Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Lubang di Jalan: Dihindarin Susah, tapi Kalau Dikritik Bisa Kena Perkara

Riyanto oleh Riyanto
25 November 2020
A A
lubang di jalan jalanan rusak jalan berlubang mojok

lubang di jalan jalanan rusak jalan berlubang mojok

Share on FacebookShare on Twitter

SIM C saya adalah hasil nembak. Dulu semasa STM, saya dekat dengan seorang polisi senior karena kami sering latihan karawitan bareng. Beliau menawari saya dan teman-teman satu geng karawitan untuk bikin SIM C gratis tanpa tes sama sekali. Pun, waktu itu saya belum bisa mengendarai motor. Kok mengendarai, wong punya motor saja tidak.

SIM C itu jadi dalam sekejap. Singkat cerita, semasa kuliah saya sudah punya motor dan lumayan mudeng kalo di perempatan ada lampu merah nyala itu artinya kudu berhenti, kalo kuning kudu hati-hati, dan kalo ijo baru bablas. Pun, saya sering menemui di perempatan yang ada rambu belok kiri jalan terus. Saya nggak masalah sama tulisan itu, saya hanya mempermasalahkan bajingan-bajingan sialan yang memenuhi area belok kiri jalan terus itu.

Di sisi lain, saat di perempatan dengan lampu lalu lintas dan ada peringatan belok kiri ikuti rambu, saya sering diklaksonin karena nunggu lampu merah di bagian kiri. Iya, saya tipe orang yang nggak mau belok kiri jalan terus di perempatan yang ada rambu belok kiri ikuti lampunya. Pacar saya bahkan sering ngomel-ngomel kalo saya berhenti di perempatan atau pertigaan macam itu.

Saya bukannya sok taat hukum atau apa, wong SIM C saya aja didapat dengan jalan yang tidak benar. Pun beberapa kali saya naik motor nggak pakai helm malem-malem dengan alasan klise yaitu jaraknya dekat. Pun saat saya melanggar hukum sekalipun, saya tetep berhenti pas di lampu merah padahal jalanan sepi. Saya sebatas nggak mau celaka karena nerobos lampu lalu lintas dan kudu tumburan dengan kendaraan dari arah lain.

Pernah suatu malam, di perempatan Jalan Magelang deket TVRI Jogja, sehabis saya dan pacar makan Siomay Kang Is, terjadi kecelakaan karena ada bedebah sialan dari timur yang nerobos lampu merah dan belok ke selatan. Akibatnya, emak-emak dari arah utara nabrak bedebah yang menjelma mas-mas tadi. Otomatis lalu lintas melambat, pun saya matiin motor, nyetandar, dan turun bantuin bangunin motor yang jatuh, sementara pacar saya tertinggal di motor yang saya standarin itu. Duh, merasa bersalah banget waktu itu.

Akan tetapi, perkara manusia di peradaban ini peduli rambu lalu lintas itu satu hal. Mendapatkan SIM dengan nembak adalah hal lain. Keduanya tidak saling berhubungan dengan tingkah laku saat berkendara.

Namun, ada hal lucu yang saya alami beberapa waktu lalu, yaitu meski sudah berusaha memahami rambu-rambu lalu lintas, pun berkendara dengan kecepatan standar sekitar 50 KM/Jam, saya tetap hampir celaka karena suatu hal. Bukan karena pengendara lain yang ugal-ugalan, akan tetapi karena hal sesimpel lubang di jalan.

Sialan betul lubang-lubang di jalan itu. Saya berani bilang secara spesifik bahwa jalan raya perbatasan DIY-Purworejo itu bobrok sebobrok-bobroknya, padahal itu adalah jalan raya utama. Sejak zaman saya mulai kuliah di tahun 2013 sampai saat ini, sudah sering banget muncul lubang hampir di seluruh penjuru jalan raya itu. Hasilnya gimana? Saya sering menghantam itu lubang dan nyaris jatuh berkali-kali. Saya sudah berkendara hati-hati, akan tetapi daerah yang gelap karena rimbun pepohonan, ditambah kurangnya penerangan jalan—sangat kurang dan bahkan nggak ada—membuat lubang-lubang itu bak menggunakan jubah gaib milik Harry Potter alias nggak kelihatan. Tambah parah jika musim hujan tiba. Banyak lubang yang tergenang air, dan pengendara yang belum familiar dengan daerah itu nggak bakal ngira kalo lubangnya dalem. Asli, dalem. Motor saya sampai bunyi “DUUUAAKKKK!!” pas menerjangnya.

