Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kuliner

Makan Nasi Padang Pakai Sendok Itu Bukan Dosa dan Tidak Melanggar Hukum!

Budi oleh Budi
8 Oktober 2025
A A
Nasi Padang Keliling: Makan Enak Nggak Harus di Rumah Makan

Nasi Padang Keliling: Makan Enak Nggak Harus di Rumah Makan (Pinerineks via Wikimedia Commons)

Share on FacebookShare on Twitter

Ada satu kebiasaan saya yang sering bikin orang lain tiba-tiba berubah jadi polisi kuliner dadakan. Setiap kali saya makan nasi padang, entah di warung nasi padang biasa atau rumah makan legendaris yang rame pengunjung, saya pasti pakai sendok dan garpu. Nah, kebiasaan ini entah kenapa kadang dianggap aneh, bahkan ada yang sampai nyeletuk kalau cara saya salah.

Katanya, kalau makan nasi padang nggak pakai tangan langsung itu belum kaffah. Belum sah. Belum benar-benar menikmati esensi nasi padang yang katanya paling nikmat kalau dijamah jari.

Saya suka heran juga. Masa iya cara makan bisa sampai dituding-tuding segala. Padahal kan ujung-ujungnya nasi juga masuk ke perut. Lagi pula, yang bayar piring nasi rendang itu kan saya sendiri, bukan mereka.

Sendok dan garpu adalah jalan keselamatan makan nasi padang

Bagi saya, sendok dan garpu adalah penyelamat. Terutama buat orang yang nggak mau ribet dan pengen makan dengan cepat, rapi, dan nggak belepotan. Coba bayangkan, di depan ada nasi padang dengan kuah gulai yang tumpah ruah, lalu ada sambal hijau yang mengintai di sudut piring.

Kalau saya makan pakai tangan, bisa dipastikan jari akan penuh minyak, kuku bisa merah kena sambal, bahkan lengan bisa belepotan kuah gulai. Bukan cuma soal jorok atau ribet, tapi setelahnya saya harus repot lagi cari wastafel, sabun, atau minimal tisu basah buat membersihkan tangan.

Sementara kalau pakai sendok dan garpu, semua tertangani dengan elegan. Saya bisa memotong ayam pop tanpa harus berjuang dengan tulang, bisa mengambil daun singkong tanpa tercecer, bahkan bisa mengatur porsi sambal dengan pas. Satu suapan bisa terukur rapi. Nasi, kuah gulai, rendang, dan sambal hijau bisa masuk mulut dalam harmoni sempurna.

Bagi saya, justru sendok membuat pengalaman makan nasi padang lebih adil. Semua rasa bertemu di satu sendokan, tanpa ada yang mendominasi. Kalau pakai tangan, sering kali gulai kebanyakan, atau sambal lebih dulu kena lidah sebelum nasi.

Bukan soal malu atau hina

Yang bikin saya sering geleng-geleng adalah ketika ada orang yang nyeletuk seolah-olah makan nasi padang pakai sendok itu memalukan. Katanya kayak orang kota yang nggak ngerti adat, katanya kayak sok bersih. Padahal kan nggak juga. Saya pakai sendok bukan karena gengsi, bukan karena jijik sama makanan, apalagi takut kotor. Saya cuma merasa lebih nyaman. LEBIH NYAMAN.

Baca Juga:

4 Alasan Makan Nasi Padang Lebih Masuk Akal daripada Makan di Angkringan  

9 Ciri Warung Nasi Padang yang Sudah Pasti Enak dan Bikin Balik Lagi

Kalau soal tradisi, ya tentu saya menghargai. Saya tahu betul kalau makan pakai tangan punya filosofi tersendiri. Ada orang yang percaya bahwa sentuhan tangan bikin makanan lebih nikmat, ada juga yang merasa itu cara paling alami. Saya tidak menolak semua itu. Hanya saja, saya punya preferensi sendiri. Sama kayak orang suka makan sate pakai bumbu kacang atau bumbu kecap. Dua-duanya sah. Iya tho?

Jadi kenapa kalau urusan nasi padang, tiba-tiba pilihan saya pakai sendok dianggap salah. Bukankah setiap orang punya hak menikmati makanan dengan cara yang bikin dia bahagia?

