Mati Tua di Jalanan Kota Malang

Surat Cinta untuk Walikota: Pak, Malang Macet, Jangan Urus MiChat Saja!

Surat Cinta untuk Walikota: Pak, Malang Macet, Jangan Urus MiChat Saja! (Akhmad Dodi Firmansyah via Shutterstock.com)

Sudah lama saya punya love-hate relationship sama Kota Malang. Love-nya karena suasananya enak dan dingin (meski sekarang mulai panas) dan hate-nya agak banyak, salah satunya kemacetan.

Waktu kuliah, yang paling saya benci adalah pulang saat Jumat sore, macetnya gila, paling bersyukur kalo mata kuliah terakhir di hari Jumat kosong, bisa pulang lebih cepat. Apalagi Sabtu atau Minggu, waktu yang cocok buat belanja bulanan, saya kira jalannya nggak terlalu macet, ternyata? Macet, Bos! Mau lewat jalan alternatif, kena macet juga.

Belum lagi kalo akhir pekan malah diadakan bersih desa di jalan besar sampai ada pengalihan arus, mau nggak mau harus cari jalan alternatif, itu pun kena macet. Jadi, saya punya pola pikir jangan pernah keluar rumah kalo Jumat sore, dan Sabtu-Minggu 24 jam atau bakal menua di jalanan Kota Malang.

Idealnya, kalau Kota Malang rame, artinya banyak orang datang, dan kemungkinan besar mereka adalah wisatawan. Kalo banyak wisatawan ke Malang Raya, artinya ketiga daerah ini bakal ada pemasukan dan dikenal banyak orang.

Tapi kalo berbicara dari segi realitas, saya sebenarnya muak karena jalanan kota malah jadi tambah macet.

Nggak ada jalur lingkar

Jadi begini yang terhormat Pemkot Malang, Kota Malang itu lebih luas dari pedestrian Kayutangan Heritage a.k.a. Malioboro KW dan Alun-alun Balai Kota. Sadar nggak sih kalo Kota Malang macetnya sudah nggak masuk akal, apalagi kalo weekend bikin emosi, coba berangkat sendiri nggak pakai pengawalan.

Itu loh kawasan Tlogomas, Arjosari, dan Gadang yang jadi gerbang utama Kota Malang dipikir juga, tiap akhir pekan gila itu jalannya. Sudah tahu daerahnya bakal kena imbas destinasi wisata, tapi infrastruktur jalur lingkar saja nggak punya, hasilnya ya tiap akhir pekan jalan protokol Kota Malang macet.

Malah kalah sama Kepanjen, ibu kota Kabupaten Malang yang sudah lama punya jalur lingkar meski bolong-bolong, tapi masih mending karena ada loh.

Nah, terus apa Karanglo itu jalur lingkar Kota Malang? Kan bisa lewat situ, kenapa harus protes minta jalur lingkar?

Tembusan Karanglo (lurus dengan Gerbang Tol Singosari alias Karanglo) yang digunakan sebagai shortcut ke Batu bukan jalur lingkar Kota Malang, tapi punya Pemkab Malang. Apa aman dari macet? Nggak, malah sama macetnya sama Arjosari, tapi tipe macetnya beda banget karena jalannya nggak lebar-lebar amat.

Baca halaman selanjutnya

Bus pariwisata kok lewat situ?

Bus pariwisata kok lewat situ?

Yang nggak masuk akal lagi, bus pariwisata lewat situ, padahal jalannya agak menanjak, berkelok, dan lebarnya kurang cocok, pantas lah kalo jalannya macet dan merayap.

Padahal, jalur lingkar ini penting banget keberadaannya, yaitu untuk memecah kepadatan jalan, cocok buat kendaraan yang cuma menumpang lewat bukan singgah atau pulang.

Jalan protokol kota di sini bukan cuma penduduk yang sudah lama menetap, tapi wisatawan dari luar kota yang ke Batu, tapi lewatnya jantung kota (agak luas jantungnya).

Kurang lahan apa ngawur dalam mengatur lahan?

Ngomongin jalan yang kurang secara kuantitas, artinya akan nyenggol masalah ketersediaan lahan. Kita tahu, Kota Malang itu nggak besar-besar amat. Wajar kalau lahan yang tersedia nggak begitu banyak. Tapi, harusnya, lahan untuk jalan itu jadi prioritas kalau memang punya visi kotanya didatangi banyak wisatawan.

Masalahnya adalah, udah lahannya nggak banyak, tapi IMB mudah banget dikeluarkan tanpa melihat masalah dari gambaran yang lebih luas. Gimana nggak makin bermasalah? Begitu cari lahan bingung kan?

Kalo nggak diatasi sesegera mungkin, yang ada berangkat masih bayi, pulangnya sudah jadi legenda. Kok bisa? Ya saking lamanya menghabiskan hidup di kemacetan jalanan Kota Malang. Lama-lama, kelakar mati tua di jalanan Kota Malang itu nggak lagi jadi guyonan, tapi risiko yang menjelma jadi nyata.

Penulis: Mohammad Faiz Attoriq
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Impian Beli iPhone Terwujud Berkat iPhone SE, Cuma Bekas tapi Worth It Banget

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version