Lomba kebersihan kampung Jogja itu niatnya baik, tapi sayangnya, niat baik tersebut hanya berefek sesaat
Lingkungan tempat tinggal yang bersih, aman, dan nyaman merupakan idaman seluruh umat manusia. Untuk menciptakan hal tersebut, pemerintah dari berbagai tingkatan melakukan berbagai program untuk mendorong budaya hidup bersih terutama di lingkungan pemukiman penduduk.
Salah satu cara yang dilakukan oleh pemerintah yaitu mengadakan lomba kebersihan antarkampung sebagai sarana untuk mengkondisikan area pemukiman agar selalu dalam keadaan bersih dan nyaman. Seperti contohnya di Kota Jogja, secara berkala Pemkot Jogja lewat dinas terkait mengadakan lomba kebersihan antar kampung.
Lombanya berfokus pada pengelolaan sampah, inovasi ramah lingkungan, serta keasrian lingkungan. Hasilnya, terciptalah lingkungan perkampungan yang bersih, tertata, dan tidak kumuh seperti Kota Jogja yang kita lihat sekarang.
Tapi di balik itu, pada beberapa wilayah di Kota Jogja, lomba kebersihan kampung tidak lain hanya jadi program sesaat yang tak diikuti oleh kesadaran masyarakatnya sehingga keberlanjutan kebersihan kampungnya dipertanyakan. Lomba kebersihan yang harusnya jadi ajang pembiasaan untuk hidup resik, malah kehilangan esensinya.
Sesaat, lalu kembali setelan pabrik
Sebagai contoh, saya tinggal di salah satu kampung di Kota Yogyakarta yang pernah mengikuti lomba kebersihan kampung bahkan pernah menjuarai lomba kebersihan kampung di tingkat Kota Yogyakarta beberapa tahun lalu. Tapi yang saya rasakan, lingkungan kampung yang bersih dan tertata itu cuma saat ada lomba tersebut saja, setelahnya kembali kotor dan tidak tertata.
Ketika lomba kebersihan kampung tersebut diadakan, pengurus kampung akan menyuruh warganya untuk kerja bakti membersihkan seluruh lingkungan kampung. Berbagai inovasi yang sebelumnya tak pernah dilakukan, kini digalakkan. Area-area yang sebelumnya tampak kumuh dipoles agar kelihatan sedap dipandang.
Warga tiba-tiba jadi rajin memilah sampah. Bahkan, di depan setiap rumahnya terpasang ember untuk membuat kompos. Bank sampah yang sekian lama mati suri, kini juga dihidupkan kembali. Anak-anak yang sebelumnya suka membuang sampah sembarang, dipaksa untuk membuang sampah pada tempatnya. Pemuda juga dilibatkan untuk membuat lubang biopori
Selain itu, tanaman hias yang berwarna-warni mulai ditata di jalanan kampung yang sempit-sempit itu. Pekarangan rumah yang nggak seberapa luasnya itu juga mulai ditanami tanaman sayuran mulai tomat sampai terong. Pokoknya, segala inovasi kebersihan lingkungan kini dilakukan.
Di titik inilah, kampung menjadi tempat yang bersih dan nyaman untuk ditinggali. Semua warga jadi punya kesadaran untuk berlaku bersih. Mengotori sedikit saja sama dengan dosa besar yang seakan harus ditebus dengan surat pengakuan dosa.
Tapi program kebersihan dan inovasi yang semestinya bermanfaat ini, ternyata tujuannya bukan semata-mata hanya agar kampungnya bersih dan warganya nyaman tapi agar mendapat penilaian yang baik dari juri lomba. Kesadaran akan kebersihan itu tumbuh hanya karena ada lomba. Sekali lagi, hanya untuk lomba.
Lomba kebersihan kampung hanya wajah
Keadaan kampung yang asri berubah saat lomba atau penilaiannya selesai. Lingkungan kampung kembali ke setelan pabriknya. Nggak ada lagi kerja bakti yang rutin dilakukan. Sesederhana menyapu area rumahnya masing-masing saja jarang dilakukan.
Boro-boro memilah sampah, warga jadi lebih suka membakar sampah apalagi Jogja selalu dipusingkan masalah pembuangan sampah. Program membuat kompos pun mandek dan lubang biopori malah terisi sampah plastik. Tanaman hias dan sayuran dibiarkan nggak terurus. Tempat-tempat makin kumuh dan malah jadi tempat peternakan nyamuk.
Mungkin hanya tinggal sedikit rumah tangga yang masih istiqomah memiliki kesadaran untuk berlaku bersih, memilah sampah, dan membuat kompos. Bahkan pengurus kampung yang saat lomba kebersihan dimulai paling sat-set mengajak warga, juga kehilangan semangat.
Tulisan ini bukan mau menyudutkan satu atau dua pihak, tapi jadi bahan introspeksi bersama agar menciptakan lingkungan pemukiman yang bersih dan nyaman di Kota Jogja. Kalau lingkungannya bersih, siapa yang paling diuntungkan? Tentu saja warganya juga kan.
Saya mengapresiasi Pemkot Jogja yang masih secara rutin menyelenggarakan lomba kebersihan kampung ini. Semoga ke depannya lomba kebersihan betulan jadi ajang pembiasaan hidup bersih bukan malah hanya jadi program sesaat. Semoga kesadaran masyarakat untuk hidup bersih juga tumbuh tanpa menunggu ada lomba kebersihan kampung.
Penulis: Rizqian Syah Ultsani
Editor: Rizky Prasetya
