Malang Hari Ini Adalah Definisi Cantik tapi Toxic: Dulu Malang Itu Sederhana, Menenangkan, dan Bikin Nyaman sekarang Ia Mentereng, Glamor, tapi Bikin Capek Hati

Malang Hari Ini Adalah Definisi Cantik tapi Toxic (Unsplash)

Malang Hari Ini Adalah Definisi Cantik tapi Toxic (Unsplash)

Sebagai seorang ibu dua anak yang sehari-hari berjibaku dengan paket olshop dan jemuran, saya punya hubungan love-hate relationship yang rumit dengan kota tempat saya tinggal ini: Malang.

Sebelumnya, Mojok menyebut Jombang sebagai “Kota Serba Nanggung“. Nah, sekarang, izinkan saya mendefinisikan Malang hari ini sebagai “Kota yang Mengalami Krisis Identitas Akut”.

Dulu, orang mengenal Malang sebagai Paris van East Java. Kota yang dingin, sejuk, gunung berdiri mengelilingi, dan ritme hidupnya lambat. Orang ke Malang untuk “ngadem”, untuk pensiun, atau kuliah dengan tenang. Tapi itu dulu, Kawan. Itu cerita di brosur pariwisata tahun 90-an.

Realitas Malang hari ini adalah simulasi Jakarta. Seakan-akan ada yang memindahkan kemcaten ke dataran tinggi dan hawa panas mendominasi. Kota Apel hari ini bukan lagi kota yang memelukmu dengan hawa dingin, melainkan kota yang mencekikmu dengan asap knalpot dan kebijakan tata kota yang membingungkan.

Baca juga Sisi Suram Kota Malang yang Membuatnya Red Flag Disinggahi untuk Healing, apalagi Tinggal

Mitos Malang itu “kota dingin” yang sudah basi

Mari kita bahas hal yang paling fundamental: Suhu.

Dulu, saya ingat betul, tidur di Malang tanpa selimut tebal adalah tindakan bunuh diri. Udara pagi bisa bikin tulang ngilu. Tapi sekarang? Kipas angin di rumah saya menyala 24 jam non-stop. AC bukan lagi barang mewah, tapi kebutuhan primer setara beras.

Pohon-pohon besar yang dulu memayungi jalanan Ijen atau Veteran, kini rasanya makin jarang. Berganti dengan ruko-ruko, beton, dan baliho caleg yang senyumnya maksa.

Sebagai lulusan Sastra Arab, saya jadi teringat sebuah mahfudzot (pepatah): “Laisa al-jamalu bi atswabi tuzayyinuna.” Kecantikan itu bukan dari pakaian yang menghiasi kita.

Malang sepertinya lupa pepatah itu. Ia sibuk “berdandan” dengan membangun Kayutangan Heritage yang lampu-lampunya mirip Malioboro KW Super. Namun, ia melupakan kecantikan alaminya: udaranya yang sejuk.

Hawa panas di kota saya ini sekarang terasa “jahat”. Bukan panas laut seperti Surabaya yang jujur, tapi panas “sumuk” (gerah/lembap) yang bikin emosi. Bayangkan saya harus COD (Cash On Delivery) gamis pesanan pelanggan di siang bolong, sambil gendong anak, di tengah kemacetan Dinoyo. Rasanya ingin berteriak dalam bahasa Arab Fusha saking frustrasinya.

Kayutangan Heritage adalah bencana lalu lintas

Pemerintah Kota Malang sepertinya terobsesi menjadikan kawasan Kayutangan sebagai ikon wisata baru. Mereka memperlebar trotoar, memasang lampu-lampu antik, ada musik jalanan, dan muncul kafe-kafe vintage.

Secara visual? Bagus. Instagramable. Cocok buat konten TikTok “A Day in My Life”.

Tapi secara fungsional bagi warga lokal? Bencana.

Penerapan sistem satu arah (One Way) di kawasan Kayutangan dan sekitarnya adalah ujian kesabaran tingkat dewa. Putarannya jauh minta ampun. Kalau kelewatan satu gang, Anda harus memutar keliling kota seperti sedang tawaf, tapi bukannya dapat pahala, malah dapat dosa karena misuh-misuh sepanjang jalan.

Bagi wisatawan, mungkin asyik jalan-jalan di sana. Tapi bagi kami, warga lokal dan kurir ekspedisi yang harus mengantar paket tepat waktu, kawasan itu adalah “Segitiga Bermuda”. Masuk sana, waktu terbuang, bensin habis, dan emosi terkuras.

Niatnya meniru Malioboro atau Braga, tapi lupa bahwa infrastruktur jalan penunjangnya tidak memadai. Akibatnya, macetnya mengular sampai ke jalan-jalan tikus.

Invasi kafe “industrial” dan UMR Malang yang menangis

Salah satu ciri paling mencolok dari Malang hari ini adalah pertumbuhan kafe yang tidak masuk akal. Hampir setiap minggu ada kafe baru. 

