Dulu saya kira orang merindukan kampung halaman selalu ada hubungannya dengan makanan, keluarga, atau mungkin mantan. Ternyata saya salah. Setelah dua tahun tinggal di Malang, satu hal dari Bojonegoro yang paling saya rindukan justru suasana parkirnya yang tenang.
Saya tidak sedang menjalin hubungan emosional dengan tukang parkir, dan saya juga tidak tiba-tiba bercita-cita jadi juru parkir setelah lulus kuliah. Saya hanya baru sadar bahwa ada kenikmatan sederhana yang dulu saya anggap biasa saja. Dahulu saya memarkir kendaraan tanpa bingung siapa yang menjaga, berapa yang harus dibayar, dan kenapa tiba-tiba ada orang muncul dari entah mana persis ketika saya hendak pergi.
Beberapa waktu lalu, saya pernah menulis artikel berjudul “Merantau ke Malang Menyadarkan Saya Betapa Payah Hidup di Bojonegoro”. Waktu itu saya merasa punya cukup banyak alasan untuk mengatakan demikian. Sebagai mahasiswa yang tinggal di Malang, saya menemukan banyak hal yang membuat kota ini terasa lebih menarik daripada kampung halaman saya. Namun, tinggal lebih lama di sebuah kota ternyata membuat kita makin pandai membandingkan hal-hal kecil. Salah satunya urusan parkir.
Resah dengan parkiran Malang
Selama dua tahun di Malang, parkir adalah hal yang paling sering membuat saya terganggu. Jujur saja, saya kerap merasa dirugikan oleh parkir liar di beberapa tempat.
Suatu hari, saya mampir ke sebuah kafe yang tukang parkirnya cukup menjengkelkan. Kebetulan saat itu tanggal tua dan dompet saya sedang kering kerontang, tidak ada uang tunai sama sekali. Saya sudah bilang kepada tukang parkir bahwa saya akan membayar nanti setelah selesai nongkrong karena bisa meminjam uang teman.
Akan tetapi, dia tetap ngotot dan tidak menerima alasan saya. Dia memaksa saya membayar di muka. Alhasil, saya berjalan kaki cukup jauh ke minimarket untuk mengambil uang di ATM, itu pun masih harus membeli sesuatu supaya uangnya bisa dipecah.
Saya kesal bukan karena uangnya. Masalahnya, sebagian juru parkir (jukir) terkesan memaksa saat menarik bayaran. Sudah begitu, setelah kita bayar pun mereka tidak membantu menyeberangkan kendaraan di jalan, padahal kita sudah mengeluarkan uang.
Yang paling bikin dongkol, ada jukir di sebuah kedai yang letaknya masuk gang, bukan di pinggir jalan raya. Tidak ada kendaraan yang berlalu-lalang, tidak ada jalan yang perlu diseberangi. Lantas, gunanya jukir itu apa? Kerjanya cuma menunggu, menjaga motor pun tidak. Agak rese memang.
Juru parkir Bojonegoro lebih ramah bagi pengendara
Di Bojonegoro, ceritanya lain. Saya sering parkir di berbagai tempat, mulai dari kafe, minimarket, sampai toko. Di beberapa tempat memang ada petugas parkir, tetapi yang membuat saya salut, setahu saya mereka adalah juru parkir resmi Dinas Perhubungan (Dishub) yang sudah digaji dinas, sehingga tidak meminta uang dari pengunjung. Datang, tinggal parkir. Pulang, tinggal pergi. Tidak ada drama yang membuat saya bertanya-tanya, “Ini sebenarnya saya parkir di tempat resmi atau sedang ditagih orang yang kebetulan berdiri di situ?”
Yang membuat saya heran, di Bojonegoro ada aturan bahwa parkir gratis hanya diperuntukkan bagi kendaraan berpelat Bojonegoro. Padahal motor saya berpelat Surabaya. Kalau aturannya memang begitu, harusnya saya menjadi salah satu orang yang paling mudah dimintai uang parkir.
Akan tetapi, kenyataannya tidak begitu. Saya tetap bisa datang, memarkir motor, masuk ke tempat yang saya tuju, lalu pulang tanpa menyiapkan uang receh. Entah aturannya tidak diterapkan seketat kedengarannya, atau saya memang sedang beruntung. Yang jelas, pengalaman sesederhana itu ternyata sangat saya rindukan setelah dua tahun di Malang.