Sendok adalah penyeimbang

Saya percaya, nasi padang itu makanan luar biasa. Dia lahir dari tradisi, tapi bisa diterima oleh lidah siapa pun, dari orang kampung sampai orang yang biasa makan di restoran bintang lima. Nah, keberagaman cara makan juga wajar saja mengikuti. Di satu sisi ada orang yang tetap setia pakai tangan, di sisi lain ada yang merasa lebih gampang dengan sendok.

Bukankah itu justru membuktikan betapa fleksibelnya nasi padang. Dia bisa diakses semua kalangan, semua budaya, bahkan semua gaya makan. Sendok di sini bukan musuh tradisi, tapi justru penyeimbang. Dia membuka jalan supaya orang yang belum terbiasa makan pakai tangan tetap bisa menikmati nasi padang tanpa minder atau takut salah.

Kalau dibilang sendok mengurangi kenikmatan, saya rasa itu cuma sugesti. Lidah saya tetap bisa merasakan rendang yang gurih, kuah gulai yang harum rempah, atau sambal hijau yang pedasnya merayap. Kenikmatan itu ada di rasa, bukan di jari yang belepotan minyak.

Mari berlogika sejenak

Saya coba ajak berpikir sebentar. Kalau makan pakai tangan itu wajib, kenapa di setiap rumah makan padang tetap disediakan sendok dan garpu. Mereka tentu tahu bahwa tamu datang dengan kebiasaan berbeda. Ada yang terbiasa makan dengan tangan, ada yang tidak.

Saya sendiri tumbuh di lingkungan yang lebih sering makan pakai sendok. Bukan berarti saya anti makan pakai tangan langsung, tapi refleks saya selalu ke sendok dulu. Apalagi di tempat umum. Saya merasa lebih praktis dan lebih percaya diri. Karena jujur saja, tidak semua orang bisa makan pakai tangan dengan rapi. Ada yang tangannya belepotan sampai lengan, ada yang nasinya jatuh-jatuh, ada pula yang kesulitan mencubit nasi dengan lauk dalam sekali suap. Jadi kenapa harus memaksa kalau ternyata sendok bisa mempermudah.

Lagi pula, sendok itu juga bagian dari evolusi manusia dalam makan. Dari zaman batu yang mungkin makan langsung dengan tangan, lalu lahirlah sendok, garpu, sumpit, pisau. Semua itu kan alat bantu. Jadi salah apa kalau saya memilih memanfaatkan alat bantu itu.

Menghargai pilihan cara makan nasi padang masing-masing

Saya tidak pernah menyalahkan orang yang makan nasi padang pakai tangan. Itu hak mereka. Kalau mereka merasa lebih nikmat, ya silakan saja. Tapi sebaliknya, saya juga ingin hak saya dihargai. Jangan sampai hanya karena pakai sendok, saya dicap salah, dianggap ngelakuin dosa kuliner, atau malah ditertawakan.

Makan itu urusan personal. Tujuannya bikin perut kenyang, hati senang, dan pikiran tenang. Kalau sudah begitu, apa lagi yang mau diperdebatkan. Jangan sampai nasi padang yang harusnya jadi sumber kebahagiaan malah jadi bahan perdebatan yang nggak penting.

Jadi kalau ada yang masih nyinyir soal cara makan saya, silakan saja. Toh lidah saya tetap bahagia, perut saya tetap kenyang, dan dompet saya tetap rela membayar. Makan nasi padang pakai sendok itu bukan dosa, bukan hinaan, bukan pula pengkhianatan tradisi. Itu hanya soal pilihan, dan pilihan saya jelas.

Bagi saya, sendok adalah sebaik-baiknya cara menikmati nasi padang. Titik.

Penulis: Budi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 9 Ciri Warung Nasi Padang yang Sudah Pasti Enak dan Bikin Balik Lagi

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 8 Oktober 2025 oleh

Tags: cara makan nasi padangmakan nasi padang pakai sendokNasi Padangnasi padang terenak di jawanasi padang terenak di jogja
Budi

Budi

Seorang montir tinggal di Kudus yang juga menekuni dunia kepenulisan sejak 2019, khususnya esai dan fiksi. Paling suka nulis soal otomotif.

