Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Manisnya Jogja sebagai Kota Gula di Awal Abad ke-20

Christianto Dedy Setyawan oleh Christianto Dedy Setyawan
10 Oktober 2020
A A
jogja pabrik gula belanda mojok

jogja pabrik gula belanda mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Di masa kini Joko Pinurbo boleh saja menyebut jika Jogja terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan. Ungkapan yang tepat disematkan bagi anak muda perantau yang merindukan Jogja dari tanah seberang. Aroma nostalgia menyengat kuat jika nama Jogja disebutkan. Jika hal ini ditanyakan seratus tahun yang lalu barangkali ungkapannya berupa Jogja terbuat dari gula, gula, dan gula. Produksi gula yang melimpah dan berefek pada manisnya pundi-pundi uang yang disesap Belanda.

Gula bukanlah komoditas baru yang melejit di Nusantara. Meski di buku sejarah anak sekolahan berulang kali dituturkan perihal rempah-rempah yang menjadi incaran kaum penjajah, gula juga tidak luput dari incaran. Cornelis de Houtman selaku petualang Belanda yang pertama kali tiba di Nusantara pun menyebut soal industri gula rakyat dalam catatannya. Sebelum tibanya era kolonialisme Eropa, gula didapat dengan cara tradisional dengan menggunakan alat dari kayu dan mesin giling bertenaga kerbau. Ada pula gula yang diperoleh dari tetesan air kelapa, aren, dan buah siwalan. Salah satu penanda diperhatikannya gula oleh Belanda terjadi pada 1619 kala Gubernur Jenderal van Diemen tertarik dengan industri gula dan pada tahun 1637 ia menandatangani plakaat mengenai pemberian izin kepada Jan Kong di Banten guna mengelola industri gula di Batavia dan Banten selama sepuluh tahun.

Adanya cultuur stelsel per 1830 memicu produksi gula yang kian digiatkan mengingat gula menjadi salah satu komoditas ekspor yang ditentukan pemerintah Belanda dari 20% tanah tiap desa yang wajib ditanami sesuai ketentuan. Adanya Undang-Undang Agraria yang berlaku mulai 1870 kian melonjakkan riwayat gula sebab perusahaan perkebunan swasta Eropa diizinkan menyewa tanah dalam jangka waktu lama. Daya tarik penggiatan bisnis gula semakin menggiurkan saat wilayah vorstenlanden diberlakukan Dekrit Konversi yang berpihak pada para penyewa lahan.

Mengacu pada buku Suikerkultuur: Jogja yang Hilang, pada 1840 industri gula mencapai 77% dari nilai total eskpor dan menempati urutan pertama dari komoditas unggulan di Hindia Belanda. Industri gula berkembang pesat di pulau Jawa, termasuk Yogyakarta. Wieseman dan Broese van Groesneau tampil sebagai pengusaha yang termasuk dalam kategori pendiri pabrik gula fase awal. Ia mendirikan pabrik gula Bantul pada 1861, yang kemudian diiikuti Stefanus Barends di pabrik gula Gondanglipuro (1862), dan George Weijnschenk di pabrik gula Padokan (1864) serta Barongan (1867).

Langkah ini lalu diikuti oleh para pengusaha lainnya yang mendirikan pabrik gula hingga Jogja memiliki 19 pabrik gula. Banyaknya pabrik gula yang berlokasi relatif berdekatan memicu munculnya julukan Jogja sebagai land of sugar. Pabrik tersebut kini telah mengalami perubahan nasib seiring bergulirnya zaman. Meski demikian jejaknya masih dapat ditelusuri.

