Informasi
ADVERTISEMENT

Mahasiswa Universitas Al-Azhar Mesir bingung melanjutkan hidup setelah lulus

Mahasiswa Universitas Al-Azhar Mesir bingung melanjutkan hidup setelah lulus Mojok

“Habis LC (Licentiate) mau gimana?” Pertanyaan itu sering saya lontarkan ke teman seangkatan yang lulus tahun ini. Asal tahu saja, LC atau Licentiate adalah gelar setara sarjana S1 yang biasa disandang oleh lulusan perguruan tinggi di Timur Tengah. Kebetulan, saat ini saya sedang menempuh studi di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. 

Pertanyaan itu muncul begitu saja. Bukan karena saya kepo atau terlalu peduli dengan hidup mereka ya. Saya bertanya karena saya pun belum punya jawaban yang pasti soal kehidupan setelah kuliah, ya mirip seperti banyak mahasiswa di tanah air. 

Asal tahu saja, kehidupan perkuliahan di Al-Azhar tidak sibuk seperti bayangan banyak orang. Tidak ada dosen yang menghitung presensi mahasiswa. Pun tidak ada kewajiban duduk di kelas sepanjang semester. Begitu pula dengan deadline pengumpulan makalahn hingga KKN, semua itu begitu longgar, nyaris tidak ada. 

Mahasiswa Al-Azhar memang dibebaskan. Bahkan, saking bebasnya, ada mahasiswa yang lebih menguasai spot plesir Instagramable daripada denah kampus sendiri. Di sini, selama masih mampu melewati ujian dengan nilai yang cukup, mahasiswa punya cukup banyak ruang untuk mengatur hidupnya sendiri.

Itu mengapa, banyak dari kami lebih sering ditemukan di luar ruang kelas mengikuti kajian hingga mengurus organisasi. Ada pula yang bekerja paruh waktu, membimbing jamaah umrah, atau sekadar nongkrong di kedai teh.Mahasiswa Al-Azhar memang punya cukup banyak waktu untuk menjadi apa saja, setidaknya sebelum pertanyaan tentang masa depan datang menghampiri.

Mahasiswa Al-Azhar terlalu bebas, malah jadi bingung sendiri

Persoalannya kebebasan yang dimiliki mahasiswa Al-Azhar tidak otomatis membuat masa depan menjadi lebih jelas. Semakin dekat dengan kelulusan, pertanyaan yang muncul bukan lagi info talkhisan atau jadwal ujian sudah turun, melainkan rencana hidup setelah lulu. 

Pertanyaan tersebut tidak selalu mudah dijawab oleh mahasiswa yang sejak awal masuk Al-Azhar untuk menjadi ahli agama, guru, atau pendakwah. Di tengah dunia kerja yang semakin menuntut kemampuan teknis, pengalaman profesional, dan keterampilan yang bisa langsung digunakan, ijazah ilmu keislaman tidak selalu menjadi tiket masuk yang cukup.

Tentu, tidak semua lulusan Al-Azhar harus menjadi dai. Ada yang ingin berkarier di perusahaan, menjadi ASN, akademisi, pengusaha, atau profesional di bidang lain. Namun, keinginan untuk bekerja di luar jalur dakwah tak selalu diiringi jalur yang jelas. Pengalaman membutuhkan kesempatan, sementara kesempatan pertama sering kali justru mensyaratkan pengalaman yang belum dimiliki. Belum lagi urusan ijazah yang kadang belum usai ketika wisuda berakhir.

Di samping antrean pencetakan ijazah yang panjang karena jumlah mahasiswa yang fantastis, ada proses legalisasi, penyetaraan, dan berbagai persyaratan administratif lain. Semua itu diperlukan demi bisa digunakan dalam konteks tertentu di Indonesia. Rasanya seperti sudah menyelesaikan ujian akhir, tetapi masih harus melewati beberapa tahap tambahan sebelum resmi menjadi pengangguran berijazah.

Kebanyakan lanjut pascasarjana

Mungkin itu pula sebabnya melanjutkan ke jenjang pascasarjana terasa sebagai pilihan yang masuk akal bagi sebagian mahasiswa Al-Azhar, termasuk seorang kawan saya. Bukan semata-mata karena haus ilmu, melainkan karena pendidikan lanjutan di sini terasa lebih masuk akal dibanding harus berjibaku di pasar kerja dengan pengalaman profesional yang pas-pasan.

Kami belajar bertahun-tahun demi selembar ijazah, lalu menyadari bahwa ijazah saja belum tentu cukup untuk diperhitungkan. Seusai mengejar gelar, kami kembali mengejar keterampilan tambahan. Pada akhirnya, menjadi mahasiswa Al-Azhar terasa seperti sebuah status yang tak bisa sepenuhnya usai ketika wisuda.

Jadi, kalau ada yang bertanya, apakah kuliah di Al-Azhar itu sulit, jawabannya mungkin tergantung pada definisi sulit itu sendiri. Menghafal dan memahami pelajaran lalu melewati ujian tentu bukan perkara sederhana. Namun, bagi sebagian mahasiswa, ujian sesungguhnya justru baru dimulai setelah semuanya dinyatakan lulus. 

Penulis: Muhammad Iqbal Fawwazi
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA 11 alasan yang bikin orang berpikir dua kali sebelum mendaftar SMK Jurusan Tata Boga.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 29 September 2026 oleh .

Muhammad Iqbal Fawwazi

Seorang perantau asal Surabaya yang membawa semangat ke tanah orang. Bukan sekadar berpindah tempat, ia adalah seorang pembelajar yang haus akan pengetahuan