Beasiswa salah satu “jalan ninja” mahasiswa untuk bisa bertahan di bangku kuliah. Biaya kuliah sekarang ini memang tidak murah. Tidak hanya UKT-nya, tapi juga biaya-biaya lain agar bisa menempuh studi dengan tenang.
Bagi mereka yang kurang mampu, banyak beasiswa tersedia. Baik beasiswa yang digagas oleh negara, kampus, maupun instansi swasta. Mereka yang hendak mendaftar biasanya harus menyertakan sederet persyaratan yang menunjukkan dirinya berasal dari keluarga tidak mampu. Syarat-syarat yang tidak dimiliki oleh mahasiswa dari keluarga tanggung.
Itulah yang jadi problem. Mahasiswa tanggung tidak memenuhi syarat untuk tergolong kurang mampu, tapi kehidupan studi mereka cukup berat tanpa kehadiran beasiswa. Sementara, kebanyakan beasiswa ditujukan untuk mahasiswa kurang mampu. Dilema, itulah yang saya dan beberapa kawan alami.
Mahasiswa tanggung berkumpul untuk berburu beasiswa
Saya dan beberapa teman sangat relate dengan dilema mahasiswa tanggung ini. Bahkan, kami secara tak sadar membentuk kelompok pengejar beasiswa apa saja.
Sejak semester dua kami gencar mencari beasiswa, berbagi informasi, hingga menyiapkan berkas pendaftaran bersama. Akan tetapi ternyata usaha kami tak juga membuahkan hasil. Beasiswa untuk mahasiswa tanggung dari dalam kampus tak begitu banyak. Kalaupun ada, hanya beberapa saja seperti beasiswa prestasi yang kuotanya hanya seuprit.
Sebenarnya IPK kami juga cukup lumayan, tapi lagi-lagi kami merasa seperti nanggung, selisih nol koma sekian dengan para mahasiswa yang akhirnya menerima beasiswa prestasi itu. Sementara, beasiswa dari luar kampus persaingannya jauh lebih sulit.
Kondisinya jadi lebih miskin dari mahasiswa yang kurang mampu
Tentu misi utama kami mendapatkan beasiswa adalah membantu meringankan beban orang tua. Walau tidak tergolong keluarga miskin, orang tua kami terkadang masih harus berhutang untuk membayar UKT atau memenuhi kebutuhan studi lainnya.
Tak jarang ada beberapa teman mahasiswa yang meminta keringanan dari pihak kampus untuk menurunkan UKT saat orang tua mereka belum mampu membayar. Sayang, pihak kampus lebih sering menolak. Sepertinya kami masih dianggap sanggup, padahal kantong sudah kembang kempis.
Jujur saja sebagai mahasiswa tanggung yang tak kunjung menyabet beasiswa, kami jadi merasa lebih miskin daripada mahasiswa kurang mampu yang memperoleh beasiswa.
Mereka seperti menang lotre, kaya mendadak dan dapat membeli kebutuhan yang mahasiswa lain butuhkan. Katakanlah laptop, ponsel, baju baru biar tidak pakai yang itu-itu saja.
Tentu mereka tidak salah. Hanya saja situasinya jadi “lucu”. Beberapa orang terpenuhi kebutuhan studinya, sementara beberapa orang lain masih ngos-ngosan. Para mahasiswa tanggung jadi terlihat lebih perlu dikasihani.
Walau begitu, kondisi serba tanggung ini memacu kami untuk lebih semangat belajar. Jangan sampai mendapatkan nilai jeblok karena itu sama halnya lulus lama. Ujung-ujungnya akan menambah biaya lagi.
Tidak memenuhi berbagai persyaratan keluarga kurang mampu bukan berarti para mahasiswa tanggung bisa hidup dan kuliah nyaman. Semoga semakin banyak pihak menyadari hal ini dan bisa menemukan solusi atau jalan keluar. Semoga semakin banyak mahasiswa lebih fokus menempuh pendidikan tanpa khawatir akan biaya.
Penulis: Dini Hariyani
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
