Di atas kertas, Malang dan Jogja itu bagaikan dua saudara kembar. Keduanya menyandang gelar megah sebagai Kota Pelajar, menjadi muara dari ratusan ribu anak muda yang datang dari berbagai pelosok negeri dengan membawa tujuan yang sama: harapan orang tua, dan impian untuk mengubah nasib.
Secara geografis dan lanskap sosial, kedua daerah ini pun mirip. Sama-sama dikelilingi kampus-kampus besar berprestasi, punya kultur warung kopi yang tak pernah tidur, serta indeks biaya hidup yang (katanya) masih bersahabat dengan dompet perantau.
Akan tetapi, setelah mengecap dan merasakan langsung dinamika kedua kota ini, ada satu kesadaran yang pelan-pelan merayap di dada saya.
Malang dan Jogja mungkin sama-sama tempat menimba ilmu akademis. Namun, bicara soal mana yang memberikan “kuliah kehidupan” paling membekas, Malang memahat mental saya sampai matang. Di sana saya diajarkan cara bertahan hidup, menghadapi kerasnya realitas, dan berdamai dengan kenyataan.
Kawah candradimuka yang menempa ketangguhan dan kejujuran
Malang itu punya hawa yang dingin, tapi karakter sosialnya hangat dan blak-blakan. Di Malang, cara hidup diajarkan lewat sikap yang egaliter dan tanpa tedeng aling-aling.
Masyarakatnya (termasuk lingkungan pergaulan kampusnya) memiliki ritme yang tegas. Kalau ada hal yang salah, ya diomongkan langsung di depan muka. Tidak ada istilah pakewuh. Tidak ada basa-basi politik penguluran waktu. Budaya pesisiran dan karakter “Arema” yang lugas secara tidak langsung memaksa siapa pun yang hidup di sana untuk berani mengambil sikap dan tidak gampang lembek.
Di Malang, gaya bicaranya mungkin terkesan kasar bagi telinga pendatang baru, tapi di situlah letak kejujurannya. Malang tidak mengajari kita untuk berpura-pura. Kota ini menempamu untuk jadi pribadi yang lugas, tangguh di jalanan, dan tidak mudah baper saat dihantam keadaan.
Jogja ruang kontemplasi yang menawarkan kenikmatan romantisasi dan kesabaran
Sementara itu, Jogja mengajarkan cara hidup dengan nada yang sama sekali berbeda. Jogja itu pelan, lambat, dan penuh irama romantisasi.
Di Jogja, kita diajarkan untuk merayakan kesabaran, bahkan dalam menghadapi hal-hal yang sebenarnya absurd. Menghadapi jalanan yang mendadak macet total saat akhir pekan, menyikapi harga-harga lokal yang pelan-pelan menggeser dompet mahasiswa, hingga berdamai dengan dinamika sosial yang serba “ngemong” dan pelan-pelan.
Jogja adalah tempat terbaik untuk belajar seni perenungan. Duduk di angkringan sambil menikmati segelas teh nasgitel di malam hari, mendengarkan obrolan bapak-bapak soal politik lokal, atau sekadar jalan-jalan di sepanjang gang-gang kecil kawasan perkotaan. Kota ini mengajarkan kita cara menikmati waktu dan merawat ingatan.
Akan tetapi, romantisasi itu ada harganya. Jika Malang mendidik kita untuk bertarung di lapangan, Jogja kadang meninabokkan kita dalam kenyamanan rasa tenang, sampai-sampai kita lupa bahwa di luar sana ada dunia kerja yang tidak seramah angkringan.
Malang adalah guru bagi saya
Pada akhirnya, kedua kota ini memang punya tempatnya masing-masing dalam ingatan setiap perantau.
Jogja mungkin menjadi tempat terbaik untuk menyembuhkan luka, menikmati masa-masa muda yang syahdu, serta mengagumi seni dan kebudayaan yang mengalir tenang. Namun, bagi saya, jika ukurannya adalah kota mana yang benar-benar membedah cara hidup yang menggembleng mental agar tidak kaget saat dilepas ke dunia nyata yang penuh dengan kompetisi dan ketidakpastian, maka Malang adalah gurunya.
Sekali lagi, Jogja memberi saya kenangan tentang bagaimana menikmati hidup, sementara Malang memberi saya fondasi tentang bagaimana cara bertahan hidup. Dan, untuk urusan yang kedua itu, saya rasa tak ada kampus mana pun yang sanggup menyainginya.
Penulis: M. Afiqul Adib
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA 5 Hal Menarik di Malang yang Bikin Betah Nggak Mau Pulang.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.