Tidak keberatan dengan keberadaan tukang parkir, tapi …
Sebenarnya, saya tidak keberatan membayar parkir. Duit Rp2.000 tidak akan membuat saya bangkrut. Dengan catatan, tempat parkirnya jelas, tarifnya jelas, dan petugasnya benar-benar bekerja, saya tidak punya masalah untuk membayar.
Urusan parkir yang sering bikin saya kesal ketika urusan parkir terasa serba tidak jelas. Kita tidak tahu apakah orang yang meminta uang itu petugas resmi atau bukan. Kita tidak tahu kenapa harus membayar. Bahkan, ketika sudah membayar, layanan yang kita terima tidak terasa seperti layanan.
Jadi, persoalannya bukan lagi soal Rp2.000, melainkan rasa tidak nyaman setiap kali hendak meninggalkan kendaraan. Mungkin ini terdengar remeh. Namun, justru hal-hal remeh seperti inilah yang sering membuat kita baru bisa membandingkan satu kota dengan kota lain.
Ketika tinggal di Bojonegoro, saya tidak pernah menganggap parkir sebagai sesuatu yang menyenangkan. Ia hanya bagian dari keseharian, sama seperti membeli makan di warung atau mengisi bensin. Tidak ada yang perlu dipikirkan terlalu jauh.
Setelah merantau, saya baru sadar bahwa parkir yang tertib ternyata adalah kemewahan kecil. Karena itulah, saya merasa perlu sedikit merevisi tulisan saya sendiri. Saya memang pernah menulis bahwa merantau ke Malang membuat saya menyadari betapa payahnya hidup di Bojonegoro. Setelah dua tahun, saya tidak serta-merta menganggap semua yang ada di Bojonegoro lebih baik, dan saya juga tidak tiba-tiba ingin pulang hanya karena urusan parkir.
Akan tetapi, setidaknya sekarang saya tahu satu hal. Bojonegoro punya sesuatu yang dulu tidak pernah saya sadari nilainya. Parkir yang membuat saya tidak perlu berdebat dan mencari uang receh. Parkir yang membuat saya tidak perlu berjalan jauh ke ATM hanya untuk membayar Rp2.000. Dan, yang paling lucu, parkir itu bahkan membuat saya, si pemilik pelat Surabaya, merasa mendapat hak istimewa setiap kali pulang ke Bojonegoro.
Lebih adil melihat Bojonegoro
Kita memang terlalu sering menilai sebuah kota dari hal-hal besar: kampusnya, tempat nongkrongnya, transportasinya, fasilitasnya, atau seberapa ramai kotanya.
Saya pun dulu begitu. Namun, setelah cukup lama tinggal di sini, saya mulai sadar bahwa kenyamanan sebuah kota sering ditentukan oleh hal kecil yang kita jalani hampir setiap hari. Salah satunya ya parkir.
Tentu tidak ada yang memasukkan “sistem parkir yang tidak bikin emosi” ke dalam daftar alasan memilih tempat tinggal. Tidak ada mahasiswa yang, ketika mencari kampus, bertanya, “Pak, di sekitar kampus nanti parkirnya bagaimana?” Saya sendiri juga tidak pernah menyangka akan membahas urusan parkir sepanjang ini. Namun, ketika hal kecil itu terus-menerus bikin kesal, barulah kita sadar bahwa ia ikut memengaruhi cara kita menikmati sebuah kota.
Saya juga tidak ingin tulisan ini menjadi lomba antara Bojonegoro dan Malang. Saya masih menemukan banyak hal yang saya sukai dari Malang, dan dua tahun tinggal di sini memberi saya pengalaman yang mungkin tidak akan saya dapatkan kalau tetap di Bojonegoro.
Hanya saja, kalau urusannya parkir, izinkan saya membela kampung halaman sendiri. Sebab ternyata, bisa datang ke suatu tempat, memarkir kendaraan, menyelesaikan urusan, lalu pulang tanpa berdebat soal uang parkir itu menyenangkan.
Kedengarannya memang tidak istimewa. Bahkan mungkin agak menyedihkan kalau ada orang yang sampai merindukan kampung halaman gara-gara parkir. Tapi begitulah, kadang kita baru tahu sesuatu itu nyaman setelah tinggal jauh darinya.
Dulu saya mengira Bojonegoro kalah dari Malang dalam banyak hal. Mungkin untuk beberapa hal saya masih berpikir begitu. Namun, setidaknya kini saya punya satu alasan untuk berbangga karena parkir Bojonegoro setidaknya lebih baik daripada Malang.
Penulis: Moch. Fadhil Reiza Putra
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Malang lebih banyak mengajarkan saya cara bertahan hidup daripada Jogja.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.