Baca Juga:

SIM Seumur Hidup Memang Susah Diwujudkan, tapi, Bagaimana kalau Masa Berlakunya Diperpanjang?

Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten yang Perlu Banyak Berbenah

Mengerikannya lagi lubang di jalanan adalah, satu lubang saja bisa berpotensi menyebabkan kecelakaan dari berbagai cara. Pertama, oleh karena menghindari lubang dengan mendadak, hasilnya motor ngepot sana ngepot sini dan jatuh. Kedua, nggak mau menghindari karena takut ngepot sana ngepot sini, justru nabrak itu lubang dan hasilnya mesin motor ancur, ban pecah, atau malah langsung nyungsep. Ketiga, ada yang menghindari lubang dan ngepot sana ngepot sini, eh mendadak dari arah seberang atau di belakang ada kendaraan lain yang bablas nabrak. Ngeri bener asli urusan lubang ini.

Lubang-lubang jahanam itu—di jalan Jogja-Purworejo—sudah pasti salah satu penyebabnya adalah pengerukan gunung di sekitar wilayah Kalimaro. Semasa SMP saya punya teman di daerah Kalimaro dan ingat betul gunung-gunung tinggi, dan saat ini sudah rata dengan tanah. Truk-truk pengangkut pasir hilir mudik dan menghamburkan debu yang bikin udara pengap saat kemarau, dan membuat jalanan super licin apabila penghujan tiba.

Perkara lubang di jalan ini barangkali luput diperhatikan pemerintah. Ya iya, pemerintah pusat kan lebih mentingin bangun infrastruktur seperti jalan tol atau malah Komodo Park yang nggatheli itu, akan tetapi seolah tutup mata dengan akses jalan yang sudah ada dan penuh lubang. Oke lah, bukan salah pemerintah pusat karena ada pemerintah daerah yang memang seharusnya turun tangan. Akan tetapi, kalo ada pemerintah daerah yang justru memidanakan orang yang protes tentang jalanan rusak, itu kan kegilaan yang nggilani. Maksudnya, lha wong pemerintah daerah itu punya APBD yang kudu dialokasikan buat memperbaiki jalan rusak, lha kok malah kalo diprotes justru nggak terima. Kok lucu benar.

Kasus itu terjadi di Kabupaten Lebak, Banten beberapa waktu lalu, saat Badrudin memposting foto seorang ibu hamil ditandu saat mau melahirkan karena jalanan rusak parah. Postingannya tersebut lantas membuat Badrudin dibawa ke balai desa dengan kawalan RT, lantas langsung dibawa ke Polsek Panggarangan. Weh, ada yang nggak terima dikritik, Bosss!

Meski begitu, pihak kepolisian menegaskan bahwa Badrudin nggak ditangkap, justru malah diamankan karena khawatir Badrudin bakal diamuk massa gegara postingannya. Maksudnya, lucu benar kalo ada massa yang ngamuk karena ada warga yang protes dan berharap jalan diperbaiki. Kayaknya semua manusia waras di planet ini bakal senang kalo jalannya mulus dan nggak rusak, jadi ya seharusnya si Badrudin bakal dapat banyak dukungan dari warga kan? Kok malah pihak kepolisian berdalih begitu. Waduh, nggak nyampe otak saya buat mikir.

Okelah, terlepas dari kasus Badrudin tadi, saya kok jadi khawatir kalo masyarakat jadinya nggak mau ngritik pemerintah—pemerintah daerah, terutama—soal jalanan yang rusak atau terserah sarana daerah apa saja karena takut ditangkap pak pulisi. Lah kok mengerikan betul, wong kepingin jalanan nggak berlubang biar nggak ada yang cilaka, kok malah dihantui penangkapan?

