Saya sendiri mengapresiasi kejujuran mereka bahwa mereka telat karena alasan bermain game, tapi mbok yo delok-delok, Cok. Teman-teman yang lain sudah berkumpul dan meluangkan sedikit waktu mereka agar datang tepat waktu sesuai dengan kesepakatan sebelumnya. Eh, kalian ini malah menunda keberangkatan kalian dengan alasan “one game”. Aku yo paham dan sangat mengerti bagaimana perasaan kehilangan poin rank yang prestisius bagi pemainnya, tur mbok tulung mengko meneh le main. Sing kelangan poin sopo, sing kudu nunggu malah aku!

Baca Juga:

Kenapa ya Praktik Dokter Tutup Sabtu-Minggu dan (Nyaris) Selalu Ngaret?

10 Kebiasaan Hidup Bertetangga yang Dianggap Wajar

Sak udutan

Kata-kata legend yang satu ini memang sering kali menjadi tolak ukur seseorang sudah siap untuk melakukan perjalanan ke tempat ketemuan berada. Taktik psikologis yang dimainkan cukup mirip dengan alasan ingin mandi terlebih dahulu, tetapi “sak udutan” sendiri lebih mengindikasikan orang tersebut benar-benar sudah siap untuk berangkat karena waktu yang diperlukan untuk menghabiskan satu batang rokok paling berapa lama, sih? Nggak sampai 5 menit sepertinya.

Ternyata eh ternyata, pikiran seperti itu memang terlalu positive thinking untuk seorang “ngareters”. Saya yakin jumlah rokok yang dibakar habis memang hanya satu batang, tetapi yang membuat “sak udutan” menjadi lama adalah waktu di saat rokok akan dibakar. Setiap batang rokok tersebut akan dibakar, maka akan ada sahutan teman lain yang sedang berada dengan mereka saat itu dan mengajak mengobrol lebih lama sehingga niatan untuk membakar rokok tersebut pun sirna. Akhirnya, alasan ngaret “sak udutan” tergantikan dengan topik lain yang membuat niatnya yang ingin segera pergi dari sana pun kembali hilang.

Seperti itulah memang keadaan yang harus saya hadapi. Sekali-kali saya pengin menjadi orang ter-ngaret pada satu pertemuan, tapi kok ya rasanya ada yang ganjal dan merasa nggak enak jika benar-benar saya lakukan. Ya gimana lagi teman-teman, dunia ini memang isinya penuh dengan fafifu belaka~

BACA JUGA Kebiasaan Orang Indonesia Saat Janjian: Menyebut Waktu Salat Sebagai Waktu untuk Bertemu dan tulisan Muhammad Iqbal Habiburrohim lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 6 Januari 2022 oleh

Tags: janjiankebiasaan orang Indonesiangaret
Muhammad Iqbal Habiburrohim

Muhammad Iqbal Habiburrohim

Seorang lokal Yogyakarta yang menjalani hidup dengan rute yang dinamis. Berpindah dari satu koordinat ke koordinat lain demi tuntutan profesi, sembari merawat kewarasan dengan menumpahkan segala keluh kesah ke dalam barisan kata.

ArtikelTerkait

Mempertanyakan Kebiasaan Peluk Bantal Guling Orang Indonesia Saat Tidur Terminal mojok

Kenapa Orang Indonesia Peluk Guling Saat Tidur?

8 Februari 2021
Mencoba Positif Thinking pada Orang yang Bilang 'OTW' tapi Nggak Sampai-sampai Terminal Mojok

Mencoba Positive Thinking pada Orang yang Bilang ‘OTW’ tapi Malah Ngaret

29 Desember 2020
waktu salat ngaret jam karet nggak tepat waktu mojok

Kebiasaan Orang Indonesia Saat Janjian: Menyebut Waktu Salat sebagai Waktu untuk Bertemu

10 Oktober 2020
10 Kebiasaan Hidup Bertetangga yang Dianggap Wajar Terminal mojok

10 Kebiasaan Hidup Bertetangga yang Dianggap Wajar

18 Februari 2021
Menyelisik Kebiasaan Orang Indonesia yang Masih Tinggal dengan Orang Tua ketika Dewasa Terminal mojok

Menyelisik Kebiasaan Orang Indonesia yang Masih Tinggal dengan Orang Tua ketika Dewasa

10 Februari 2021
Kenapa ya Praktik Dokter Tutup Sabtu-Minggu dan (Nyaris) Selalu Ngaret?

Kenapa ya Praktik Dokter Tutup Sabtu-Minggu dan (Nyaris) Selalu Ngaret?

16 Agustus 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Botok Tawon, Makanan Unik Jawa Timur yang Rasanya Enak, tapi Saya Tak Sudi kalau Disuruh Makan Lagi

Botok Tawon, Makanan Unik Jawa Timur yang Rasanya Enak, tapi Saya Tak Sudi kalau Disuruh Makan Lagi

26 Februari 2026
Ironi Lumajang: Dekat dengan Laut, tapi Sulit Menemukan Seafood

Ironi Lumajang: Dekat dengan Laut, tapi Sulit Menemukan Seafood

25 Februari 2026
Bayar STNK Sudah Bikin Pusing, Sekarang Mau Ditambah Parkir Setahun, Selalu Ada Cara Baru Nambah Beban Rakyat

Bayar STNK Sudah Bikin Pusing, Sekarang Mau Ditambah Parkir Setahun, Selalu Ada Cara Baru Nambah Beban Rakyat

22 Februari 2026
6 Dosa Penjual Jus Buah- Ancam Kesehatan Pembeli demi Cuan (Unsplash)

6 Dosa Penjual Jus Buah yang Sebetulnya Menipu dan Merugikan Kesehatan para Pembeli Semata demi Cuan

26 Februari 2026
Siluman Dapodik, Sebuah Upaya Curang agar Bisa Lolos PPG Guru Tertentu yang Muncul karena Sistem Pengawasan Lemah guru honorer ppg

Fakta tentang Guru yang Terjadi di Lapangan, tapi Tak Pernah Dibahas oleh Fakultas Pendidikan

27 Februari 2026
Stasiun Indro Bikin Gresik Jadi Daerah Industri yang Terlihat Menyedihkan Mojok.co

Stasiun Indro yang Menyedihkan Membuat Kota Industri Gresik Jadi Terlihat Payah

27 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.