Pabrik Gula Bantul kini bangunannya menjadi SMAN 2 Bantul. Area lokasinya sekarang menjadi pemukiman dan hanya menyisakan bekas saluran irigasinya saja. Pabrik Gula Barongan kini berubah menjadi Lab Keswan BPBPTDK Dinas Pertanian DIY. Nasib peralihan bentuk dan fungsi bangunan juga menimpa Pabrik Gula Beran (kini kantor Disdukcapil Sleman), Pabrik Gula Demakijo (kini Markas Kompi Senapan C 403 dan pabrik mebel), Pabrik Gula Gesikan (kini lapangan Wijirejo), Pabrik Gula Gondanglipuro (kini permukiman di Ganjuran dan komplek gereja – sekolah masih dapat dijumpai), Pabrik Gula Kedaton Pleret (kini lapangan Pleret), Pabrik Gula Klaci (kini SMKN 1 Godean), Pabrik Gula Medari (kini pabrik GKBI, SMPN 1 Sleman, dan Kodim 0732 Sleman), Pabrik Gula Pundong (kantor BRTPD Pundong), Pabrik Gula Randugunting (kini permukiman warga), Pabrik Gula Rewulu (kini area persawahan), Pabrik Gula Sedayu (kini area permukiman), Pabrik Gula Sendangpitu (kini lapangan), Pabrik Gula Tanjungtirto (kini SMPN 1 Berbah, kantor Polsek Berbah, Koramil Berbah, dan permukiman warga), Pabrik Gula Cebongan (kini kompleks pergudangan milik PT Bhanda Ghara Reksa dan Puskesmas Mlati II), dan Pabrik Gula Wonocatur (kini area museum Dirgantara).

Dari berbagai pabrik gula yang pernah berdiri di Jogja, Pabrik Gula Sewugalur menjadi bangunan yang riwayatnya masih dapat ditelusuri di lapangan. Jejak area pabrik tersebut menyisakan bekas struktur cerobong, struktur pondasi mesin, saluran pembuangan limbah, beberapa bangunan bekas rumah dinas pegawai, dan makam Belanda. Pabrik Gula Padokan menjadi satu-satunya pabrik yang bernasib lain dari yang lain sebab hingga kini masih berdiri. Meski sempat mengalami kerusakan parah, pabrik tersebut pada tahun 1955 dibangun ulang di era Sri Sultan Hamengkubuwono IX dengan nama Madukismo.

Area pabrik gula yang dibangun Belanda pada zaman tersebut tidak hanya mencakup bangunan pabrik saja. Selain membangun pabrik, dibangun pula kompleks perumahan bagi kepala pabrik dan karyawannya, serta permukiman sederhana bagi para buruh. Pengelola pabrik juga membangun sarana kesehatan seperti klinik atau rumah sakit, saluran irigasi, sarana pendidikan atau sekolah, dan lahan pemakaman. Tidak mengherankan jika keseluruhan area pabrik teramat luas. Kehancuran pabrik gula diawali dari krisis malaise yang melanda di tahun 1929 dan memukul perekonomian secara global. Dari 19 pabrik yang ada, hanya enam yang mampu bertahan yakni pabrik gula Tanjungtirto, Cebongan, Medari, Gondanglipuro, Padokan, dan Gesikan. Pabrik lain ada yang beralih fungsi menjadi tempat penggilingan beras seperti pabrik gula Barongan, Demakijo, Kedaton Pleret, dan Wonocatur. Sisanya pun bernasib serupa dengan strategi alih fungsi sebagai strategi bertahan dari kondisi krisis dan ada yang kemudian dibiarkan kosong karena kekurangan modal guna memutar roda perekonomian.

Baca Juga:

Dosa Penjual Tongseng Kambing yang Merusak Rasa dan Mengecewakan Pembeli

6 Dosa Penjual Jus Buah yang Sebetulnya Menipu dan Merugikan Kesehatan para Pembeli Semata demi Cuan

Nasib pabrik gula kian suram di masa kolonialisme Jepang. Aset pabrik yang masih bertahan dikuasai Jepang dan sumber daya ekonominya diarahkan untuk menunjang kepentingan Jepang di Perang Dunia II. Era revolusi fisik yang bergulir di periode pasca kemerdekaan (1945-1949) semakin menambah gelap riwayat pabrik gula. Banyak bangunan yang menjadi objek taktik bumi hangus, termasuk pabrik. Hal ini dimaksudkan guna mencegah pergerakan musuh maupun agar bangunan tidak jatuh ke tangan musuh. Seiring berjalannya waktu, pasca situasi damai selepas Konferensi Meja Bundar, nasib pabrik gula semakin sunyi. Madukismo seolah berdiri sendiri sebagai punggawa terakhir dari belasan teman-temannya yang telah tiada.

