Macetnya Kota Batu kini bikin jengkel, semua gara-gara tata kota yang berantakan!

3 Fakta Menarik tentang Kota Batu yang Jarang Dibicarakan Orang, Salah Satunya Pernah Terkenal dengan Perkebunan Kina

3 Fakta Menarik tentang Kota Batu yang Jarang Dibicarakan Orang, Salah Satunya Pernah Terkenal dengan Perkebunan Kina (unsplash.com)

Satu-dua bulan terakhir, saya cukup sering bertemu orang-orang dari berbagai kalangan. Mulai dari akademisi di ruang-ruang diskusi, hingga anak-anak muda di tempat-tempat nongkrong. Pertemuan-pertemuan itu punya satu benang merah, yaitu tentang Kota Batu, termasuk segala permasalahan dan gimana nasib ke depannya.

Dari pertemuan-pertemuan itu, saya bisa menangkap kegelisahan yang sama. Bahwa saya dan banyak wong mBatu yang juga gelisah. Saya dan mereka gelisah dengan situasi Kota Batu sekarang yang makin nggak karuan, bahkan makin nggak jelas ke mana arahnya. Batu makin sesak, makin kehilangan ruang, dan makin rapuh.

Salah satu kegelisahan saya (yang juga dialami banyak orang Batu lainnya) adalah soal kemacetan yang makin parah. Tiap akhir pekan, Batu nggak pernah nggak macet. Dari arah Mikutopia di Utara, hingga Jatim Park 3 di Selatan, sama macetnya. Ini belum kita bicara kemacetan di sekitar pusat kota. Makin lama makin nggak karuan.

Saya sudah sering menyinggung soal kemacetan Kota Batu. Saya kerap menyelipkannya di tulisan-tulisan saya di Terminal Mojok. Aspirasi ini juga nggak jarang saya sampaikan secara publik. Tapi nggak tahu mengapa, kok kayak belum ada solusi yang nyata gitu. Seakan kemacetan yang makin parah ini dibiarkan gitu saja.

Imbasnya ya apa yang terjadi sekarang. Batu kalau akhir pekan (atau musim liburan) beneran kayak neraka. Warlok kayak saya ini nggak bisa ke mana-mana. Jangankan ke mana-mana, mau keluar gang aja udah disambut macet, kok.

Kota Batu memang bakal kena macet, tapi ya harus ada solusi dong

Iya, saya paham bahwa dengan mendaku sebagai Kota Wisata, Batu bakal terus dipadati wisatawan. Saya juga paham bahwa macetnya Batu ini nggak tiap hari. Tapi ya tetap saja harus dikasih solusi, dong?

Pemkot mbok kerja yang bener gitu, lho, biar kalau akhir pekan atau musim liburan, macetnya Kota Batu bisa seenggaknya terurai. Biar agak lega dikit. Pelebaran jalan, kek, rekayasa lalu lintas, kek. Apalah. Masa rakyatnya lagi yang suruh mikir solusinya?

Tapi ya memang Kota Batu ini susah. Masalahnya terlalu numpuk dan berlapis. Macet itu masih masih masalah permukaan. Belum lagi soal berantakannya tata kota. Alih fungsi lahan terjadi di mana-mana. Pembangunan dikebut, bangunan-bangunan bebas berdiri kayak nggak ada regulasi yang membatasi. Mirip anak bayi yang disuruh main rumah Barbie, berantakan.

Melihat Batu sekarang, saya itu jadi ada rasa kasihan, miris, juga rasa kecewa. Sebagai orang yang lahir, besar, dan tinggal di Batu, saya paham betul gimana kota ini. Kota Batu ini dikenal sebagai kota yang tenang, kota yang tata kotanya cukup rapi. Nggak asal mendirikan bangunan, nggak asal menggunduli hutan. Batu itu masih hijau, masih rimbun, juga masih lenggang. Saya masih merasakan itu belasan tahun lalu.

Tak ada lagi kota yang hijau, rimbun, asri, dan lenggang

Sekarang, semuanya tinggal kenangan. Batu sudah kehilangan identitas aslinya. Sudah nggak ada lagi Batu yang hijau, Batu yang rimbun, dan sudah nggak ada lagi Batu yang lenggang. Itu semua berganti jadi Batu yang pudar, Batu yang makin gundul, dan Batu yang makin padat. Batu makin nggak nyaman ditinggali, dan makin luntur keindahannya.

Sampai kapan Kota Batu akan seperti ini? Entahlah, saya juga nggak tahu. Dari pertemuan-pertemuan dengan orang-orang, saya dan mereka juga belum berhasil menjawab pertanyaan ini. Saya bahkan cukup ragu bahwa dalam waktu dekat Batu akan kembali ke fitrahnya, apalagi melihat kinerja Pemkotnya selama ini.

Tapi semoga keraguan saya keliru. Semoga keraguan saya nggak terbukti. Sembari kita pantau, bagaimana Batu dari hari ke hari. Apakah benar-benar akan SAE seperti slogan yang selalu digembar-gemborkan Pemkotnya atau nggak. We’ll see.

Penulis: Iqbal AR
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Betapa Susahnya Mencari Kuliner di Kota Batu yang Khas dan Autentik

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version