Di Universitas Terbuka (UT), kelulusan sering kali tidak dimaknai sebagai ajang pamer, melainkan sebagai satu tahap penting untuk bertahan hidup…
Kelulusan sering dianggap sebagai momen paling membahagiakan dalam hidup mahasiswa. Ada toga, bunga, keluarga datang, lalu foto-foto dipamerkan di Instagram, masuk Reels, lanjut ke TikTok. Wisuda jadi semacam panggung kecil untuk merayakan keberhasilan, sekaligus bukti bahwa perjuangan selama kuliah akhirnya berbuah manis.
Akan tetapi tidak semua orang bisa, atau mau, merayakan kelulusan dengan cara seperti itu. Di Universitas Terbuka (UT), kelulusan sering kali tidak dimaknai sebagai ajang pamer, melainkan sebagai satu tahap penting untuk bertahan hidup. UT bukan sekadar tempat “mencari jati diri”, tapi tempat orang mencoba lulus dengan meraih gelar sarjana demi mempertahankan hidup, pekerjaan, dan masa depan yang lebih baik.
Proses kelulusan mahasiswa UT yang mendebarkan
Setelah dinyatakan lulus, mahasiswa UT sebenarnya punya beberapa opsi untuk mengambil ijazah: ikut wisuda di UT Pusat, mengikuti wisuda UT Daerah, atau mengambil ijazah langsung di UT Daerah setelah pelaksanaan wisuda. Secara administratif, semua sah dan legal. Tapi dalam praktiknya, ikut wisuda bukan perkara sederhana.
Selain mengorbankan waktu, tentunya proses wisuda itu tentunya mengorbankan biaya. Untuk program diploma dan sarjana, biayanya sekitar Rp750 ribu. Untuk pascasarjana, bisa sampai Rp1 juta. Angka itu mungkin tidak terasa besar bagi sebagian orang, tapi bagi mahasiswa UT yang sebagian besar sudah bekerja dan punya tanggungan keluarga, uang segitu bukan hal remeh.
Tak heran kalau banyak yang memilih tidak ikut wisuda. Bukan karena tidak bangga, tapi karena ada prioritas lain yang lebih mendesak. Misalnya bayar kontrakan, cicilan motor, uang sekolah anak, atau sekadar menutup kebutuhan hidup bulan itu. Toga bisa ditunda, tapi dapur tidak bisa.
Mahasiswa UT memang didominasi oleh mereka yang sudah lebih dulu terjun ke dunia kerja. Banyak yang kuliah sambil jadi karyawan, guru honorer, tenaga administrasi, bahkan ASN. Ada survei yang menyebutkan sebanyak 75% mahasiswa UT sudah bekerja sebelum kuliah. Artinya, kampus ini bukan sekedar tempat orang “mencari jati diri dan mencoba-coba hidup”, tapi tempat orang memperbaiki hidup yang sudah berjalan.
Di sesi tuton (tutorial online) saya merasakan sendiri ada beberapa kawan seperjuangan yang mengalami struggle baru bisa belajar setelah bekerja, ada yang hanya bisa mengejar perkuliahan di weekend setelah mengurus kerjaan dan keluarga, bahkan ada yang baru belajar mendekati UAS dengan target yang penting nggak mengulang mata kuliah.
Gelar untuk bertahan hidup
Jika di kampus negeri lain bangku kuliah adalah tiket untuk mendapatkan pekerjaan pertama. Maka gelar sarjana dari Universitas Terbuka (UT) bagi para mahasiswanya yang sudah bekerja adalah tiket untuk kesempatan bekerja yang lebih baik demi menaikkan taraf hidup.
Karena itu pula, bagi sebagian mahasiswa UT, yang penting bukan pengalaman wisuda, tapi ijazahnya. Asli. Bisa dipakai buat daftar kerja, naik jabatan, atau ikut seleksi tertentu.
Saya punya teman di jurusan Manajemen yang bekerja di salah satu BUMN. Sejak awal kuliah targetnya sederhana: lulus tepat waktu, IP aman, lalu pindah dari bagian lapangan ke bagian kantor. Ada juga guru honorer yang kuliah di UT supaya bisa memenuhi syarat ikut seleksi PPPK atau PPG.
Di sisi lain, ada ASN yang mengejar alih jenjang dari golongan dua ke golongan tiga. Bagi mereka, gelar bukan sekadar titel di belakang nama, tapi tiket untuk bertahan di sistem yang mensyaratkan ijazah sebagai pintu naik kelas.
Di titik ini, Universitas Terbuka terasa berbeda dari banyak kampus negeri lain. Kalau kampus reguler sering diposisikan sebagai tempat membentuk fresh graduate yang “siap pakai”, UT justru lebih mirip tempat sertifikasi bagi mereka yang sudah lama berkecimpung di dunia kerja.
Mahasiswanya tidak sedang belajar hidup, tapi sedang menyesuaikan diri agar tetap bisa hidup di tengah tuntutan administratif negara dan pasar kerja. Bukan berarti perjuangan mereka lebih mulia, tapi jelas berbeda.
Kelulusan tidak mengubah hidup secara instan, tapi setidaknya memberi satu alat tambahan untuk bertahan sedikit lebih lama dan, semoga, sedikit lebih baik.
Proses tersendiri yang tak menyendiri
Di UT, toga mungkin tidak selalu jadi simbol kemenangan. Kadang, yang paling penting justru selembar ijazah yang bisa dilaminating dan disimpan rapi di map cokelat. Bukan untuk dipajang di dinding, tapi untuk dibawa saat melamar pekerjaan yang lebih mapan dan nyaman atau mengurus kenaikan pangkat.
Dan di situlah letak kejujuran cerita mahasiswa UT. Banyak yang lulus dari kampus ini bukan untuk pamer, tapi untuk bertahan hidup.
Penulis: Faris Firdaus Alkautsar
Editor: Intan Ekapratiwi
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
