Magang jadi salah satu kegiatan yang kini banyak dilakukan mahasiswa. Entah diwajibkan oleh kampus maupun inisiatif mandiri mahasiswanya. Pengalaman magang harapannya bisa menjadi gambaran dan bekal sebelum beneran masuk dunia kerja.
Salah satu tempat magang yang tujuan banyak orang adalah bank. Tidak dimungkiri industri perbankan memang banyak menyerap tenaga kerja. Itu mengapa magang di sektor ini begitu menggiurkan dan bisa memperindah CV.
Persoalannya, realitas magang di lapangan tak selalu indah dan sesuai ekspektasi. Di beberapa tempat, magang sekadar dijadikan “jongos” yang bekerja tidak sesuai jobdesc. Ada juga yang ternyata tidak bisa menyerap banyak ilmu karena banyak nganggurnya di kantor.
Akhirnya, harapan pegawai magang akan dibimbing memahami sistem operasional bank, mengenal manajemen risiko, belajar melayani nasabah, hingga terlibat dalam industri perbankan bekerja menjadi angin lalu.
Magang di bank kurang maksimal karena lebih banyak nyantai daripada belajar
Entah di tempat atau posisi lain, tapi berdasar pengamatan saya, mahasiswa yang magang di bank cenderung lebih banyak menunggu pekerjaan. Sekalipun ada pekerjaan, biasanya hanya sedikit saja, sisa waktu kemudian dihabiskan untuk menatap layar komputer, berbincang, atau sekadar menunggu jam pulang.
Memang, anak magang seharusnya adaptif dan aktif bertanya. Namun, berdasar pengalaman magang saya bulan lalu, ketika hal itu saya lakukan, jawabannya selalu diminta menunggu dahulu karena belum ada yang bisa dibantu.
Idealnya sih ya, pembelajaran waktu magang berjalan dua arah ya pegawai bank dan mahasiswa magang. Hal tersebut sejalan dengan konsep Experiential Learning dari David A. Kolb, bahwa pembelajaran akan lebih bermakna ketika seseorang memperoleh pengalaman dan terlibat secara aktif dalam prosesnya.
Dan, hal itu belum saya dapat di magang di bank bulan lalu. Kalau setiap hari lebih banyak menunggu dan santai-santai karena takut mengganggu, yang berkembang bukan kompetensinya melainkan kesabarannya.
Kesalnya lagi, saya dan satu teman magang lain harus melewati magang yang gabut ini hampir seharian. Setiap pagi pukul 07.30 kami sudah berangkat, mulai aktivitas pukul 08.00, dan baru pulang sekitar pukul 17.00 WIB, bahkan sering lebih dari itu.
Bukan berarti kami enggan bekerja. Kami tetap mengikuti aturan, mengerjakan tugas (yang tidak banyak itu), dan berusaha menyesuaikan diri dengan ritme kantor. Namun, lama berada di kantor tidak selalu berarti banyak belajar. Ada hari ketika pekerjaan padat sehingga waktu terasa cepat, tetapi lebih sering pekerjaan selesai dan kami hanya duduk menunggu waktu pulang.
Di sinilah persoalannya. Mengenalkan waktu kerja ke mahasiswa magang memang penting, tetapi magang seharusnya lebih dari berangkat pagi dan pulang sore. Yang lebih penting adalah apa yang dipelajari selama berada di kantor. Satu jam berdiskusi, memahami pekerjaan, atau mempelajari kasus nyata tentu lebih berarti daripada berjam-jam menunggu waktu pulang.
Terasa sia-sia
Hal lain yang saya alami adalah saya dan teman magang lain merasa dituntut untuk mengerti semua bagian di bank. Awalnya kami senang saja dipercaya kantor, tapi lama-lama muncul pertanyaan mendasar. Apakah mahasiswa memang benar-benar diberi kesempatan belajar atau hanya sekadar menutup kekurangan sumber daya manusia?
Dan, perlu diingat bahwasanya magang bukan sekadar kegiatan formalitas yang tujuannya hanya untuk memenuhi jumlah SKS semata. Melainkan jembatan antara teori di ruang kelas dan praktik di dunia kerja. Karena itu, keberhasilan magang tidak diukur dari berapa lama mahasiswa duduk di kantor, melainkan dari seberapa banyak ilmu yang mereka bawa pulang.
Jika mahasiswa lebih sering menganggur daripada belajar atau bekerja serabutan tanpa pengalaman yang bermakna, magang rasanya jadi percuma dan sia-sia. Kami mahasiswa magang tidak meminta diperlakukan selayaknya raja. Kami hanya berharap satu hal yang sederhana, kKetika datang untuk belajar, jangan biarkan pulang hanya membawa rasa lelah seharian.
Penulis: Hidayat Norwahit
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Pengalaman kerja di bengkel bus membuat saya melihat bus di jalanan dengan cara yang berbeda.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.