Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Pendidikan

Makan Bergizi Gratis: Ketika yang Gratis Justru Bikin Masuk Rumah Sakit

Ibrayoga Rizki Perdana oleh Ibrayoga Rizki Perdana
26 September 2025
A A
Makan Bergizi Gratis Tujuannya Bikin Kita Masuk Rumah Sakit (Unsplash)

Makan Bergizi Gratis Tujuannya Bikin Kita Masuk Rumah Sakit (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) itu niatnya mulia. Sangat mulia. 

Memberi makan anak-anak sekolah biar nggak belajar sambil lapar, biar tumbuh sehat, biar masa depan bangsa nggak cuma kenyang janji tapi juga kenyang gizi. Tapi seperti banyak hal mulia lainnya di negeri ini, pelaksanaannya kadang bikin kita pengin tepuk jidat pakai panci.

Belum lama ini, program Makan Bergizi Gratis bikin geger. Bukan karena porsinya kurang, tapi karena makanannya bikin anak-anak masuk rumah sakit. Keracunan massal. Yang harusnya jadi sarapan sehat, malah jadi tiket ke IGD. Yang harusnya jadi bukti kehadiran negara, malah jadi bukti bahwa negara kadang hadir dengan cara yang bikin mules.

Nah, kalau kita mau jujur, insiden ini bukan sekadar soal makanan basi atau dapur yang nggak steril. Ini soal cara negara bikin kebijakan: dari atas ke bawah, dari elite ke rakyat, dari ruang rapat ke ruang kelas, tanpa tanya dulu, “Eh, kalian maunya gimana?”

Rakyat hanya sebatas objek program Makan Bergizi Gratis, bukan subjek

Dalam teori kebijakan publik, ada yang namanya Responsive Governance. Intinya, pemerintah yang baik itu bukan cuma ngasih, tapi juga ngajak ngobrol. 

Bukan cuma bikin program, tapi juga dengerin yang bakal kena dampaknya. Tapi Makan Bergizi Gratis ini kayak pacar yang sok perhatian: ngasih makan tiap hari, tapi nggak pernah nanya, “Kamu suka rendang atau malah alergi telur?”

Program ini lahir dari janji kampanye. Desainnya sentralistik, teknokratis, dan sangat ambisius. Targetnya: jutaan porsi makanan per hari. Hebat, sih. Tapi fokusnya cuma di angka. Output, bukan outcome. Yang penting makanan nyampe, soal anak-anak muntah atau nggak, itu urusan belakangan.

Anak-anak sekolah, orang tua, guru, bahkan UMKM penyedia makanan, semuanya diposisikan sebagai “target” Makan Bergizi Gratis. Bukan mitra, bukan pemilik program, tapi objek keracunan. 

Baca Juga:

MBG Menguntungkan Akar Rumput Katamu? Coba Tanya Pedagang, Jawabannya Tak Seperti Ekspektasimu

MBG di TK: Niat Baik yang Realitasnya Cuma Bikin Ribet

Mereka cuma angka dalam laporan penyerapan anggaran. Padahal, kalau mau program ini awet dan nggak bikin trauma makan siang, ya harusnya mereka diajak mikir bareng dari awal.

UMKM: Ditekan, bukan diberdayakan

Salah satu janji Makan Bergizi Gratis adalah memberdayakan UMKM. Tapi kenyataannya, banyak UMKM yang malah megap-megap. 

Mereka ditekan dengan pesanan besar, tenggat waktu mepet, dan standar yang kadang nggak jelas. Pelatihan keamanan pangan? Ada sih, tapi kadang cuma formalitas. Yang penting bisa masak banyak, soal higienis atau nggak, itu urusan nanti kalau ada yang keracunan.

UMKM jadi vendor, bukan mitra. Mereka disuruh produksi, bukan diajak diskusi. Padahal, kalau mau makanan bergizi dan aman, ya harusnya UMKM lokal dilibatkan sebagai bagian dari komunitas. Bukan cuma sebagai tukang masak dadakan untuk Makan Bergizi Gratis.

