Memahami Beda Disinformasi, Malinformasi, dan Misinformasi Biar Nggak Keder

Memahami Beda Disinformasi, Malinformasi, dan Misinformasi Biar Nggak Keder terminal mojok.co

Memahami Beda Disinformasi, Malinformasi, dan Misinformasi Biar Nggak Keder terminal mojok.co

Sekali waktu, saya pernah menjumpai seorang teman yang di-bully di grup WhatsApp. Perkaranya ia kedapatan menyebarkan berita hoaks. Meskipun ia sendiri nggak menyadarinya. Nasib teman saya itu nggak jauh beda dengan seseorang yang saya temukan di media sosial. Orang itu, atau sebut saja netizen itu dicecar habis-habisan oleh netizen lainnya karena menyebarkan berita bohong. Padahal, tunggu dulu, jangan-jangan yang kita pahami salah. Disinformasi, malinformasi, dan misinformasi itu beda-beda lho.

Lain lagi dengan kisah teman saya yang lain. Beberapa waktu lalu, teman saya itu menulis semacam tulisan yang mencoba membedah informasi yang beredar. Tulisan itu kemudian dilekatkan lema “misinformasi” di bagian judul.

Ia tak di-bully netizen, melainkan justru diserang oleh si penyebar informasi yang sudah terlanjur viral sebelumya. Yang ajaib si penyebar misinformasi tadi adalah seorang wartawan di salah satu media. Tampaknya, si penyebar misinformasi tadi nggak terima kalau informasinya dianggap hoaks oleh teman saya itu.

Padahal terang sekali di judul menyebut “misinformasi”. Teman saya sama sekali nggak menulis bahwa si penyebar informasi adalah penyebar hoaks. Sekali lagi, murni menjelaskan informasi yang tersebar dan viral bahwa itu misinformasi.

Melihat fenomena tersebut saya pikir, dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, kita lebih menyukai lema “hoaks” untuk menyebut informasi yang keliru. Orang yang menyebarkan itu adalah manusia yang bully-able. Sementara UNESCO dan Kementerian Komunikasi dan Informatika sendiri telah memberi maklumat bahwa semua informasi keliru tak bisa disebut hoaks.

Selain misinformasi yang saya sebutkan tadi, ada disinformasi dan malinformasi. Ketiganya memiliki perbedaan yang teramat mencolok. Jika kalian mencarinya di KBBI V, cuma ada frasa misinformasi, sedangkan dua lainnya nggak ada (atau belum?).

Supaya memahami itu, kamu mesti membaca lebih jauh, paling tidak mencari pengertiannya di internet. Sebab kamu terlanjur baca tulisan ini, saya akan kasih tahu tentang ketiganya. Ini saya dapat dari dua kali mengikuti Workshop Hoax Busting dan Digital Hygiene dari Google Internews dan AJI, serta tentu saja informasi yang saya akomodir dari Mbah Google.

Misinformasi

Secara sederhana, misinformasi yaitu informasi yang keliru tapi si penyebarnya nggak tahu kalau itu informasi keliru. Orang yang menyebarkannya mungkin tak punya waktu buat verifikasi, karena ya mungkin dia bukan wartawan yang sedang dikejar deadline.

Selain nggak tahu kalau informasi yang disebar itu salah, si penyebar boleh jadi percaya informasi yang baru saja disebarkannya benar. Itu juga bisa disebut misinformasi.

Misalnya, kamu dapat informasi dari grup WhatsApp keluarga berupa link kuota gratis. Kamu begitu saja meneruskan informasi itu ke grup WhatsApp angkatan kuliah. Syahdan, beberapa menit berselang ada yang komplain link yang kamu bagikan itu bohong.

Kamu pun mengelak sebab kamu sendiri nggak tahu. Nggak membukanya lebih dulu tapi langsung mem-forward ke grup. Inilah yang disebut misinformasi.

Dalam hal ini, meski informasinya salah tapi kamunya tidak. Teman kamu itu juga semestinya tak perlu mencak-mencak. Lagipula hal ini bisa dicegah.

Bukan cuma kamu sebagai penyebar informasi keliru, melainkan juga si penerima misinformasi harusnya sadar. Sebelum menelan informasi baiknya dicek dulu kebenarannya agar misinformasi tak berlarut-larut terjadi.

Disinformasi

Jika misinformasi penyebarnya nggak tahu informasinya keliru, disinformasi nggak begitu. Si penyebar dalam disinformasi, berperan sebagai pihak yang sesungguhnya tahu informasinya keliru. Tapi, ia sengaja menyebarkannya.

Disinformasi dekat sekali dengan pelaku kejahatan. Umumnya digunakan untuk mengancam, menipu, atau membahayakan pihak tertentu.

Contoh, saya tahu bahwa si politikus E mendapat aliran dana dari sebuah perusahaan. Namun, karena saya berteman baik dengan politikus E, maka saat memberikan keterangan, saya bilang politikus E sepeser pun tak mendapat aliran dana itu.

Apa ini bisa dicegah? Pasti. Namun, hanya si penerima yang mampu melakukan tindakan preventif, sedangkan bagi pelaku, mustahil. Haaa mosok niat arep nyebar berita salah jur dicegah dewe? Kan Ramashoook.

Verifikasi atau mencari tahu lebih lanjutlah kuncinya. Kalau bukan itu apalagi coba? Disinformasi tak dapat dicegah dengan membuka YouTube lalu menonton Lesti dan Rizky Billar duet di atas panggung.

Malinformasi

Tiga-tiganya membahayakan dan merugikan. Tapi bagi saya, malinformasi yang paling jago bikin orang emosi. Jika di dunia kedokteran kita mengenal malpraktik, di dunia komunikasi dan informatika, kita mengenal malinformasi ini.

Secara gampang, malinformasi adalah informasi yang benar, hanya saja si penyebarnya ini memanfaatkan itu untuk tujuan yang tidak benar. Halah pie sih kalimatku. Intinya, informasinya benar, tapi disebarkan dengan tujuan buruk.

Kalau mau contoh banyak. Kurun waktu belakangan ini saja, publik lebih sering makan malinformasi. Sebab begitu sering, saya jadi bingung—untuk tidak menyebutnya lupa—milihnya buat contoh.

Informasi-informasi yang inheren dengan ideologi, agama, ras, golongan, sampai orientasi seksual sangat gurih untuk dibikin malinformasi. 

Oh ya, kalau kalian tanya hoaks masuk mana, saya kok mantap menjawab: disinformasi. Soal alasannya, silakan cocokkan sendiri pengertian disinformasi dan lema “hoaks” yang di KBBI V bermakna berita bohong.

BACA JUGA Fans Fanatik Sinetron Adalah Manusia Paling Barbar Seantero Galaksi dan tulisan Muhammad Arsyad lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
Exit mobile version