Desa Made Surabaya adalah anomali. Di tengah hiruk-pikuk Kota Pahlawan, kita masih bisa menemukan tempat yang asri.
Surabaya tak ubahnya Jakarta. Meski ada perbedaan dalam sisi geografis, historis, dan budaya, sejatinya masih ada kesamaan yang saya temukan pada kedua kota itu. Salah satunya adalah pemandangan gedung-gedung tinggi bisa bersisian dengan lingkungan kumuh maupun perkampungan. Mungkin ini memang hal biasa di kota-kota besar.
Akan tetapi siapa sangka di tengah gemerlap dan kemewahan Kota Surabaya, khususnya Surabaya barat, ada hal lain yang saya rasa tidak ada di Jakarta. Hal itu adalah desa hidden gem yang sangat asri seperti desa di daerah pegunungan. Ketika memasukinya, atmosfernya langsung terasa berbeda.
Desa itu bernama Made. Suasana makin sunyi dan rumah-rumah yang semula renggang dan besar makin kecil dan rapat. Kalau kita datang ke Made, kita seolah bukan berada di Surabaya. Padahal Made masuk dalam salah satu kelurahan di Kecamatan Sambikerep.
Asal usul nama Made
Ketika mendengar nama Made, kalian mungkin akan berpikir ini ada hubungannya dengan Bali. Entah kampung orang Bali, atau dinamakan berdasarkan nama pendirinya yang merupakan orang Bali. Anggapan ini tidak sepenuhnya salah. Ada banyak versi cerita soal asal-usul nama desa ini.
Pertama, dulu diyakini ada Komandan TKR bernama I Made Suganda yang dipanggil Kamin. Saat pertempuran 10 November sedang mencuat, Kamin dan anak buahnya mundur ke desa paling barat Surabaya yang kini dinamakan Made.
Sementara itu, cerita kedua adalah sejarah Desa Made yang riil. Menurut sesepuh Desa Made, Mbah Man, kampung ini merupakan singkatan dari Macan Gede. Macan adalah salah satu peliharaan Mbah Singo Joyo. Beliau adalah orang yang dipercaya babat alas atau mendirikan Desa Made Surabaya. Karena itu, patung singa dan macam dapat ditemukan di desa ini.
Sedekah bumi dan gulat okol
Made bukanlah desa wisata di Surabaya seperti Kampung Ketandan, Kampung Maspati, maupun Kampung Dolanan. Terus terang saking hidden gem-nya desa ini, saya masih belum bisa mengulik lebih banyak keistimewaannya. Apalagi letaknya di Surabaya barat. Saat itu pertempuran 10 November berlokasi di Surabaya pusat dan utara sehingga wilayah Barat tidak memiliki sejarah yang signifikan.
Toh, desa ini letaknya masih di kota sehingga kita tidak bisa berharap banyak soal budaya maupun tradisi yang sangat kental. Meski begitu, kampung ini masih cukup erat kaitannya dengan tradisi Jawa. Contohnya seperti sedekah bumi. Yang unik dari tradisi ini adalah punden Mbah Singojoyo dijadikan pusat kegiatan sakral ini.
Selain itu, ada menu wajib di perayaan ini, yaitu tumpeng dan ayam panggang. Tumpeng melambangkan kesejahteraan, sementara ayam panggang agar manusia tidak berlaku seperti ayam. Maksudnya, ayam jika dikumpulkan bersama nantinya akan saling bertarung.
Di Made Surabaya, ada juga gulat okol. Gulat okol adalah gulat tradisional Jawa Timur yang menjadi hiburan pendamping. Nantinya, pihak penyelenggara akan menyediakan panggung ring tinju dan jerami padi.
Made Surabaya, tempat healing sekaligus pengingat tradisi
Baru satu kali saya ke Desa Made, tapi masih ingat betul suasananya. Asri, sepi, nyaman, dan banyak anak kecil yang bermain di luar. Persawahan juga membentang luas. Tidak hanya ditanami padi, tapi juga tomat, cabai, hingga kacang panjang. Merasakan ketenangan Desa Made Surabaya seolah mengingatkan saya pada dua hal.
Pertama, jangan lupa back to nature. Bayangkan, di tengah stresnya Kota Pahlawan ini ternyata masih ada sebuah desa yang asri. Ini seolah mengingatkan kita bahwa, “Jangan main di tengah terus, ayo ke pinggiran kota!”
Kedua, Desa Made yang masih menjaga tradisi Jawa menjadi pengingat bahwa meski Surabaya sudah digerus modernitas, Surabaya tetaplah Jawa. Surabaya masih punya wilayah yang menjaga tradisi Jawa.
Bagi warga Surabaya yang bosan melihat hutan beton, saya sangat menyarankan healing tipis-tipis ke desa ini. Kalian tidak perlu keluar dari batas kota. Cukup dengan berkendara ke Surabaya barat, tepatnya di Desa Made. Memang tidak bisa dibandingkan dengan pedesaan di Jombang, tapi sudah sangat lumayan untuk mencari yang hijau-hijau.
Jangan lupa untuk mencatat tanggal-tanggal penting seperti sedekah bumi di Desa Made Surabaya biar bisa menyaksikan keseruannya juga. Satu lagi, saya merekomendasikan untuk menyantap Bakso Singo Joyo sebab baksonya berukuran jumbo dan sangat populer di sana.
Penulis: Bella Yuninda Putri
Editor: Intan Ekapratiwi
BACA JUGA Jalan Panggung, Sisi Lain Surabaya yang Tidak Pernah Saya Duga.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