BACA JUGA Mengenang Masa-masa tanpa Internet dan tulisan Christianto Dedy Setyawan lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 10 Oktober 2020 oleh

Tags: belandacultuur stelselgulaJogjapabrik
Christianto Dedy Setyawan

Christianto Dedy Setyawan

Pencinta literatur yang hobi blusukan sejarah

ArtikelTerkait

5 Hal yang Wajib Diketahui sebelum Liburan ke Malioboro Jogja Mojok.co

5 Hal yang Perlu Diketahui Wisatawan sebelum Liburan ke Malioboro Jogja

12 Desember 2024
Mie Sapi Gajahan: Viral, tapi Nggak Bisa Disebut Spesial

Mie Sapi Gajahan: Viral, tapi Nggak Bisa Disebut Spesial

3 April 2023
4 Tempat Wisata Jogja yang Nggak Perlu Dikunjungi Lagi, Wisatawan Cukup Datang Sekali

4 Tempat Wisata Jogja yang Nggak Perlu Dikunjungi Lagi, Wisatawan Cukup Datang Sekali

1 November 2025
Semakin Banyak Ayam Geprek yang Berbeda Jauh dengan Geprek Bu Rum, Waspadalah! Mojok.co

Semakin Banyak Ayam Geprek yang Berbeda Jauh dengan Geprek Bu Rum, Waspadalah!

20 Januari 2024
Jogja Nggak Berubah Itu Bullshit! Cuma Omong Kosong Belaka! (Unsplash)

Setelah Merasakan Tinggal di Jogja, Ternyata Jogja Tidak Semurah yang Digembar-gemborkan

22 Januari 2026
Solo di Mata Orang Jogja: Solo Dipandang Rendah, tapi Lebih Menjanjikan

Solo di Mata Orang Jogja: Solo Dipandang Rendah, tapi Lebih Menjanjikan

2 Agustus 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Trio Senator AS Roma: Mancini, Pellegrini, Cristante

Trio Senator AS Roma

23 Februari 2026
Ironi Lumajang: Dekat dengan Laut, tapi Sulit Menemukan Seafood

Ironi Lumajang: Dekat dengan Laut, tapi Sulit Menemukan Seafood

25 Februari 2026
Siluman Dapodik, Sebuah Upaya Curang agar Bisa Lolos PPG Guru Tertentu yang Muncul karena Sistem Pengawasan Lemah guru honorer ppg

Fakta tentang Guru yang Terjadi di Lapangan, tapi Tak Pernah Dibahas oleh Fakultas Pendidikan

27 Februari 2026
Yamaha NMAX, Motor yang Tidak Ditakdirkan untuk Dimodifikasi Mojok.co

Yamaha NMAX, Motor Gagah tapi Perawatannya Tak Sama seperti Matic Biasa Lainnya

25 Februari 2026
Dosa Penjual Tongseng Kambing yang Merusak Rasa dan Mengecewakan Pembeli Mojok.co

Dosa Penjual Tongseng Kambing yang Merusak Rasa dan Mengecewakan Pembeli

28 Februari 2026
Botok Tawon, Makanan Unik Jawa Timur yang Rasanya Enak, tapi Saya Tak Sudi kalau Disuruh Makan Lagi

Botok Tawon, Makanan Unik Jawa Timur yang Rasanya Enak, tapi Saya Tak Sudi kalau Disuruh Makan Lagi

26 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.