Konsepnya selalu sama: Industrial Unfinished. Tembok semen ekspos, kursi besi yang bikin pantat sakit, colokan listrik banyak, dan kopi susu gula aren yang harganya Rp25.000 (belum pajak).

Ini fenomena aneh. Malang adalah kota pelajar dengan UMR yang, mari jujur saja, cukup menyedihkan (sekitar Rp3,3 juta di 2025/2026). Tapi, banyak yang memaksa hidup gaya  metropolitan.

Siapa yang nongkrong di sana? Mahasiswa rantau yang uang sakunya tebal? Mungkin.

Tapi bagi warga lokal atau pekerja gaji UMR, keberadaan ratusan kafe ini menciptakan kesenjangan sosial yang nyata. Kami terjepit. Mau makan murah di warung tegal makin susah karena lahannya berubah jadi kafe. Mau makan di kafe, dompet berteriak.

Sebagai online shopper yang jualan barang receh, saya sering melihat kontras ini. Saya packing barang harga Rp50.000 dengan untung cuma Rp5.000 perak. Sementara itu, di seberang jalan, anak-anak muda menghabiskan Rp100.000 sekali duduk cuma buat ngobrol dan Wi-Fi gratis.

Ekonomi Malang tumbuh, katanya. Tapi tumbuh untuk siapa? Untuk investor kafe dari luar kota? Atau untuk warga aslinya yang makin terpinggirkan ke Kabupaten?

Macet Suhat dan Jembatan Tunggulmas yang Sia-sia

Mari bicara soal Jalan Soekarno-Hatta (Suhat). Ini adalah etalase kemewahan Malang sekaligus museum kemacetan abadi.

Setiap pagi dan sore, Jembatan Suhat adalah tempat parkir terpanjang di Jawa Timur. Mobil dan motor merayap. Suara klakson bersahutan. Polusi udara di sini mungkin sudah setara Jakarta Pusat.

Pemerintah membangun Jembatan Tunggulmas untuk mengurai kemacetan. Hasilnya? Kemacetannya cuma pindah lokasi. Malah menciptakan titik macet baru yang lebih crowded. Ini bukti bahwa solusi infrastruktur di Malang seringnya bersifat reaktif, bukan visioner. Kayak orang sakit kepala dikasih plester di kaki. Nggak nyambung.

Kota pendidikan yang kehilangan jiwa pendidikannya

Malang bangga dengan gelar “Kota Pendidikan”. Kampus-kampus raksasa seperti Universitas Brawijaya (UB) dan Universitas Negeri Malang (UM) ada di sini.

Setiap tahun, puluhan ribu mahasiswa baru datang. Ekonomi kos-kosan hidup, laundry kiloan panen raya, dan percetakan skripsi lembur.

Tapi dampak sosialnya juga terasa. Kepadatan penduduk melonjak drastis. Kondisi ini memaksa jalanan yang lebarnya segitu-gitu saja menampung volume kendaraan yang meledak. Perilaku berkendara makin agresif. Budaya “permisi” dan senyum ramah khas Malangan mulai terkikis oleh budaya klakson dan serobot jalanan.

Sebagai ibu, saya khawatir. Apakah anak-anak saya nanti masih bisa merasakan “Malang yang Santun”? Atau mereka akan tumbuh di kota yang individualis, di mana tetangga tidak saling kenal karena tembok kos-kosan eksklusif makin tinggi?

Baca juga Malang Dulu Ramah untuk Tempat Tinggal tapi Kini Sudah Hampir Mirip Jakarta Berkat Kemacetan dan Parkir Liar yang Menjadi Penyakit

Epilog: Tetap cinta Malang, tapi sambil sambat

Meskipun saya menulis esai ini dengan nada julid khas Mojok, saya tidak munafik.

Saya masih mencintai bakso Malang yang gerobaknya ada di pinggir jalan (bukan yang di ruko mahal). Susah untuk tidak mencintai suasana sore di Alun-Alun (kalau pas sepi). Saya masih mencintai bahasa Walikan (Kera Ngalam) yang unik itu.

Malang bagi saya seperti mantan pacar yang sudah glow up tapi jadi sombong dan toxic. Dulu dia sederhana, menenangkan, dan bikin nyaman. Sekarang dia mentereng, glamor, tapi bikin capek hati.

Kita bertahan di Malang bukan karena kotanya makin nyaman, tapi karena kenangannya yang terlalu sulit ditinggalkan. Atau dalam kasus saya, karena suami kerjanya di sini dan lapak jualan saya alamatnya sudah terlanjur dikenal kurir ekspedisi sini.

Jadi, buat kalian yang berencana liburan ke Malang atau kuliah di sini, minimal siapkan mental. Jangan bawa ekspektasi “dingin” dan “tenang” itu. Bawa saja kipas angin portable, masker anti-polusi, dan stok kesabaran seluas Samudra Hindia.

Selamat datang di Malang, kota yang sedang mencari jati diri di antara tumpukan beton dan kemacetan yang tak berujung.

Oyi, sam!

Penulis: Fauzia Sholicha

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Kota Malang Itu Bukan Kota Slow Living, tapi Slow Motion

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version