Makan Bergizi Gratis adalah simbolisme politik dan legitimasi yang rapuh

Makan Bergizi Gratis juga punya fungsi politik. Makanan gratis itu simbol kehadiran negara. Bukti bahwa pemerintah peduli. Tapi ketika makanan gratis itu bikin anak-anak masuk rumah sakit, simbol itu runtuh. Yang tadinya jadi alat legitimasi, malah jadi bumerang.

Distribusi massal makanan jadi panggung politik. Yang penting program terlihat jalan, bukan apakah anak-anak benar-benar dapat makanan yang layak. Ini kayak pesta ulang tahun yang heboh, tapi kue ulang tahunnya bikin diare.

Respons pemerintah terhadap insiden keracunan pun cenderung reaktif. Bikin tim investigasi, nyalahin oknum penyedia, janji akan perbaiki. 

Tapi, semua itu terjadi setelah ratusan anak jatuh sakit. Kenapa nggak dicek dulu sebelum makanan dibagikan? Kenapa nggak ada sistem pengawasan yang melibatkan orang tua dan sekolah untuk Makan Bergizi Gratis ini?

Narasi resmi pemerintah juga cenderung meremehkan. “Hanya sebagian kecil yang keracunan”, katanya. Padahal, satu anak keracunan pun sudah cukup bikin satu keluarga trauma. Ini bukan soal statistik, ini soal nyawa dan kepercayaan.

Solusi: Kantin sekolah dan kedaulatan komunitas

Kalau mau Makan Bergizi Gratis ini sukses dan nggak bikin trauma makan siang berjamaah, solusinya sederhana: kembalikan kedaulatan ke sekolah dan komunitas. Setiap sekolah sebaiknya punya kantin sendiri. Dikelola oleh komunitas sekolah, diawasi oleh orang tua, dan diberdayakan oleh UMKM lokal yang mereka percaya.

Dengan kantin sekolah, kontrol kualitas bisa lebih ketat. Menu bisa disesuaikan dengan budaya lokal. Dan yang paling penting, anak-anak bisa belajar soal gizi dan kebersihan dari tempat mereka makan setiap hari. Nggak cuma makan, tapi juga paham apa yang mereka makan.

Pemerintah pusat cukup jadi fasilitator. Bikin standar, kasih pendampingan, dan biarkan sekolah menentukan sendiri siapa yang masak buat anak-anak mereka. Jangan semua disentralisasi. Karena yang tahu kondisi lapangan program Makan Bergizi Gratis itu bukan pejabat di Jakarta, tapi guru dan orang tua di sekolah.

Dari proyek politik ke gerakan publik

Makan Bergizi Gratis bisa jadi tonggak revolusi gizi anak bangsa. Tapi hanya kalau dijalankan sebagai gerakan publik, bukan proyek politik. Tragedi keracunan adalah alarm keras bahwa pendekatan teknokratis dan simbolik telah gagal.

Saatnya mengembalikan kedaulatan kepada masyarakat. Jadikan mereka mitra aktif, bukan sekadar penerima pasif. Karena gizi anak bukan soal angka, tapi soal masa depan bangsa. Dan masa depan itu nggak boleh dibangun di atas nasi kotak yang basi.

Penulis: Ibrayoga Rizki Perdana

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA MBG Harusnya Dihentikan karena Bukannya Memperbaiki Gizi, tapi Malah Meracuni Siswa dan Orang Tua Dibungkam

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 26 September 2025 oleh

Tags: keracunan massal MBGkeracunan MBGmakan bergizi gratismakan gratismbgMBG basiprogram makan bergizi gratis
Ibrayoga Rizki Perdana

Ibrayoga Rizki Perdana

Mahasiswa Magister Politik dan Pemerintahan di Universitas Gadjah Mada dengan ketertarikan mendalam pada dinamika isu sosial dan politik. Di luar kegiatan akademis, aktif menekuni seni bela diri Pencak Silat, serta memiliki hobi berpetualang dan memasak.