ArtikelTerkait

5 Kesalahan ketika Makan Nasi Padang yang Sering Dilakukan Orang Mojok.co

5 Kesalahan yang Sering Dilakukan Orang ketika Makan Nasi Padang

27 September 2024
Rekomendasi 3 Makanan yang Bisa Dijadikan Waffle oleh William Gozali terminal mojok

Rekomendasi 3 Makanan yang Bisa Dijadikan Waffle oleh William Gozali

27 Juli 2021
Nasi Padang Makanan Mewah, Harganya Mahal Nggak Masalah (Unsplash)

Nasi Padang Seharusnya Tetap Menjadi Makanan Mewah, Harganya Mahal Nggak Masalah

17 April 2025
Nasi Kandar dan Nasi Padang, Serupa Bentuknya, Serupa Rasanya

Nasi Kandar dan Nasi Padang, Serupa Bentuknya, Serupa Rasanya

1 Desember 2023
5 Hal yang Bikin Pelanggan Kesal Saat Beli Nasi Padang

5 Hal yang Bikin Pelanggan Kesal Saat Beli Nasi Padang

10 Maret 2023
5 Alasan di Balik Nasi Padang yang Ngangenin dan Bikin Kita Pengin Terus Menyantapnya Terminal Mojok

5 Alasan di Balik Nasi Padang yang Ngangenin dan Bikin Kita Pengin Terus Menyantapnya

23 April 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Turunan Muria: Jalur Tengkorak yang Semua Orang Tahu, tapi Seolah Dibiarkan Merenggut Korban

Turunan Muria: Jalur Tengkorak yang Semua Orang Tahu, tapi Seolah Dibiarkan Merenggut Korban

19 Februari 2026
Orang Purwokerto Adalah Manusia Paling Sombong di Banyumas (Wikimedia Commons)

Orang Purwokerto Adalah Manusia Paling Sombong se-Kabupaten Banyumas

15 Februari 2026
4 Gudeg Jogja yang Rasanya Enak dan Cocok di Lidah Wisatawan

Gudeg Jogja Pelan-Pelan Digeser oleh Warung Nasi Padang di Tanahnya Sendiri, Sebuah Kekalahan yang Menyedihkan

18 Februari 2026
Imlek 2026 Kenangan Simbah Mensyukuri Dodol sebagai Rezeki (Wikimedia Commons)

Imlek 2026 Menjadi Kenangan Manis akan Usaha Simbah Menurunkan Kasta Dodol sebagai Upaya Berterima Kasih kepada Rezeki

17 Februari 2026
4 Makanan Khas Jawa Tengah Paling Red Flag- Busuk Baunya! (Wikimedia Commons)

4 Makanan Khas Jawa Tengah yang Paling Red Flag, Sebaiknya Tidak Perlu Kamu Coba Sama Sekali kalau Tidak Tahan dengan Aroma Menyengat

17 Februari 2026
Liburan ke Jakarta Bikin Saya Makin Cinta Semarang dan Bersyukur Kuliah di Sana

Liburan ke Jakarta Bikin Saya Makin Cinta Semarang dan Bersyukur Kuliah di Sana

19 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Saudara Kandung di Desa Itu Bak Mafia, Justru Jadi Orang Paling Busuk dan Licik demi Sikat Sertifikat Tanah Saudara Sendiri
  • Ramai, ‘Cukup Aku Saja yang WNI’: Saya Justru Bangga Melepas Status Warga Negara Austria Demi Paspor Indonesia
  • Menapaki Minaret Pertama di Indonesia untuk Mendalami Pesan Tersirat Sunan Kudus
  • Rasanya Tinggal di Kos “Medioker” Jogja: Bayar Mahal, tapi Nggak Dapat Sinar Matahari
  • Beli Vespa Mahal-mahal sampai Rp50 Juta, tapi Tak Paham Fungsinya, Dibeli karena Warnanya Lucu
  • Pengalaman Nekat 24 Jam Naik Kereta Api Jogja-Jakarta, Cuma Habis Rp80 Ribuan tapi Berujung Meriang dan Dihina “Miskin”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.