BACA JUGA Botol Bekas Aqua, Le Minerale, Ades, dan Pristine: Mana Botol Bekas yang Paling Worth It? dan tulisan Riyanto lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 25 November 2020 oleh

Tags: infrastrukturlubangSIM
Riyanto

Riyanto

Juru ketik di beberapa media. Orang yang susah tidur.

ArtikelTerkait

Ironi Jogja: Kota Ramah Sepeda, tapi Infrastruktur untuk Pesepeda Begitu Minim

Ironi Jogja: Kota Ramah Sepeda, tapi Infrastruktur untuk Pesepeda Begitu Minim

12 September 2022
Berkunjung ke Halmahera Membuat Saya Sadar Kalau Keluhan Kita yang Tinggal di Pulau Jawa Terdengar Sepele

Berkunjung ke Halmahera Membuat Saya Sadar kalau Keluhan Kita yang Tinggal di Pulau Jawa Terdengar Sepele

10 Juli 2023
Sidoarjo Nggak Menarik buat Anak Muda Surabaya (Unsplash)

Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten yang Perlu Banyak Berbenah

25 Juli 2024
Infrastruktur Tidak Merata Bukan Salah Warga Luar Jawa, tapi Salah Negara!

Infrastruktur Tidak Merata Bukan Salah Warga Luar Jawa, tapi Salah Negara!

2 Februari 2023
Alun-Alun Wonosobo, Alun-Alun Tersepi yang Pernah Saya Kunjungi Mojok.co

Wonosobo Hanya Cocok untuk Tempat Wisata, Bukan Tempat Tinggal yang Ideal!

13 Juli 2024
SIM

Sensasi Berkendara di Jalan Raya 6 Tahun Tanpa SIM

20 Oktober 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kulon Progo Terkesan Santai karena Warlok Tidak Banyak Pilihan Hidup, Bukan karena Menganut Slow Living Mojok.co

Kulon Progo Terkesan Santai karena Warlok Tidak Punya Banyak Pilihan Hidup, Bukan karena Menganut Slow Living

27 Maret 2026
Unpopular Opinion, Mojokerto Adalah Kota Paling Layak untuk Hidup Bahagia Sampai Tua Mojok.co

Mojokerto, Kota yang Tak Pernah Move On dari Masa Lalunya dan Tak Bisa Lepas dari Apa-apa yang Berbau Majapahit

2 April 2026
Weleri Kendal Baik-baik Saja Tanpa Mie Gacoan, Waralaba Ini Lebih Baik Incar Daerah Lain Mojok.co

Membayangkan Kendal Maju dan Punya Mall Itu Sulit, sebab Mie Gacoan Aja Baru Ada Setahun

31 Maret 2026
Kembaran Bukan Purwokerto, Jangan Disamakan

Iya Saya Tahu Purwokerto Itu Kecamatan Bukan Kota, tapi Boleh Nggak Kita Santai Saja?

28 Maret 2026
3 Alasan Stasiun Jombang adalah Tujuan Paling Rasional Menuju Malang Barat dibanding Stasiun Malang Kota

3 Alasan Stasiun Jombang Adalah Tujuan Paling Rasional Menuju Malang Barat dibanding Stasiun Malang Kota

29 Maret 2026
Kerja Dekat Monas Jakarta Nggak Selalu Enak, Akses Mudah tapi Sering Ada Demo yang Bikin Lalu Lintas Kacau

Kerja di Jakarta Memang Kejam, tapi Masih Banyak Hal yang Bisa Disyukuri dari Kota yang Mengerikan Itu

29 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut
  • Ambisi Beli Mobil Keluarga sebelum Usia 30, Setelah Kebeli Tetap Gagal Senangkan Ortu dan Jadi Pembelian Sia-sia
  • Gelar Siswa Terpintar Tak Berarti buat Kuliah UB, Terdampar di UIN Malah Jadi Mahasiswa Goblok, Nyaris DO dan Lulus Tak Laku Kerja
  • Vario 160 Adalah Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Motor Honda, tapi Sejauh Ini Menjadi Matik Terbaik yang Tahan Siksaan
  • Resign dari Perusahaan Bergaji 3 Digit di Luar Negeri karena Tak Merasa Puas, Kini Memilih Kerja “Sesuai Passion” di Kampung Halaman
  • Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Kehidupan di Rumah Kecil-Sekadarnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.