ArtikelTerkait

Mengenal SS 201, Terduga Bahan Nampan MBG yang Berbahaya dan Berpotensi Haram TK

Mengenal SS 201, Terduga Bahan Nampan MBG yang Berbahaya dan Berpotensi Haram

29 Agustus 2025
Tragedi MBG di Sleman Adalah Dosa Pemerintah Pusat pada Kota Pendidikan

Tragedi Rawon Maut di Sleman Adalah Dosa Pemerintah Pusat pada Kota Pendidikan

23 Agustus 2025
Menggunakan Dana Pribadi untuk Program Makan Bergizi Gratis Itu Bukan Heroik, tapi Tanda Buruknya Tata Kelola Kebijakan di Pemerintahan

Menggunakan Dana Pribadi untuk Program Makan Bergizi Gratis Itu Bukan Heroik, tapi Tanda Buruknya Tata Kelola Kebijakan di Pemerintahan

15 Januari 2025
Mengenal SS 201, Terduga Bahan Nampan MBG yang Berbahaya dan Berpotensi Haram TK

MBG Menguntungkan Akar Rumput Katamu? Coba Tanya Pedagang, Jawabannya Tak Seperti Ekspektasimu

7 Oktober 2025
Pengalaman Keracunan MBG: Malas Sekolah hingga Trauma Mendapatkan Makanan Gratis

Pengalaman Keracunan MBG: Malas Sekolah hingga Trauma Mendapatkan Makanan Gratis

5 Mei 2025
Prabowo Bikin Rakyat Bertepuk Sebelah Tangan di Hari Valentine (Pexels)

Ketika Prabowo Bikin Rakyat Bertepuk Sebelah Tangan di Hari Valentine

14 Februari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pengalaman Tertipu Beli Durian di Wonosalam, Pusatnya “Raja Buah” di Jombang Mojok.co

Pengalaman Tertipu Beli Durian di Wonosalam, Pusatnya “Raja Buah” di Jombang

7 Januari 2026
5 Hal yang Bikin Orang Kebumen Terlihat Santai, padahal Sebenarnya Sedang Bertahan Hidup

5 Hal yang Bikin Orang Kebumen Terlihat Santai, padahal Sebenarnya Sedang Bertahan Hidup

9 Januari 2026
Menjadi Perawat di Indonesia Adalah Kursus Sabar Tingkat Dewa: Gaji Tak Sebanding dengan Beban Kerja yang Tak Manusiawi

Menjadi Perawat di Indonesia Adalah Kursus Sabar Tingkat Dewa: Gaji Tak Sebanding dengan Beban Kerja yang Tak Manusiawi

5 Januari 2026
Lulusan S2 Nelangsa dan Ijazahnya Tak Lagi Bisa Diharapkan (Unsplash)

Lulusan S2 Nelangsa dan Ijazahnya Tak Lagi Jadi Harapan, Bikin Saya Juga Ingin Bilang kalau Kuliah Itu Scam

9 Januari 2026
Alasan Booth Nescafe di Kulon Progo Selalu Ramai, padahal Cuma Kecil dan Menunya Itu-Itu Saja Mojok.co

Alasan Booth Nescafe Bisa Jadi Primadona Ngopi Baru di Kulon Progo

6 Januari 2026
Tak Ada Mie Instan yang Tetap Enak Dimakan Mentah selain Mie Sedaap Goreng

Tak Ada Mie Instan yang Tetap Enak Dimakan Mentah selain Mie Sedaap Goreng

4 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Lalu-lalang Bus Pariwisata Jadi “Beban” bagi Sumbu Filosofi Jogja, Harus Benar-benar Ditata
  • Sensasi Pakai MY LAWSON: Aplikasi Membership Lawson yang Beri Ragam Keuntungan Ekslusif buat Pelanggan
  • Super Flu yang Muncul di Jogja Memang Lebih Berat dari Flu Biasa, tapi Beda dengan Covid-19
  • Derita Anak Bungsu Saat Kakak Gagal Penuhi Harapan Orang tua dan Tak Lagi Peduli dengan Kondisi Rumah
  • Nasib Sarjana Kini: Masuk 14 Juta Pekerja Bergaji di Bawah UMP, Jadi Korban Kesenjangan Dunia Kerja
  • Mengajari Siswa Down Syndrome Cara Marah, karena Dunia Tidak Selalu Ramah

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.