Masashi Kishimoto Akhirnya Turun Gunung, Bagaimana Nasib Boruto ke Depannya? – Terminal Mojok

Masashi Kishimoto Akhirnya Turun Gunung, Bagaimana Nasib Boruto ke Depannya?

Artikel

Gusti Aditya

Tahun 2020 memang tahun yang amat bajingan. Berbagai problematika, mulai dari yang sentimentil hingga yang membuat kaget, hadir silih berganti tak henti-henti. Dari berbagai kabar yang hinggap dan membuat hati mengerucut, muncul satu berita yang setidaknya membuat kita bernapas sedikit lega. Ya, benar, Masashi Kishimoto, motor pergerakan kisah brilian Naruto, dikabarkan akan turun gunung meluruskan apa yang sudah bengkok dalam manga Boruto.

(Buat yang masih bingung, itu klik twitnya, nanti ada fitur translate tweet.)

Itu tandanya, tugas Ukyo Kodachi akan digantikan secara hormat pada seri November ini. Dalam penuturan resminya, dijelaskan bahwa Masashi Kishimoto akan menggarap Boruto mulai pada chapter 52 Boruto. Manga ini nantinya, akan diterbitkan dalam V Jump edisi Desember yang dipasarkan dan dijual pada 21 November. Bahkan, secara lebih tegas, tim produksi akan berubah sesuai rencana dari awal.

Sejatinya Kishimoto Sensei memiliki proyekan baru berjudul Samurai 8: The Tale of Hachimaru. Sayangnya, manga ini selesai dengan cepat pada Weekly Shonen Jump pada Maret 2020. Memiliki sedikit banyak waktu untuk rehat, Masashi Kishimoto kini akan kembali menukangi proyekan yang mengambang nggak tahu arahnya ke mana ini.

Surat tersebut diakhiri dengan ucapan terima kasih kepada Kodachi Sensei. Yah, bagaimana pun bertahan selama ini di jajaran atas, bukan hal yang mudah. Satu hal yang bisa saya petik secara serampangan dari pemberitaan belakangan ini, Masashi Kishimoto mendengar doa-doa para fansnya yang mengeluh kualitas Boruto.

Kualitas Boruto katanya jauh dari harapan. Memang sih, jika harus jujur, Boruto itu sangat jauh dari penuturan Naruto yang menarik sejak awal. Namun, kembali lagi, tugas Kodachi Sensei ini nyatanya amat berat. Ia menyulam plot demi plot keadaan dunia shinobi pasca-perang dunia. Nah, dalam tulisan ini, saya akan mencurahkan beberapa harapan yang mungkin juga kalian harapkan akan turun gunungnya Kishimoto Sensei.

Pertama, jangan terlalu berharap kepada artwork Boruto. Mikio Ikemoto masih akan bekerja di dapur Boruto. Menurut saya pribadi nih, artwork Boruto ini cenderung aneh dengan bentuk wajah yang cembung-cembung seperti chibi. Namun, masalah art dalam fighting, gambaran Ikemoto boleh lah.

Seperti apa yang dituturkan oleh Kodachi melalui thread-nya di Twitter, ia kini akan menjadi pendukung setia Kishimoto dan Ikemoto. Itu tandanya, Ikemoto akan bekerja sebagai artwork dan Kishimoto sebagai otak jalannya cerita.

Kedua, transisi masa perang versi Masashi Kishimoto. Sejatinya, banyak plot menarik dalam manga yang bisa ia kembangkan. Ketimbang berkutat mengeluarkan musuh-musuh yang power-nya keliwat sakti, fokuskan saja dahulu kepada generasi Naruto dalam masa transisi pasca perang. Politik, kuasa, kekuatan negara, bisa dikaji lebih jauh di sini. Apalagi untuk desa yang mengubah wajahnya setelah peristiwa kelam, pasti banyak problem yang dihadapinya. Setidaknya, Naruto “sengsara” akan kesibukan ini.

Buat alasan mendasar bahwa tugas Naruto sebagai Hokage masa transisi ini super sibuk dengan urusan administrasi negara. Jika hal itu sudah runtut, alasan Naruto yang di-nerf besar-besaran ini (bahkan sempat dikalahkan oleh anak kecil dalam satu bagian) ada alasan logisnya. Setali dengan kajian dalam manga, Naruto lelah mengurusi urusan negara, sampai-sampai hal vital berupa tenaga dan kekuatan ninja ia tinggalkan begitu saja.

Ingat Naruto, tugas negara itu berat. Jangan sekali pun pakai bunshin untuk mengerjakan tetek bengek urusan administrasi negara. Makanya, jangan kebanyakan pencitraan. Atau dari sisi ini, bangun saja cerita yang berkaitan, yakni muntabnya Boruto melihat kinerja sang ayah yang nggak becus ngurus desa. Kan cocok tuh, jadi alasan Boruto nggak mau jadi Hokage semakin kuat.

Ketiga, buat manga Boruto kembali kepada fitrahnya yaitu kelam. Sudah saatnya Boruto murtad dari pangsa pasar bocah-bocah. Saya bahkan sangat berharap, nuansa tercekat, deg-degan, atau bahkan muntab nggak karuan, terulang dalam Boruto.

Misalkan, buat Boruto jadi orang yang membangkang sekalian. Ia menjabarkan sistem oligarki nggak sehat dari hokage pertama sampai ayahnya. Jelaskan pula bahwa sistem seperti ini terus terjadi, lama-lama terbentuk semacam dinasti. Boruto hadir di garda terdepan, mengusulkan adanya demokrasi yang lebih sehat dan adil.

Dari sinilah muncul pertentangan antara penasehat desa, Naruto, dan Boruto. Keberpihakan Sarada akan dipertanyakan menengok ia ingin menjadi Hokage. Namun, di malam yang khusyuk, Sarada tersadar bahwa jika tidak ada sistem demokrasi, klannya, Uchiha, sampai kapan pun akan terus diinjak-injak.

Keempat, buat Naruto benar-benar mati. Mediator melupakan terbaik adalah kematian. Melupakan kejayaan Naruto, dan hendak membangun dinasti baru bernama Boruto, atas dasar apa peran Naruto selain seorang ayah yang sayang kepada anaknya. Yah, ini diambil jika Kishimoto berani ambil risiko, sih. Namun, melihat tewasnya Jiraya dan Itachi, sepertinya “mematikan” Naruto bukan perkara sulit.

Yah, ini sekadar gimmick belaka di dapur Boruto atau benar-benar terjadi, kita semua nggak tahu menahu. Pergantian dan transisi pada chapter 51, bertepatan dengan abu-abunya Naruto tewas atau nggak, seakan drama bukan hanya terjadi di manga, namun juga kehidupan nyata.

Bagaimana Kishimoto Sensei, siapkah mengambil nyawa salah satu karakter yang membekas di hati para penggemarnya ini?

Sumber gambar: Viz.com

BACA JUGA Perjalanan Fans K-Pop yang Bertobat dari Sifat Barbar dan tulisan Gusti Aditya lainnya.

Baca Juga:  Mengamati Perilaku Penumpang Kereta Api
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
10


Komentar

Comments are closed.